Sastra Indonesia di Universitas Kristen

6 Jan

Bidang studi Sastra Indonesia tampaknya kurang (tidak) mendapat tempat di universitas-universitas Kristen. Keberadaannya tidak (pernah) diperhitungkan. Itu pulalah sebabnya, setiap universitas Kristen yang memiliki program studi (prodi) ilmu sastra cenderung memilih Sastra Inggris ketimbang Sastra Indonesia.

Saya mulai memerhatikan hal ini ketika tahun ajaran baru dimulai. Ketika menuju kampus yang terletak di daerah Padang Bulan, Medan, dengan melintasi Jalan Jamin Ginting, beberapa kali saya memerhatikan beragam spanduk dan papan besar yang memberi informasi pendidikan di suatu universitas swasta. Iseng, saya memerhatikan prodi yang ditawarkan, kira-kira adakah prodi Sastra Indonesia yang ditawarkan oleh universitas-universitas swasta. Sejumlah universitas memang menawarkan program sastra, namun kebanyakan Sastra Inggris. Memang, ada juga universitas yang menawarkan program Sastra Indonesia. Sayangnya, bukan universitas Kristen.

Saya mulai berpikir, mengapa universitas Kristen tidak berminat untuk membuka program Sastra Indonesia. Bahkan universitas sekelas Atma Jaya yang konon menjadi universitas terdepan dalam bidang linguistik itu pun tidak membuka program Sastra Indonesia. Sebaliknya, bidang Sastra Indonesia lebih diterima oleh universitas-universitas Islam, salah satunya (seingat saya) UISU (Universitas Islam Sumatera Utara).

Anggapan yang Menyesatkan

Setidaknya ada tiga anggapan yang menyesatkan terhadap prodi Sastra Indonesia. Ketiganya itu, menurut saya, adalah seperti berikut ini.

  • Alumnus Sastra Indonesia akan sulit mendapatkan pekerjaan.
  • Itu bidang yang sudah dipelajari semenjak masih SD.
  • Prodi Sastra Indonesia tidak menjual, dengan kata lain, tidak menguntungkan, baik bagi pihak universitas maupun calon mahasiswa.

Sejumlah Keberatan Terhadap Alasan yang Menyesatkan

Dari sedikit, saya katakan sedikit karena bukan tidak mungkin ada alasan lain yang mengikuti, alasan yang dikemukakan di atas, saya harus mengajukan sejumlah keberatan.

  • Anggapan bahwa alumnus Sastra Indonesia akan kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan, sama sekali tidak benar. Sejumlah profesi dapat ditekuni oleh alumni Sastra Indonesia, seperti jurnalis, editor, guru, dosen, penulis, kritikus sastra, dan profesi yang berkaitan dengan humas. Dengan kata lain, ada begitu banyak profesi yang bisa ditekuni, mulai dari yang membutuhkan pemahaman teoritis hingga praktis.

  • Fakta bahwa pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar masih sangat kurang tidak dapat dielakkan. Apalagi dalam bidang sastra, siswa-siswi kita masih jauh tertinggal dengan siswa-siswi di Rusia, misalnya, yang dalam setahun menyantap karya-karya sastra Rusia yang satu novelnya bisa melebihi tebal sepuluh novel Indonesia. Hal ini saya ketahui ketika rombongan sastrawan Indonesia, di antaranya Taufiq Ismail dan Rendra, berkunjung ke sekolah saya, SMU Negeri 1 Medan.

  • Bahwa prodi Sastra Indonesia memiliki nilai lebih dari sekadar untung-rugi. Malahan bagi pihak universitas Kristen sendiri, keberanian membuka prodi ini menunjukkan bahwa mereka memilik komitmen yang tidak main-main dalam bidang pendidikan.

Prodi Sastra Indonesia sebagai Kebutuhan Mendesak

Keberanian untuk membuka prodi Sastra Indonesia tidak sekadar menunjukkan komitmen pengabdian di bidang pendidikan yang tidak pandang bulu saja. Lebih jauh lagi, prodi tersebut akan menghasilkan sarjana-sarjana bahasa dan sastra Kristen yang kompeten untuk pengembangan bahasa Indonesia, khususnya dalam pengembangan kosakata kekristenan.

Keberadaan alumni Sastra Indonesia dari universitas Kristen ini akan sangat berarti. Beberapa hal yang bisa dilakukan ialah sebagai berikut.

  • Menolong standarisasi atau pembakuan istilah-istilah kekristenan. Salah satu contoh kasus ialah istilah untuk ibadah bagi anak-anak yang pada hari Minggu — sudah saya angkat dalam artikel di blog ini, “Sekolah Minggu”.
  • Menolong dalam memberi pembinaan berbahasa kepada para pendeta dan hamba Tuhan. Pembinaan ini amat penting bagi para pendeta dan hamba Tuhan, termasuk para pelayan anak agar terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Yang lebih penting ialah agar bahasa yang mereka gunakan tidak menyesatkan.
  • Khusus bagi para sarjana yang menekuni sastra, bila memutuskan menjadi penulis, pesan-pesan kekristenan yang mendasar dapat dimasukkan. Contoh yang nyata dapat dilihat dalam Trilogy The Lord of the Ring dan The Chronicle of Narnia, sebagai bukti nyata keberhasilan novel yang sarat nilai kekristenan di kalangan sekuler.

Tantangan Sekaligus Pengorbanan
Adalah tantangan tersendiri bagi pihak universitas Kristen untuk membuka prodi Sastra Indonesia. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan pandangan miring masyarakat umum bahwa Sastra Indonesia bukanlah bidang yang menjanjikan. Akibat dari pandangan ini, kalau pihak universitas berani membuka prodi ini, calon mahasiswa angkatan pertama yang memilih prodi tersebut bukan tidak mungkin sedikit. Bukan tidak mungkin dana operasional menjadi terlalu besar bila dibandingkan dengan pemasukan yang diperoleh. Meski demikian, butuh pengorbanan besar untuk langkah awal ini. Apalagi bila melihat dampak besar yang dihasilkan kemudian.

Melihat tantangan tersebut, pihak universitas memang harus berkorban untuk langkah awal ini. No pain no gain, kata mereka. Apalagi pengorbanan ini semakin menunjukkan bahwa sifat Kristus yang rela berkorban benar-benar bisa melekat di institusi Kristen seperti universitas.

Sejauh yang saya ketahui, salah satu universitas yang menyediakan Prodi Sastra Indonesia adalah Sanata Dharma Yogyakarta. Mungkin juga sejumlah perguruan tinggi swasta di wilayah Indonesia Timur. Pertanyaannya, sejauh apa yang sudah mereka lakukan untuk hal-hal yang dikemukakan di atas? Sungguh karya mereka banyak ditunggu.

One Response to “Sastra Indonesia di Universitas Kristen”

  1. bennylin September 23, 2007 at 3:51 pm #

    Satu lagi pengamatan yang kritis, bung. Saya rasa dalam hal ini pemerintah juga kurang campur tangan. Seakan-akan pemerintah tidak peduli rakyatnya dalam 20 tahun ke depan tidak mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mau gado-gado sama basa Jawa kek, mau logat Jakarta kek, Batak kek, silakan saja, asal tiap tahun beli buku paket yang baru. Itu moral pemimpin yang bobrok yang perlu mengalami perubahan terlebih dahulu. Ingat pesan Paulus “… berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Nah, tapi mencari menteri seperti itu masalah yang lain lagi, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: