Judul Berita dan Konsistensi Istilah

20 Jan

Biasanya, saya tidak terlalu menggubris harian lokal. Dulu ada Analisa dan Sinar Indonesia Baru, dua harian yang cukup punya nama di kota Medan. Belakangan muncul Medan Bisnis yang saya nilau memiliki bahasa yang lebih baik dari dua pendahulunya.

Bagaimana di kota lain? Ada Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Tapi harian ini tidak pernah saya sentuh kecuali di warung makan, itupun hanya sekadar membolak-balik saja.
Baru-baru ini, seiring dengan berita pencarian pesawat AdamAir dengan penerbangan KI 574, saya menemukan satu tajuk yang menarik di salah satu harian di sebuah kota di Jawa Tengah. “Ada bahan peledak di Adam Air”. Tidak seperti sebelumnya, belakangan ini saya memang jarang mengikuti berita. Maka informasi yang diulas harian tersebut dalam edisi Sabtu, 13 Januari 2007 menarik perhatian saya.

Di balik informasi mengenai kemungkinan adanya bahan peledak di pesawat naas tersebut, saya justru menemukan informasi lain yang tak kalah menggelitiknya.

Pertama, dari judul yang disajikan, sebagaimana juga ditemukan di halaman-halaman lainnya, setiap kata tidak diawali dengan huruf kapital sebagaimana mestinya. Perhatikan harian-harian nasional lain, semisal Media Indonesia atau Kompas. Bilapun harian tersebut hendak menyajikannya sebagaimana layaknya sebuah kalimat, tidak ditemukan tanda baca yang menunjukkan bahwa judul tersebut berupa kalimat. Faktanya, meskipun sebuah judul bisa menyerupai kalimat, kita tidak bisa menaruh tanda titik di akhir judul tersebut, kecuali tanda seru atau tanda tanya (tanda seru tampaknya jarang digunakan dalam judul berita surat kabar).

Hal kedua yang saya tangkap dari berita tersebut ialah adanya inkonsistensi penggunaan istilah. Berikut ini kutipan salah satu paragraf dari berita tersebut.

Karena itu pihak Adam Air berharap black box pesawat dapat segera ditemukan. Sebab, penemuan black box dapat membantu identifikasi penyebab hilangnya pesawat. “Kehilangan kontak secara tiba-tiba dan serpihan pesarat yang tersebar, kemungkinan besar Adam Air meledak di udara. Ini yang harus dicari tahu. Kotak hitam bisa membantu,” katanya (Karle Sitanggang, kuasa hukum AdamAir).

Dari kutipan di atas, kita menemukan frasa black box, yang sudah dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi kotak hitam, sebagaimana disebutkan oleh Karle Sitanggang tersebut. Dengan demikian, terdapat istilah yang bersaing dalam berita tersebut.

Asumsi saya, pihak harian tersebut sejak semula memang berketetapan akan memakai frasa black box. Namun, ketika Karle Sitanggang menyebutkan kotak hitam, bukan black box, mereka tidak mungkin mengganti frasa tersebut dengan black box. Alasannya, tidak etis bila mengganti kosakata yang digunakan oleh pihak yang diwawancarai, meski hanya berupa sebuah frasa. Dengan menjunjung tinggi hal ini, harian ini memutuskan tidak mengganti frasa kotak hitam.

Hanya saja, hal ini justru menimbulkan kesan bahwa harian terkait tidak konsisten dalam menggunakan istilah. Kita malah dapat beranggapan bahwa dalam tulisan tersebut, mereka suka memilih frasa black box, entah karena dianggap lebih keren atau agar ada istilah yang terkesan cukup teknis dalam tulisan tersebut. Asumsi ini diperkuat oleh fakta bahwa dalam keseluruhan artikel terebut, masih ada istilah lain seperti last contact, feet, dan cover landing gear yang notabene merupakan istilah asing yang kalau mau dicari, sudah ada padanannya.

Akhirnya, hal lain yang tak kalah pentingnya ialah masalah penulisan huruf. Pertama, media-media nasional lebih menuliskan AdamAir daripada Adam Air. Kedua, nama maskapai penerbangan tersebut tidak ditulis (baca: dicetak) dengan huruf miring atau italik, sebagaimana dilakukan oleh media ini. Dalam hal ini, saya kembali menemukan inkonsistensi mereka. Paragraf kedua dari artikel tersebut justru tidak mencetak miring nama maskapai penerbangan yang sedang dirundung masalah tersebut.

Untuk masalah pertama, pihak maskapai penerbangang terkait mungkin lebih berwenang untuk menentukan mana yang tepat, mengingat cara penulisannya menyangkut merek dagang mereka. Namun, untuk urusan yang kedua, penulisan nama perusahaan, merek dagang, dan sebagainya tidak pernah ditulis dengan menggunakan huruf miring. Oleh karena itu, penulisan judul berita utama tersebut tidaklah tepat.

Kondisi ini tentu patut disayangkan mengingat media massa menjadi salah satu yang berperan dalam pembinaan bahasa Indonesia. Bagaimana kita hendak membenahi kualitas bahasa surat kabar bila dalam hal penulisan dan tanda baca saja masih keteteran? Semoga saja hal-hal begini segera terselesaikan.

3 Responses to “Judul Berita dan Konsistensi Istilah”

  1. yohanes1112 February 6, 2007 at 10:55 pm #

    Kenyataan yang sungguh pahit apabila di hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 09 Februari ini adalah diketahui bahwa sebagian besar kuli tinta di Indonesia hanya menghidupi kebanggaan sebagai pembawa berita sementara kehidupannya sendiri masih berada di bawah garis standar. Standar di sini tidak adil rasanya bila terus menerus memperbandingkan dengan kondisi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan yang lainnya.

    Berbanding dengan penghasilan kuli tinta di negara tadi, di Indonesia hanya sekitar 10%-nya saja. Di samping itu tingkat pendidikan dan sektor yang digeluti para nyamuk pers ini juga sangat berbeda. Sekitar 46% (menurut data AC Nielsen) tidak mempunyai latar belakang jurnalis. Tentunya ini juga tidak serta-merta harus menurunkan mutu dan tidak memperhatikan bahasa secara benar.

    Banyak sekali sebenarnya permasalahan bergelut di seputar masalah klasik: anatara idelisme dan oplah.

  2. indonesiasaram February 7, 2007 at 8:15 pm #

    Tidak sekadar pendidikan jurnalisme. Mayoritas editor di Indonesia juga tidak dibekali pendidikan yang mendukung. Hal ini diakui sendiri oleh Forum Editor Indonesia dalam sebuah kesempatan di Yogyakarta 6 Januari 2007 yang lalu.

    Saya juga setuju kalau pergulatan seputar idealisme dan oplah itu menjadi isu yang besar. Akan tetapi, saya kira kalau sebuah media memang hendak memperjuangkan kebenaran dalam arti yang sesungguhnya (nah, ini ‘kan bisa dibilan idealisme, ya?), mereka harus rela berkorban. Dan untuk membangun negeri ini, kita memang harus banyak berkorban. Dalam hal yang ukup ekstrim, mungkin, kita bisa berkata, lupakan saja pemerintah. Biar kita bangun dengan model “down to top”. Kalau tidak salah model teknokrasi itu begitu.

  3. Yuhandri hardiman/dandi February 15, 2009 at 3:09 pm #

    Wartawan adalah pencari berita yg tak kenal batas waktu. Bahkan wartawan terkadang 90 persen waktunya habis mencari berita tanpa mendapat gaji tambahan atau uang lembur.
    Kurang istrahat dan berbekal fasilitas jurnalis yg diadakan sendiri dan tanpa uang jalan.
    Lalu diperhadapkan antara bisnis dan idealis yg wartawan butuh makan.
    Maka kebnyakan wartawan memilih mendkati pejabat dan menjilat (anjing penjaga) bagi kebijakan penguasa. Pada akhirnya berdampak penerbitan berita seremonial yg membodohi pmbaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: