Banjirnya Istilah e-…

6 Jan

Belakangan ini, kebiasaan berkirim surat tampaknya mulai beralih menjadi berkirim e-mail, alias surat elektronik. Sangat menyenangkan memang. Keuntungan pertamanya, kita bisa mengirimkan surat sepanjang yang kita rasa perlu ke berbagai belahan dunia.

Coba bayangkan bila kita menulis berlembar-lembar, lalu mengirimkannya ke Jepang, misalnya. Tentu beratnya akan bertambah sehingga memengaruhi biaya pengiriman.
Keuntungan kedua yang dapat kita peroleh ialah dari segi waktu. Hari ini dikirim, hari ini juga sampai sehingga dapat dibaca oleh pihak yang dituju.

Selain itu, pemanfaatan internet sebagai sarana publikasi pun sudah tidak asing lagi. Selain situs web, tentunya yang terkini ialah fenomena blog yang menampilkan berbagai tulisan pribadi dalam berbagai genre. Namun, itu semua tampaknya belum menghapus salah satu model publikasi elektronik, yang sudah ada jauh sebelum kehadiran blog, yang memanfaatkan layanan berbasis e-mail, yaitu milis.

Pemanfaatan sistem milis (mailing list) yang berbasis e-mail atau surat elektronik itu telah diarahkan tidak hanya sebagai sarana berbagi informasi atau sekadar diskusi. Ada begitu banyak milis yang menjadi sarana publikasi atau buletin elektronik. Sejumlah artikel dipadukan menjadi satu rangkaian pesan yang umumnya bertopik serupa, lalu dikirimkan kepada para pelanggannya.

Budaya Latah
Terlepas dari sistem yang digunakan, muncul satu fenomena yang menarik berupa membanjirnya penggunaan embel-embel “e” pada setiap publikasi atau buletin elektronik tersebut. Kita dapat menyebutkan, misalnya, e-karier, e-bisnis, e-buku, dan begitu banyak e-… lainnya. Tampaknya, ini menjadi suatu bentuk kelatahan dalam penamaan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, e-mail merupakan singkatan dari electronic mail, surat elektronik. Penamaan ini logisnya dikarenakan surat itu dikirimkan lewat jalur elektronik dengan menggunakan layanan internet. Karena memang diciptakan di Barat yang notabene menggunakan bahasa Inggris, disebutlah electronic mail, yang disingkat menjadi e-mail.

Kelihatannya, kebiasaan kita yang suka meniru terlihat pula dalam pengistilahan. Ketika hendak menerbitkan buletin elektronik dengan memanfaatkan fasilitas berbasis e-mail, kita pun mengutip kata electronic yang terletak di depan mail sehingga jadilah e-karier, e-bisnis, atau e-buku, misalnya, dan sebagainya itu.

Lucunya, semua kata yang mengikuti e-… merupakan kata dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kalaupun ada yang menggunakan nama dalam bahasa Inggris, isinya justru dalam bahasa Indonesia.

Berbeda Pola
Semestinya, kalau kita mau sedikit saja memerhatikan, pola bahasa yang kita miliki sebenarnya sangat berbeda dengan bahasa Inggris. Hal ini terbukti dari terjemahan e-mail menjadi “surat elektronik”, bukan “elektronik surat”. Pola yang ada dalam bahasa Indonesia bukanlah MD atau menerangkan-diterangkan melainkan DM, diterangkan-menerangkan.

Maka ketika kita hendak menamai buletin-buletin elektronik itu, seharusnyalah kita menamakannya dengan karier-e, bisnis-e, atau buku-e karena yang mau dimaksudkan bukanlah elektronik karier, elektronik bisnis, maupun elektronik buku, melainkan sebaliknya. Namun, mengapa kita tidak menamai demikian?

Tampaknya salah satu alasannya ialah pandangan bahwa bahasa Inggris jauh lebih modern, jauh lebih keren daripada bahasa Indonesia menjadi salah satu penyebab mengapa hal tersebut muncul.

Selain itu, saya menduga, penggunaan e-… di depan tiap nama buletin elektronik tersebut dikarenakan anggapan bahwa penempatan e-… sudah menjadi suatu patron dalam dunia internet, khususnya dalam penerbitan buletin elektronik tersebut. Di satu sisi, e-… mungkin sengaja diletakkan di depan agar siapa saja dapat mengetahui bahwa yang dimaksud ialah electronic.

Dengan kata lain, penggunaan e-… ditujukan kepada khalayak ramai secara global. Sementara itu, untuk membedakannya dengan buletin elektronik asing yang berbahasa Inggris, digunakanlah nama dalam bahasa Indonesia, sebagai penanda bahwa buletin tersebut menggunakan bahasa Indonesia.

Namun, menurut saya, hal ini tentunya berdampak bagi penggunaan bahasa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia, sudah semestinyalah kita berbangga dengan bahasa kita sendiri. Kebanggaan ini, misalnya, dapat kita tunjukkan dengan menggunakan istilah-istilah Indonesia.

Mengapa kita harus malu bila menggunakan kata ”mengunduh” sebagai padanan download? Atau ”mengunggah” sebagai padanan up-load? Dan mengapa kita tidak menerima karier-e, bisnis-e, atau buku-e yang lebih mencirikan keindonesiaannya?

Dimuat di Harian Sinar Harapan Kamis, 20 Juli 2006
http://sinarharapan.co.id/berita/0607/20/ipt03.html

One Response to “Banjirnya Istilah e-…”

  1. bennylin September 23, 2007 at 4:07 pm #

    Bagi pengguna istilah “e-buku”, “e-bisnis”, dan “e-Indo”-“e-Indo” yang lainnya, pakai saja bahasa aslinya diimbuhi Indonesia (“e-book Indonesia”) daripada bahasa gado-gado yang cuma membuktikan staf Anda yang tidak tahu bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Omong-omong, baru tahu nama Anda, saudara RSK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: