Injil Kelima?

20 Jun

Ternyata untuk mendapatkan informasi yang aneh sekaligus menggelitik seputar bahasa, kita tidak perlu mencarinya ke mana-mana. Cukup mencarinya di dalam gereja. Cobalah Anda mencermati apa yang terjadi di lingkungan gereja, dan Anda akan menemukan sejumlah keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Salah satunya telah saya kemukakan di blog ini, yaitu berkenaan dengan penggunaan kata daripada dalam Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami.

Hal berikut yang saya temukan tergolong mengejutkan. Seakan-akan hendak meneruskan kontroversi setelah beberapa waktu terakhir kita “diperkenalkan kembali” dengan Injil selain yang sudah kita kenal. Berbeda dengan Injil lain yang telah diungkapkan itu, saya malah diperkenalkan dengan Injil lain yang berasal dari kanon Alkitab.

“Pemaklumatan” Injil kelima setelah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes itu terjadi di sebuah gereja di sekitar Pondok Gede. Tepat ketika pembacaan firman Tuhan hendak dilakukan, majelis yang bertugas mengajak umat berdiri dan berkata, “Pembacaan Injil kali ini terambil dari Kisah Para Rasul 5 (ayatnya saya lupa).” Terkejut mendengar hal ini, saya melirik kertas tata ibadah yang ternyata menuliskan hal yang sama. Hal ini terulang lagi pada pekan berikut yang juga mengambil salah satu bagian dari Kisah Para Rasul.

Meski bisa mengikuti khotbah yang disampaikan dengan baik, pernyataan tersebut tetap mengusik saya. Apakah yang menyebabkan majelis tersebut (dan juga tata ibadah saat itu) menyatakan Kisah Para Rasul sebagai Injil?

Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, Injil disebut euaggelion. Artinya, ‘kabar baik’. Kalau mau dirunut, khotbah yang disampaikan setiap hari Minggu bisa berfungsi sebagai sarana pemberitaan kabar baik dari mana pun bagian Alkitab yang diambil. Khotbah itu bisa memberikan teguran, penghiburan, maupun peneguhan. Semua itu kalau jatuh di tanah yang baik akan berbuah baik pula (Matius 13:8; Markus 4:20; Lukas 8:8). Dengan demikian, pemberitaan firman Tuhan itu bersifat seperti tindak tutur yang bermakna implikatur. Jadi, “kabar baik” itu tidak sekadar bagi yang mendengar, tetapi juga bagi mereka yang ada di sekitar orang yang mendengar. Dalam bahasa kaum sekular, khotbah itu harus mendorong orang untuk membuahkan perilaku yang positif dan membangun bagi dirinya dan sesamanya.

Melihat esensi pemberitaan firman Tuhan yang demikian, khotbah yang diambil dari Kisah Para Rasul dalam dua pekan berturut-turut itu memang bersifat Injil, ‘kabar baik’. Mungkinkah ini yang menyebabkan majelis gereja tersebut menyatakan Kisah Para Rasul sebagai Injil kelima? Bisa jadi. Tapi apakah dapat diterima? Saya kira sulit menerimanya demikian karena kalau diperhatikan keempat Injil itu sudah berbeda dengan Kisah Para Rasul. (Bahkan Injil itu sendiri terdiri dari dua, Injil Sinoptis [Matius, Markus, Lukas], dan Injil Yohanes.) Adapun Kisah Para Rasul sendiri bisa dipandang sebagai kitab sejarah mengingat kitab tersebut mengisahkan perjalanan para rasul dalam memberitakan Injil dengan dominasi pemberitaan oleh Paulus. Ada pula yang memandang kitab ini sebagai lanjutan dari Injil Lukas.

Kemungkinan lain ialah tak lebih dari sebuah salah kaprah belaka. Meski demikian, salah kaprah ini (dan banyak salah kaprah lainnya) bisa dianggap fatal juga. Dalam keseharian, ada banyak orang Kristen yang menyebut Injil sebagai kitab suci umat Kristen. Padahal Injil hanya salah satu bagian dalam Alkitab yang terdiri dari 66 “kitab” (pembahasan mengenai “kitab” ini akan saya sambung dalam tulisan berikutnya). Atau menyebutkan Injil untuk mengacu kepada Perjanjian Baru saja.

Dengan demikian, pernyataan bahwa Kisah Para Rasul merupakan Injil, menurut saya, patut dikoreksi. Tidak hanya karena bertentangan dengan kanon yang sudah ditentukan, tetapi karena esensi dasarnya, kitab tersebut tidak bercerita tentang karya dan kehidupan Yesus. Kisah Para Rasul menuturkan Tuhan yang bekerja melalui para rasul, dengan kata lain implikasi dari teladan yang telah diberikan Yesus. Sedangkan Injil menuturkan karya dan kehidupan Yesus.

Salah kaprah seperti ini jelas bisa menggiring jemaat untuk memahami Alkitab secara keliru. Meski istilah-istilah itu memang tidak termasuk hal yang paling penting, pengenalan akan hal-hal tersebut bisa menjadi salah satu tolok ukur pemahaman. Lagi pula, dengan mengenal istilah-istilah tersebut, jemaat belajar untuk tidak sekadar menyamakan bagian-bagian Alkitab yang sebenarnya memiliki ciri khas dan tujuan yang khusus.

Nah, kalau Anda adalah seorang Kristen, ada baiknya Anda mulai memikirkan jauh daripada hal-hal praktis sehingga pemahaman Anda sebagai orang Kristen semakin lebih baik. Tentulah tidak sekadar belajar secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai kekristenan: mewartakan kasih Kristus dalam karya dan karsa bagi sesama.

4 Responses to “Injil Kelima?”

  1. Steve Gaspersz July 17, 2008 at 9:28 am #

    Secara hakiki, pengertian “injil” digunakan untuk menunjuk tulisan-tulisan yang menceritakan hidup dan ajaran Yesus. Disebut “kabar baik” karena ajaran Yesus dianggap memberikan cara tafsir baru yang lebih segar daripada tafsir agama legalistik gaya yudaisme awal.
    Menurut saya, penyebutan “injil” oleh si majelis itu merupakan sebuah bentuk perampatan (generalisasi) bahwa Alkitab itu adalah “injil” (kabar baik), meskipun secara etimologis ia salah kamar.
    Sebagai contoh, saya diminta menunjukkan SIM (surat izin mengemudi) oleh polisi lalu lintas yang menahan saya. Saya naik sepeda motor tetapi menunjukkan SIM A (mobil). Sama-sama SIM tetapi berbeda fungsi identifikasinya, meskipun dalam aturan di salah satu sisi SIM disebutkan “mengemudikan kendaraan bermotor, tidak dapat menunjukkan SIM dipidana kurungan …”.

  2. Mata Dunia July 18, 2008 at 1:28 pm #

    Saya pikir, ini hanya salah kaprah. Seperti di beberapa orang tua di kalangan Katolik, tempat saya, yang suka menyebut seluruh Alkitab sebagai “Injil”.

    “Saya tidak membawa Injil,” begitu kata seorang tua di tempat saya ketika mengikuti semacam ibadah lingkungan. “Injil” yang dimaksud ternyata adalah “buku Alkitab”.

  3. david sasindo January 20, 2009 at 5:58 pm #

    Mungkin saya terlebih dahulu minta maaf. saya tidak bermaksud mengajari saudara mengenai Injil Ke-5. saya hanya bisa katakan pada saudara “TIDAK ADA YANG NAMANYA INJIL KE-5”. KISAH PARA RASUL BUKANLAH INJIL MELAINKAN BERISI TENTANG KISAH PARA RASUL MEMBERITAKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN. JANGAN PERNAH PERCAYA PADA KATA-KATA SI PEMBAWA KOTBAH, HATI-HATI BISA SAJA DIA SALAH TAFSIR. DAN SAYA MAU HIMBAU KEPADA SAUDARA UJILAH TERLEBIH DAHULU SEGALA SESUATUNYA. YANG JADI PATRON KITA ADLAH ALKITAB DILUAR ITU HANYALAH KEBOHONGAN. JANGAN SAMPAI SAUDARA SESAT.

    • indonesiasaram March 7, 2009 at 11:29 am #

      Terima kasih telah merespons. Tapi maksud tulisan saya sebenarnya bukan hendak mengamini Kisah Para Rasul sebagai Injil kelima. Sebaliknya, saya menyoroti kekeliruan penggunaan istilah, dalama hal ini Injil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: