Mengenai Penyerapan Kata/Istilah

9 Mar

Kalau belakangan ini bahasa Indonesia dibanjiri oleh kosakata asing, khususnya dalam bahasa Inggris, tentu sudah bukan rahasia lagi. Perhatikan saja anak-anak kecil yang sudah dengan gampangnya melakukan pencampuran kosakata bahasa Inggris dalam konstruksi kalimat bahasa Indonesia. Apalagi lingkungan sekitarnya pun sangat membantu dalam sosialisasi istilah-istilah asing itu.

Salah satu yang sebelumnya sempat saya diskusikan dengan seorang teman di lingkungan kerja sebelumnya ialah apakah kita, para pengguna bahasa ini, sebenarnya melakukan peminjaman, pemungutan, atau bagaimana terhadap bahasa asing ini? Lalu bagaimana pula prosesnya?

Beberapa waktu lalu dalam blog ini, saya menyinggung sedikit perihal kata serapan. Untuk kembali menyegarkan, berikut saya sajikan petikan dari tulisan terdahulu.

Namun ketika menyusun skripsi mengenai struktur percakapan yang dilangsungkan dengan menggunakan IRC tersebut, saya memutuskan untuk menggunakan ceting sebagai padanan chatting. Saat itu tahun 2005, saya akui kalau saya belum tahu kalau ada padanan kata lain yang digunakan untuk kata chatting, yaitu rumpi. Saya kira saya menjadi korban dari sosialisasi istilah yang tidak bisa dibilang telah dilakukan tuntas itu. Alhasil, dengan percaya diri saya menerbitkan istilah baru, meski hanya untuk kalangan terbatas di Departeman Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. (Klik sini untuk mendapatkan artikel lengkapnya.)

Sebagaimana dikemukakan Abdul Chaer dalam Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia (Rineka Cipta, 2001), ada tiga macam kata serapan, yaitu:

  1. kata-kata yang sudah sepenuhnya diserap dalam bahasa Indonesia sehingga sudah tidak terasa sebagai kata-kata asing lagi;
  2. kata-kata yang masih asing, namun digunakan dalam konteks bahasa Indonesia dan tetap menggunakan istilah asing;
  3. kata-kata asing yang ucapan dan ejaannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia, meski perbahannya dilakukan seperlunya saja.

Lalu berdasarkan proses, sejauh yang saya ingat, ada tiga tahap juga yang dilakukan. Tahap pertama berupa pencarian padanan kosakata asing tersebut dalam bahasa Indonesia. Apabila tidak kunjung ditemukan, barulah beralih kepada tahap kedua, yaitu mencari padanannya dalam bahasa-bahasa Nusantara. Akhirnya, bila masih mentok juga, barulah diserap sepenuhnya dengan terkadang menyesuaikan ejaannya dalam bahasa Indonesia.

Hal terakhir pulalah yang saya lakukan pada kata chatting. Bedanya, saya melakukan lompatan tanpa terlebih dahulu memerhatikan tahap pertama dan kedua. Lagipula, lingkup penelusuran saya saat itu masih terlalu sempit sehingga dengan tegas saya kemukakan bahwa kosakata asing tersebut sama sekali belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. (Saya mulai menyusun skripsi saya sejak kuartal keempat tahun 2004 dan saat tulisan ini saya susun, saya belum bisa memastikan apakah sosialisasi kosakata dunia teknologi informasi saat itu sudah dilakukan atau belum.)

Masih dekat dengan pembahasan ini, beberapa waktu lalu seorang pengunjung tulisan yang saya pasang di blog lain bertanya mengenai istilah blog. Saya kira, ini hanya salah satu istilah yang kita serap secara penuh ke dalam bahasa Indonesia. Anda memang tidak akan menemukannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengingat istilah ini memang tergolong baru.

Lalu apakah blog itu? Istilah blog merupakan sebuah abreviasi atau penyingkatan dari kata web dan log. Blog merupakan sebuah situs yang menyajikan isi berdasarkan kronologi waktu, umumnya isi yang lebih baru akan berada di urutan paling atas. Mengacu kepada Wikipedia, istilah weblog ini dicetuskan oleh seorang yang bernama John Barger. Sementara blog dicetuskan oleh Peter Merholz.

Sejauh ini, para ahli bahasa kita belum mengumumkan padanan istilah yang semakin membanjir seiring perkembangan teknologi ini. Maka tidak heran apabila kebanyakan orang, terutama para praktisi TI cenderung menggunakan kosakata aslinya daripada menanti sosialisasi dari para ahli bahasa yang dalam hal ini Pusat Bahasa. Tentu saja mereka pun tidak akan berpikir untuk mencetuskan padanan baru. Lalu dari pengambilan apa adanya ini, ditambah dengan sosialisasi dari kalangan TI melalui media, masyarakat luas pun memilih menggunakan kosakata yang tidak jarang masih utuh dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Inggris.

Salahkah kondisi ini? Saya tidak menampik bahwa hal seperti ini sama sekali tidak mungkin dihindari. Kecenderungan masyarakat untuk menggunakan istilah asing belakangan ini tidak sekadar ingin keren-kerenan, meski banyak pula yang melakukannya untuk tujuan tersebut, tetapi untuk kepraktisan belaka. Saya pribadi cenderung menerima blog sebagai istilah serapan. Dan bagi saya, alasannya tidak sekadar kepraktisan belaka, tapi juga penyerapannya boleh dibilang selaras dengan salah satu persyaratan yang ada, yaitu memudahkan pengalihan antarbahasa.

Lagipula pelafalan blog menurut lidah orang Indonesia tidaklah sukar. Kalaupun ada padanannya, padanan tersebut akan menjadi kata yang bersaing dengan kata yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Dan akhirnya, hal ini akan memperkaya diksi para pengguna bahasa.

One Response to “Mengenai Penyerapan Kata/Istilah”

  1. nadierian January 16, 2009 at 7:51 pm #

    malaysia ay mahu kesana!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: