Ketika Siswa Sekolahan Memedulikan Bahasa Indonesia

25 Apr

Seiring semakin dekatnya peringatan keseratus hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, berbagai aspek yang diharap memberikan semangat kebangsaan rasanya semakin didengungkan. Salah satunya adalah aspek berbahasa. Hal ini salah satunya diawali oleh Kompetisi Blog Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Bandung. Sampai tulisan ini disusun, kompetisi tersebut masih terus berlangsung sampai September 2008 mendatang.

Hal serupa juga ditunjukkan oleh siswa-siswi SMA Pangudi Luhur Sedayu Bantul, Yogyakarta, yang sengaja mengangkat tema tentang bahasa Indonesia dalam sisipan Muda harian Kompas hari ini.

Isu Punahnya Bahasa Indonesia
Dalam artikel singkat tersebut, tim jurnalistik mengangkat permasalahan bahasa Indonesia yang semakin bersaing dengan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Kekhawatiran ini, misalnya mencuat dalam paragraph berikut.

Namun, karena penggunaan kata-kata asing belum tentu sesuai dengan bahasa kita, tentulah hal ini bisa memengaruhi bahasa Indonesia. Bahasa nasional kita itu bisa menjadi kacau, baik struktur maupun susunan bahasanya.

Kita khawatir juga, nanti lama-lama justru kata dalam bahasa Indonesia yang hilang karena orang sudah terbiasakan mengunakan istilah dari bahasa asing itu.

Apa yang dikemukakan di atas memang beralasan. Pada dasarnya, sebuah bahasa bisa menjadi hilang karena adanya persentuhan dengan bahasa lain yang lebih dominan. Meski pada satu sisi hal ini bisa mendorong berkembangnya bahasa setempat, peluang tergerusnya bahasa setempat tetap terbuka. Terlebih ketika generasi-generasi berikutnya mulai tidak terlalu bersentuhan dengan bahasa asli mereka.

Rasanya hal ini pulalah yang terjadi pada bahasa Jawa. Semakin lama, muda-mudi yang menguasai bahasa Jawa kromo semakin sedikit. Orang tua mereka pun tidak lagi mengajarkan berbahasa kromo sehingga komunikasi dengan orang tua lebih sering menggunakan bahasa ngoko, sesuatu yang pada zaman dulu tidak terjadi.

Invasi bahasa ini terjadi terutama akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Semakin berkembang ilmu pengetahuan di suatu wilayah, perkembangan kosakata pun akan semakin cepat terjadi. Sebab kebutuhan akan kosakata baru untuk memayungi hasil perkembangan itu akan terasa sekali. Saya kira itu pula yang menyebabkan berbagai kosakata bidang teknologi dan informasi dalam bahasa Inggris cenderung lebih dominan digunakan daripada padanannya. Sebut saja download lebih berterima di masyarakat daripada unduh.

Selanjutnya, dalam kurun waktu yang lebih lama lagi, bukan tidak mungkin pergeseran pun akan terjadi di tataran sintaksis. Hal ini bisa terwujud sebagai dampak dari invasi kosakata yang telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Sebagaimana saya kutip di atas, ada kecenderungan penggunaan kosakata asing meskipun tidak sesuai dengan struktur bahasa setempat. Misalnya, penggunaan kata married dalam kalimat Kapan kalian married? yang jelas sama sekali tidak tepat.

Isu Bahasa Gaul
Isu lain yang diangkat ialah tren bahasa gaul yang sudah berlangsung bertahun-tahun belakangan ini. Seakan-akan menunjukkan bahwa bahasa gaul merupakan bahasa baku kalangan remaja. Alhasil, muncul semacam hukum tak tertulis bahwa muda-mudi yang ingin gaul, harus menggunakan bahasa gaul yang didominasi dengan loe-gue (yang belakangan disingkat menjadi gw atau malah cuma g; ini yang menurut hemat saya merupakan hasil dari kehadiran teknologi telepon selular sehingga generasi ini bisa kita sebut sebagai “generasi SMS” atau “generasi pesan singkat”). Prinsipnya, kalau ingin diterima dan tidak dianggap sombong di sekolahan, gunakanlah bahasa gaul, jauhi kata-kata seperti saya atau aku.

Hal lain yang menonjol dari bahasa gaul ini ialah keakrabannya dengan kosakata asing, yang sampai sejauh ini didominasi oleh bahasa Inggris. Seakan keduanya tidak bisa dipisahkan sehingga kosakata bahasa gaul pun perlu disisipi kosakata bahasa Inggris.

Terus-terang, isu yang mereka angkat bukanlah hal yang baru. Meskipun dalam penulisannya masih ada hal-hal yang sebenarnya perlu perbaikan dan penegasan, upaya siswa-siswi SMA Pangudi Luhur ini menunjukkan kepedulian mereka terhadap bahasa Indonesia. Hal ini kiranya perlu terus ditumbuhkembangkan dan ditiru oleh siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia, misalnya di antaranya dengan menggiatkan koran sekolah.

2 Responses to “Ketika Siswa Sekolahan Memedulikan Bahasa Indonesia”

  1. Benny May 17, 2008 at 5:52 pm #

    Salah satu singkatan yang sering buat saya tidak dapat berkata-kata adalah “aq” (aku). Kok nulis tambahan satu huruf saja susah amat sih… sok kiyut… (cute). Di sisi lain bisa tidak hal tersebut dilihat sebagai kekreatifan masyarakat? Kreatif karena malas… itulah….

  2. indonesiasaram May 18, 2008 at 7:52 am #

    Kreativitas memang sering kali berbenturan dengan kebakuan bahasa. Tapi masih ada sedikit norma yang ternyata bisa dijaga. Dalam waktu dekat, saya akan coba menulis tentang hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: