Ikut yang Mana, Editor dan Ahli Bahasa?

1 Jul

Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung masalah gaya selingkung penerbit. Masing-masing memiliki gaya selingkung sebagai kaidah baku. Alhasil, gaya penerbit A dengan penerbit B akan berbeda, demikian gaya penerbit C dengan penerbit D.

Bagi penerbit, yang paling penting adalah bagaimana isi buku itu dapat dikomunikasikan secara maksimal kepada pembaca. Dengan kata lain, bersama penulis penerbit menyuarakan pesan tertentu sebuah buku. Tentu saja bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan lingkup pembaca yang disasar oleh buku tersebut. Tidak heran bila ada penerbit yang memilih gaya selingkung yang mengikuti bahasa pembaca.

Meski demikian, hal ini turut menimbulkan masalah bahasa. Ketika mencermati bahasa yang berlaku di kalangan pengguna bahasa (masyarakat), ada lebih banyak bentuk yang tidak baku yang akan ditemukan. Maka ketika penerbit lebih memilih menggunakan bahasa-bahasa yang notabene nonbaku agar lebih “manusiawi”, sudah bisa ditebak bahwa unsur pembinaan akan terpinggirkan.

Dalam kolom bahasa pada harian Kompas (23 Mei 2008), Lie Charlie sempat mengemukakan kekesalannya akibat banyak editor yang memilih menggunakan kata memerhatikan daripada kata memperhatikan. Alasannya, kata dasarnya bukan perhati sebagaimana disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, melainkan hati.

Belum lama ini pun, saya mendapatkan ada banyak bentuk yang tidak baku dalam sebuah buku yang ditulis oleh Guru Besar Universitas Indonesia, Harimurti Kridalaksana. Dalam buku tipis mengenai Ferdinand de Saussure itu, saya menemukan Bahasa Hatti daripada bahasa Hatti, atau hakekat daripada hakikat.

Berkenaan dengan ini, ada dua asumsi yang muncul dalam benak saya. Asumsi pertama, seperti yang dialami Lie Charlie, editor buku tersebutlah yang mengganti beberapa bentuk baku itu. Alasannya, mungkin, adalah gaya selingkung penerbit demi menjaga konsistensi yang telah berlaku di penerbit terkait selama ini.

Asumsi kedua ialah bentuk nonbaku itu justru datang dari penulisnya sendiri. Mungkin asumsi ini terkesan terlalu berani, meski bukan tidak mungkin gaya bahasa dari penulis memang demikian. Apalagi nama besar penulis yang sudah banyak asam garam (meskipun sebagian orang bisa memandang tragis, mengapa seorang pakar linguistik justru menggunakan bentuk-bentuk yang nonbaku). Salah satu alasannya, antara hakikat dan hakekat hanya dibedakan oleh satu huruf saja. Perbedaan itu sendiri bersifat nondistingtif alias tidak membedakan makna. Sehingga prinsip yang bisa ditarik dalam hal ini ialah selama tidak membedakan makna, sah-sah saja menggunakan bentuk tertentu, meskipun nonbaku.

Kesulitan dari dua asumsi saya di atas ialah masyarakat awam akan mengalami kebingungan. Pada kasus pertama, pembaca akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang pakar bahasa justru tidak mengutamakan bentuk-bentuk yang baku? Alhasil, pembaca justru akan memberikan pandangan keliru terhadap penulis yang ketepatan merupakan pakar linguistik itu.

Sementara pada kasus kedua, kita tidak hanya dibuat bingung oleh bentuk yang dikatakan baku itu bentuk yang bagaimana. Apakah bentuk yang baku hanya kalau kita mengikuti Pedoman Ejaan yang Disempurnakan? (Padahal buku pedoman yang banyak beredar belakangan ini pun turut menyumbangkan kebingungan karena ada banyak salah ketik di dalamnya, terutama yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil.) Ataukah bentuk yang digunakan oleh sang pakar itulah yang baku?

Oleh karena itu, ada baiknya kita mempertimbangkan beberapa hal berikut.

  1. Setiap penerbit memiliki gaya selingkung tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Editor yang mewakili penerbit biasanya akan memilih gaya yang sudah ditentukan penerbit tempatnya bernaung.
  2. Tidak semua gaya selingkung penerbit mengikuti bahasa yang baku. Sebaliknya, tidak semua penerbit memilih untuk tidak mengikuti kaidah kebakuan bahasa.
  3. Tidak semua pakar linguistik memilih untuk menulis dengan bahasa yang baku, tergantung pembaca yang menjadi sasarannya.
  4. Masing-masing pakar linguistik itu sendiri memiliki gaya bahasa tersendiri yang berbeda di kalangan mereka. 
  5. Seluruh buku (dan bahan-bahan cetakan lainnya) yang diterbitkan penerbit mana pun tidak selalu dapat dijadikan pedoman atau patokan bahasa Indonesia yang baku.

Salah satu yang mestinya menjadi pertimbangan, baik bagi penerbit maupun bagi penulis ialah bagaimana sebuah buku disajikan dengan bahasa yang baik dan benar demi memasyarakatkan kebiasaan berbahasa Indonesia yang juga baik dan benar di kalangan masyarakat luas. Meski ada banyak buku yang mengulas berbagai kekeliruan dalam berbahasa, toh akan lebih baik kalau semua bahan tercetak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Dengan demikian, para editor pun wajib mengikuti perkembangan ilmu bahasa guna memperbarui bank datanya perihal bentuk-bentuk baku dan nonbaku. Sebab pengetahuan seputar tata bahasa bahasa Indonesia menjadi hal yang sangat mendasar bagi seorang editor.

7 Responses to “Ikut yang Mana, Editor dan Ahli Bahasa?”

  1. benny July 18, 2008 at 10:58 am #

    maaf OOT, tapi ‘editor’ harusnya diindonesiakan menjadi penyunting ataukah ada kata serapan dari bahasa Inggris lainnya yang berakhiran -or ?

  2. indonesiasaram July 27, 2008 at 8:11 am #

    Anda benar. Namun, belakangan saya melihat bahwa kedua kata itu digunakan untuk dua kepentingan. Kata editor banyak dipakai untuk merujuk pada profesi, sementara kata penyunting merujuk pada kerja atau pekerjaannya.

    Ada banyak kata serapan yang berakhiran -or. Misalnya, komentator, fasilitator, diktator, dan sebagainya.

  3. Nancy August 27, 2008 at 9:15 pm #

    eh hai Raka, apa kabar?
    omong2 saya pengen tahu lebih banyak ttg aturan-aturan main penerbit dan hubungannya dgn penulis

    sekarang kan banyak yang menerbitkan bukunya sendiri, bagaimana menurut kamu?

  4. indonesiasaram August 30, 2008 at 5:48 pm #

    Halo, Mbak. Maaf, belakangan ini saya sangat sibuk sampai lupa mengurus blog ini. Silakan kirimkan e-mail kepada saya tentang hal-hal tersebut. Nanti saya coba bantu. (Masih menyimpan alamat saya ‘kan?)

  5. Ivan Lanin December 4, 2009 at 7:10 pm #

    Mungkin salah satu yang dapat dilakukan penerbit adalah memberikan suatu halaman khusus di buku tersebut yang berisi penjelasan tentang gaya selingkungnya yang berbeda dengan gaya “baku” yang dikenal masyarakat. Sentilan Anda menarik sekali🙂

    • indonesiasaram December 4, 2009 at 10:31 pm #

      Sayangnya, hal itu tidak mungin dilakukan oleh penerbit. Penerbit tentu akan berusaha memangkas pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting. Bagi penerbit, menyertakan halaman khusus berarti menambah biaya. Oleh karena itu, pembacalah yang perlu jeli memperhatikan gaya selingkung tersebut. Mungkin kuncinya, jika menemukan bentuk tertentu yang konstan muncul dalam buku-buku terbitan sebuah penerbit, bisa disimpulkan bahwa bentuk tersebut menjadi ciri penerbit tersebut.

  6. Erna October 26, 2010 at 10:11 pm #

    Memang, kebanyakan editor di penerbit maupun surat kabar memiliki gaya sendiri. Hal itu dilakukan karena banyak kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kalau diikuti malah terkesan aneh. Bahkan, mungkin, para pembacanya tidak mengenal kata tersebut. Contoh: kemben dalam KBBI tertulis kemban, lalu mencret dalam KBBI tertulis menceret,dan guren dalam KBBI tertulis guram.

    Ada tujuan utama editor bahasa, yakni menyajikan bahasa yang komunikatif dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat mengenai bahasa yang baik dan benar.

    Nah, agar dua tujuan itu tercapai ya, seorang editor penerbit (khususnya surat kabar) memiliki pedoman sendiri yang, mungkin, berbeda dengan editor lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: