Pada Mulanya adalah Firman

2 Jan

Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap keluarga Kristen untuk mengakhiri dan mengawali tahun dengan bersekutu bersama dan merenungkan firman Tuhan. Saya percaya, ini pulalah yang menjadi kebiasaan bagi Anda dan keluarga ketika hendak memasuki tahun yang baru ini.

Dalam memasuki tahun 2008, saya malah teringat akan kegiatan masa Adven yang dirayakan di kantor saya Desember lalu. Kala itu kelompok kami menyajikan semacam litani berbagai bahasa. Ayat Alkitab yang kami bawakan adalah Yohanes 1:1-14. Tidak semua ayat yang kami bawakan dalam berbagai bahasa, hanya ayat pertama dan keempat belas.

Adapun salah satu bahasa yang disajikan ialah bahasa Dayak karena ada teman yang ketepatan merupakan orang Dayak dalam kelompok kami. Ketika membaca Yohanes 1:1, beginilah yang ia bacakan.

“Hong sola-solake, helo bara kalunen injadian, Firman te jari aton. Firman te aton hinje Hatalla tuntang Firman te sama dengan Hatalla.”

Ayat tersebut sebenarnya berbunyi begini.

“Hong sola-solake, helo bara kalunen injadian, Auh te jari aton. Auh te aton hinje Hatalla tuntang auh te sama dengan Hatalla.”

Nah, ternyata teman saya itu mengganti kata auh menjadi kata firman. Kira-kira apa alasannya?

Kata auh dalam bahasa Dayak, demikian jelas teman saya itu, berarti ‘berkata-kata kepada sesama’. Jadi kalau Anda dan saya berbincang-bincang, itulah yang dinamakan auh. Sementara itu, kata firman berarti Allah yang berbicara kepada manusia. Nah, konsep Allah yang berbicara pada manusia ini tidak ada dalam bahasa Dayak sehingga ia memutuskan untuk mengganti kata auh menjadi firman, yang nota bene merupakan kosakata bahasa Indonesia.

Dari hal ini, kita bisa melihat peran bahasa Indonesia ternyata memang penting, terutama ketika berhadapan dengan sejumlah konsep yang tidak dimiliki dalam bahasa suku tertentu. Memang, hal ini mensyaratkan masyarakat penutur bahasa suku tersebut juga telah mengenal bahasa Indonesia. Sebab bila tidak, akan muncul kesulitan lainnya pula.

Meski demikian, hal ini bisa saja dijadikan sebagai tugas tambahan bagi tim penerjemah Alkitab ke dalam bahasa-bahasa lain. Ada baiknya juga apabila tim penerjemah turut memberikan pengajaran bahasa Indonesia kepada masyarakat setempat ketika kegiatan penerjemahan dilakukan. Selain suatu saat kelak bisa membantu memperjelas konsep(-konsep) yang mungkin saja tidak terdapat dalam bahasa sasaran, pengajaran bahasa Indonesia kepada mereka akan turut memberi rasa nasionalisme.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Allah pulalah yang akan senantiasa menyertai kita dalam mengarungi tahun 2008 ini. Selamat tahun baru, selamat berkarya, dan selamat memuliakan Kristus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: