“Smart Card”

9 May

Akhirnya, sejak pertama kali diangkat, smart card dinyatakan akan berlaku per September 2008 nanti (Kompas, 9 Mei 2008). Itu juga kalau tidak ada aral melintang. Salah satu tujuannya untuk menekan subsidi
bahan bakar mengingat harga bahan bakar dalam beberapa bulan terakhir meroket tajam. Rencananya, smart card tersebut akan diterapkan di DKI Jakarta dan sekitarnya, baru diperluas ke Jawa dan Bali.

Dikemukakan pula empat opsi penerapan smart card tersebut. Pertama, kartu kendali dipasang pada semua jenis kendaraan, baik itu kendaraan umum, pribadi, maupun roda dua. Kedua, kartu kendali dipasang di seluruh kendaraan, kecuali kendaraan pribadi dengan tahun pembuatan 2005 ke atas. Ketiga, kartu kendali hanya untuk kendaraan umum dan roda dua. Keempat, kartu kendali hanya untuk kendaraan umum.

Ada dua hal yang menarik mengenai smart card ini. Pertama, artikel yang menghias salah satu sudut halaman utama itu menyebutkan padanan untuk smart card ini sebagai kartu kendali seperti dalam kutipan berikut.

Upaya menekan subsidi bahan bakar minyak tidak hanya berhenti pada kenaikan harga. Pemerintah tetap akan menerapkan pembatasan konsumsi BBM melalui program kartu kendali atau smart card.

Pada dasarnya, sejauh yang saya tangkap, kartu ini digunakan untuk membatasi konsumsi bahan bakar. Mungkin fungsinya mirip seperti kartu prabayar pada telepon seluler. Kalau nilainya sudah habis, seseorang
tidak dapat melakukan pembelian bahan bakar lagi.Namun, padanan tersebut cukup mengusik pikiran. Mengapa kalau fungsinya untuk mengendalikan konsumsi berlebih, kartu ini malah disebut sebagai smart card?

Saya jadi teringat pada alat pengendali televisi jarak jauh yang lazim disebut remote control. Mengingat kata control pada prinsipnya dapat berarti ‘kendali’, tidakkah seharusnya kartu kendali itu menjadi card
control saja daripada smart card?

Pikir punya pikir, akhirnya saya mendapatkan pencerahan juga mengenai smart card ini. Mungkin saja istilah ini diberikan pada kartu tersebut mengingat sifatnya yang praktis. Artinya, tanpa perlu kita hitung, limit nominal yang tersedia otomatis akan dikurangi setiap kali kita membeli bahan bakar. Tidak dilakukan secara manual, tapi secara otomatis.

Tapi kalau begitu, ada banyak kartu yang pantas disebut sebagai smart card. Kartu pada telepon seluler juga melakukan pemotongan secara otomatis terhadap pulsa dalam setiap pemakaian. Ada juga kartu ATM dan kartu kredit yang juga melakukan hal serupa. Dan dulu kita juga mengenal kartu telepon yang juga tidak jauh berbeda dengan jenis kartu lainnya itu.

2 Responses to ““Smart Card””

  1. Myzone May 29, 2008 at 10:38 pm #

    SmartCard gak seperti namanya adalah rencana yg paling konyol dari pemerintah.

    1. Dijamin 101% akan muncul makelar2 BBM yg menjual BBM di harga tengah antara BBM subsidi dan non Subsidi. Para Angkot akan mengisi BBM lalu menjualnya ke kend pribadi..
    2. Angkot, truk, bis, dan kendaraan niaga lainnya serta spd motor juga dijatah. Banyangkan bgmn kondisi tranportasi kita saat diterapkan?
    3. Berapa jatah perhari yang ideal? Berarti tiap2 hari mesti antri? berapa pemborosan waktu yang terjadi jika semua mesti mengisi BBM tiap hari?
    4. dll ekses negatif yang timbul?

    Yang lebih efektif untuk menyiasati sisa Subsidi yang masih ditanggung pemerintah pasca kenaikan BBM ini dgn USD 120 / barrel adalah dengan memberlakukan PAJAK PROGRESIF untuk kendaraan pribadi sesuai kelas, harga dan ccnya.

    Contoh:
    Xenia Rp. 100juta, Pajak Tahunan 5%, pajak = 5juta/tahun
    Innova Rp. 200juta, pajak Tahunan 7,5%, pajak = 15juta/thn
    CRV Rp.300 juta, pajak Tahuan 10%, pajak = 30juta/tahun
    BMW Rp. 500juta, Pajak Tahuan 15%, pajak = 75juta/tahun
    dst sampai 20% untuk mobil2 dgn harga jual diatas 500juta

    Bayangkan dgn mobil pribadi sebanyak 10juta kendaraan dan rata2 pajak tahunan Rp. 10juta/tahun saja, maka pemerintah akan mendapatkan Rp. 100 TRILYUN. Uang ini dipakai untuk mensubsidi BBM buat angkot, Truk, Bis, kendaraan niaga lainnya, spd motor, Mesin perahu nelayan, mesin2 traktor petani, dsb.

    Sehingga tidak ada kenaikan BBM lagi. Jika ada pemilik kendaraan pribadi yang protes, suruh naik spd motor aja. Dah enak2 pake AC, dgr audio tape, duduk di jok kulit buaya, masih omonk gak sanggup bayar? Kebangetan.

    Dgn sistem pajak beginian, tidak akan timbul ekses negatif maupun manipulasi. Setiap yang mau memperpanjang atau mengurus STNK baru, mesti menyertakan bukti penyetoran pajak tsb ke Samsat. Penyetoran dilakukan di Bank yg ditunjuk pemerintah langsug ke rek Pemerintah. Jadi tidak bakal terjadi manipulasi.

    Anggaran 100 TRilyun tsb sebagian dapat dipakai untuk membangun prasara tranportasi massal yang nyaman, aman, dan bersih diseluruh Indonesia secara bertahap.
    Monorail? 4 Trilyuun? Maaaaah, keciiiiiiiil. Gak perlu merenggek2 ke negara lain. Ambil aja dari 100Trilyun tsb.

  2. Yohanes Eko N K June 25, 2008 at 4:51 pm #

    Dulu juga pernah ada konsep KTP yang mengadopsi nama smart card, namun yang ini diterjemahkan menjadi kartu pintar. Mungkin lebih cocok yang ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: