Mempersoalkan Istilah “Hamba Tuhan”

12 Mar

Kalau Anda tergolong sering mengikuti persekutuan, entah itu persekutuan siswa, persekutuan mahasiswa, atau persekutuan-persekutuan yang diadakan gereja-gereja, Anda tentu merasa sangat familiar dengan istilah hamba Tuhan. Tidak jarang ketika seorang teman mengajak untuk menghadiri sebuah persekutuan, pertanyaan yang muncul berupa, “Siapa hamba Tuhannya?”

Istilah hamba Tuhan dalam tuturan tersebut tentu dimengerti sebagai orang yang mewartakan kebenaran firman Tuhan. Kadang-kadang bisa dipadankan dengan pengkhotbah, ‘orang yang berkhotbah’.

Namun ternyata, menarik juga mengusik penggunaan istilah hamba Tuhan ini. Pertama, posisi tersebut kalau ditilik bisa dibilang tidak dikenal dalam organisasi gereja. Seperti yang kita ketahui, terutama pada gereja-gereja arus utama, ada jabatan pendeta dan majelis. Majelis ini terkadang masih dibagi lagi menjadi penatua dan diaken. (Dalam lingkup GKI, semua majelis merupakan penatua, sementara dalam lingkup gereja seperti GPIB, jabatan diaken masih berlaku.)

Lalu di manakah posisi hamba Tuhan ini?

Saya teringat sebuah percakapan menjelang perayaan Natal jurusan kami beberapa tahun lalu. Saat itu, seorang adik kelas saya berkata, “Bukankah setiap orang sebenarnya adalah hamba Tuhan juga?”

Kalau mengacu pada Injil Yohanes 1:12, setiap orang yang percaya kepada Kristus disebut sebagai anak-anak Allah. Sebagaimana kita ketahui, posisi anak jelas jauh lebih tinggi daripada seorang hamba. Namun, mengapa istilah hamba Tuhan tetap hadir dalam lingkup kehidupan orang Kristen? Bahkan seorang rasul seperti Paulus pun menyebut dirinya sendiri sebagai hamba.

Apakah ini berarti bahwa seorang yang melayani disebut sebagai hamba, sementara mereka yang dilayani merupakan anak? Ataukah justru seorang anak, sebenarnya juga sekaligus sebagai hamba?

Dalam suatu kesempatan, seorang senior saya mengutarakan pandangannya. Saat itu ia bertanya, “Kalau orang lain memanggilmu sebagai hamba Tuhan, bagaimana sikapmu? Banggakah?” Dalam penjelasannya, ia menganggap posisinya sebagai seorang hamba pun sebenarnya jauh dari layak mengingat status dosa yang disandang setiap manusia. Inikah yang menyebabkan istilah hamba Tuhan itu mencuat?

Baiklah kita tanggalkan status antara anak dan hamba ini. Kalau mencermati panggilan setiap orang percaya, kita sebenarnya berkewajiban untuk berbagian dalam setiap kegiatan pelayanan, entah itu di antara saudara-saudara seiman, entah itu kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Bukan sebagai pelapang atau pelicin jalan menuju surga, melainkan sebagai ungkapan syukur karena keselamatan di dalam Kristus. Dan dalam melayani sesama, kita perlu merendahkan diri kita. Posisi merendahkan ini memang identik dengan posisi hamba; karena posisi hamba melulu berada di bawah.

Ada juga pemikiran lain yang muncul dari masalah hamba Tuhan ini. Seorang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, cenderung menggunakan istilah ini untuk mengingatkan dirinya bahwa ia telah ditebus oleh Kristus; dari sebelumnya menghamba pada dosa, kini menghamba pada Sang Penebus. (Mungkin hal ini terkesan membingungkan juga, padahal berkali-kali ia berkhotbah bahwa mereka yang percaya kepada-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.)

Bagaimanapun juga, saya kira ini memang salah satu paradoks dalam kehidupan orang Kristen. Kita dipanggil untuk melayani sebagai hamba, meskipun berstatus sebagai anak. Posisi ini bisa kita lihat dari sudut pandang mana istilah tersebut berlaku. Bisa jadi, status hamba Tuhan kita sandang tatkala kita melayani sesama kita, sementara status anak-anak Allah merupakan status kita dari sudut pandang Allah.

Akhirnya, saya memandang bahwa setiap orang yang mengaku percaya dan telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, mestinya menjalankan fungsinya juga sebagai hamba Tuhan di lingkungan mana pun kita ditempatkan. Bukan untuk mengkristenkan orang lain, melainkan menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sebagaimana mestinya dengan penuh dedikasi, sebagaimana dikemukakan Rasul Paulus dalam surat Kolose 3:22-25. Pertanyaannya, siapkah kita menjadi hamba? Siap tidak siap harus siap.

4 Responses to “Mempersoalkan Istilah “Hamba Tuhan””

  1. cecep March 16, 2008 at 8:36 am #

    iya ya, aku masih belum siap tuh dipanggil hamba Tuhan, padahal di gereja nyanyinya “Hati Hamba” hehehehe

    mas, tukeran link yukz? aku uda pasang di blogku, pasang link blogku di blogroll di sini dong

  2. indonesiasaram March 16, 2008 at 9:07 am #

    Terima kasih, alamat blog Anda sudah saya tambahkan di blogroll saya, saya akan sempatkan waktu untuk mengunjungi blog Anda (dan blog yang lain) juga.

  3. Benny May 17, 2008 at 5:14 pm #

    Alo, Raka, OOT dikit ya. Tentang kata ‘pengkhotbah’, setau saya sekarang yang benar adalah ‘pengkotbah’, dan dengan demikian Kitab Pengkhotbah pun perlu dimutakhirkan namanya menjadi Kitab Pengkotbah. Kecuali kalau sumber saya salah. Salam.

  4. indonesiasaram May 19, 2008 at 5:54 pm #

    Sejauh ini, kata yang dianggap baku adalah khotbah, bukan kotbah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: