“Like a Song in the Night”

10 Apr

Kalau Anda pernah melihat profil saya di SABDA Space, Anda akan menemukan kalau saya merupakan salah satu penggemar lagu-lagu lama. Saya mulai menggemari grup-grup musik zaman dulu setidaknya sejak kelas 5 SD. Lalu sampai sekarang, kekaguman saya pada kualitas lagu-lagu lama tidak pernah pudar.

Tidak heran pula kalau saya gemar mengoleksi album-album dari grup-grup musik tahun 1960-an dan para penyanyi solo pada masa-masa tersebut. Koleksi perdana saya adalah Past Master Volume One dari The Beatles. Ada juga Bread, John Denver, Elvis Presley, George Harrison, John Lennon, maupun Paul McCartney. Mulai dari kaset, CD, VCD, bahkan MP3.

Belum lama ini saya memasukkan lagu Beautiful Girl yang dilantunkan oleh Jose Mari Chan ke ponsel saya. Lagu yang sangat menarik. Tidak hanya karena nadanya juga bagus, tapi liriknya pun dilafalkan dengan sangat jelas sehingga telinga Indonesia saya cenderung mudah mengenali kata per kata yang dilantunkan.

Pada salah satu bagian ada hal yang menggelitik dan menimbulkan pertanyaan. Maka saya memutar kembali bagian tersebut. Berikut penggalan lirik yang saya maksud.

Wheneever you are
I fear that I might
Has lost you forever
Like a song in the night

Dua baris terakhir tampaknya cukup sering dikumandangkan di lagu-lagu lainnya. Saya tidak hafal pada lagu apa saja, namun inilah yang menimbulkan pertanyaan. Mengapa sepertinya kalau kehilangan sesuatu atau seseorang, akan dikatakan bagaikan lagu pada malam hari, like a song in the night?

Pada prinsipnya, sebuah lirik lagu tak ubahnya dengan sebuah puisi. Kata-kata yang dipilih penulis tentu didasarkan pada pertimbangan tertentu. Lalu masing-masing bentuk yang dipilih akhirnya akan mempresentasikan sebuah makna yang memang hendak dikomunikasikan.

Kalau hendak dibagi ke dalam segmen-segmen, baris keempat pada bait di atas bisa dibagi ke dalam dua segmen utama, yaitu like a song dan in the night, atau bagaikan lagu dan di malam hari. Sifat dari malam ialah gelap. Dan kita akan merasa kesulitan untuk melihat apa pun di dalam kegelapan. Sementara itu, lagu yang dinyanyikan akan muncul dalam bentuk gelombang suara yang akan segera sirna setelah selesai dinyanyikan. Sehingga maknanya menjadi berlipat: sudah segera sirna, adanya di dalam kegelapan pula.

Jadi, melalui lagu itu, penulis (yang direpresentasikan oleh penyayinya) ingin mengemukakan bahwa ia merasa khawatir kalau ia kehilangan gadis yang telah dijumpainya; kekhawatiran yang baginya sangat menakutkan karena hilang dan mungkin akan sangat sulit ditemukan lagi.

Lagu itu sendiri boleh dibilang mengisahkan seseorang yang sudah lama tidak jatuh cinta. Suatu ketika ia menjumpai seorang wanita cantik yang menyapanya (you said hello). Namun, oleh karena ia segera pergi (when I turned to go) ia segera merasa sangat kehilangan karena meskipun sudah bergegas kembali, ia tidak menemukan wanita tersebut (I rushed in line, only to find that you were gone). Itulah cinta pada pandangan pertama, sekaligus mendorongnya untuk kembali jatuh cinta (I just knew that I loved again, after a long long while).

Satu hal yang cukup menarik, penulis sepertinya merasa dirinya dipermainkan oleh suratan takdir (it was destiny’s game). Takdir sepertinya membuat dirinya jatuh cinta (for when love finally came on), namun ketika hendak mengejar cintanya, ia malah harus gigit jari karena justru tidak menemukan cintanya itu (I rushed in line, only to find that you were gone). Saya kira, bagian I rushed in line, hendak menggambarkan upayanya dalam mengejar cintanya dalam suratan takdir tersebut.

Lagu tersebut saya kira tergolong mudah dipahami. Pesannya disampaikan secara jelas dengan menggunakan sedikit perlambang. Seperti itulah mayoritas lagu-lagu cinta—meskipun jelas tidak semua lagu cinta segamblang itu. Lagu-lagu The Beatles, misalnya, terutama sejak tahun 1965, cenderung sulit dipahami maknanya. Misalkan saja, Tomorrow Never Knows. Dan sering kali untuk memahaminya, kita harus menggali lebih banyak aspek, termasuk mengenal penulisnya.

Catatan: lirik lagu tersebut dapat dilihat secara lengkap dengan mengeklik alamat http://www.lyricsdownload.com/jose-mari-chan-beautiful-girl-lyrics.html.

5 Responses to ““Like a Song in the Night””

  1. Mata Dunia April 19, 2008 at 11:08 am #

    “Lagu-lagu The Beatles, misalnya, terutama sejak tahun 1965, cenderung sulit dipahami maknanya. Misalkan saja, Tomorrow Never Knows. Dan sering kali untuk memahaminya, kita harus menggali lebih banyak aspek, termasuk mengenal penulisnya.”

    Setuju, Rak…
    Namun, kadang2 John suka bermain dengan kata-kata. Ada kata2 atau kalimat yang “dipermainkan” sedemikian rupa, sehingga ada beberapa yg tidak ada artinya lagi.

    Ini kecenderungan apa? Apakah ini sudah dpt disebut sbg “post-bahasa” atau bagaimana? Di dalam tradisi post-strukturalisme atau post-modernisme (saya lebih suka istilah pertama), tampaknya gejala ini sudah mulai muncul. Makna didekonstruksi…

    Mungkin John Lennon adalah post-strukturalis pertam dalam dunia musik? Gimana?

    Thanks…

  2. Yohanes April 24, 2008 at 2:28 pm #

    Jangankan sekedar “memenuhi bait”, yang namanya kegilaan saja kerap dipakai orang untuk mendongkrak popularitas. Saya kira ini juga berlaku di Indonesia. Jadi entah post-bahasa atau bukan, sepertinya saya lebih cenderung menganggapnya kreativitas.

  3. indonesiasaram April 24, 2008 at 7:37 pm #

    Bisa saja John menjadi salah satu pilar dalam pos-strukturalis. Konon nama the Beatles juga pelesetan setelah sebelumnya sempat menjadi “Beetles”. Namun, di sisi lain bukan tidak mungkin permainan kata dilakukan demi menghadirkan keindahan, demi mewujudkan rima.

    Bagi saya, John Lennon merupakan figur yang penuh misteri sekaligus penuh kreativitas. Meski cenderung “menakutkan”, kejeniusannya mesti diakui.

  4. Benny May 17, 2008 at 5:47 pm #

    ack, gara-gara Raka, jadi browsing ke Youtube dan bernostalgila selama 5 menit dengan lagu karaoke JMC… kenangan yang manis…

  5. indonesiasaram May 18, 2008 at 7:53 am #

    Bagus juga ‘kan? Jadi bisa menikmati “masa muda”? Ha, ha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: