Pesta Demokrasi Bekasi dan Bahasa Kampanye

11 Jan

Masyarakat kota Bekasi tengah bersiap-siap untuk melaksanakan pesta demokrasi. Pada tanggal 27 Januari 2008 mendatang, seluruh masyarakat Bekas akan melaksanakan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bekasi untuk periode 2008–2013.

Tentu saja kampanye telah dilakukan jauh-jauh hari. Meski demikian, spanduk-spanduk dan poster-poster, termasuk stiker-stiker pada mobil-mobil angkot. Ada yang masih utuh, ada pula yang sudah tersobek.

Bagi saya yang notabene menumpang tinggal di Bekasi, nuansa ini sangat menarik perhatian saya. Terutama ketika melihat sebuah stiker kampanye yang tertempel pada angkot yang saya tumpangi beberapa waktu lalu. Stiker kampanye yang saya maksud terlihat seperti berikut.

Kampanye

 

Sayangnya, sudutnya kurang baik (maklum posisi tidak memungkinkan karena angkotnya sedang menanti penumpang), lagipula tidak lengkap (inilah yang saya maksud sudah tersobek itu).

Tulisan lengkap dari gambar di atas adalah sebagai berikut.

 

Mau Pendidikan & Kesehatan Gratis?

JANGAN KORUPSI!

AWING-RONNY

Calon Walikota & Wakil Walikota Bekasi 2008 – 2013

 

Melihat ini, saya kembali teringat kasus ketika berada dalam Argo Lawu beberapa waktu lalu (lihat Informasi Jelas, Konsumen Puas). Dan senada dengan tulisan tersebut, dari teks di atas, saya masih sulit melihat urjensi pemilihan kata tersebut untuk ditampilkan kepada masyarakat.

Seruan untuk tidak korupsi di satu sisi, memang memiliki nilai positif bagi masyarakat. Kita diajak untuk tidak mencuri sekecil apa pun dari siapa pun. Meski demikian, mengingat konteksnya dalam masa kampanye, seruan seperti itu menjadi sesuatu yang kurang relevan ditujukan kepada masyarakat.

Pertama, bukan masyarakat yang akan duduk di bangku pemerintahan daerah Bekasi, melainkan mereka yang berkampanye. Kedua, sebagaimana kita ketahui bersama, para pejabatlah yang paling sering melakukan korupsi.

Berdasarkan dua alasan tersebut, saya kira tidaklah relevan memasang stiker tersebut di tempat umum. Jauh lebih baik bila mereka memasangnya di posko mereka, misalnya, atau di kantor-kantor mereka.

Namun, bila sedikit menganalisa teks tersebut, bukan tidak mungkin stiker tersebut menyampaikan pesan kampanye juga, alih-alih sebuah penyuluhan.

Kalimat tanya baris pertama tersebut. Seperti yang kita ketahui, yang dapat menentukan gratis tidaknya pendidikan dan kesehatan adalah pemerintah, bukan masyarakat. Perhatikan pula seruan “JANGAN KORUPSI!” tersebut. Kalau dikaitkan dengan kalimat tanya sebelumnya, teks ini dapat menyampaikan sebuah pesan kampanye yang kira- kira berbunyi:

Kami akan menjalankan pemerintahan yang antikorupsi untuk mewujudkan pendidikan dan kesehatan gratis.

Atau:

Pendidikan dan kesehatan gratis bukan mimpi. Kami akan berantas korupsi untuk turut mewujudkannya.

Lalu kalau mau, bisa ditambah embel-embel: “Karena itu, pilihlah kami”.

Hal ini juga bisa dilihat ketika saya mendapati poster-poster lain yang menyatakan kalau pasangan Awing dan Ronny ini memang berniat untuk antikorupsi. Jadi, bisa dikatakan kalau seruan “JANGAN KORUPSI!” bisa berarti kalau pasangan ini “tidak akan korupsi”.

Bagaimanapun juga, pesan tersebut tidak serta-merta dapat dipahami oleh masyarakat, terutama mereka–tanpa bermaksud merendahkan–yang memang pendidikannya kurang. Lagipula, teks yang disajikan masih membuka penafsiran yang sangat luas. Jadi, gunakanlah kalimat lugas, sederhana, yang mudah dipahami oleh kalangan awam.

2 Responses to “Pesta Demokrasi Bekasi dan Bahasa Kampanye”

  1. yohanes1112 February 23, 2008 at 12:57 pm #

    Gagal berencana sama dengan berencana untuk gagal. Agaknya hal ini juga yang dapat kita lihat dari pasangan tersebut. Gagal berbahasa sama artinya membahasakan kegagalan.

    Lepas dari materinya, yang menurut saya sebagai orang awam aneh (mutu pendidikan seperti apa pendidikan gratis itu?), sebenarnya banyak caleg yang tidak dapat mengkomunikasikan dengan baik apa yang menjadi inti kampanye.

    Memang bangsa ini baru belajar berdemokrasi, namun harusnya bangsa ini sudah terpelajar dalam berkomunikasi.

  2. indonesiasaram March 9, 2008 at 8:08 am #

    Komunikasi itu memang hal yang kompleks karena orang tidak sekadar memerhatikan bahasa secara verbal, namun juga nonverbal. Agak rumit memang melihat apa yang ada di benak para petinggi kita. Seorang ahli bahasa, J.R. Searle berpandangan bahwa tujuan pembicara atau penutur sukar diteliti, sebaliknya interpretasi lawan bicara atau pendengar mudah dilihat dari reaksi-reaksi yang diberikan terhadap ucapan pembicara.

    Jadi, kalau kemudian kita berpendapat bahwa para (calon) pejabat itu hanya ingin mendapatkan penghasilan yang besar dari jabatannya, atau hanya ingin mencari simpati dari rakyat, pendapat ini tidak lebih daripada anggapan kita, interpretasi berdasarkan pengalaman kita (yang memang cukup sering benar).

    Tapi mengingat mayoritas rakyat tidak memiliki pendidikan yang tinggi, jangan-jangan sebenarnya mereka yang terpelajar malah memanipulasi bahasa mereka dan mengomunikasikannya kepada masyarakat untuk mengegolkan tujuan mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: