Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota

31 Dec

Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan ia tidak mengerjakan PR-nya.

Kebohongan demi kebohongan bisa muncul dengan lebih banyak lagi mengingat kemajuan teknologi saat ini sangat memungkinkan hal tersebut. Di dunia maya, berbagai praktik kebohongan pun tersebar luas. Yang paling umum tentunya kebohongan seputar jati diri yang dilakukan ketika ceting (chatting). Sementara itu, keberadaan ponsel di dunia nyata juga membuka peluang untuk melakukan kebohongan.

Bohong yang muncul di kalangan masyarakat ibu kota yang berhasil saya umumnya terjadi di angkutan umum dan berhubungan dengan tempat. Dari sejumlah kesempatan, mayoritas berbohong kepada mitra tuturnya ketika berbicara dengan media telepon seluler (non-SMS karena bohong melalui SMS tidak mungkin saya lihat, kecuali saya mengenal baik orang yang melakukannya).

Pola bohong yang muncul ada dua. Pola pertama ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan yang sudah lebih jauh di depan posisi orang yang dihubungi. Contohnya saya temukan dalam Bus Transjakarta yang tengah melaju menuju Dukuh Atas dari bilangan Matraman. Seorang penumpang yang kala itu ditelepon oleh rekannya mengaku sudah berada di Dukuh Atas, meskipun nyata-nyata ia masih di bilangan Matraman. Contoh kedua saya temukan ketika menaiki angkutan kota jurusan UKI-Pasar Rebo (461). Seorang pemuda menerima telepon menyebutkan bahwa ia tengah melaju di jalan tol, padahal saat itu masih berada di UKI.

Adapun pola kedua ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan jauh di belakang posisi orang yang tengah dihubungi. Sebagai contoh, seorang yang sebenarnya telah berada di daerah Matraman, mengaku masih berada di Senen ketika dihubungi oleh seseorang.

Bila disederhanakan, pola bohong pertama adalah sebagai berikut.
lokasi saat ini + lokasi lain arah depan

 

pola-bohong-2

 

Sedangkan pola bohong kedua:
lokasi belakang + lokasi tujuan

 

pola-bohong-1

 

Motif bohong itu pun tentu berbeda-beda. Dalam kasus pertama pola bohong pertama, motifnya bisa untuk memberi kesan bahwa yang bersangkutan sudah akan tiba lebih dahulu di tempat tujuan daripada rekannya. Dalam hal ini, mungkin saja mitra tuturnya sama-sama belum berada di lokasi yang dijanjikan. Sedangkan pada kasus kedua, bohong itu dilakukan untuk memberi kesan bahwa dalam waktu yang relatif singkat yang bersangkutan sudah akan tiba di lokasi perjanjian. Dengan kata lain, mitra tuturnya sangat mungkin sudah berada di lokasi pertemuan. Adapun pada pola kedua, bohong sengaja dilakukan dengan harapan mitra tutur tidak berharap agar yang bersangkutan segera tiba.

Satu hal yang unik, sepertinya bohong seperti itu sudah biasa bagi masyarakat ibu kota. Tidak ada reaksi dari siapa pun yang ada di sekitar orang yang berbohong. Minimal seseorang akan menoleh kepada yang berbohong sebagai reaksi terhadap kebohongan tersebut. Namun, sejauh ini saya malah belum menemukan reaksi serupa. Entah karena berbohong seperti itu benar-benar sudah biasa, entah karena memang tidak mau peduli karena menganggap hal itu bukan tanggung jawabnya, atau entah karena hal-hal lainnya.

Pada penghujung tahun ini, saya kira hal-hal seperti ini patut menjadi perhatian kita. Memang tampak sederhana. Namun, justru dari sinilah mental pribadi yang jujur itu dibentuk. Selamat melangkah ke tahun 2009. Semoga kita bisa lebih jujur pada tahun tersebut.

9 Responses to “Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota”

  1. Haris Suryanegara January 2, 2009 at 4:03 am #

    Nah ini dia. Refleksi akhir tahun yang menggugah. Sebenarnya kebohongan itu memang bermanfaat bagi yang melakukannya, terlepas dari benar tidaknya perbuatan itu di mata masing-masing manusia.
    Selamat tahun baru.🙂

  2. pakedu March 28, 2009 at 8:52 am #

    kebohongan juga terjadi dalam penyamaan-penyamaan yang ceroboh. Salah satu contohnya adalah penerjemahan “science“ menjadi “ilmu”. Penerjemahan ini pada dasarnya tidak tepat, karena “ilmu” lebih luas dari “science”. “ilmu” lebih dekat dengan “knowledge”, dibandingkan dengan “science”. gitu pak?

  3. krismariana March 31, 2009 at 1:42 pm #

    ya begitulah mental warga jkt ini mas. kasihan ya kalo dipikir2

  4. texasindo March 31, 2009 at 7:08 pm #

    bang tukeran link dong sama kandang dulu >>>
    http://www.texasindo.wordpress.com
    [FS USU]

    • indonesiasaram April 5, 2009 at 7:59 pm #

      Sudah saya tambahkan di daftar ya. Terima kasih juga telah menautkan blog ini di sana.

  5. Bayu Probo April 15, 2009 at 3:48 pm #

    Jangan-jangan mereka tidak sedang berbohong. Jangan-jangan mereka mengalami salah orientasi. Misalnya Senen masih dianggap bagian dari Matraman. Atau UKI dan Pasar Rebo dianggap sudah dekat. Terutama orang yang baru di Jakarta seperti saya, sering begitu. Misalnya, saya pernah naik kereta dari Jogja ke Jakarta, sewaktu ditanya sudah sampai mana? Saya jawab sudah sampai Jatinegara padahal masih di Cikampek walah …

  6. riomigang May 16, 2009 at 10:08 pm #

    Pengamatan Anda menggambarkan realitas prinsip hidup kebanyakan warga kota besar, prinsip yang nampaknya menjadi pegangan hidup, ditengarai adalah “asal selamat”, entah selamat dari apa. Mungkin selamat dari kritik temannya karena terlambat, atau cari selamat karena sungkan bertemu terlalu cepat.

  7. Imanuel September 2, 2009 at 12:35 am #

    Saya sangat suka dengan semua tulisan di blog ini, sayangnya saya terlambat menemukan blog ini. Tampaknya sudah tidak ada tulisan baru lagi. Saya salut atas ketertarikan anda dengan Bahasa Indonesia! Saya pun sedang membuat tulisan tentang etimologi dari suatu kata dalam Bahasa Indonesia, dalam kaitannya dengan pergeseran makna dari kata tersebut. Saya ingin mendiskusikannya dengan anda terlebih dahulu apabila mungkin! Mohon bantuannya🙂

    • indonesiasaram September 7, 2009 at 11:25 am #

      Terima kasih telah berkunjung. Saat ini saya memang belum sempat menambahkan tulisan, namun saya sedang mempersiapkan tulisan baru. Semoga dalam waktu dekat sudah bisa saya pasang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: