My Boss My Hero: Kritik Terhadap Dunia Pendidikan

10 Jan

Sabtu, 6 Januari 2007 yang lalu, Trans7 menayangkan sebuah film yang bagi saya sangat menarik. Sebenarnya, film ini sudah pernah saya saksikan dua kali karena saya memiliki VCD-nya. Namun, didorong fanatisme, saya menonton lagi. Tentu tidak sekadar fanatisme belaka karena saya juga penasaran bagaimana mereka memotong bagian-bagian yang terlalu vulgar.Preman Myeongdong Masuk Sekolah
Sebagaimana layaknya film-film gangster, film yang dibintangi oleh Jeong Joon-ho ini pun tidak lepas dari perkelahian antarpreman. Di bagian awal film yang pada tahun 2001 ini menjadi film terlaris keenam di Korea ini, kita sudah disuguhi perkelahian dalam rangka pengambilalihan wilayah kekuasaan.

Jeong Joon-ho from Hancinema.net
Foto: Hancinema.net

Adalah Gye Du-sik (entah mengapa Trans7 malah menyebut Da-sik daripada Du-sik), anggota salah satu gangster di Seoul, yang sukses dalam perluasan kekuasaan ke Myeongdong. (Bagi yang tidak tahu, Myeongdong masih menjadi bagian dari Seoul.) Meski demikian, kesuksesannya itu justru membuat anggota gangster lainnya merasa tidak nyaman. Masalahnya, Du-sik tidak lulus SMA. Pimpinan kelompok mereka akhirnya memerintahkan Du-sik untuk kembali ke bangku sekolah.

Sejumlah kelucuan sengaja dihadirkan dalam film ini. Misalnya, ketika Du-sik diminta untuk menyebutkan alamat e-mail miliknya. Du-sik yang tidak tahu apa yang disebut e-mail malah menjawab dengan menyebutkan alamat rumahnya. Hanya saja, penyajian film ini dengan sulih suara (dubbing) malah membuat salah satu lelucon yang dihadirkan menjadi tidak lucu karena berkenaan dengan bahasa Korea.

Kritik terhadap Dunia Pendidikan
Salah satu aspek yang diangkat di film ini ialah budaya premanisme di dalam sekolahan. Du-sik, bos gangster yang kembali menjadi anak sekolahan, justru mengalami penindasan oleh teman sekelasnya. Karena ditargetkan untuk mendapatkan ijazah, tentu saja ia tidak berani macam-macam, meskipun beberapa kali menunjukkan kekesalannya.

Tidak sekadar mengangkat hal tersebut, secara umum, film ini mengecam praktik-praktik kotor yang terjadi dalam dunia pendidikan, tentu saja dalam konteks Korea. Beberapa tampaknya cukup mengena dengan kondisi di Indonesia.

Yayasan sekolah Du-sik ternyata berada di payung yang sama dengan sebuah rumah sakit. Dikabarkan bahwa divisi urologi mengalami penurunan dari segi pemasukan. Oleh karena itu, setiap siswa laki-laki yang belum disunat, diminta untuk menggunakan jasa rumah sakit tersebut. Tentu saja tidak gratis. Mungkin bila dibandingkan dengan di Indonesia, kondisi serupa dapat kita lihat dari praktik penjualan buku pelajaran di sekolahan.

Hal berikutnya menyangkut masalah kekuasaan. Sebagai sekolah privat, sekolah tempat Du-sik bersekolah itu ternyata menjadi pilihan juga oleh orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan. Kondisi ini ternyata memberi dampak yang besar terhadap administrasi sekolahan. Dalam salah satu bagian, diceritakan bagaimana seorang murid yang melakukan kesalahan tidak menerima hukuman yang diberikan guru kepadanya. Ia segera menelepon ibunya yang segera datang ke sekolah dan menghajar guru tersebut.

Kotornya permainan dalam sekolah itu juga ditunjukkan oleh praktik penukaran nilai. Guru-guru ditekan untuk melakukan hal ini, khususnya kepada murid-murid yang orang tuanya memiliki pengaruh yang kuat.

Bobroknya sekolah ini juga ditunjukkan lewat keberanian murid untuk melawan gurunya. Seperti diilhami oleh peristiwa intervensi orang tua murid sebelumnya, preman kelas Du-sik balik melawan guru matematika di kelas mereka.

Du-sik yang memiliki idealisme yang kuat ternyata tidak tahan melihat kondisi tersebut. Baginya, bos, guru, maupun ayah adalah sosok yang sama. Dilatari oleh pepatah yang menyebutkan “tidak ada murid yang bisa menginjak bayangan guru”, Du-sik melampiaskan kekesalannya dengan balik menghajar murid tersebut.

Merasa didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan — gangster lain yang menjadi lawan kelompok Du-sik, kepala sekolah pun mulai bertindak sesukanya. Di antaranya menekan Pak Jo, guru matematika Du-sik yang memegang teguh idealisme sebagai guru. Selain itu, ia juga membuat guru bahasa Inggris Du-sik mengundurkan diri. Hal terakhir ialah tindakannya menghajar salah satu murid perempuan yang dianggap telah membocorkan kebusukan sekolah.

Tindakan terakhir ini membuat sekolah bergolak. Murid-murid yang menentang perlakuan tersebut memilih untuk mogok. Beberapa terlihat masih bertahan, termasuk Du-sik yang dari semula ditargetkan harus mendapat ijazah.

Belakangan, Du-sik tergerak juga untuk turun dan memutuskan mengambil alih sekolah dengan cara gangster. Perkelahian dengan gangster pendukung kepala sekolah pun terjadi dan menghadirkan nuansa yang cukup heroik plus konyol.

Aspek lain yang diangkat dari film ini ialah kemiskinan. Salah satu teman Du-sik, yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena dihajar oleh kepala sekolah yang menganggapnya bertanggung jawab membocorkan rahasia keburukan sekolah, berangkat dari keluarga yang miskin. Akan tetapi, ia memiliki cita-cita untuk dapat kuliah ke luar negeri. Keinginan ini membuatnya melakukan apa saja untuk bisa memperoleh uang, yang akhirnya membuat dirinya mengetahui jati diri Du-sik yang sesungguhnya. Dengan kata lain, sering kali kemiskinan menghalangi orang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya karena pendidikan tinggi masih identik dengan biaya mahal. Sekali lagi, hal ini mengena juga untuk konteks Indonesia.

Pada akhirnya, meskipun sempat diamankan polisi karena terlibat perkelahian gangster, Du-sik berhasil mendapatkan ijazah SMA. Hal ini dimungkinkan oleh tindakan salah seorang maniak kameraman yang merekam serangkaian kejadian di sekolah tersebut, mulai dari tindakan preman pendukung kepala sekolah yang melakukan kekerasan terhadap guru-guru yang berdemonstrasi, hingga perkelahian yang melibatkan Du-sik dan teman-temannya.

Pimpinan Du-sik yang puas dengan pencapaian Du-sik, berniat menempatkan Du-sik ke wilayah Gang-nam. Namun, ketika menyadari bahwa orang-orang di Gang-nam rata-rata sudah pernah kuliah, akhirnya Du-sik pun disuruh melanjutkan studinya. Nah, tampaknya bagian ini sengaja dibuat demikian untuk membuat sekuel berikut yang tidak kalah serunya, My Teacher, My Hero, yang dalam tahun 2006 lalu berhasil menjadi film ketiga terlaris di Seoul.

Penyensoran yang Mengacaukan
Sayangnya, film ini harus mengalami pemotongan di begitu banyak adegan. Memang, di VCD-nya kita akan menemukan adegan-adegan yang vulgar. Misalnya saja, ulah maniak kameraman yang malah melakukan striptease sehingga membuat sekolah heboh. Ada juga adegan di mana Du-sik menyampaikan hadiah dari Sang-du, bawahannya yang naksir guru bahasa Inggrisnya itu. Trans7 sengaja tidak menyajikan bagian di mana sang guru membuka hadiahnya. Khusus bagian ini saya setuju. Nah, coba tebak, apa yang diberikan Sang-du kepada guru bahasa Inggris tersebut?

Simpulan saya, pemotongan yang dilakukan Trans7 berdampak pada tidak maksimalnya penyampaian cerita. Akibat pemotongan tersebut, sejumlah bagian cerita menjadi hilang. Sederhananya, ibarat jalan raya beraspal mulus yang kemudian dilubangi bagian-bagian tertentunya.

Akhirnya, saya mengusulkan, bagi yang memang ingin tahu cerita lengkap film ini, silakan cari filmnya di rental-rental terdekat.

6 Responses to “My Boss My Hero: Kritik Terhadap Dunia Pendidikan”

  1. bennylin September 23, 2007 at 6:48 pm #

    Walaupun tidak ada masalah buat saya karena penceritaan ulangnya yang menarik, namun bagi mereka yang tidak suka bocoran cerita mungkin Anda bisa menambahkan “spoiler alert” di awal paragraf, bung.

  2. pitpot April 15, 2008 at 11:17 pm #

    Raka, tumben saya masuk ke ruang ini, krn baru nonton filem Korea, yang akhir-akhir ini saya rasa wah koq makin endak karuan (free sex, perselingkuhan) karena ada juga komentar yang mengatakan bahwa itulah wajah Korea saat ini (yg bener aza) atau hanya apresiasi dari sang sutradara saja yang ditumpahkan kedalam filem besutannya.

  3. indonesiasaram April 18, 2008 at 8:50 pm #

    Memang kondisi tersebut patut disayangkan juga mengingat banyak film Korea yang saya saksikan sebelum-sebelumnya tergolong agak sehat. Misalnya, 3 Iron yang menggambarkan perselingkuhan.

    Tapi sering kali saya melihat bahwa fokus utama mereka bukan hal tersebut juga. Dalam 3 Iron tersebut, saya melihat bahwa perselingkuhan justru terjadi karena sang suami yang senantiasa berlaku semena-mena dan menyengsarakan istrinya. Memang sikap istrinya salah, tapi bagi saya sikap sang suami yang demikian itulah yang menjadi sorotan, seakan berkata, “Jangan kasar pada istri kalau tidak ingin diduakan.”

    Di sisi lain, saya kira itu juga menggambarkan kehidupan masyarakat Korea atau malah dunia (Barat) pada umumnya. Yang penting, mungkin, kebijaksanaan kita dalam menyaksikannya. Karena sering kali ketika telah menyaksikan sebuah film lebih dari dua kali, banyak pelajaran baru terbuka kepada saya.

  4. apih December 15, 2009 at 11:15 am #

    Saya suka banget sama film ini, udah lama banget nyari2 film ni tapi belum ketemu..
    Boleh tau ga dimana bisa download film ini yg original…

  5. amos December 20, 2010 at 12:29 am #

    bagus banget ni filem . tapi aku baru liat yang pertama doangūüė¶

  6. jarko November 14, 2011 at 5:59 pm #

    udah pernah nonton my boss my hero yang versi jepang blum???
    kocak abiiis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: