Diskriminasi dalam Definisi?

19 Jun

Anda pernah memerhatikan Kamus Besar Bahasa Indonesia? Ya, kamus besar berwarna merah hati itu, yang kini harganya mencapai seperempat juta itu. Nah, baru-baru ini saya sempat mencari-cari satu lema yang cukup sering ditulis secara keliru, yaitu nas. Kebanyakan kita lebih sering menulisnya sebagai nats daripada nas.

Apa kata KBBI mengenai lema nas ini? Cobalah buka kamus yang bisa dijadikan bantal itu, tepatnya pada halaman 775. Anda akan menemukan dua definisi.Definisi pertama disebutkan ‘perkataan atau kalimat dari Alquran atau hadis yang dipakai sebagai alasan atau dasar untuk memutuskan suatu masalah (sebagai pegangan di hukum syarak)’.

Sementara definisi kedua, nas merupakan teks.

Kalau mencermati definisi di atas, satu hal yang mungkin terlintas di benak ialah bahwa lema nas lebih diidentikkan dengan Alquran daripada kitab suci dalam agama-agama lain. Apakah ini termasuk diskriminasi? Begitulah pertanyaan yang melintas di benak saya. Ya, diskriminasikah ini? Termasuk reaksi yang samakah ini dengan penutupan sejumlah gereja?

Sebelum lebih jauh lagi, saya kira, saya perlu beri penekanan di sini. Sebab saya tidak mau dituduh yang bukan-bukan, seperti kebiasaan yang tampaknya mulai marak di komunitas kita ini. Saya sama sekali tidak sedang menghasut maupun memanas-manasi pihak mana pun.

Mari kita melihat dari aspek kebahasaan saja, tanpa motif-motif lain.

Bagi yang bersikap serabutan, bisa jadi KBBI dianggap terlalu diskriminatif. Betapa tidak, kata nas juga sering disebut-sebut dari balik mimbar di berbagai gereja. Ini fakta. Lalu mengapa hanya disebut sebagai dari ‘perkataan atau kalimat dari salah satu kitab agama tertentu’?

Maka bagi yang berpandangan seperti itu, saya hanya bisa menghimbau untuk belajar lagi. Ini ranah bahasa yang memang tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kajian etimologi jelas bisa membantu membuka wawasan.

Nah, bagi yang bersikap bijak, tentu akan menjawab tidak.

Setidaknya ada dua kemungkinan yang muncul. Pertama, bisa berkenaan dengan lingkup pengetahuan yang memberi definisi. Bila pemberi definisi berasal dari kalangan non-Kristen, kecenderungan untuk menyebut kitab sucinya jelas terbuka karena wawasannya hanya dalam konteks tersebut. Kedua, kalau melihat dari asal-muasalnya, bisa disebutkan bahwa nas merupakan kata serapan. Kata ini berasal dari bahasa Arab. Oleh karena mayoritas masyarakat Arab beragama Islam, tidaklah mengherankan kalau pemahaman mereka mengenai kata nas ada dalam lingkup kepercayaan luhur mereka itu.

Lalu, apakah KBBI kita itu masih dapat disebut diskriminatif? Sekali lagi saya katakan, tidak. Buktinya, ada begitu banyak lema yang berasal dari lingkup kekristenan yang terdaftar di dalamnya. Kalau Anda mau iseng, coba saja hitung ada berapa banyak kosakata Kristen di dalamnya. Salah satu yang secara spesifik berkenaan dengan kekristenan diberi kode Kris alias agama Kristen setalah lema dan cara pelafalan kata.

Bagaimanapun, KBBI kita memang bukan tanpa cacat cela. Revisi terus dilakukan, mengingat saat ini edisi yang beredar adalah edisi ketiga. Bukan tidak mungkin ratusan kosakata lain akan menyusul di dalamnya, seiring maraknya penggunaan engdonesia atau Indonenglis itu. Tentu saja definisi yang tercantum di dalamya pun akan mengalami revisi pula.

Tidak, tidak, tidak ada diskriminasi, sejauh yang saya ketahui. Titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: