Bahasa Inggris dan Kasus Ujian Nasional

2 Jun

Untuk kesekian kalinya, kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional terungkap kembali. Uniknya, setidaknya bagi saya, salah satunya terkait dengan mata pelajaran bahasa Inggris.

 

Seperti dilaporkan, di antaranya oleh Kompas (Jumat, 25 April 2008, halaman 15), kecurangan terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara. Hal ini berbuntut pada ditangkapnya enam belas guru dan seorang kepala sekolah ditangkap. Mereka dipergoki mengubah jawaban 284 siswa peserta, tanpa diminta oleh siswa-siswi tersebut.

Kejadian itu baru diketahui polisi setelah ujian naisional (UN) hari kedua tingkat SMA usai hari Rabu siang. Dari keterangan yang dihimpun, para guru sepakat membetulkan jawaban soal UN siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Mereka menilai mata pelajaran tersebut sulit sehingga perlu membantu siswa. Dari keterangan para guru, ide untuk membantu siswa itu berasal dari kepala sekolah.

 

Mengacu pada kutipan di atas, kita bisa melihat bahwa referen mereka pada kalimat Mereka menilai mata pelajaran tersebut sulit sehingga perlu membantu siswa mengacu pada para guru.

 

Sebenarnya, agak aneh juga kalau sampai para guru menganggap bahwa soal ujian yang diberikan digolongkan sulit. Saat membaca berita tersebut, saya masih sulit menerima alasan tersebut. Mungkin wajar kalau alas an itu ditujukan pada mata pelajaran matematika. Tapi bahasa Inggris?

 

Sedikit terlepas dari kasus tersebut, bagi kebanyakan masyarakat, bahasa Inggris tampaknya masih bisa digolongkan sebagai mata pelajaran sulit. Bahkan ketika sudah duduk di bangku universitas pun mereka masih kesulitan ketika bersentuhan dengan bahan-bahan berbahasa Inggris. Padahal mayoritas penelitian terkini dari berbagai bidang ilmu—termasuk kebahasaan—banyak beredar dalam bahasa Inggris, di antaranya melalui internet. Akibatnya, banyak jasa penerjemahan yang laris manis. Atau program-program penerjemah banyak dicari.

 

Benarkah bahasa Inggris itu sulit? Rasanya berat bagi saya untuk menyetujuinya.

 

Dengan sejumlah perkembangan media belakangan ini, kesulitan belajar bahasa Inggris semestinya dapat disingkirkan. Pada zaman saya masih duduk di bangku SD, media untuk belajar bahasa Inggris yang popular adalah kaset. Melalui kaset ini, kita diajak untuk mendengarkan, menyimak cerita yang disampaikan dalam bahasa Inggris untuk kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan cerita yang diperdengarkan tadi. Metode ini cukup baik karena melatih kita untuk membiasakan diri mendengar bagaimana pelafalan bahasa Inggris yang baik dan benar. Dengan demikian pula, kita sekaligus melatih salah satu kemampuan berbahasa kita: mendengar.

 

Belakangan kehadiran internet memungkinkan kita untuk melatih empat kemampuan berbahasa sekaligus: membaca, mendengar, berbicara, dan menulis.

 

Memang harus diakui (disayangkan) bahwa tidak semua siswa bisa mendapatkan akses internet. Padahal ada begitu banyak hal yang dapat mereka peroleh dari dunia maya ini. Namun, bukan berarti cara belajar yang lama tidak bisa dipakai. Apalagi berbagai kursus bahasa Inggris juga masih tersedia, mulai dari yang murah sampai yang mengaku bertaraf internasional (sehingga memakan biaya jutaan).

 

Saat masih duduk di bangku SD, saya tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris. Meskipun kemampuan berbahasa Inggris saya tidak terlalu baik, toh ketika mengikuti Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS, Ujian Nasional versi lawas), nilai bahasa Inggris saya malah jauh lebih bagus daripada nilai bahasa Indonesia. Bagaimana bisa?

 

Berikut langkah sederhana yang bisa dipraktikkan untuk membiasakan (atau malah memperdalam?) diri berbahasa Inggris.

 

1.       Membaca literatur berbahasa Inggris dengan bersuara.

Pada tahap ini, jangan memaksakan diri untuk benar-benar mengerti apa yang dibaca. Baca saja dengan lantang, jangan pedulikan perkataan orang lain seandainya apa yang dilafalkan keliru. Tujuan latihan ini ialah membiasakan lidah untuk melafalkan kosakata bahasa Inggris dengan benar. Latihan ini akan melatih kita untuk terbiasa dalam berbicara.

 

2.       Rajinlah mendengarkan lagu-lagu maupun siaran berbahasa Inggris.

Sama seperti sebelumnya, jangan memaksakan diri untuk mengerti apa yang dilagukan atau disampaikan. Tujuannya agar telinga kita semakin terbiasa dengan pelafalan bahasa Inggris.

 

3.       Menuliskan apa yang didengarkan.

Cobalah untuk menuliskan apa yang didengarkan. Pada zaman saya kecil dulu, untuk mendapatkan lirik lagu dalam bahasa Inggris sering kali orang harus meminta ke majalah karena tidak semua kaset menyediakan lirik lagu. Dan karena belum tentu lagu yang saya gemari ditampilkan di majalah, tambahan lagi saya juga tidak mampu langganan majalah, saya selalu berusaha menuliskan lirik lagu bahasa Inggris yang saya sukai. Sering kali hal ini memaksa saya memutar kaset berkali-kali.

 

4.       Periksa ketepatan penulisan tersebut.

Setelah menuangkannya, cobalah cocokkan dengan kamus, lalu amati apakah artinya sudah cocok dengan lagu yang disampaikan.

 

5.       Mulai pelajari tata bahasa untuk mengenal konstruksi kalimat.

Untuk mengenal lebih dalam lagi, memang mau tidak mau kita harus mengetahui konstruksi kalimat dalam bahasa Inggris. Tapi untuk butir ini, sekolah sudah cukup membantu karena di sekolah kita juga diperkenalkan kepada berbagai macam tenses dalam bahasa Inggris.

 

6.       Cobalah berlatih menyusun kalimat bahasa Inggris dengan benar.

Pada setiap akhir materi pelajaran bahasa Inggris di sekolah, biasakan untuk mengulang-ulang materi tersebut dan cobalah untuk menuliskan kalimat dalam bahasa Inggris berkenaan dengan materi terkait. Misalnya, seusai mempelajari future tense, cobalah menyusun kalimat berdasarkan pola yang diajarkan.

 

7.       Cari rekan atau kelompok belajar.

Carilah rekan belajar dan buatlah komitmen untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Upayakan agar kelompok ini tidak terlalu banyak. Kecenderungannya, kalau salah kita akan merasa malu. (Tapi kalau ternyata tidak keberatan, silakan saja melakukan dalam kelompok yang besar.) Tetapkan waktu untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Misalnya, berbahasa Inggris ketika jam istirahat dan memberlakukan hukuman ringan kalau tidak berbahasa Inggris. Percampuran bahasa tentu tak terelakkan, namun upayakan untuk tidak terlalu sering.

 

Langkah-langkah sederhana di atas tidaklah memakan biaya yang besar. Tentu saja bisa dimodifikasi sedemikian rupa tergantung kebutuhan. Namun, salah satu prinsip dalam belajar bahasa yang perlu diingat ialah teruslah mempraktikkan bahasa tersebut, jangan sampai berhenti. Semakin sering, semakin terbiasa pulalah kita.

 

Dengan langkah-langkah sederhana dan murah tersebut, moga-moga saja para siswa semakin terlatih dalam berbahasa Inggris sehingga guru-guru tidak perlu melakukan kecurangan yang tidak diminta seperti pada kasus tahun ini.

 

Jangan sekadar berbahasa Inggris dalam konteks gaul saja, tapi praktikkan bahasa Inggris yang sebenarnya (baik dan benar)!

2 Responses to “Bahasa Inggris dan Kasus Ujian Nasional”

  1. Yohanes Eko N K June 25, 2008 at 4:59 pm #

    Ada satu cara yang menyenangkan lainnya:

    Menonton film-film kesayangan dengan format DVD yang biasanya memuat lebih dari satu sub title atau teks. Keuntungannya adalah kita bisa ulang-ulangi dengan mudah dan memperhatikan pengucapannya dari bentuk bibir dan letak lidah apabila memungkinkan. Cara ini tentunya dengan melihat teks bahasa Inggrisnya, bukan bahasa Indonesianya.

  2. naizalnorewan August 2, 2008 at 12:01 pm #

    Good Blog.
    I agree with the step of learning English by Indonesiasaram.
    Hopefully, more students will visit this blog.

    Drs.Saddia Naizal Norewan (Naizal)
    http://www.naizalnorewan.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: