Upacara Bendera dan Tujuh Belas Agustus

17 Aug

Hari ini, bangsa Indonesia kembali merayakan peringatan proklamasi kemerdekaannya. Sudah 62 tahun sejak pertama kalinya Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan yang menandai era baru Indonesia. Seperti biasa, di Istana Merdeka diadakan upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi yang diiringi dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih. Kali ini, upacara tersebut diadakan pada pukul 9:30.

Teringatlah saya akan kebiasaan mengikuti upacara bendera kala masih sekolah. Sekali saya pernah menjadi “komandan” upacara dadakan. Selebihnya hanya sekadar peserta dalam barisan. Intensitas yang paling sering, tentu saja, pada masa SMU (sekarang telah menjadi SMA).Tahun ini, saya kembali disentakkan oleh fakta: sudah lama saya tidak mengikuti upacara bendera. Fakta ini pulalah yang membawa saya kepada satu pertanyaan: sebenarnya apa makna upacara bendera bagi saya? Ini jelas bukan perkara mudah untuk dijawab.

Rasanya saya mesti jujur, dalam sejumlah upacara bendera — saya tidak hapal berapa kali saya ikuti, saya memperlakukannya hanya sebagai simbol. Simbol yang tidak dipegang maknanya. Padahal, sebuah simbol tidaklah baik bila tidak dipahami maknanya. Sebuah simbol tidak akan berarti bila makna yang terkandung di dalamnya tidak pernah dirasakan, tidak pernah dianggap.

Sama seperti salib, apalah artinya salib. Ia sering kali menjadi sekadar perhiasan yang menggantung di leher kita. Kita mengamininya sebagai identitas kita sebagai orang Kristen. Namun, perilaku kita, sesuatu yang sesungguhnya penting untuk disuarakan, tidak terekspos. Kita cenderung hidup dalam eksklusivisme, dalam persekutuan, tanpa berupaya berkarya bagi kehidupan masyarakat di sekitar. Tidak heran bila dalam sebuah PA pagi dalam Pelatihan Kepemimpinan yang diadakan oleh Yayasan Beasiswa Oikoumene beberapa waktu lalu, saya harus mengakui bahwa salib tidak lebih daripada simbol religius, ketika makna hakikinya tidak pernah keluar dari hidup orang-orang yang mengaku Kristen.

Begitulah upacara bendera. Intensitas yang begitu sering membuat saya tidak lagi peka dan memahami maknanya. Konon lagi setelah tidak berada dalam lingkungan akademik, saya tak lagi mengikuti upacara bendera.

Upacara bendera, khususnya dalam peringatan 62 tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, memang hendak mengingatkan kita, betapa pendahulu kita telah berjuang, menanggalkan egonya masing-masing demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di sini kata kuncinya bagi saya ialah menanggalkan ego demi bangsa dan negara. Dan inilah hal yang perlu dikerjakan oleh segenap masyarakat Indonesia. Khususnya di tengah semakin maraknya idealisme yang menjurus pada ekstremisme. Dan sudah jelas hal ini bukan hanya tantangan bagi para pemimpin negara tok. Sanggupkah kita menanggalkan ego kita demi membangun negeri?

Pagi ini, saya memutuskan untuk menyimak jalannya upacara bendera melalui layar kaca. Teriakan komandan upacara dalam merapikan barisan yang sesekali menggema tak urung menyentakkan saya. Apalagi ketika para paskibra berbaris rapi, dengan langkah yang berderap terlihat. Tatkala tiba di tiang bendera, mengikatkan bendera di tali, membahana pulalah “Indonesia Raya”.

Hati saya semakin terenyuh tatkala menyaksikan anak-anak SD dan SMP bersama-sama membawakan sejumlah lagu dalam sesi persembahan lagu. Mulai dari “Tujuh Belas Agustus” sampai yang terakhir “Syukur”. Mata ini berkaca-kaca, menatap layar kaca lekat-lekat. Sembari ditantang satu pertanyaan: apa hendak kau perbuat bagi bangsa ini?

Ya, upacara bendera bukanlah sekadar upacara ketika kita bisa menyadari bahwa hidup di bumi Indonesia, berarti hidup bersama ratusan juta masyarakat lain. Bahwa hidup di Nusantara ini, berarti hidup bergandengan tangan dengan umat berbeda agama, berbeda suku, berbeda paham, dan berbagai perbedaan lain. Tapi dalam perbedaan ini, manusia Kristen Indonesia ditantang untuk lebih berbuat banyak bagi sesama mereka, bagi nusa bangsa mereka: mewartakan kasih mesra dalam karya dan segenap perbuatan dan membangun bangsa ini. Jangan sekadar menyimbolkan upacara bendera, tapi hayati maknanya, dan kerjakan bagianmu.

Dirgahayu negeriku.

2 Responses to “Upacara Bendera dan Tujuh Belas Agustus”

  1. yoto August 29, 2007 at 12:50 pm #

    Saya sendiri juga tidak paham akan nasionalisme.
    Hal itu terus berlangsung sampai suatu saat saya mempunyai sebuah cita-cita ingin membangun bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar. Tentunya saya serius dengan omongan saya dan saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan bangsa yang merdeka dan tidak lagi seperti sekarang, sebuah bangsa yang seperti tikus yang mati di dalam lumbung padi.

  2. bennylin September 23, 2007 at 8:55 pm #

    Baguslah karena misi upacara bendera tersebut telah sukses. Sewaktu akil balig sih rasanya tidak akan ada yang paham masalah nasionalisme tersebut. Terlalu dalam, mending memikirkan PS3/Wii/komputer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: