Masyarakat Juga Peduli

9 Dec

Umumnya, orang akan beranggapan bahwa upaya untuk memerhatikan perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dilakukan hanya oleh para ahli bahasa. Pada tataran yang lebih tinggi, mungkin akan dilemparkan kepada para ahli yang bernaung pada Pusat Bahasa. Beban serupa mungkin juga dilemparkan ke pundak para mahasiswa maupun sarjana Sastra Indonesia yang mengambil bidang kajian linguistik.

Pandangan itu tidak sepenuhnya salah. Bekal pengetahuan formal yang telah mereka miliki selama ini jelas sangat membantu. Namun, bukan berarti semua itu diserahkan kepada mereka. Masyarakat luas sebagai pengguna bahasa Indonesia sebenarnya punya tanggung jawab untuk peduli terhadap permasalahan bahasa Indonesia.

Minggu ini (9/12), saya menemukan bahwa di tengah sikap hidup yang agak kurang memerhatikan bahasa Indonesia, masih ada juga masyarakat yang memerhatikannya. Salah satunya ialah Bapak P. Situmeang. Beliau mengirimkan surat pembaca ke harian Kompas (9/12) dengan judul “Bahasa Indonesia Mengalami Pergeseran ke Bahasa Asing”. Suratnya itu menjadi surat utama pada edisi Minggu tersebut.

Dalam surat tersebut, beliau menunjukkan keprihatinannya karena saat ini tidak hanya masyarakat biasa saja yang mulai menggeser bahasa Indonesia, pihak Kepolisian Republik Indonesia juga turut melakukannya. Berikut saya kutipkan surat beliau tersebut.

Beberapa waktu terakhir ini kita dapat melihat mobil-mobil dari Kepolisian Republik Indonesia bertuliskan police berwarna oranye menjelajahi jalan atau kelihatan diparkir di kantor-kantor kepolisian dan kantor kedutaan di Jakarta.

Tulisan police itu tanpa didampingi dengan kata “polisi” sebagai bahasa Indonesia yang sudah baku, seperti yang sudah banyak terlihat di kantor-kantor polisi yang mencantumkan kata “polisi” berdampingan dengan kata police untuk konsumsi kaum wisatawan asing.

Tulisan police di mobil polisi tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah kata police, yang jelas-jelas adalah bahasa Inggris, sudah menjadi baku sebagai bahasa Indonesia? Tentu hal ini harus menjadi perhatian bagi pihak Kepolisian RI dan pihak terkait akan keabsahan kata tersebut.

Kecenderungan yang sama juga terjadi–barangkali dimaksudkan untuk memengaruhi opini publik Indonesia, seperti yang dilansir oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional khusus penyiaran berita Metro TV dan di beberapa media audio nasional–pada pemberitaan yang seharusnya dalam bahasa Indonesia disebutkan dengan kata “Cina/China” diubah menjadi “Chaina”. Dengan demikian, suku kata “i” dalam bahasa Indonesia dibaca “ai” seperti dalam bahasa Inggris.

Upaya memengaruhi opini publik seperti itu menjadi tren dalam pemberitaan khusus bahasa Indonesia di stasiun TV swasta nasional dan media audio nasional lainnya yang suka “sok” ke-Inggris-inggrisan. Di kalangan masyarkat negara lain, khususnya bekas jajahan Inggris, tentu intervensi bahasa seperti ini biasa terjadi.

Jelas hal tersebut perlu mendapatkan perhatian dari para pakar bahasa Indonesia serta instansi pemerintah dan swasta nasional. Pasalnya, bahasa Indonesia yang telah disepakati sejak Indonesia meredeka sebagai bahasa nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mengalami pergeseran, baik secara sengaja seperti hal tersebut maupun secara tidak disengaja karena pengaruh globhalisasi sehingga terintervensi pengaruh publik/bahasa internasional.

Surat pembaca yang seperti ini tergolong jarang saya temui sehingga saya secara pribadi sangat menghargai kepedulian Bapak Situmeang tersebut. Maka baiklah saya menanggapi pula surat tersebut sebagai berikut.

Memang ketika instansi pemerintah sendiri sudah mulai menggunakan istilah asing, akan timbul kesan bahwa pemerintah sendiri sepertinya melegalkan penggunaan istilah asing tersebut. Meski tidak secara resmi, sikap demikian akan sangat mendorong masyarakat luas untuk beramai-ramai meniru. (Tanpa itu pun sebenarnya masyarakat sudah gemar, konon lagi kalau dilegalkan oleh penguasa.)

Sementara itu, terhadap media-media yang menggunakan “China” daripada “Cina” dengan pelafalan bahasa Inggris, sikap ini sepertinya memiliki latar belakang tersendiri. Seperti kita ketahui, etnis Cina di Indonesia pernah mengalami perlakuan yang sangat tidak nyaman pada era terdahulu. Dan sebutan “Cina” kala itu terdegradasi menjadi semacam penghinaan. Mungkin untuk menghindari sikap yang merendahkan inilah maka kalangan media tersebut cenderung menggunakan “China” dengan pelafalan bahasa Inggris.

Meski demikian, bagi saya, sikap media tersebut semakin menegaskan bahwa “Cina” adalah menghina, merendahkan. Bukannya menghindari, malah menunjukkan sikap yang tidak kalah buruknya. Selain itu, dari segi bahasa kita juga kian dibingungkan dengan hal ini. Saya malah berpikir anak-anak kita kelak akan menerima “China” dengan pelafalan bahasa Inggris sebagai bentuk yang baku daripada “Cina”. (Jangan-jangan hal ini sudah terjadi di sekolah-sekolah saat ini?)

Terakhir, memang benar bahwa ahli bahasa, instansi pemerintah, dan instansi swasta perlu memberi perhatian lebih terhadap bahasa sendiri. Sosialisasi terhadap bentuk-bentuk yang baku perlu terus digalakkan oleh pemerintah. (Dan Corat-Coret Bahasa sangat senang menjadi bagian dari upaya tersebut.) Bila masyarakat saja memedulikan hal ini, masakan pemerintah tidak peduli, malah asyik dengan engdonesian-nya?

One Response to “Masyarakat Juga Peduli”

  1. yoto January 19, 2008 at 7:03 am #

    Saya setuju sekali dengan tulisan yang dibuat Raka.

    Wah, saya sudah ketinggalan lumayan banyak tulisan dari Raka nih. Mau lanjut baca lagi ah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: