D’ArtBeat dan Trilogi Panggung Kehidupan

23 Oct

Jakarta memang memberikan berbagai kesempatan. Salah satunya kesempatan menikmati kegiatan seni dan budaya. Setelah sebelumnya menikmati pagelaran wayang orang, Petroek Ngimpi yang dibawakan oleh Paguyuban Gumathok dan Wayang Orang Bharata di TIM, 26 Agustus 2010 lalu, kesempatan menikmati drama musikal pun hadir pula.

Adalah D’ArtBeat yang menyajikan drama musikal tersebut. Dalam pementasan mereka di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, 25 September 2010 lalu, mereka mengusung drama bertajuk ”Satu Kata yang Terlupa”. Pagelaran ini merupakan kelanjutan dari Road Show Trilogi Panggung Kehidupan yang sebelumnya juga menampilkan drama musikal, ”Pulang”.

D’ArtBeat sendiri merupakan sebuah wadah dalam dunia seni kreatif  yang mengusung visi menyatakan kasih, kebenaran, dan kuasa Allah melalui karya seni. D’ArtBeat ingin mengajak tiap penikmatnya untuk memiliki sikap hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Dalam pertunjukan yang digelar September lalu itu, saya beruntung mendapatkan akses khusus sehingga bisa menikmati fasilitas VIP. Ini jelas memberikan keleluasaan dalam mengeksplorasi panggung, termasuk mengamati gerak-gerik dan ekspresi wajah dari tiap orang yang tampil di panggung tersebut.

Pembuktian eksistensi diri
”Satu Kata yang Tertunda” diangkat dari kisah nyata, berkisah tentang Mei Chen, gadis yang cacat karena ibunya berupaya menggugurkannya ketika ia masih berada dalam kandungan. Pada hari kelulusannya, ia bertengkar hebat dengan ibunya. Merasa bahwa keberadaannya tidak diinginkan, ia memilih minggat di tengah guyuran hujan. Tekadnya bulat, ia ingin membuktikan eksistensinya sebagai manusia.

Dengan uang yang ia tabung, ia berangkat ke Yogya. Di sana ia menumpang pada Ibu Minarni, yang pernah menjadi gurunya di kota asalnya. Hidup seorang diri setelah ditinggal sang suami yang meninggal dan tanpa seorang pun anak, ditambah dengan keteguhan hati Mei Chen membuat Ibu Minarni bersedia menampung muridnya itu. Tidak hanya itu, ia juga menyekolahkan Mei Chen hingga berhasil lulus dan akhirnya menjadi pengusaha yang sukses.

Hidup dalam kesuksesan, tidaklah membuat Mei Chen benar-benar tenang. Meskipun ia sangat mengasihi dan menghormati Bu Minarni, satu hal menyangkut relasinya dengan ibunya membuat ia tidak kunjung mendapatkan kedamaian.

Penuh nilai
Harus diakui, drama musikal ini memang sarat dengan nilai. Hadir dengan plot yang sangat sederhana, rasanya tidak mungkin penonton tidak menangkap pesan-pesan yang dihadirkan. Karakter-karakter yang diwujudkan juga menunjukkan sejumlah nilai yang bisa dipelajari.

Sosok Mei Chen mewakili sikap yang teguh dan berani. Meskipun merasa sesak karena keberadaannya tidak diinginkan sang ibu, ia berpendirian teguh. Ia berani memutuskan nasibnya, keluar dari rumah, dan nekad mencari gurunya, Ibu Minarni, ke Yogya. Mei Chen juga mewakili sikap yang tidak mau kalah dengan kekurangannya, menutupinya dengan kerajinan dan ketekunan. Guna mencukupi kebutuhan hidup bersama Ibu Minarni, diiringi keinginan untuk berguna, ia menjual kue-kue. Ketekunannya juga ditunjukkan dengan keberhasilan dalam studi dan kariernya sebagai pengusaha.

Ibu Minarni sendiri mewakili pribadi yang rela menolong. Bahkan tidak setengah-setengah dalam menolong sesama. Tidak hanya menampung Mei Chen, tetapi juga menyekolahkannya.  Dengan penuh pengertian pula ia mendorong Mei Chen untuk pergi menemui ibunya.

Adapun Tante Lin bisa dianggap sebagai sosok yang memiliki belas kasihan, tetapi tidak mampu mewujudkannya karena keterbatasannya. Meskipun demikian, sosoknya ini menunjukkan ketulusan dalam upayanya untuk tetap mengasihi Mei Chen.

Drama ini sendiri bisa dianggap sebagai drama yang menggambarkan keteguhan hati, pengucapan syukur, dengan penekanan pada pentingnya mengesampingkan ego untuk memberi ruang bagi pengampunan dan penyesalan.

Plus-minus pertunjukan
Para pemeran tampak total memerankan tokoh yang dipercayakan kepada mereka. Dalam babak pertama, penonton yang tidak siap, mungkin akan merasa tersentak mendengar Mei Chen (diperankan dengan baik oleh Yuli Jo) berbicara dengan nada yang tinggi kepada ibunya (Sri Rachmayanti).

Kinerja tim panggung juga luar biasa. Dengan sigap mereka menyulap panggung dan menyajikan latar yang mendukung cerita. Bila babak pertama mereka menghadirkan suasana rumah Mei Chen yang berdindingkan papan, dengan perabot seadanya, babak kedua dan ketiga mereka menghadirkan suasana rumah Ibu Minarni yang khas bergaya rumah Jawa, dengan perabot anyaman, sederhana, namun rapi. Babak keempat, dihadirkanlah kantor Mei Chen, yang telah sukses sebagai pengusaha. Dan pada babak terakhir, mereka kembali menyulap panggung ke rumah Mei Chen.

Pementasan drama musikal ini sendiri sebenarnya bukan tanpa kekurangan. Pada babak kedua, terdapat gangguan pada alat pengeras suara yang digunakan oleh Yessy Natalia, pemeran Ibu Minarni. Suaranya terputus-putus. Hal ini ternyata berlanjut hingga babak-babak berikutnya.

Jalan cerita disajikan dengan sangat sederhana sehingga penonton tentu mudah mencerna kisah ini. Hanya saja para penonton tidak pernah tahu kota asal Mei Chen, setidaknya sampai pada babak keempat. Meski demikian, hal ini cukup dapat dimaklumi karena informasi tersebut, meskipun dapat mendukung kekuatan cerita, dalam pementasan ini tidak berperan vital. Mungkin ini pula alasan mengapa sang sutradara tidak menekankan pentingnya dikemukakan hal ini.

Hal lainnya, sebagian penonton mungkin merasa aneh ketika suasana duka dimunculkan pada babak terakhir. Dikisahkan bahwa Mei Chen bukanlah satu-satunya anak dari Mama Giok, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa saudara-saudaranya yang lain hadir dalam kedukaan tersebut. Yang ada hanyalah beberapa orang yang tampaknya berperan sebagai tetangga. Dalam hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, kedukaan tersebut memang baru terjadi sehingga yang paling wajar adalah kehadiran para tetangga. Besar kemungkinan saudara-saudara Mei Chen tidak lagi tinggal bersama Mama Giok. Kedua, ini merupakan bagian yang didramatisasi oleh sutradara.

Ketidakjelasan ini memang bisa saja menjadi kelebihan daripada kekurangan. Di sinilah para penonton bisa menafsirkan suasana dengan lebih bebas daripada sekadar mengikuti paparan sang sutradara.

Akan tetapi, kekurangan terbesar justru hadir pada penghujung pertunjukan. Pemaparan nilai-nilai yang dihadirkan dalam drama ini jelas merupakan sebuah kekeliruan terbesar. Pertama, ini mengesankan penonton tidak cukup cerdas untuk menangkap pesan yang disampaikan. Apalagi drama ini sangat gamblang dalam memaparkan nilai-nilai yang dimaksud. Akibatnya, tidak hanya terkesan terlalu menggurui, tetapi juga terkesan sangat mubazir.

Bukan satu-satunya pertunjukan
Pementasan drama musikal ini tidak menjadi satu-satunya pertunjukan. D’Art Beat Dance Into Anointing dan D’Art Beat Kids mengawali pertunjukan Sabtu itu. Plus persembahan nyanyian bernuansa oriental yang dibawakan oleh Spectrum Choir. Tiga pertunjukan awal ini jelas hendak menegaskan bahwa seni teater bukan satu-satunya yang digarap oleh D’ArtBeat.

Meskipun menjadi pembuka, tiga pertunjukan awal ini tidak kalah bermaknanya. Kalau D’Art Beat Dance Into Anointing membawakan nuansa Barat, D’Art Beat Kids membawakan nuansa Nusantara, dan Spectrum Choir menghadirkan nuansa oriental. Semua ini hendak menunjukkan kemajemukan Indonesia saat ini, setidaknya demikian yang dijelaskan oleh pembawa acara.

Trilogi Panggung Kehidupan
Tema yang diangkat dalam pertunjukan kedua ini memang berbeda ketimbang ”Pulang”, yang dipentaskan di The Upper Room (21/8), meskipun sama-sama mengedepankan perempuan sebagai tokoh utamanya. Adapun ”Pulang” mengangkat kisah Nina, yang pergi ke Jakarta, mencari laki-laki yang menghamilinya tanpa ikatan nikah. Alih-alih menemukan pria itu, ia malah terperosok ke dalam kehidupan bebas yang tanpa kepastian.

Drama pembuka Trilogi Panggung Kehidupan ini merupakan adaptasi dari karya Wynyard Browne, The Holy and the Ivy. Teguh Karya pernah pula mengadaptasi karya tersebut pada akhir 1987 yang kemudian ditayangkan TVRI sebagai drama televisi berjudul ”Pulang”.

Puncak Trilogi Panggung Kehidupan rencananya akan digelar di Taman Ismail Marzuki pada bulan April 2011, bertepatan dengan ”bulan Kartini”. Drama musikal yang diberi judul ”Diva” ini baru memasuki tahap audisi pada 16 Oktober yang lalu. Dalam kesempatan berbincang dengan sang sutradara waktu itu, untuk tokoh utamanya memang butuh sosok yang istimewa. Sebut saja, dari latar etnisnya; yang satu mesti berwajah Belanda, yang satu yang berwajah lokal, yang lain berwajah oriental, dan harus cantik.

 

Foto-foto: Maxdalena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: