Mahir Berbahasa Asing dalam Sehari

13 May

Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari sebuah bahasa? Jawabannya sangat relatif. Beberapa mungkin mengaitkannya dengan metode belajarnya: kalau metodenya tepat, bahasa asing itu bisa saja segera dikuasai. Bisa pula tergantung orang yang mempelajarinya: kalau rajin dan gigih, mungkin tidak butuh waktu lama. Penguasaan di sini pun masih bisa dibedakan lagi: penguasaan dalam hal kosakata, atau percakapan?

Masalahnya memang, ada begitu banyak aspek yang perlu dipelajari ketika seseorang memutuskan untuk mempelajari sebuah bahasa. Karena mempelajari sebuah bahasa sebenarnya sama dengan mempelajari budaya masyarakat pengguna bahasa tersebut. Selain itu, dalam hal tata bahasa saja ada beberapa bidang lagi yang mesti dipahami: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik.

Memang banyak juga buku yang menawarkan penguasaan bahasa secara “kilat”. Namun, “kilat” di sini pun hanya sebatas percakapan-percakap an dasar yang dianggap penting diketahui atau dikuasai seseorang. Harapannya, para pembaca dapat berkomunikasi dalam bahasa asing dengan penutur aslinya.

Akan tetapi, dalam hal ini pun seseorang sebenarnya bukan menjadi ahli. Akan ada saja masalah yang akan dijumpai. Apalagi tidak selamanya respons dari mitra tutur akan sesuai dengan apa yang dituliskan dalam buku tersebut. Bagaimana kalau mitra tutur kita merespons secara berbeda?

Namun,ada suatu peristiwa di mana sekelompok orang dapat berbahasa asing hanya dalam sehari. Orang-orang ini tidak berada pada zaman di mana tersedia seperangkat komputer canggih yang dapat menerjemahkan suatu bahasa kepada bahasa asing lainnya. Pada zaman mereka ini buku-buku praktis pelajaran bahasa asing juga belum ada. Meski demikian, mereka bisa berbahasa Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia,Pontusdan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan bahasa di daerah-daerah Libiayangberdekatan dengan Kirene, bahasa para pendatang dari Roma, orang Kretadan orang Arab. Bagaimana bisa?

Peristiwa ini terjadi ketika Roh Kudus yang dijanjikan turun kepada para pengikut Kristus. Pada hari itu pula mereka beroleh keberanian untuk mewartakan hal-hal besar yang dikerjakan Allah di dalam Kristus. Dan Yerusalem yang saat itu sedang ramai oleh berbagai suku bangsa menjadi saksi bagaimana para pengikut Kristus ini berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri.

Peristiwa inilah yang diperingati oleh seluruh umat Kristen pada hari Minggu (11/5) yang lalu. Peristiwa yang umum disebut sebagai hari Pentakosta ini boleh dibilang menjadi salah satu tonggak bersejarah. Salah satu hasilnya ialah kebangunan rohani pertama dalam sejarah gereja di mana tiga ribu orang bertobat. Alkitab mencatat peristiwa ini dalam Kisah Para Rasul 2.

Kita dapat melihat hal ini sebagai mukjizat mengingat latar belakang murid-murid saat itu kebanyakan justru dari kalangan masyarakat awam. Namun, justru dari kalangan yang biasa-biasa saja inilah Allah menyatakan kuasa-Nya, sekaligus menyatakan kasih-Nya.

Sayangnya,belakanga n ini mukjizat ini dipandang secara keliru oleh kebanyakan gereja. Tidak jarang ada yang menuntut manifestasi dalam bentuk bahasa menjadi pertanda seseorang dipenuhi Roh Kudus. Lalu berkembang pula anggapan bahwa tanpa bahasa-bahasa yang kemudian disebut bahasa roh ini, sebuah gereja tidaklah memiliki Roh Kudus. Lalu sempat populerjuga sekolah-sekolah bahasa roh. Padahal dalam bahasa-bahasa roh tersebut, baik penutur, maupun orang-orang lain, tidak bisa memahaminya. (Bandingkan dengan peristiwa Pentakosta di mana semuanyadapat memahami bahasa yang disampaikan. )

Peristiwa Pentakosta ini harus dipahami dalam kerangka pembaharuan iman. Bahwa Roh Kudus hadir tidak hanya memenuhi janji Kristus sebelum Ia naik kesurga, tetapi juga sekaligus memberi kekuatan (sekaligus penghiburan) bagi setiap orang percaya untuk menjalankan kesaksiannya. Kesaksian di sini tentulah tidak sekadar dalam tuturan saja, tetapi juga dalam segala karya yang nyata bagi sesama sehingga orang banyak turut diberkati.

Saling tuding antargereja perihal Roh Kudus itu sebenarnya sama sekali tidak relevan dengan semangat Pentakosta. Sebaliknya, setiap gereja lebih memperkokoh fondasi iman dengan mendalami kebenaran Alkitab lalu mempraktikkannya bagi sesama: sesama orang percaya, maupun mereka yang berbeda kepercayaan.

Lalu, akankah Roh Kudus itu juga akan memampukan kita untuk menguasai bahasa asing dengan cepat? Tidak ada jaminan demikian. Sebab bila demikian, tentulah penerjemahan Alkitab bisa dengan segera diselesaikan. Faktanya, dengan para ahli bahasa kaliber sekalipun, penerjemahan tetap tidak bisa berlangsung seketika itu juga. Yang jelas, Roh Kudus akan memampukan kita untuk mempelajari segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan sesama.

One Response to “Mahir Berbahasa Asing dalam Sehari”

  1. boim lebon May 14, 2008 at 9:26 am #

    yang namanya belejar bahsa asing udah pernah saya jalanin berkali-kali, hasilnya tetep nihil…..saya yng males pa bahsanya yang ga cocok ma saya ya???..he..he

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: