Santa Claus: Sekadar Salah Kaprah?

6 Jan

Figur yang satu ini memang sering ditampilkan gemuk, berbaju merah, berjanggut putih, juga suka ber-ho-ho-ho. Ada rusa, ada kereta salju, ada hadiah, dan ada Piet Hitam. Senangnya masuk lewat cerobong asap. Ya, dialah Sinterklas, yang belakangan ini lebih enak disebut Santa Claus.

Belum lama ini, saya menyadari ada yang tidak tepat dengan nama tersebut. Makanya, saya lebih suka menyebutnya sebagai Sinterklas (dari Belanda, Sinterklaas; lihat di antaranya tulisan Meneladani Belas Kasihan Sinterklas oleh Sdr. Kristanto atau artikel St. Nicholas di http://www.santas.net/stnicholas.htm).

Jenis Kelamin Santa Claus
Satu pertanyaan mencuat ketika memikirkan figur ini, “Sebenarnya, apa jenis kelamin Santa Claus?” Pertanyaan ini mungkin terkesan guyon belaka. Tapi kalau memerhatikan kata santa, terus terang saya justru makin mempertanyakan “jenis kelamin” itu tadi.

Kalau melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 997), kata santa merupakan sebutan untuk wanita kudus. Misalnya, Santa Maria.

Nah, berarti Santa Claus itu berjenis kelamin wanita, dong? Lalu, mengapa sosoknya digambarkan berjanggut? Sudah itu jenis suaranya juga bas. Wajahnya pun maskulin sekali.

Apakah saya justru menumpangtindihkan bahasa? Jujur saja, saya sendiri sempat berpikir, “Ah, tampaknya saya hanya mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia belaka.” Namun, setelah dirunut ke belakang, tampaknya tidak juga.

Dari Italia
Kata Latin untuk suci adalah sanctus. Kata ini kemudian menurunkan kata santo dan santa dalam bahasa Italia. Kata santa sendiri dilabeli feminin, yang artinya kata khusus untuk wanita.

Fakta tersebut membuat saya berpikir lebih lanjut. Muncul pula sebuah pertanyaan lain. “Kalau begitu, dari mana asal kata santa dan santo dalam bahasa Indonesia, yang sekarang dianggap kata bahasa Indonesia?”

Maka asumsi yang muncul, pengaruh Italia tersebut, mungkin dibawa oleh para penjajah. Dan penjajah yang paling dekat dengan Italia, setidaknya dalam hal bahasa, ialah Spanyol dan Portugal. Dan keduanya memang pernah singgah di negeri ini.

Asumsi lain yang muncul, mengingat akar katanya dari bahasa Latin, maka kata santa dan santo tersebut merupakan kata Latin yang dikenal oleh masyarakat Indonesia melalui kepercayaan Katolik. Seperti kita ketahui, sejak lama, Katolik sangat erat dengan hal-hal berbau Latin. Bahkan Alkitab standar pada waktu lampau adalah Vulgata karya Hieronymus (dikenal sebagai St. Jerome). Maka, ketika ajaran-ajaran Katolik diperkenalkan, tidak usah heran bila nama-nama seperti Agustinus, turut dilabeli sebagai orang suci, dengan kata lain santo, mengingat aspek maskulinnya.

Jadi, mengapa dalam bahasa Inggris tidak dikenal kata santo ataupun santa? Bahasa Inggris mengenal kata saint, tapi khusus untuk Santa Claus, kata saint tidak dipilih, malah santa yang dipilih. Patut diselidiki lebih lanjut. (Bagi yang belum punya judul skripsi/tesis, mungkin pembahasan mengenai hal ini bisa jadi bahan yang menarik Smile.)

Ah, ternyata Santa Claus bukan sekadar salah kaprah. Malah lebih rumit lagi. Tidak salah, bukan, kalau saya memilih jalan aman dengan menyebut Sinterklas daripada Santa Claus, yang bagi saya masih menimbulkan tanda tanya itu?

Bagaimanapun juga, selamat mempersiapkan hati menyambut Natal.

One Response to “Santa Claus: Sekadar Salah Kaprah?”

  1. bennylin September 23, 2007 at 6:36 pm #

    Saya punya teori konspirasi global yang layak dijadikan skrip film box office terbaruūüėÄ

    Santa Claus seperti yang Anda tebak memang seorang wanita, ia bernama Claus, mungkin dari kata Claudia (dicocok-cocokkan :P) Namun, ketika ia semakin populer, bahkan lebih populer dari orang-orang kudus lainnya, yang notabene semuanya lelaki, dan dalam jajak pendapat di jaman pertengahan melalui situs medieval.com menunjukkan bahwa Santa Claus merupakan orang suci kedua paling berpengaruh seteleah Santa Maria, maka para pemimpin-pemimpin gereja (Paus dan kroni-kroninya) pada saat itu – yang seperti kita ketahui tidak sesuci yang tampak di luarnya – merasa iri hati, lalu mereka menyuruh menyebarkan cerita anak-anak yang menceritakan bahwa Santa Claus sebenarnya berkulit hitam, dan hal-hal buruk lainnya yang mereka pikir akan membuatnya tidak begitu populer, namun tidak berhasil. Lalu mereka menggunakan rencana B, mereka mengganti jenis kelamin Santa Claus menjadi pria, supaya orang suci pria tidak kalah dari wanita (posisi Santa Maria sudah tidak tergoyahkan, sih) dengan menyebarkan cerita-cerita palsu di internet, menghubungi surat kabar-surat kabar terkenal dan BBC serta Reuters. Mereka mengganti nama Santa Claus menjadi St. Nicholas.

    Nah, rupaynya mereka berhasil mengelabuhi masyarakat melalui koneksi dan jaringan mereka di kerajaan-kerajaan serta surat kabar terkenal di seantero Eropa, maka jadilah St. Nicholas seorang laki-laki, tapi sebagian orang masih tidak melupakan nama Santa Claus yang kita kenal sampai sekarang, dan Piet Hitam merupakan hasil rencana A yang tidak berhasil. :D:D:D:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: