Melihat Bahasa Daerah

23 Mar

Bulan Februari yang lalu kita memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Sejumlah media massa turut melaporkan peringatan tersebut. Dan mencermati apa yang dikemukakan oleh setidaknya dua media yang saya baca, ternyata kondisinya cukup memprihatinkan juga.

Adapun informasi yang disampaikan oleh dua media massa tersebut tergolong berita buruk. Apabila pada satu sisi, ada bahasa daerah yang dikhawatirkan tergeser, di sisi lain sudah ada bahasa daerah yang punah. Kepunahan bahasa ini dikabarkan terjadi secara global di mana 50 persen dari 6.700 bahasa mengalami kepunahan dalam satu abad terakhir. Di wilayah Indonesia sendiri, khususnya Indonesia Timur, ada 10 bahasa yang punah, meliputi 9 bahasa di Papua dan 1 di Maluku Utara. Jumlah ini belum termasuk di daerah lainnya.

Tidak dapat dimungkiri apabila pada zaman ini bahasa daerah memiliki tingkat kepunahan yang begitu rentan. Globalisasi perlahan-lahan mengikis kecintaan terhadap bahasa daerah (sebagaimana halnya juga dialami oleh bahasa Indonesia). Apabila bahasa Indonesia saja sering dianggap tidak keren daripada bahasa Inggris, lebih-lebih bahasa daerah. Oleh karena itu, tidak heran apabila di kota-kota besar, jumlah penutur bahasa daerah tidaklah banyak.

Krisis ini, kalau boleh saya katakan demikian, tercermin pada bahasa Sunda. Empat puluh persen masyarakat Jawa Barat dikabarkan tidak bisa menggunakan bahasa Sunda, demikian dikemukakan Yanuarisnandar Mauludi, Ketua Badan Eksekutif Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda (Koran Tempo Jumat, 22 Februari 2008).

Persaingan dengan bahasa yang terus produktif, terutama yang dekat dengan bidang ilmu pengetahuan, boleh jadi merupakan kendala utama. Ditambah dengan sosialisasi yang sangat sukses oleh media televisi, perlahan-lahan rasa gengsi apabila tidak mengikuti bahasa yang “diiklankan” itu akan muncul.

Bagaimana pula dengan bahasa-bahasa yang telah punah? Kepunahan bahasa memang merupakan hal yang sangat menyedihkan. Boleh dibilang, punahnya suatu bahasa sama dengan punahnya suatu budaya. Satu-satunya cara untuk menghadirkan kembali bahasa yang telah punah ialah dengan merekonstruksi bahasa tersebut. Tapi langkah ini pun masih dengan syarat masyarakat bahasa tersebut sudah mengenal tulisan dan naskah-naskah mereka ditemukan. Bila tidak, bahasa tersebut mustahil direkonstruksi. Celakanya, ada banyak masyarakat bahasa yang masih belum mengenal sistem tulisan.

Tindakan merekonstruksi bahasa ini juga sebenarnya tidak bisa sepenuhnya disebut menyelamatkan atau menghidupkan suatu bahasa. Karena belum tentu bahasa itu akan digunakan kembali, meskipun oleh masyarakat yang dahulu adalah penutur bahasa tersebut. Contoh bahasa yang sistem tulisannya masih diwarisi, namun sudah tidak memiliki masyarakat penuturnya lagi ialah bahasa Sanskerta. Demikian pula bahasa Latin.

Sejauh yang saya amati di Solo, para penutur bahasa Jawa itu sendiri sebenarnya masih bisa dibilang setia dengan bahasa Jawa yang mereka gunakan. Kebanyakan sekolah di sana juga memasukkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal. Boleh dibilang bahasa Indonesia menjadi bahasa sampingan bagi para penutur bahasa Jawa di kota kecil ini. Dan hal ini di satu sisi jelas melestarikan bahasa Jawa itu sendiri.

Memang ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk melestarikan bahasa daerah. Pertama, dengan memasukkannya sebagai mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Langkah ini, selain bermanfaat bagi siswa-siswi sekolahan yang memang dibesarkan dalam lingkungan penutur bahasa daerah itu, para siswa penutur bahasa lain pun akan berkenalan dengan bahasa daerah yang bagi mereka baru itu sehingga diajak pula untuk mengenal dan menghargai bahasa daerah lain. Kendalanya, para siswa penutur bahasa lain hanya akan mengenal bahasa daerah lain itu sepanjang masih mereka pelajari di sekolah. Selepas itu, lebih sering sirna ditelan waktu.

Hal kedua ialah dengan mengadakan sayembara dan perlombaan lainnya. Mengingat sifat dasar manusia, keinginan untuk merebut hadiah yang disediakan panitia tentu tidak akan disia-siakan. Tapi sekali lagi, langkah ini pun tetap tidak menjamin para peserta sayembara tersebut akan setia melestarikan bahasa daerah mereka.

Menurut saya, tidak ada cara lain yang lebih sukses daripada pendidikan bahasa daerah di lingkungan keluarga. Lingkungan sekitar memang akan berpengaruh besar, namun pengaruh paling besar tentu ada di dalam keluarga yang dengan setia mempraktikkan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari.

Memang langkah ketiga ini pun bukannya dijamin pasti berhasil. Apalagi bila kedua pihak orang tua si anak memang tidak menguasai bahasa daerah mana pun. Namun sebagai lingkungan terdekat bagi anak, pengajaran bahasa di lingkungan keluarga bisa dibilang paling sukses. Maka untuk memperkuat fondasi bahasa daerah inilah peran pemerintah dalam menetapkan pelajaran bahasa daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal dianggap penting pula.

Khusus untuk bahasa-bahasa daerah yang belum mengenal ragam tulis, tidak ada cara lain untuk melestarikannya selain dengan memperkenalkan sistem tulisan kepada masyarakat penuturnya. Untuk itu, peran para ahli bahasa sangat vital.

Akhirnya, saya juga berharap stasiun-stasiun televisi lokal juga mengambil bagian dalam pembinaan berbahasa daerah. Caranya pun sederhana, yaitu dengan menayangkan acara-acara yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Hal ini telah dilakukan oleh pihak TA TV Solo, di antaranya lewat acara “Kabar Wengi”, yaitu siaran berita yang disampaikan dalam bahasa Jawa. Contoh lainnya, memproduksi film dalam bahasa daerah, seperti yang pernah dilakukan oleh TVRI. Sehingga lewat kombinasi keluarga, pemerintah, dan stasiun televisi lokal, penumbuhan rasa cinta terhadap bahasa daerah sangat diharapkan berjalan dengan baik.

One Response to “Melihat Bahasa Daerah”

  1. Yohanes March 24, 2008 at 5:49 pm #

    Sejauh ini saya juga hanya bisa menjadi pasif… Bayangkan saja, seorang nenek yang dengan setia mengucapkan bahasa Jawa kepada cucunya yang tak kunjung berucap kalimat lengkap dalam bahasa Jawa itu. Ditambah lagi dengan teman-teman yang terus menerus mencekoki dengan bahasa Batak Toba hingga kejadian sama pun terulang.

    Ya itulah saya… Jadi malu sama bule-bule yang pintar nari dan memainkan wayang. Saya tak menguasainya.

    Walaupun sedikit menyimpang, saya teringat Mimi Rasinah (http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=159926) seorang maestro tari topeng yang membawa nama harum bangsa Indonesia di manca negara. Terharu sekali rasanya melihatnya yang bertekad lebih baik mati dari pada berhenti menari. Cucunya kini meneruskan semangatnya.

    Mari kita lakukan sesuatu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: