“Cakram Kerasku” Bermasalah

6 Jan

Harus diakuai bahwa komputer sudah semakin akrab bagi kehidupan masayarakat saat ini. Sebagian besar tugas sekolahan hingga kuliahan diketik dengan menggunakan komputer. Kantor-kantor pun berlomba-lomba memperlengkapi fasilitasnya dengan mesin ajaib yang canggih ini. Bahkan, komputer juga menjadi salah satu syarat untuk mendapat akreditas perguruan tinggi yang baik. Tak usah pusing bila ada yang menyewa sejumlah perangkat canggih untuk dipajang di ruang-ruang tertentu, termasuk ruang kuliah, guna membuat petugas akreditasi berdecak kagum.

 

 

Memang, tidak dapat disangkal juga bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum terlalu melek dengan mesin canggih ini. Kalaupun kenal, mungkin lebih dilihat sebagai pengganti mesin tik biasa daripada manfaat lainnya.

 

 

Namun, tentu saja hal ini tidak membuat gairah orang untuk berkomputer ria semakin menyurut. Apalagi dengan tuntutan zaman yang semakin deras, seiring derasnya arus informasi yang membuat orang yang tidak mengikutinya akan tertinggal jauh. Maka, suka tidak suka kursus komputer, entah itu lewat lembaga tertentu, maupun lewat teman terdekat, tetap dikejar.

 

 

Saking derasnya, masyarakat kita pun kelimpahan berbagai macam istilah yang asing-asing. Saking derasnya pula, istilah-istilah itu dikecap langsung. Celakanya lagi, penjaga gawang kita dalam dunia bahasa Indonesia pun kesannya kurang sigap. Akibatnya, malah kebobolan lebih dulu.

 

 

Sejumlah istilah seperti hard disk, personal computer alias PC, software dan hardware, scanner, browser, chatting, dan sebagainya pun mengalir. Sementara itu, sampai beberapa waktu lamanya, kita tidak kunjung memadankan istilah-istilah tersebut ke dalam bahasa Indonesia, setidaknya membuat istilah-istilah tersebut lebih Indonesia.

 

 

Maka tak usah heran bila ketika Windows versi bahasa Indonesia berhasil diluncurkan dua tahun lalu, tidak mendapatkan sambutan yang hangat. Para pemakai yang sudah begitu akrab dengan istilah-istilah berbahasa Inggris menjadi kebingungan dengan pengindonesiaan istilah-istilah komputer tersebut. Sebut saja “tetikus” untuk mouse, atau “papan ketik” untuk keyboard, dan sejumlah istilah lainnya.

 

 

Akibatnya, jumlah pengguna Windows versi bahasa Indonesia bila dibandingkan dengan pengguna versi bahasa Inggris (terlepas bajakan atau tidaknya sistem operasi yang digunakan), sangatlah berbeda jauh. Padahal salah satu tujuan pengindonesiaan versi Windows tersebut ialah agar Windows versi orisinil itu dapat lebih terjangkau oleh masyarakat. Bayangkan saja berapa harga versi orisinilnya bila Anda membeli yang berbahasa Inggris.

 

 

Kalau kita melihat negara-negara seperti Korea, China, dan Jepang, masing-masing mereka memiliki sistem operasi Windows (mungkin juga yang lain) yang berbasiskan bahasa mereka. Dari satu sisi, keberhasilan Windows versi Indonesia beberapa waktu lalu sebenarnya bolehlah disejajarkan dengan negara-negara tersebut. Namun, dari segi jumlah pengguna, tentu kita mesti gigit jari karena faktanya tidak semenyenangkan yang diharapkan.

 

 

Sosialisasi tampaknya menjadi salah satu penyebabnya. Kurangnya penyosialisasi istilah-istilah yang telah diindonesiakan oleh mereka yang berwajib, menyebabkan masih banyak orang yang tidak mengenal istilah-istilah tersebut. Praktis istilah yang telah diindonesiakan dan yang paling banyak dikenal orang ialah seperti perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware), sistem operasi (operating system), monitor (monitor), aplikasi (application), dan mungkin sejumlah lainnya.

 

 

Minimnya sosialisasi inilah yang kiranya menyebabkan sejumlah besar istilah yang telah diindonesiakan tetap tidak tercium oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, tidak usah heran bila masih ada yang merasa bingung dengan istilah seperti mengunduh dan mengunggah.

 

 

Terus terang, masalah pengindonesiaan istilah-istilah asing dunia perkomputeran ini masih pro dan kontra. Kebanyakan praktisi merasa enggan untuk menggunakan istilah Indonesia. Apalagi setelah diindonesiakan malah menjadi lebih panjang, misalnya saja “penggerak disket/cakram” untuk disk drive; lebih lucu, misalnya saja “anjlok” untuk down, “disket/cakram liuk” untuk floppy disk; bahkan aneh, misalnya saja “pasta/rekat” untuk paste, “spesial pasta” untuk paste special, atau “tata ulang” untuk reset.

 

 

Kita memang telah kebobolan lebih banyak. Tapi bukan tidak mungkin membalikkan keadaan. Anggaplah sosialisasi bahasa gelombang pertama itu kurang berhasil. Maka kini giliran sosialisasi gelombang kedua yang harus kita kerjakan.

 

 

Kesan lucu itu sudah pasti ada. Sudah saatnya kita membiasakan diri dengan istilah-istilah tersebut. Bukankah dulu juga kita merasa risih ketika berhadapan dengan istilah perangkat lunak dan perangkat keras? Lalu kenapa sekarang kita masih juga merasa canggung untuk berkata, “Wah, cakram kerasku bermasalah. Kelihatannya sektor buruk, deh.”

2 Responses to ““Cakram Kerasku” Bermasalah”

  1. yohanes1112 January 17, 2007 at 4:29 pm #

    Sebenarnya bukan cuma Indonesia, negara seperti Jerman dan Perancis juga mengalami masalah yang kurang lebih sama. Jauh sebelum artikel ini dimuat pun, MASTERWEB, sebuah majalah yang kini telah almarhum, juga pernah mengangkat masalah serupa.

    Dulu Jerman juga ngotot menggunakan telecharger untuk download. Perancis menggunakan logiciel untuk komputer. Paling tidak ini adalah sedikit hal yang masih tersisa di benak saya sehubungan sudah lamanya artikel tersebut dimuat (Oktober 2001).

    Bukan tanpa alasan kemudian jika mereka juga kembali menggunakan istilah-istilah yang sudah terlanjur populer. Sebut saja gap atau jarak pengertian. Tidak mudah memang. Idealisme tentu saja sesuat yang baik selama itu tidak menjadikan kita kolot dan kurang berkembang.

    Permasalahan yang terjadi kerap terletak dari kesan yang tercipta, bukan dari efektivitas orang dalam berkomunikasi. Penggunaan-penggunaan istilah sering kali ditemukan pada golongan-golongan artis (yang kerap menggunakannya dalam peran di sinetron yang dibintanginya) yang entah sengaja atau tidak ditujukan untuk memunculkan kesan keren. Bandingkan dengan Tukul yang selalu belepotan menggunakan Bahasa Inggris dalam program “Empat Mata” yang ditayangkan Trans7 sehingga penonton tak jarang menjadikannya bukan-bulanan.

    Tenhtunya kita pun tidak bisa mengkritisinya untuk semua bidang. Teringat beberapa tahun yang lalu saat semua harus di-Indonesiakan termasuk papan reklame dan (lagi-lagi) tayangan impor. Paling tidak saat itu para penyulih suara kebanjiran order. Bila ditinjau lebih dalam, tidak, tindakan itu tidak mendidik. Saya menikmati mengoreksi kalimat-kalimat dalam sebuah film yang salah diartikan penerjemah.

    Jadi, sebenarnya saya pun tidak bisa memberikan pandangan lebih lanjut. Dibutuhkan lebih banyak orang yang berkompeten untuk merumuskan yang jauh lebih baik daripada sekedar konsep.

  2. bennylin September 23, 2007 at 4:01 pm #

    Sebuah polemik… namun bagi mereka yang tertarik dalam hal ini, Wikipedia Indonesia memiliki artikel menarik yang bertajuk Istilah Internet Indonesia. Atau carilah di mesin pencari kesukaan Anda dengan kata kunci “Senarai padanan istilah”. Pendapat saya pribadi sih kalau ada padanan katanya, jangan sedikit-sedikit menggunakan istilah asing (mungkin karena malas mencari atau tidak tahu ada padanannya). Bangga dong punya bahasa persatuan Bahasa Indonesia.

    NB: Omong-omong, “dong” itu bahasa Indonesia bukan ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: