Kenneth Lee Pike: Linguis yang Berjiwa Misionaris

25 Mar

PENGANTAR
Awalnya, para ahli lebih banyak melakukan pendekatan secara terpisah-pisah terhadap bahasa. Bukan sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh. Bahkan aspek makna bukan menjadi bagian dari objek yang dikaji1.

“Bahasa bukan sekadar rangkaian suara, klausa, aturan, dan makna yang tidak beraturan; kesemuanya itu merupakan kesatuan sistem yang koheren, yang terintegrasi satu dengan lainnya, bersama-sama dengan perilaku, konteks, wacana universal, dan perspektif peneliti2,” demikian Kenneth Lee Pike mengemukakan pendapatnya.

Meskipun Pike bisa disebut sebagai salah seorang pengikut Leonard Bloomfield3, ia tidak membatasi teorinya untuk pemerian bahasa saja, tetapi juga pemerian kebudayaan. Ia juga memasukkan unsur makna dalam menganalisis bahasa4. Dan sebagai salah seorang linguis besar, ia lebih dikenal berkat teori bahasa yang dinamakan teori tagmemik.

Sebagai seorang linguis, sumbangannya yang terbesar dalam bidang misi amat berkaitan dengan keahliannya. Selain terlibat langsung dalam penerjemahan Alkitab, lewat serangkaian kuliah yang ia berikan, banyak tenaga linguis yang ia hasilkan, yang nantinya juga berperan dalam penerjemahan Alkitab.

MASA KECIL DAN PENDIDIKAN

Kenneth Lee Pike lahir pada tanggal 9 Juni 1919 di East Woodstock, Connecticut sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Ernest Reginald Pike (1872-1955), ibunya bernama May Granniss Pike (1873-1951)5. Meski ayahnya berprofesi sebagai dokter di daerah mereka, kehidupan keluarga ini tidaklah senyaman bayangan orang kebanyakan. Ayah dan ibunya hampir tidak bisa menopang delapan bersaudara itu.

Tidak ada yang istimewa di masa kecilnya. Ia tinggi, kurus, dan terlihat canggung. Ia juga sering terkena penyakit dan memiliki fobia terhadap ketinggian. Ia juga seorang yang mudah gugup. Benar-benar tidak terlihat sebagai sosok yang akan memberi dampak yang besar bagi dunia6.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Woodstock Academy — pidato perpisahannya dimuat dalam Putnam Patroit pada 21 Juni 1928, Pike melanjutkan studinya ke Gordon College of Mission and Theology di Boston, Massachussetts. Di sini ia mempelajari bahasa Yunani Perjanjian Baru yang saat itu diajarkan oleh Prof. Merril Tenney7.

Keinginan kuatnya di dunia misi diwujudkannya dengan melamar ke salah satu organisasi misi, China Inland Mission (CIM). Dorongan untuk melamar ke CIM ini tidak lepas dari pengalamannya setelah membaca buku biografi Hudson Taylor, pendiri CIM, yang ia temukan di salah satu rak buku ayahnya. Kesempatan bertemu anak perempuan dan menantu Hudson Taylor semakin meyakinkan dirinya bahwa Allah ingin ia menjadi misionaris ke Cina8.

Pada 25 Desember 1932, Pike mengirimkan lamarannya. Mulanya ia diterima sebagai salah satu kandidat. Namun, kemudian ia harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan. CIM menolaknya9.

Alasan penolakan tersebut kemudian disadari sendiri oleh Pike. Ia melihat empat alasan yang menyebabkannya. Ia berpikir bahwa dorongannya untuk pergi ke Cina adalah dari Tuhan, bukan dari dirinya sendiri. Alasan kedua, ia tidak memerhatikan kelemahan psikis yang ia warisi dari ayahnya. Selain itu, masa mudanya saat itu juga membuatnya tidak memperhitungkan faktor-faktor sosial, seperti sifat gugup yang dapat menghalangi pelayanannya. Hal keempat ialah kesulitannya untuk membedakan bunyi yang dibedakan hanya dari ada tidaknya hembusan napas, yang sudah tentu akan menghalanginya untuk berkomunikasi dengan masyarakat Cina10.

Meski gagal bergabung dengan CIM, bukan berarti studinya di Gordon College ditelantarkan. Malahan ia berhasil lulus dengan predikat terhormat. Karenanya, ia diberi kehormatan sebagai salah satu pembicara saat upacara kelulusannya. Setelah itu, ia masih menempuh studi yang lebih mendalam lagi di tempat yang sama selama setahun11.

Pendidikannya di bidang linguistik ditempuh di University of Michigan atas dorongan Townsend pada tahun 193712. Di sini ia dibimbing oleh Edward Sapir yang telah lebih dahulu melakukan kontak dengan suku-suku Indian. Sapir menunjukkan bagaimana ia menganalisis nada-nada dalam bahasa suku Navaho dengan meneliti kata-kata, membedakannya berdasarkan pola titinada yang muncul bersamaan dalam konteks yang sama. Hal ini jelas sangat membantu Pike di kemudian hari.

MISIONARIS BAHASA

Kerinduan Pike untuk menjadi misionaris tidak putus hanya karena penolakan CIM. Setelah setahun bekerja bersama Citizen’s Workers Administration (CWA), ia mulai menulis kepada pengurus organisasi misi lain, mencari tahu apakah ada pelatihan bagi linguis dan penerjemah Alkitab yang mereka selenggarakan13.

Dari semua dewan pimpinan organisasi misi yang ia kirimi lamaran, hanya Pioneer Mission Agency — kemudian menjadi Wycliffe Bible Translation (WBT) yang membalas suratnya. Meski demikian, keadaan Pike sempat memberi kesan meragukan, sampai Cam Townsend melihat dan meyakini potensi besar dalam diri Pike14.

Pada tahun 1935 Pike mengikuti sesi kedua Camp Wycliffe. Dan pada tahun yang sama, untuk pertama kalinya ia mengunjungi perkampungan Mixtec di Meksiko. Dan sejak itu, pelayanannya dalam dunia misi lewat ilmu linguistik pun dimulai. Bahkan dari penelitiannya terhadap bahasa Mixtec inilah lahir bukunya, Tone Languages: The Nature of Tonemic Systems — buku ini sendiri baru dirampungkannya pada tahun 194315.

DARI MONOLINGUAL KE TAGMEMIK

Jika banyak orang mengalami frustasi saat mempelajari kerumitan bahasa bernada, Pike malah menganggap bahwa hal itu sangat menantangnya. Dengan kecerdasannya, ia pun mampu mengatasi hal tersebut. Tentu saja ini membuat Cam Townsend kagum sehingga ia mengundang Pike untuk kembali bergabung dalam kamp berikutnya, kali ini sebagai pengajar16.

Pada tahun 1936, Pike menetap di Mixtec untuk mempelajari bahasa Mixtec. Dari penerapan pendekatan monolingual yang ia kembangkan sejak 1935, terhadap masyarakat Mixtec, ia mengembangkan demonstrasi monolingual yang ia sampaikan pada sesi ketiga Camp Wycliffe di tahun yang sama17. Lewat pengajaran demonstrasi monolingual ini, Pike menyampaikan hal-hal yang perlu dilakukan para peneliti bila ingin mempelajari bahasa-bahasa yang minim aksara, tanpa kamus, tanpa tata bahasa tulis, bahkan tanpa penerjemah yang tersedia18. Mula-mula demonstrasi monolingual yang dikembangkannya ini disampaikan hanya pada pada peserta Summer Institute of Linguistics (SIL)19, namun akhirnya juga ke seluruh dunia.

Tampaknya perhatian Pike kemudian banyak tersita untuk masalah fonetik dan fonemik. Hal ini terbukti dari perkembangan penelitian yang terus ia kerjakan. Berbagai tulisan mengenai fonetik maupun fonemik terus ia hasilkan. Selain disertasinya pada tahun 1942 yang berjudul A Reconstruction of Phonetic Theory, ia juga menulis The Intonation of American English pada 1945, Phonemics: A Technique for Reducing Languages to Writing pada 1947, dan Tone Languages: A Technique for Determining the Number and Type of Pitch Contrasts in A Language pada tahun berikutnya20.

Selain demonstrasi monolingual dan berbagai penelitiannya mengenai fonetik dan fonemik, pencapaiannya yang lain dan yang paling terkenal ialah tata bahasa tagmemik. Teori yang mulai dikembangkannya dalam tahun 194921 ini didasarkan oleh istilah tagmem22. Tagmem itu sendiri merupakan konstituen dari konstruksi dan merupakan perpaduan gatra, kelas, peran, dan keutuhan[23]. Karena mewarisi pandangan dari Bloomfield dan Sapir, tata bahasa ini menjadi bersifat struktural dan antropologis24.

Ada empat asumsi atau alat konseptual dari teori tagmemik ini25.

a. Perspektif
Menurut Pike, bahasa dapat dilihat secara dinamis (wave) dan sebagai antarhubungan dari satuan-satuan dalam sebuah sistem (field). Ia juga membedakan etik (etic) dari emik (emic). Pendekatan etik ialah pendekatan yang memisahkan data-data kebahasaan dari fungsinya dalam sistem bahasa yang diteliti. Sementara itu, pendekatan emik merupakan pendekatan yang memerhatikan hubungan fungsional tersebut.

Dengan kata lain, ketika seorang peneliti meneliti suatu bahasa, pertama-tama ia akan berusaha memerikan bahasa tersebut terlebih dahulu. Setelah berhasil memerikannya, barulah ia menghubungkan pemeriannya itu berdasarkan perspektif penutur aslinya.

Alat atau konsep pertama ini disebut juga fungsi epistemologi atau fungsi peneliti26.

b. Satuan (Contrastive)
Data bahasa terdiri dari satuan-satuan terstruktur. Untuk menentukan apakah sebuah unsur merupakan sebuah satuan (bukan dua satuan berbeda), harus dilihat kontras-kontras yang ada, jalur variasinya, dan distribusinya.

Alat kedua ini disebut juga fungsi ontologis27.

c. Hierarki
Bahasa memiliki hierarki. Ada struktur yang lebih besar daripada kalimat, adapula yang lebih kecil dari kalimat. Namun, meskipun bahasa mengenal hierarki, hubungan di antara unsur-unsur bahasa bukanlah hubungan yang terlepas, melainkan menyeluruh.

Unsur-unsur tersebut memang dapat diteliti secara terpisah, namun bukan berarti masing-masing unsur tidak berkaitan. Sebagai contoh, pembahasan mengenai sintaksis akan menemukan kendala tanpa menyertakan aspek morfologis. Unsur-unsur tersebut merupakan poin yang menguntungkan bagi peneliti untuk mencapai keseluruhan yang hendak dicapai.

d. Konteks
Satuan-satuan terstruktur itu merupakan komposisi bentuk dan arti. Bentuk bahasa juga tidak dapat dipisahkan dari arti yang didapatkan dari konteksnya, karena arti sebentuk bahasa justru didapat dari konteksnya.

Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia, ada kata motor yang menurut KBBI (2002) berarti ‘mesin yang menjadi tenaga penggerak’. Arti lainnya ialah ‘sepeda motor’. Kata motor itu akan memiliki arti yang berbeda bila Anda berada di Medan28. Inilah yang dimaksud bahwa bentuk bahasa mendapatkan arti dari konteksnya.

Secara umum, tata bahasa tagmemik ini sangat berguna untuk hal-hal berikut29.

  1. Menyelidiki sesuatu yang baru “diketahui” dari permukaannya dan memperdalam pemahaman seseorang tentang konteks situasionalnya, bagian-bagian komponennya, ukuran rata-rata, sifat alamiah, dan kualitas dari dampak yang dimiliki sesuatu tsb. terhadap sekitarnya.
  2. Menemukan sifat alamiah, kualitas, bentuk, dampak, dst. dari sesuatu yang tak diketahui tersebut sebagaimana ia dikondisikan oleh lingkungannya.
  3. Mengklasifikasikan/menaksonomikan sebuah fenomena, mengenali bentuknya, bagian-bagian komponennya, konteks berdasar situasinya, dan lain-lain.
  4. Mendukung sifat alami, kualitas, bentuk, dampak, dst. yang dimiliki sebuah fenomena sebagaimana telah diidentifikasikan atau digambarkan oleh peneliti/pengamat lain.
  5. Menyediakan suatu tatanan yang stabil bagi prinsip, konsep, istilah, heuristik, sistem tanda, untuk menyelidiki, menggambarkan, dan mengevaluasi bahasa dan fenomena tingkah laku secara menyeluruh menurut poin-poin penilaian yang baik dan mendetail.

PIKE DAN KARYA LAINNYA
Pengetahuan dan kecerdasan Pike dalam bidang linguistik jelas sangat menolong penerjemahan Alkitab. Salah satu buah pelayanannya terwujud pada tahun 1947, ketika draf pertama dari Perjanjian Baru bahasa Mixtec selesai. Mungkin inilah satu-satunya sumbangan Pike secara langsung bagi penerjemahan Alkitab. Meski demikian, ia banyak membimbing para calon penerjemah Alkitab lainnya lewat kuliah-kuliah yang ia berikan.

Pike tidak hanya memiliki perhatian di bidang linguistik. Bakatnya dalam bidang sastra ia wujudkan pertama kali ketika memerankan Don Jose dalam sebuah operet, The Belle of Barcelona pada 1927. Selain itu, ia juga menulis banyak puisi. Sebanyak lima volume puisinya diterbitkan oleh SIL pada tahun 1997 dengan judul Seasons of Life: A Complete Collection of Kenneth L. Pike Poetry30. Pike juga dipercaya untuk memberi kuliah di bidang sastra pada Maret 2000.

Berkat sumbangannya yang besar bagi dunia linguistik, berbagai penghargaan dan gelar kehormatan diterimanya. Di antaranya ialah penghargaan Alumnus of The Year di Gordon College, Massachussetts pada tahun 1960. Dari University of Michigan ia memperoleh gelar Charles Fries Professorship in Linguistics. Sedangkan gelar kehormatan, Doctor of Humane Letters, ia dapatkan dari Gordon College dan dua tahun kemudian Georgetown University memberinya gelar yang sama31.

AKHIR HIDUP
Meskipun telah pensiun–ia pensiun dari University of Michigan dan jabatan Presiden SIL pada tahun 1979, kecintaannya terhadap linguistik tidak turut dipensiunkannya. Hal ini terbukti dari berbagai karya ilmiah, pertemuan ilmiah, dan kuliah yang masih ia kerjakan dan hasilkan.

Hidupnya yang penuh diwarnai cintanya pada linguistik sudah terlihat sejak ia muda. Saat mengalami patah kaki pada 1936, ia memanfaatkan waktu perawatannya untuk menulis buku mengenai fonetik. Demikian pula ketika ia harus kembali ke rumah sakit pada Desember 2000, secara ekstensif ia tetap berkorespondensi, sampai akhirnya Tuhan memanggilnya pulang pada 31 Desember di tahun yang sama.

KENNETH LEE PIKE DAN KEKRISTENAN
Berdasarkan penuturannya sendiri, Pike menyebutkan bahwa ia tumbuh dalam sebuah keluarga Kristen yang sangat tekun32. Kedua orang tuanya adalah Kristen yang sangat memegang komitmen kristiani mereka. Hal ini ditandai dengan kebiasaan untuk berdoa dan memuji Tuhan di rumah yang disesaki oleh sepuluh penghuni tersebut. Binaan dari orang tuanya yang sedemikian inilah yang secara perlahan, namun pasti, mengarahkan Pike untuk setia dalam imannya kepada Kristus.

“Ketika saya mematuhi kebenaran, saya tidak mematuhi suatu prinsip yang abstrak; saya mematuhi perintah Allah,” demikian ia berkata33.

Imannya sebagai seorang Kristen tergambar indah dalam untaian puisi-puisinya. Kehidupannya sebagai akademisi dan Kristen yang saleh diangkat dalam biografinya yang ditulis oleh Eunice Pike, adik perempuannya, dalam Ken Pike: Scholar and Christian.

Catatan

  1. Tidak heran bila akhirnya bidang semantik, bahkan pragmatik menjadi bidang yang paling muda dalam kajian linguistik.
  2. Pike, Kenneth L. 2004. Dalam http://www.brainyquote.com/quotes/authors/k/kenneth_l_pike.html.
  3. Tokoh linguistik struktural yang terkenal dengan bukunya, Language.
  4. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder (Peny.). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 214.
  5. “Kenneth L. Pike (1912-2000): A Chronological Life and Work”, dalam http://www.sil.org/klp/klp-chronology.htm.
  6. Tucker, Ruth A. 1983. “From Jerusalem To Irian Jaya: A Biographical History of Christian Missions”. Grand Rapids, Michigan: Academie Books. Hlm. 357.
  7. Ibid.
  8. Pike, Kenneth L. Dalam http://www.sil.org/klp/pilgrim/pilgrim2.htm.
  9. 5. loc. cit.
  10. Pike, Kenneth L. 8. loc. cit.
  11. 5. loc. cit.
  12. Pike, Kenneth L. Dalam http://www.sil.org/klp/pilgrim/pilgrim4.htm.
  13. Tucker, Ruth A. loc. cit. Hlm. 358
  14. Ibid.
  15. 5. loc. cit.
  16. Tucker, Ruth A. loc. cit. Hlm. 258.
  17. 5. loc. cit.
  18. “Ken Pike’s Growing Contribution”, dalam http://www.sil.org/klp/klp-contributions.htm.
  19. SIL merupakan organisasi yang juga dipelopori oleh Cam Townsend untuk mengkaji berbagai dokumen dan menolong pengembangan bahasa-bahasa yang tidak banyak dikenal masyarakat dunia.
  20. 5. loc. cit.
  21. Ibid.
  22. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. op. cit. Hlm. 215.
  23. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 207.
  24. Ibid. Hlm. 69.
  25. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. loc.cit. Hlm. 215.
  26. Edwards, Bruce L. 1996. “Tagmemic Discourse Theory”. Dalam http://personal.bgsu.edu/~edwards/tags.html.
  27. Ibid.
  28. Masyarakat di Medan umumnya lebih mengenal “motor” sebagai kendaraan beroda empat daripada kendaraan beroda dua sebagaimana arti kedua menurut KBBI.
  29. Edwards, Bruce L. loc. cit.
  30. 5. loc. cit.
  31. Ibid.
  32. Pike, Kenneth L. Dalam http://www.sil.org/klp/pilgrim/pilgrim1.htm.
  33. 2. loc. cit.
Catatan
Artikel di atas merupakan salah satu tulisan yang saya susun untuk Buletin Elektronik Biografi Kristiani. Karena menganggap cukup relevan, saya pasang pula di situs blog ini.

3 Responses to “Kenneth Lee Pike: Linguis yang Berjiwa Misionaris”

  1. nancy March 27, 2008 at 6:36 am #

    Saya kagum dengan passion kamu di bidang Linguisktik dan konsistensi kamu menulis dan menyelidiki bidang ini. Tidak heran kalau Tuhan akan memakai kamu menjadi Lee Pike modern.
    Karena “Panggilan” kita tidak akan jauh dari “gift” dan “desire”. Nah, Raka kamu punya tuh gift dan desire ini.
    Keep doing a good work!

  2. indonesiasaram March 27, 2008 at 7:56 pm #

    Amin. Saya selalu berharap masyarakat bahasa bisa mendapat manfaat dengan berkunjung ke blog ini. Saya percaya latar belakang pendidikan yang Tuhan izinkan untuk kita miliki akan sangat bermanfaat dalam pelayanan. Itu pulalah yang mendorong saya untuk terus menulis di bidang ini. Lagipula, sampai sekarang, saya benar-benar belum menemukan blog yang memiliki fokus serupa.

    Kemungkinan besar, para ahli bahasa sudah mendapatkan bagiannya tersendiri sehingga ranah blog sulit mereka garap. Berbekal sedikit pengalaman, saya beranikan diri menggarapnya. Namun, saya sendiri sebenarnya masih hijau sehingga butuh banyak masukan.

  3. martha January 5, 2009 at 12:39 pm #

    tulisanmu bgs, saya akui tp dlm visi qt jauh berbeda. semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: