Televisi sebagai Media Penyebaran Perilaku Campur Kode

28 Jul

Harus diakui, perkembangan zaman dalam beberapa tahun terakhir ini semakin mengarahkan masyarakat bahasa untuk tidak hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Setelah bahasa Inggris menjadi bahasa wajib, sejumlah bahasa Asia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea pun mulai menjadi bahasa pendamping.

Tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini pelan-pelan mengarahkan masyarakat bahasa untuk menanggalkan bahasa ibunya. Sehingga bahasa daerah dan bahasa Indonesia rasanya semakin jauh tertinggal. Dengan minimnya perkembangan ilmu yang disajikan dalam bahasa lokal (dan nasional), istilah-istilah asing lebih banyak beredar daripada istilah berbahasa lokal.

Sebut saja istilah-istilah di bidang teknologi informasi (TI). Kencangnya perkembangan dunia TI ini ditambah dengan sangat terlambatnya sosialisasi padanan istilah-istilahnya membuat masyarakat lebih menerima istilah asing daripada padanannya. Tidak hanya itu, kebanyakan orang bahkan lebih suka menyebutkan IT, singkatan dari information technology daripada TI, singkatannya dalam bahasa Indonesia.

Situasi demikian mendorong kebanyakan orang mulai mencampur bahasa mereka dengan bahasa asing. Perilaku yang mencampur bahasa asing dalam konstruksi bahasa asal, entah itu bahasa daerah, entah bahasa Indonesia, disebut campur kode. Semakin banyak yang berperilaku demikian, semakin berterima pulalah pencampuran ini.

Merujuk pada sumber penyebarannya, campur kode yang mewarnai masyarakat sangat terbantu (dipengaruhi) oleh media. Adapun televisi merupakan salah satu yang sangat berperan besar dalam menumbuhkembangkan perilaku bercampur kode. Apalagi media yang satu ini telah menjadi kebutuhan primer bagi mayoritas penduduk di Indonesia. Maka tidak mengherankan kalau televisi sangat memiliki posisi yang sangat kuat sebagai media penyebaran istilah asing. Bahkan penggunaan bahasa asing untuk memberi nama acara jauh lebih disukai.

Merujuk pada daftar acara televisi pada Kompas hari Jumat, ada sebelas stasiun televisi yang daftar acaranya dipampangkan. Berdasarkan perhitungan, stasiun televisi yang memiliki kecenderungan menggunakan nama acara dalam bahasa asing ialah Metro TV, yaitu sebesar 58,82% dari total acara pada hari Jumat. Pada posisi berikutnya ada Global TV (58,62%) dan Trans7 (45,16%). Adapun TPI lebih banyak memilih nama dalam bahasa Indonesia/daerah, yaitu hanya 10% dari total acara pada hari yang sama saja yang menggunakan bahasa asing sebagai nama acara. Dua posisi berikutnya diikuti oleh TVRI (14,34%) dan SCTV (19,04%).

Secara lengkap, berikut ini hasil penghitungan persentasi tersebut, diurutkan dari stasiun televisi yang paling memiliki kecenderungan menggunakan bahasa asing.

  • Metro TV
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 41,78% (14 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 58,82% (20 acara)
  • Global TV
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 41,38% (12 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 58,62% (17 acara)
  • Trans7
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 54,84% (17 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 45,16% (14 acara)
  • TV One
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 63,64% (14 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 36,36% (8 acara)
  • ANTV
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 65,63% (21 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 34,37% (11 acara)
  • Trans TV
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 66,26% (18 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 33,34% (9 acara)
  • RCTI
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 76,20% (22 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 23,80% (5 acara)
  • Indosiar
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 78,95% (15 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 21,05% (4 acara)
  • SCTV
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 80,96% (17 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 19,04% (4 acara)
  • TVRI
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 85,66% (26 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 14,34% (4 acara)
  • TPI
    Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 90% (18 acara)
    Nama acara berbahasa asing: 10% (2 acara)

Sebagai catatan, semua acara televisi yang mengandung bahasa asing, meski hanya satu atau dua kata dianggap acara yang menggunakan bahasa asing.

Dari hitung-hitungan sederhana di atas, saya cukup kaget juga melihat TPI berada pada posisi pertama stasiun televisi yang paling minim menggunakan bahasa asing untuk acara-acara yang mereka tayangkan. Semula saya mengira TVRI akan menempati posisi yang paling sehat dari segi pemilihan nama acara.

Memang, masih ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan lagi. Pertama, berapa besar frekuensi percampuran bahasa dari setiap acara. Apabila percampuran cukup tinggi meski pada acara yang berlabel lokal, tetap saja dampak pencampuran bagi masyarakat bisa menjadi tinggi ketimbang acara dengan nama asing yang frekuensi pencampuran bahasanya lebih rendah.

Kedua, seberapa tinggi peringkat televisi tersebut di mata penonton. Stasiun televisi dengan tingkat jumlah penonton yang besar tentu lebih berpeluang menciptakan alam berbahasa. Maka bila jumlah penonton stasiun televisi dengan tingkat percampuran bahasa yang tinggi dapat pula memberi dampak pada terciptanya masyarakat gemar mencampur bahasa.

Bagaimanapun juga, kecenderungan pemilihan nama acara dengan bahasa asing menjadi salah satu faktor pembentuk perilaku pencampuran bahasa. Hal ini akan diperkuat dengna fakta bertebarannya penggunaan bahasa yang penuh dengan percampuran pada setiap acara yang disajikan. Dan seiring tingginya frekuensi menonton televisi di kalangan masyarakat, pelan-pelan sikap untuk bercampur kode di kalangan masyarakat akan meningkat pula.

10 Responses to “Televisi sebagai Media Penyebaran Perilaku Campur Kode”

  1. ardansirodjuddin August 4, 2008 at 6:14 pm #

    wah keren abiz , selamat atas blognya ya . . . .

    kalo ada waktu tolong kunjungi blog saya : http://ardansirodjuddin.wordpress.com/

  2. Special Project August 26, 2008 at 4:54 pm #

    Suatu Informasi yang sangat bagus adan berguna kepada qt sebaga masyarakat awam

  3. Video Dewasa August 29, 2008 at 11:20 am #

    info nya bagus banget kok bisa sampai sedetails gitu dapet persentase dari acara telivisi

  4. indonesiasaram August 30, 2008 at 5:45 pm #

    Terima kasih telah berkunjung ke sini. Persentase tersebut saya dapatkan dengan mengamati daftar acara pada sebuah surat kabar. Apabila penghitungan persentasenya keliru, silakan menginformasikannya kepada saya.

  5. ecin September 15, 2008 at 11:04 am #

    bagus banget infonya, kalo bisa tolong dong dimuat dampak siaran khusus ibadah di TV. tolong yah…. gw pengen skali mau tau. Tx b4

  6. indonesiasaram September 16, 2008 at 10:17 pm #

    Terima kasih untuk usulnya. Tapi kalau untuk itu saya butuh waktu yang lebih banyak untuk melakukan penelitian kecil. (Dan saya harus menyalakan televisi lagi setelah sekian lama tak pernah menonton televisi.)

  7. jebrok December 5, 2008 at 10:56 pm #

    Memang itu merupakan kelemahan dunia pertelevisian kita. Akan tetapi tidak semua kesalahan terdapat pada stasiun televisi tersebut. Bahasa yang kita agungkan [BI] juga mempunyai kelemahan, yakni kaku jika digunakan dalam percakapan sehari-hari.

  8. alex December 24, 2008 at 12:36 pm #

    campur kode dalam berbahasa sangat lazim kita gunakan dalam kesehrian, kadang tanpa kita sadari kita telah membuat sebuah gaya baru dalam berbahasa.
    pada tv, kita harus melihat prospeknya. kalau ada unsur pergeseran bahasa pada implyed-nya, maka itu harus kita perbaiki dan kritisi bersama2

  9. Sopar Maruli January 17, 2009 at 7:06 pm #

    Semakin dibaca apa saja dalam blog ini semakin pinter aja. Makasih, dan sukses selalu buat abang, eh Prof.
    Salam dan sukses selalu buat bang Henry Guntur tarigan dan keluarga, kiranya kesehatan dan kesusesan senantiasa menyertai abang dan keluarga.

    Salam,

    smskalit

  10. Humairo August 29, 2010 at 9:20 pm #

    trims refrnsnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: