Dua Anak Kembar

1 Apr

Suatu waktu, saya menemukan ada kalimat berbunyi berikut.

Doa Ishak didengar dan dikabulkan, Ribka mengandung. Bahkan dua anak kembar!

Dua kalimat tersebut diterjemahkan dari kalimat berbahasa Belanda berikut.

Isaaks gebed werd verhoord, Rebekka werd zwanger. Van een tweeling nog wel!

Kalau Anda mengetahui kisah Abraham, Ishak, dan Yakub dua kalimat di atas tentu tidak terlalu asing. Apalagi kalau sewaktu kecil Anda rajn ke sekolah minggu.

Namun menurut saya, ada salah kaprah dalam kalimat terakhir. Perhatikan, dua anak kembar pada kalimat tersebut. Yang disebut anak kembar adalah dua orang anak yang memiliki kemiripan dalam banyak hal: perilaku, wajah, pembawaan, dan hal-hal lainnya. Sehingga penggunaan kata dua saya kira tidak perlu dilakukan karena membuat kalimat tersebut mubazir. Apalagi ketika mengetahui konteks dalam struktur tersebut bahwa yang dimaksud adalah Esau dan Yakub. Maka cukuplah kalau kita menyebutnya hanya sebagai Bahkan anak kembar! karena memang hanya dua.

Cobalah perhatikan dua kalimat dalam bahasa Belanda tersebut. Kata kembar dalam struktur kalimat bahasa Belanda diwakili oleh tweeling. Karena dalam kata tersebut sudah termaktub makna ‘dua’ (dalam bahasa Belanda, dua ialah twee), kita pun tidak menemukan kata twee dalam kalimat terakhir.

Namun, bukan berarti kita tidak perlu menyertakan penyebutan bilangan. Anda bisa menyebut bilangan apabila jumlah yang kembar itu lebih dari dua, misalnya tiga, atau empat, atau lebih.

Bagaimana dengan bentuk dua orang kakak beradik? Apakah itu tergolong mubazir juga? Dapatkah kakak beradik saja yang disebutkan tanpa menyebutkan bilangan atau jumlahnya? Saya kira tidak jauh berbeda dengan dua anak kembar tersebut. Artinya, kalau disebutkan kakak beradik, tentulah tidak mungkin satu. Adapun penyebutan jumlah diperlukan untuk memberi ketegasan bahwa pertalian saudara (kandung) itu lebih dari dua.

Meski demikian, ada banyak kasus serupa yang mungkin sering juga Anda temukan. Kebanyakan hal tersebut dilakukan sekadar memberi penegasan. Misalnya, dimasukkan ke dalam, di luar sana itu (sembari menunjuk arah luar), dan sebagainya.

4 Responses to “Dua Anak Kembar”

  1. Steve Gaspersz April 10, 2008 at 1:19 pm #

    Tulisan ini membuat saya harus membuka Alkitab. Rupanya (ini hanya dugaan!) sudah dilakukan revisi karena di dalam Kejadian 25:21,24 ditulis: “…TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.[…] Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya.”
    Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia memang tidak bisa hanya berpedoman pada bahasa Barat (termasuk Belanda). Oleh karena itu, ada usul agar merujuk pada bahasa Ibrani (PL) dan Yunan (PB). Betapapun, kita tidak dapat menghindar bahwa bahasa selalu sarat dengan kadar kosmologi dan “worldview” masyarakat penggunanya. Proses translasi sebenarnya bukanlah pengalihbahasaan melainkan tafsir budaya yang terkemas dalam bahasa. Begitulah…

  2. indonesiasaram April 10, 2008 at 7:22 pm #

    Rupanya (ini hanya dugaan!) sudah dilakukan revisi karena di dalam Kejadian 25:21,24 ditulis: “…TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.[…] Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya.”

    Syukurlah kalau ternyata Alkitab bahasa Indonesia tidak “mencantumkan” salah kaprah. Teks yang saya kutip di atas memang saya ambil bulat-bulat dari sebuah terjemahan dari bahasa Belanda.

    Proses translasi sebenarnya bukanlah pengalihbahasaan melainkan tafsir budaya yang terkemas dalam bahasa.

    Benar, Pak. Seluruh dimensi budaya, suka tidak suka, akan tercermin dalam bahasa yang digunakan. Tidak berlebihan kalau ada ungkapan yang menyebutkan bahwa bahasa adalah cermin budaya.

    Omong-omong, terima kasih telah mampir dan menorehkan komentar di blog saya yang sederhana ini, Pak. Oh, ya, saya juga sudah cantumkan alamat blog Bapak di barisan blogroll saya agar memudahkan saya untuk mengunjunginya.

  3. Adieska April 26, 2008 at 9:51 am #

    Kunjungan pertamax… Salam kenal sobat…

    Wah… asik juga blognya ini. Menggali hal2 lingustik yang perlu dicorat-coret dari Alkitab. Asal jangan menggali penafsiran dan menimbulkan tafsir yang salah aja ya bro🙂

    Syaloom, Gbus

  4. indonesiasaram April 27, 2008 at 6:47 pm #

    Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, Bung. Semoga tulisan-tulisan di sini bermanfaat.

    Asal jangan menggali penafsiran dan menimbulkan tafsir yang salah aja ya bro🙂

    Ya, semoga saja tidak sampai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: