Sepak Bola dan Komentator

10 Feb

Publik sepak bola nasional tentu menantikan final sepak bola liga Indonesia yang dilangsungkan pada 10 Februari 2008 yang lalu. Ini mungkin satu-satunya final, setidaknya di Asia, yang dilangsungkan dengan tanpa penonton sebagai akibat dari kerusuhan yang terjadi di Gelora Bung Karno. Pertandingan itu sendiri kemudian dimenangkan oleh Sriwijaya FC dengan mengalahkan PSMS Medan 3-1 dengan melalui dua kali babak perpanjangan waktu.

Dalam pertandingan sepak bola, kita senantiasa ditemani oleh sejumlah komentator. Umumnya, pembawa acara akan menyajikan pertanyaan kepada para komentator. Namun, kalau Anda mencermati, pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan sebenarnya tergolong pertanyaan retoris.

Pertanyaan retoris ialah pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Sedikit banyak, jawaban sudah tercermin dari pertanyaan yang diajukan.

Salah satu contoh pertanyaan retoris dalam sebuah pertandingan sepak bola misalnya:

  1. Apakah faktor stamina juga memengaruhi menurunnya kualitas permainan para pemain?
  2. Apakah pelatih ingin menekankan penyerangan dengan memasukkan penyerang tambahan?
  3. (Silakan Anda tambahkan sendiri.)

Kalau dicermati, pertanyaan retoris memang memiliki maksud tertentu. Dalam konteks sepak bola, kira-kira maksudnya sebagai berikut.

  1. Meminta kepastian dari komentator

    Dalam kondisi seperti ini, sering kali para komentator memiliki latar belakang sepak bola yang jauh lebih kuat daripada pembawa acara. Tidak jarang seorang komentator yang diundang merupakan seorang pelatih, mantan pemain, atau malah pemain sepak bola. Dalam posisi demikian, pelatih, mantan pemain, maupun pemain sepak bola memiliki otoritas yang lebih tinggi daripada pembawa acara. Artinya pernyataan-pernyataan yang mereka keluarkan lebih berharga daripada yang disampaikan oleh pembawa acara.

  2. Mengharapkan penjelasan lebih jauh

    Dengan mengungkapkan satu faktor, misalnya stamina sebagaimana dalam contoh 1 di atas, pembawa acara ingin komentator menjelaskan hal-hal seputar stamina. Sehingga akan muncul komentar bahwa para kualitas stamina para pemain memang tidak baik. juga mengungkapkan faktor-faktor lain yang mungkin luput dari analisa singkat sang pembawa acara. Tidak heran kalau seorang komentator akan menambahkan faktor-faktor lain, yaitu kekeliruan pelatih dalam menginstruksikan strategi kepada para pemainnya, atau kekeliruan pemain dalam menerapkan instruksi pelatihnya, dan sebagainya.

  3. Memancing diskusi yang lebih luas lagi mengenai pertandingan yang tengah atau telah berlangsung

    Cobalah amati betapa seringnya pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terkesan tidak perlu ini justru menuntun kepada diskusi yang lebih luas. Sebagai contoh, dari masalah stamina, bisa jadi pembicaraan beranjak kepada faktor penonton yang lebih banyak mendukung salah satu tim sehingga tekanan mental lebih memengaruhi permainan tim tamu.

Harus diakui bahwa kadang-kadang pembawa acara yang memandu memang kurang berkualitas. Rendahnya kualitas pembawa acara ini bisa menjadi penyebab maraknya pertanyaan maupun pernyataan yang tidak perlu atau malah tidak bermutu. Tentu para penggemar sepak bola masih ingat kejadian pada Piala Dunia 2006 yang lalu di mana rendahnya kualitas pembawa acara saat itu memaksa pihak penyiar menggantikannya dengan yang lebih berpengalaman.

Dalam percakapan sehari-hari pun pertanyaan retoris bukanlah hal yang tidak biasa. Dengan alasan yang sama pula kita sering mengajukan pertanyaan demikian. Sayangnya, pertanyaan retoris sering pula menyebabkan mitra wicara kita menjadi kesal.

Salah satu kasus kebahasaan lain yang sering dimunculkan oleh komentator sepak bola ialah pengaburan makna frasa seperti tendangan yang sangat baik, dan yang senada dengan itu. Sering kali kita akan mendengar komentar, misalnya seperi berikut.

Tendangan yang sangat baik dilepaskan oleh Saktiawan Sinaga.

Atau seperti berikut ini.

Tendangan yang sangat baik sudah dilepaskan Saktiawan Sinaga, namun sayangnya melebar.

Namun, yang kita saksikan justru sebuah tendangan yang melenceng jauh dari mistar gawang. Padahal kalau tendangan yang dilakukan itu baik seharusnya menghasilkan sebuah gol dan bukannya goal kick? Oleh karena itu, bentuk kalimat yang lebih tepat seharusnya ialah

Sebuah usaha yang cukup baik dilakukan Saktiawan (dengan melepaskan tendangan dari luar kotak penalti).

Atau

Meski melebar, usaha yang dilakukan Saktiawan amatlah tepat (mengingat rapatnya pertahanan lini belakang lawan).

Sedikit berbeda kalau mengucapkan

Umpan yang sangat baik dilepaskan oleh Gustavo Chena, sayangnya reaksi para pemain depan sangat terlambat.

Dalam kalimat di atas, umpan yang sangat baik telah diberikan, namun kegagalan justru dilakukan oleh penerima umpan tersebut. Bandingkan dengan kalimat berikut

Umpan yang sangat baik dilepaskan oleh Gustavo Chena, sayang terlalu deras.

Sebenarnya kalau Anda mencermati, hal serupa juga sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh komentator dalam negeri. Coba saja menyimak komentator berbahasa Inggris pada pertandingan Liga Italia. Hal serupa pasti muncul. Dan hal seperti ini telah mewarnai siaran pertandingan sepak bola. Apakah ini berarti para komentator tersebut perlu belajar bahasa Indonesia juga mengingat pembinaan bahasa Indonesia yang kontekstual pun dapat dilangsungkan melalui komentar-komentar pada siaran tersebut?

3 Responses to “Sepak Bola dan Komentator”

  1. kevin August 8, 2008 at 12:21 pm #

    sebaiknya Negara Indnesia ini dapat Pengharagaan dari FIFA agar Indonesia dapat mengikuti seleksi Oimpiade Beijing

  2. kevin August 8, 2008 at 12:23 pm #

    pemain indonesia ini Kurang cemerlang karena Sring Kali Bermain Mkan Sendiri
    tp saat melawan Bayermunich Harusnya ini pelajaran bagi Beny Dolo agar merubah strategi!!!!!!!
    Aku ingin Indonesia bertanding Melawan MU

  3. indonesiasaram August 15, 2008 at 7:24 am #

    Wah, kalau MU bermain melawan Indonesia, mungkin tim juniornya saja sudah cukup merepotkan tim nasional senior kita, ya? Omong-omong, terima kasih telah mampir ke sini, Sdr. Kevin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: