Luna Vidya dan Monolog “Menunggu Matahari”

29 Apr

”Masih gelap, selalu masih gelap. Kapan pagi datang?” Begitulah Luna Vidya mengawali monolognya di Newseum Cafe, Jakarta, 16 April 2010 lalu. Didampingi Abdi Karya, rekannya, malam itu Luna memerankan sosok Maria dari Sikhar.

Dalam pembukaan tersebut, Luna menggambarkan kegalauan Maria. Galau karena tidak sempat membaluri jasad Yesus dengan rempah-rempah. Galau karena tidak sempat memberi perlakuan yang layak kepada tubuh Yesus. Sebab ketika Yesus disalib, hari Sabat memang sudah sangat dekat. Namun, tetap saja itu seharusnya tidak membuatnya mengabaikan jasad Guru yang sangat ia hormati itu

Maria dari Sikhar
Mungkin banyak yang tidak begitu mengenal siapa Maria dari Sikhar ini. Saya sendiri semula bertanya-tanya, ini Maria yang mana? Sebab kalau kita mencermati isi Alkitab, khususnya kitab-kitab Injil, kita akan menemukan beberapa Maria. Pertama-tema, tentulah kita mengenal Maria ibu Yesus. Lalu ada juga Maria Magdalena, yaitu perempuan yang pernah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat.

Lalu, siapa Maria dari Sikhar ini? Petunjuk pertama datang dari latar selanjutnya yang ditampilkan oleh Luna. Kala itu, Luna mengarahkan monolognya pada latar di mana Yesus sedang duduk di tepi sumur. Menurut Injil Yohanes 4, peristiwa ini terjadi di daerah Samaria, tepatnya di sebuah kota bernama Sikhar.

Menarik juga melihat Luna memilih Maria dari Sikhar. Dalam diskusi yang berlangsung setelah monolog, ia memaparkan alasannya. Pertama, ia memilih perempuan. Ini juga bukan tanpa alasan. Sebab adalah fakta yang tidak dapat dimungkiri setiap orang bahwa perempuan memiliki peran yang tidak sedikit dalam pelayanan Yesus. Bahkan Yesus menampakkan diri untuk pertama kalinya kepada seorang perempuan. Kedua, Maria ini adalah sosok yang pintar. Ia memiliki pengetahuan teologis (baca Yoh. 4:1-26).

Satu hal lagi yang Luna ungkapkan, sosok Perempuan dari Samaria yang ia sampaikan ini menggambarkan keadaan banyak orang. Ada banyak orang yang memiliki hasrat untuk mengenal Tuhan. Akan tetapi, tidak terjembatani.

Harus diakui memang, kesan terbuang terlihat melalui diri Maria. Sebagai perempuan, ia sudah menikah lima kali, dan bahkan ketika bertemu Yesus ia sedang bersama orang keenam. Tentu ia dijauhi oleh siapa pun. Ia terbuang. Dan menurut Luna, ia memang sengaja mengangkat sosok-sosok terbuang sebab dirinya pun sebenarnya terbuang, ditolak oleh gereja. Sudah tentu “terbuang” dan “ditolak” di sini lebih dikarenakan apa yang ia kerjakan selama ini.

Interpretasi
Dalam monolog Menunggu Matahari ini, Luna yang kelahiran Papua ini menghadirkan suatu interpretasi terhadap kisah Injil. Ia menggambarkan perjalanan Maria, sang Perempuan dari Samaria itu. Dari mengenal Yesus, memutuskan mengikut Dia dalam pelayanan-Nya, menyertai Yesus dalam penyaliban-Nya, sampai menyadari datangnya hari kebangkitan.

Ia juga menggambarkan bagaimana perubahan hidup terjadi ketika seseorang menerima Yesus. Ketika memutuskan mengikut Yesus, Luna menggambarkan bagaimana perasaan Maria yang sangat bahagia. Bila sebelumnya mengambil air saja pun sudah menjadi siksaan baginya, kini ia bisa berjalan di bawah matahari dengan sukacita. Apalagi ketika mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya, perempuan-perempuan lain mendekatinya, ingin tahu bagaimana perjumpaannya dengan Yesus.

Maka di sini kita sampai pada pesan pertama yang hendak disampaikan Luna. Perjumpaan dengan Yesus, keterbukaan kepada Yesus, membuka peluang pada pembaruan hidup. Maria dari Sikhar, yang sudah menikah lima kali, tidak menutup-nutupi keberadaan dirinya kepada Yesus. Dan hal ini membawa pada pertobatan, yang kemudian mengubah segenap hidupnya.

“Makkunrai Project”
Monolog malam ini memang bukan yang pertama bagi Luna Vidya. Hal ini rasanya dapat dilihat oleh setiap orang yang hadir pada malam itu. Penampilan ibu empat anak ini mengisyaratkan bahwa ia sudah banyak makan garam.

Meski mengaku sudah menekuni dunia teater sejak 1984, toh baru empat tahun terakhir ini Luna berfokus pada karya-karya monolog. Bersama Lily Yulianti, perempuan kelahiran Papua ini mengerjakan Makkunrai Project sejak 2008. Monolog Makkunrai inilah yang ditampilkan sehari sebelumnya di Goethe Haus sebagai bagian dari Festival April 2010 yang diadakan oleh Institut Ungu.

Makkunrai Project bermula dari kumpulan cerpen Makkunrai karya Lily Yulianti. Cerpen “Makkunrai” ini sendiri berkisah tentang seorang perempuan yang memutuskan melawan kekuasaan sang kakek. (Lebih lengkapnya, silakan klik sini untuk mengetahui cerpen “Makkunrai” ini.) Selanjutnya, Makkunrai Project ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran gender melalui sastra dan penampilan di panggung.

Total
Meski hanya disaksikan hanya dua puluhan penonton, Luna tidak serta merta menurunkan performanya. Ia malah tampil dengan begitu total malam itu. Dengan lihai, ia membawa penonton ke berbagai latar cerita. Misalnya, setelah mengawali monolog dengan Maria yang merasa gelisah, latar beralih ke kota Sikhar. Di sanalah pada siang hari ia bertemu dengan Yesus dan mengalami pertobatan.

Untuk memberi kesan yang penuh, sudah tentu Luna harus memerankan tokoh yang lain. Maka ia berperan sebagai orang banyak yang berseru-seru, dari “Hosana!”, sampai “Salibkan Dia!”. Ia pun berperan sebagai para ahli Taurat dan imam Farisi. Bahkan ia memerankan sosok Yesus.

Tidak hanya Luna yang melakukannya. Abdi pun banyak berperan dalam monolog ini. Ia misalnya memberi efek suara yang menambah kesan mistis pada awal monolog melalui gelas berisi air. Selain itu, nyanyian dan bisikan-bisikan yang ia buat menambah kekuatan pada monolog ini.

Yang mengejutkan, Luna mengakuinya dalam diskusi, Menunggu Matahari malam ini digarap dengan sejumlah improvisasi. Ia mendiskusikan hal ini dengan Abdi satu jam sebelum monolog dimulai.

Meski bertema Paskah, Menunggu Matahari tidak hanya disaksikan oleh mereka yang Kristen. Dari dua puluhan yang hadir, tampak beberapa di antaranya mengaku Muslim. Ini menunjukkan bahwa sebuah karya dapat menembus batas-batas keyakinan. Tidak heran kalau Luna menolak menyebut monolog ini monolog Kristen.

Selain monolog, turut digelar juga diskusi. Beberapa hadirin mengapresiasi penampilan Luna yang tampil sangat total pada malam itu.

Empat tahun terakhir ini Luna yang terjun ke teater sejak 1984 ini memang berfokus pada karya-karya monolog. Bersama Lily Yulianti, perempuan kelahiran Papua ini mengerjakan Makkunrai Project sejak 2008. Monolog Makkunrai inilah yang ditampilkan sehari sebelumnya di Goethe Haus sebagai bagian dari Festival April 2010 yang diadakan oleh Institut Ungu.

5 Responses to “Luna Vidya dan Monolog “Menunggu Matahari””

  1. LV April 30, 2010 at 8:45 am #

    Thanks!!

    ternyata miris ya, melihat, membaca sendiri ketertolakan. tapi, diskusi malam itu adalah tentang: passion dan penerimaan gereja pada passion seperti yang saya miliki *nyengir*
    menolak sebagai individu yang percaya pada Kristus mungkin tidak, melihat apa yang saya kerjakan sebagai elemen yang effektif dalam kerjaan Allah, memerlukan diskusi panjang, dukungan.
    teman sekerajaan saya, hanya tidak paham. saya pikir.. penjelasan itu lebih baik untuk kalimat : “tertolak, setidaknya menurut pengakuannya.” *nyengir, lagi*

    sekali lagi, thanks!

    • indonesiasaram May 1, 2010 at 8:27 am #

      Terima kasih telah berkunjung Mbak Luna. Terima kasih juga untuk penjelasannya, saya sudah “sedikit” mengoreksi bagian tersebut. Terus berkarya!

  2. Bayu Probo May 3, 2010 at 5:08 pm #

    Sebuah tampilan yang menggetarkan.

  3. Bayu Probo May 6, 2010 at 3:49 pm #

    Akhir Mei 2010 Luna Vidya akan hadir lagi di Newseum Cafe.

    • indonesiasaram May 6, 2010 at 4:22 pm #

      Nah, ini menarik. Semoga saja kali ini pun saya berkesempatan menyaksikan monolognya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: