Rendang dan Sambal Goreng

26 Oct

Setahun lebih tinggal di Solo, tidak sekalipun saya bisa menikmati santapan-santapan tertentu, seperti ketika masih di Medan dulu. Cap cay, misalnya. Belum sekalipun saya menemukan rasa yang seenak di Medan. Tanpa bermaksud merendahkan, meskipun jauh lebih murah, untuk urusan rasa kota Solo tampaknya masih kalah jauh.

Salah satu masakan favorit saya, rendang. Tapi sejak di Jawa Tengah, belum sekalipun saya menikmati rendang, lengkap dengan daging dan kacang merahnya. Tidak sampai Rabu, 11 April 2007, ketika mama mengirimkannya kepada saya.

Paket tersebut tiba sore hari. Selain setoples rendang, disertakan pula setoples sambal goreng. Puji Tuhan! Saya bisa menikmati masakan rumah yang juga favorit saya!
Sepulang kantor, dengan bangga saya mengundang sejumlah teman yang selalu mangkal di kos saya sebelum pulang. Kami membongkarnya bersama.

Tetapi reaksi berbeda muncul ketika rekan-rekan saya melihat rendang dan sambal goreng tersebut. Mereka menyebut rendang saya itu abon. Adapun nama sambal goreng yang saya sodorkan untuk kentang, kacang tanah, ikan teri halus, ditolak mentah-mentah juga.

Adapun yang disebut sambal goreng di Solo ini justru berkuah, sementara punya saya kering. Sambal goreng ala Jawa Tengah atau Solo biasa terdiri dari kacang kedelai (atau kacang putih, ya?), plus cabai merah, dan rambak. Dan saya tentu saja masih belum mengerti, mengapa bisa ada kata goreng pada penamaan makanan tersebut, sementara disajikan berkuah.

Rendang itu sendiri, saya cukup tahu, ada dua macam. Ada yang memang rada basah, dalam arti berkuah. Ada juga yang memang sengaja dibuat kering seperti yang dikirimkan itu.

Meski heran, sebenarnya fenomena ini bukan hal yang aneh. Terlalu sering terjadi. Karena perbedaan lokasi tentu menghadirkan penggunaan istilah yang berbeda untuk hal-hal tertentu. Dalam hal sapaan, misalnya. Di Jawa, memanggil kakak kepada seorang laki-laki adalah hal yang lumrah. Tapi jangan lakukan itu di Medan karena sebutan demikian ditujukan bagi perempuan yang lebih tua dari kita, namun tidak lebih tua atau sebaya dari orang tua kita.

Pemahaman akan hal-hal seperti ini tentu saja sangat penting. Sebab masyarakat setempat akan lebih mudah menerima Anda. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitulah kira-kira.

Meski sempat berdebat perihal nama makanan, toh kami segera berdamai. Ramai-ramai kami menikmati kiriman dari jauh itu.

6 Responses to “Rendang dan Sambal Goreng”

  1. bennylin November 2, 2007 at 2:28 am #

    Tetapi reaksi berbeda muncul ketika rekan-rekan saya melihat rendang dan sambal goreng tersebut. Mereka menyebut rendang saya itu abon. Adapun nama sambal goreng yang saya sodorkan untuk kentang, kacang tanah, ikan teri halus, ditolak mentah-mentah juga.

    Hahahah… dapat saya bayangkan wajah mereka… “Hah? Sambel goreng opo iki?”

  2. indonesiasaram November 5, 2007 at 10:33 pm #

    Yup, benar. Hari ini, saya baru mengonfirmasi sambal goreng versi saya kepada koki kantor kami. Dan memang mereka akui kalau di Solo yang namanya sambal goreng tidak seperti yang berasal dari daerah saya. Oh, ya. Saya menyebutkan “kentang” di atas. Itu tidak mutlak. Saya ingat, mama saya suka memodifikasikannya dengan tela (singkong) kalau lagi bokek, tapi kepingin makan sambal goreng (ala kami, tentunya).

  3. Stephanie November 9, 2007 at 9:33 pm #

    Jadi kangen makanan di Indo =)
    Jangankan Medan sama Solo, Jawa timur sama Solo saja banyak perbedaan istilah. Kadang2 kalo saya ngomong2 sama teman2 saya yang dari Jawa tengah, kadang sering salah tangkap karena perbedaan istilah.

  4. indonesiasaram November 10, 2007 at 10:41 pm #

    “Jadi kangen makanan di Indo =)”

    Hmm, kalau kangen, mungkin Anda bisa mencari tempat makan yang menyediakan masakan khas Indonesia. Mestinya ada. (Kalau tidak ada, malah bisa jadi peluang ‘kan? He, he.)

    Tapi asyiknya, semakin banyak tempat yang kita temui, semakin banyak pula kosakata yang kita kenal. Meski mungkin mengacu pada konsep atau benda yang sama.

  5. stephanie November 13, 2007 at 1:19 pm #

    Bener2 sibuk ya? Blig nya sudah ama gak di update.

    “bisa jadi peluang”
    -Sudah lumayan banyak tempat makan Indonesia di sini, cuman rasanya kurang manteb…hahahaha

    “semakin banyak tempat yang kita temui, semakin banyak pula kosakata yang kita kenal”
    -bener….Mangkanya saya bersyukur bisa pergi ke tempat2 yang berbeda, jadi lebih banyak pengetahuanūüôā

  6. indonesiasaram November 14, 2007 at 5:14 pm #

    “Bener2 sibuk ya? Blog nya sudah ama gak di update.”

    Emm, yah begitulah. Tapi saya berniat memasang artikel lainnya kok, segera setelah membalas komentar di atas itu.

    “Mangkanya saya bersyukur bisa pergi ke tempat2 yang berbeda, jadi lebih banyak pengetahuanūüôā

    Benar. Saya juga demikian. Beberapa makanan tradisional juga baru saya ketahui namanya setelah tinggal di Solo. Padahal dulu pernah saya makan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: