Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia

28 Oct

Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan ngobrol di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (Internet Relay Chat) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin.

Semula, saya menggunakan alamat surat elektronik teman saya. Lama-kelamaan, saya berpikir kenapa haru menumpang? Maka saya pun berkenalan dengan situs web yang menyediakan layanan surat elektronik. Saat itu ada Mailcity, Yahoo!, dan Hotmail yang saya kenal. Segera setelah memiliki alamat di Mailcity, saya pun memiliki berbagai alamat lainnya yang kini sudah tidak saya ingat lagi. Lalu dimulailah komunikasi berbasis surat elektronik.

Bagaimanapun juga, internet memberikan beragam hal, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan ialah kebebasan menembus ruang. Internet memungkinkan kita untuk melakukan tukar-menukar informasi dalam waktu sesingkat mungkin Continue reading

Advertisements

Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota

31 Dec

Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan ia tidak mengerjakan PR-nya.

Kebohongan demi kebohongan bisa muncul dengan lebih banyak lagi mengingat kemajuan teknologi saat ini sangat memungkinkan hal tersebut. Di dunia maya, berbagai praktik kebohongan pun tersebar luas. Yang paling umum tentunya kebohongan seputar jati diri yang dilakukan ketika ceting (chatting). Sementara itu, keberadaan ponsel di dunia nyata juga membuka peluang untuk melakukan kebohongan.

Continue reading

Memahami Pesan Natal

27 Dec

Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat.

Dengan kata lain, pertama-tama si pengirim akan melakukan semantic encoding dalam benaknya. Kemudian ia merangkai kata-kata dalam rangkaian kalimat lewat grammatical encoding. Ketika selesai, pesan yang sudah tersusun dalam kalimat(-kalimat) itu pun dituturkan. Proses akhir ini disebut phonological encoding.

Continue reading

Antara Baku dan Benar

4 Dec

Ini masalah yang menarik. Sekaligus menjadi pelajaran penting bagi saya, bagi Anda, bagi yang memang berkunjung da mau membaca blog ini.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendiskusikan masalah bahasa dengan seorang teman dari kantor saya yang lama. Ia datang dengan mengajukan sebuah kasus: antara telepon dan telefon, yang mana yang benar?

Kebanyakan kita tentu akan memilih kata telepon daripada telefon. Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendaftarkan kata telepon sebagai kata yang baku, bukan telefon. Namun, justru di sinilah letak masalahnya.

Continue reading

Sebuah Refleksi pada Hari Sumpah Pemuda: Bagaimana Kita Berbahasa?

28 Oct

Hari ini merupakan salah satu dari dua hari yang sangat spesial bagi bangsa kita. Bila yang pertama merupakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, hari ini merupakan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Memang ada banyak hal yang bisa kita renungkan bersama berkenaan dengan peringatan peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita ini. Namun, mengingat blog ini memang khusus berbicara mengenai bahasa dan sastra, saya hendak mempersempit topik pembicaraan tanpa mengesampingkan makna penting lain dari peristiwa Sumpah Pemuda tersebut.

Pemerintah memang telah sejak lama menetapkan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra. Penetapan ini mungkin sekali karena salah satu butir pada Sumpah Pemuda berkenaan dengan bahasa.  Apa pun alasannya, saya kira penetapan ini menunjukkan betapa pemerintah pada masa itu menyadari pentingnya peranan bahasa dan sastra dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (dengan demikian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari). Tidak mengherankan apabila berbagai kegiatan seputar kemampuan berbahasa banyak diselenggarakan.

Continue reading

Televisi sebagai Media Penyebaran Perilaku Campur Kode

28 Jul

Harus diakui, perkembangan zaman dalam beberapa tahun terakhir ini semakin mengarahkan masyarakat bahasa untuk tidak hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Setelah bahasa Inggris menjadi bahasa wajib, sejumlah bahasa Asia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea pun mulai menjadi bahasa pendamping.

Tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini pelan-pelan mengarahkan masyarakat bahasa untuk menanggalkan bahasa ibunya. Sehingga bahasa daerah dan bahasa Indonesia rasanya semakin jauh tertinggal. Dengan minimnya perkembangan ilmu yang disajikan dalam bahasa lokal (dan nasional), istilah-istilah asing lebih banyak beredar daripada istilah berbahasa lokal.

Continue reading

Ibadah dan Ibadat

27 Jul

Apa yang membedakan kata ibadah dengan ibadat? Cara yang paling gampang tentu dengan meraih kamus dan melihat apa yang dikatakan kamus tentang kedua kata tersebut. Maka cobalah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga pada halaman 415. Pada halaman pertama dari daftar huruf I itu, kita langsung bertemu dengan kedua kata tersebut.

Baik ibadah, maupun ibadat sepertinya bisa saling menggantikan. Pada lema ibadah, tercantum salah satu artinya ialah ‘ibadat’. Demikian pula sebaliknya. Tapi benarkah keduanya bisa saling menggantikan? Belum tentu! Coba lihat pengertian lain yang ditawarkan oleh KBBI yang ukurannya memang besar itu.

Continue reading