Suatu Ketika …

31 Aug

Kebanyakan orang tentu akan merasa akrab dengan tulisan yang dibuka dengan Suatu ketika. Tulisan yang diawali dengan frasa seperti itu akan langsung dikenali sebagai sebuah tulisan bergenre dongeng. Tentu saja tidak hanya Suatu ketika yang dapat kita temui. Variasi lainnya, misalnya Pada suatu ketika, Pada zaman dahulu kala, atau Alkisah.

Saya teringat, beberapa waktu lalu seorang teman bertanya melalui sebuah situs jejaring sosial bagaimana melakukan pembukaan sebuah cerita tanpa menggunakan pola klasik seperti tadi. Mudah saja. Kita bisa membukanya dengan memberikan deskripsi tentang berbagai hal. Misalnya, menggambarkan waktu, menggambarkan raut muka dan ekspresi salah satu tokoh dalam cerita yang hendak diangkat, dan sebagainya.

Dalam sejumlah cerita, penggunaan pola “klasik” seperti diungkapkan sebelumnya memang tidak lagi menjadi pilihan. Beberapa contoh dapat kita lihat berikut ini.

Silas Heap merapatkan jubahnya, menahan dinginnya salju. (Sage, Angie. 2007. Septimus Heap: Magyk. Terj. Febri Elviria. Jakarta: Penerbit Matahati. Hlm. 9.)

Bunyi yang terdengar sayup-sayup—gesekan lembut antara baja dan batu, diikuti derap langkah dan gerakan kaki yang asing di telinganya—memberitahu pria itu bahwa para tamunya telah tiba. (Owen, James A. 2010. The Imaginarium Geographica 1: Here, There Be Dragons. Terj. Berliani M. Nugrahani. Jakarta: Penerbit Matahati. Hlm. 7.)

Kapal laut itu mengapung malas di perairan licin bagaikan ubur-ubur mengambang. (Yourcenar, Marguerite. 2007. ”Senyum Marko”, dalam Cerita-Cerita Timur. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm. 26.)

Lindenfield sangat gersang pada musim dingin. (Martin, Ann M. 2007. Kisah Seekor Anjing. Terj. Tanti Lesmana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)

Mungkinkah mengawali sebuah cerita dengan sebuah kalimat langsung? Atau dialog? Silakan saja. Maka kita bisa saja menulis seperti berikut ini.

”Tibbe! Mana Tibbe? Ada yang lihat Tibbe? Dia harus menemui Bos. Di mana sih dia? Tibbe!” (Schmidt, Annie M.G. 2007. Minoes. Terj. R. Indira Ismail. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 7.)

Akan tetapi, model pembuka cerita yang klasik pun terbukti masih lazim ditemukan bahkan pada cerita-cerita yang ditulis belakangan ini. Coba simak contoh-contoh berikut ini.

Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. (Funke, Cornelia. 2009. Tintenherz. Terj. Dinyah Latuconsina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 9.)

Dahulu, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci yang hampir seluruhnya terbuat dari porselen. (DiCamillo, Kate. 2006. The Miraculous Journey of Edward Tulane. Terj. Dini Pandia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 11.)

Di suatu masa, tersebutlah sebuah kota kecil yang diapit hutan lebat dan bukit rumput landai. (Kadono, Eiko. 2006. Titipan Kilat Penyihir. Terj. Dina Faoziah dan Junko Miyamoto. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 9.)

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat diawali dengan banyak cara, banyak hal. Adakah cara mengawali cerita selain contoh-contoh di atas? Bisa saja. Bisa saja cerita itu diawali dengan salam pembuka sebuah surat. Bisa saja penggalan puisi mengawalinya. Bagaimanapun juga,

Saya percaya, tidak ada hukum atau kewajiban bagi penulis untuk memulai ceritanya, dongengnya, dengan menggunakan frasa tertentu. Anda boleh saja menggunakan Alkisah daripada Pada zaman dahulu kala. Namun, Anda juga boleh menggunakan model-model pembukaan cerita lainnya, seperti sejumlah contoh di atas.

Pembukaan sebuah cerita jelas merupakan sesuatu yang penting. Terpikat tidaknya pembaca bisa ditentukan dari cara kita mengawali cerita. Namun, saya masih berpikir bahwa ketika cerita yang Anda tulis adalah sebuah dongeng, tidak ada yang akan menyalahkan Anda kalau membuka cerita dengan gaya klasik. Bagi saya kalimat pembuka itu hanya semacam pengantar. Bagaimana Anda membangun cerita, membangun karakter tiap tokoh, menyusun alur cerita, hal-hal seperti itulah yang akan menentukan kualitas isi cerita.

Jadi, jangan ragu untuk menggunakan Pada suatu ketika. Jangan ragu menggunakan ”Pencuri! Pencuri!” untuk mengawali cerita. Saya sendiri masih akan memulai dongeng saya dengan Pada zaman dahulu kala, Pada suatu ketika, Alkisah, dan sebagainya.

One Response to “Suatu Ketika …”

  1. diahpandora December 19, 2011 at 3:30 am #

    Menarik.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: