Silaturahmi

14 Nov

Baru-baru ini, saya mendapati seorang rekan mengganti subjudul sebuah artikel. Artikelnya tentang Natal, tapi dimuat di Tabloid Nova. (Artikelnya bisa Anda lihat di sini.)

Subjudul tersebut ialah “Ajang Silaturahmi”. Rekan saya menggantinya menjadi “Ajang Berkunjung”. Saya agak risih juga dengan penggantian tersebut. Saya raihlah KBBI di meja saya, sekadar memeriksa apakah ada nuansa makna yang kurang tepat.
Dari KBBI (2002: 1065), kata silaturahmi berarti tali persahabatan (persaudaraan). Kata turunannya, bersilaturahmi berarti mengikat tali persahabatan (persaudaraan).

Tidak ada nuansa makna yang buruk dari kata tersebut. Bagian artikel di bawah subjudul berikut juga mengemukakan hal yang wajar dan tidak ada unsur negatif apa pun. Berikut petikannya.

Natal juga memiliki fungsi untuk bersilaturahmi, menjalin keakraban dengan keluarga besar atau dengan tetangga. “Natal biasanya, kan, libur, jadi apa salahnya berkunjung ke rumah saudara, entah Nenek atau Paman sekaligus mempererat persaudaraan. Anak juga akan mengenal siapa saja saudara-saudaranya.”

Yang tak boleh ketinggalan adalah mengajarkan unsur berbagi saat bersilaturahmi. Misalnya sebelum pergi ke rumah Nenek, ajak anak untuk berdiskusi, ‘Kita ke rumah Nenek bawa apa ya?’ atau ‘Kita mau ketemu sama Nenek, bagaimana ya rasanya?’ “Jadi, anak diajak ngobrol, apa pendapatnya, bagaimana perasaannya, dan sebagainya.

Yang tak kalah penting, pada saat bersilaturahmi ajarkan anak nilai-nilai lain, misalnya soal sopan santun selama bertamu. “Ini memang harus diajarkan sejak dini,” ujar Henny. Apa saja yang bisa diajarkan pada anak saat bertamu?

  1. Ajari anak untuk duduk manis, tidak menyela pembicaraan pada saat orang tua tengah berbicara.
  2. Ajari anak untuk meminta izin sebelum mengambil sesuatu. Juga minta anak untuk tidak membuat anak lain menangis. Kalau perlu dibicarakan sebelum berangkat dan dibuat kesepakatan.
  3. Jangan lupa, setelah pulang dan perilaku anak ternyata menyenangkan selama bepergian, puji anak. “Wah, kamu tadi pintar, lho, di rumah Nenek.” Dengan demikian ajang silaturahmi dijadikan sarana untuk membangun perilaku anak agar anak mempertahankan sikapnya. Kalau bisa malah lebih bagus di kemudian hari.

Nah, tidakkah menurut Anda pun kesan yang dimunculkan dari petikan di atas juga amat baik? (Saya tidak menyinggung aspek teologis, jika pun ada yang menganggap bahwa petikan di atas menyinggungnya.)

Saya coba menerjemahkan subjudul “Ajang Silaturahmi” tersebut sebagai ajang persaudaraan. Dengan kata lain, bagian di atas menggambarkan bahwa Natal merupakan ajang (tempat, saat dalam konteks tersebut) untuk menguatkan tali persaudaraan. Sehingga kalau diganti dengan kata berkunjung, nilai yang disampaikan akan berbeda.

Ada dua perkiraan yang muncul ketika melihat kondisi ini.

  1. Pergantian dilakukan karena melihat kalimat langsung pada paragraf yang saya kutipkan di atas itu. Ini memang agak gampangan karena hanya didasarkan pada pikiran, “Kok bisa saling menggantikan, ya?” Di satu sisi, silaturahmi, menurut saya, menuntut kita untuk mengunjungi saudara kita, keluarga kita, entah dekat, entah jauh.
  2. Pergantian tersebut dilakukan karena anggapan bahwa kosakata silaturahmi terkesan tidak Kristen. Untuk kemungkinan ini, saya harus menegaskan bahwa pandangan ini tidak benar. Melihat artinya yang menurut saya luhur itu, tidak ada alasan bahwa kosakata itu tidak pantas digunakan di lingkungan Kristen sama sekali. Bukankah orang Kristen pun tetap harus menjalin persaudaraan dengan setiap orang?

Melihat nilai yang dikandung kata silaturahmi tersebut, tidak seganlah saya untuk mengembalikannya ke posisi semula, “Ajang Silaturahmi”.

2 Responses to “Silaturahmi”

  1. sepatuwarrior November 22, 2007 at 8:46 am #

    wah, lha di sini ilmu menulisnya malah berlimpah gitu kok.ūüėČ

    aku sendiri malah suka belajar dari orang lain, termasuk dari milis publikasi sabda.

    salah satu yang kurekomendasikan:

    http://faithinfiction.blogspot.com/

  2. indonesiasaram December 7, 2007 at 10:19 am #

    Ups, maaf baru merespons. Rasanya ‘kan beda, Pak? Kalau di sini cuma omong-kosong soal bahasa, cuma salah satu aspek dalam penulisan. Omong-omong, terima kasih untuk rekomendasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: