Juruselamat Dua Ribu Tahun Lalu

6 Jan

Natal ‘kan menjelang. Semakin banyak perayaan Natal yang dilangsungkan seiring dengan disampaikannya berita damai sejahtera. Sayangnya, berbagai pemberitaan tersebut masih mengandung kekeliruan yang terus didengungkan oleh para pendeta maupun mereka yang berkhotbah dalam kebaktian-kebaktian Natal, termasuk dalam sejumlah literatur.

Kalau membaca artikel-artikel maupun renungan seputar Natal, kita akan melihat berita kelahiran Juruselamat. Di sinilah letak kekeliruan pertama yang masih sering dilakukan oleh penerbit-penerbit maupun mereka yang mengelola buletin, baik tercetak maupun tersambung (online).

Bentuk Juruselamat bukanlah bentuk yang tepat, meskipun makna yang hendak disampaikan tetaplah sama. Kata itu sejatinya bukan merupakan satu kata, melainkan terdiri dari dua kata, yaitu kata juru dan selamat.

Kalau diperhatikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), kata juru berarti ‘orang yang pandai dalam suatu pekerjaan yang memerlukan latihan, kecakapan, dan kecermatan (keterampilan)’. Sehingga, dalam kasus ini, kita melihat bahwa Kristus yang diberitakan sebagai inti Natal itu adalah satu-satunya yang pandai, cakap, cermat, dan terampil dalam menyelamatkan manusia yang berdosa.

Penulisannya dilakukan terpisah dan tiap huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital. Karena Juru Selamat mengacu kepada pribadi Yesus Kristus.

Selain itu, berita bahwa Yesus Kristus dilahirkan dua ribu tahun yang lalu adalah berita yang menyesatkan secara matematis. Coba ingat-ingat kembali, misalnya, khotbah Natal tahun 1998 dengan khotbah tahun 2005. Ketika itupun berita Natal yang disampaikan menyebutkan bahwa Kristus lahir dua ribu tahun yang lalu. Padahal Yesus tidak lahir tahun 6 atau tahun 0 Masehi, melainkan antara 6 dan 7 SM. (Pergeseran ini disebabkan oleh kekeliruan sistem penanggalan yang dilakukan pada masa pemerintahan Kaisar Justinian.) Dengan demikian, berita yang benar semestinya adalah bahwa Kristus Yesus telah lahir lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Atau 21 abad yang lampau.

Bagaimanapun juga, Natal ‘kan menjelang. Mari kita persiapkan hati dan mengoreksi diri sendiri. Selamat Natal, kiranya Tuhan memberkati.

3 Responses to “Juruselamat Dua Ribu Tahun Lalu”

  1. bennylin September 23, 2007 at 6:25 pm #

    Artikel Natal di bulan Januari, bung? Mungkin tulisan lama baru dimuat ya?

    Istilah Juru Selamat… saya penasaran, dari mana asal-muasal istilah tersebut ya? Agama Kristen di Indonesia kan dibawa dari Eropa, dan mengapa Juru Selamat, bukan Sang Penyelamat, atau Sang Selamat. Kalau saya menafsirkan, “juru”, seperti “juru mudi”, “juru kunci”, “juru Bangau” (eh, itu jurus :P) dan “juru”-“juru” yang lainnya tidak berkesan bahwa orang tersebut spesial atau satu-satunya, seperti Tuhan Yesus, melainkan hanya seseorang yang cocok untuk pekerjaan itu, atau yang kebetulan mempelajari cara mengemudi, cara berbicara di depan umum (juru bicara), atau cara mematok dengan tangan (juru Bangau – eh ngawur lagi). Saya pikir Sang Penyelamat adalah gelar yang lebih tepat karena istilah “Sang” dengan jelas menunjuk pada seseorang tertentu yang disebut “Penyelamat” (dengan huruf kapital). Pembaca atau penulis, ada yang bersedia menelaah lebih lanjut mengenai istilah ini?

  2. Emanuel Setio Dewo December 5, 2007 at 9:22 pm #

    Menyongsong Natal…
    Selamat masa Adven.

    GBU

  3. indonesiasaram December 5, 2007 at 10:03 pm #

    Terima kasih sudah mampir, Pak. Selamat Adven juga buat Bapak dan keluarga. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: