Dunia Sastra Indonesia: Tidak Identik dengan Kekristenan?

6 Jan

Sejujurnya, saya bukan tergolong pencinta sastra yang sejati. Saya juga jarang membaca novel-novel sastra, puisi-puisi, apalagi drama, meskipun ketiganya pernah saya pelajari. Meski demikian, ada satu hal mengenai sastra Indonesia yang saya mulai pikirkan beberapa waktu belakangan.

Ada banyak perguruan tinggi negeri yang membuka program sastra Indonesia. Kalau melihat daftarnya, hampir di tiap perguruan tinggi negeri menyediakan jurusan tersebut. (Istilah jurusan kabarnya sudah diganti dengan departemen.) Sebut saja, misalnya UI, Unpad, UGM, USU, bahkan universitas-universitas yang dulunya berlabel IKIP.

Bagaimana dengan yang swasta? Bidang sastra Indonesia sama sekali tidak dilirik. Memang benar, bahwa sastra Inggris jauh lebih menarik minat para calon mahasiswa. Dengan kata lain, sastra Inggris jauh lebih menjual ketimbang sastra Indonesia.

Lalu benarkah bahwa sastra Indonesia tidak identik dengan kekristenan? Harus kita akui, saat ini demikianlah yang terlihat. Padahal tidak demikian! Coba lihat nama-nama seperti J.E. Tatengkeng atau Wilson Nadeak (juga sejumlah nama lain yang belum sempat saya lacak).

Terkhusus J.E. Tatengkeng, secara jelas puisi-puisinya mencerminkan kekristenannya. Panggilan Sabtu-Minggu menjadi salah satunya. Simak pula puisi bertajuk Kucari Jawab berikut.

Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki ‘alam.

Di kawan awan kian kemari,
di situ juga jawabnya kucari.

Di warna bunga yang kembang.
Kubaca jawab, penghilang bimbang,

Kepada gunung penjaga waktu.
kutanya jawab kebenaran tentu,

Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.

Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tiada tercerai

Ya, Allah yang Maha – dalam,
Berikan jawab teka-teki alam.

0, Tuhan yang Maha – tinggi,
Kunanti jawab petang dan pagi’

Hatiku haus ‘kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang …………..

Fakta bahwa banyak orang yang tidak suka sastra Indonesia tidak bisa dielakkan. Namun, sudah saatnya untuk memikirkan bidang ini secara lebih dalam lagi. Apalagi sastra Indonesia juga milik Maestro Agung kita.

One Response to “Dunia Sastra Indonesia: Tidak Identik dengan Kekristenan?”

  1. bennylin September 23, 2007 at 3:35 pm #

    wah, terima kasih buat artikelnya dan tautan situsnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: