Bahasa Halus

6 Jan

Baru-baru ini, sebuah kabar menghebohkan menyangkut salah seorang tokoh terkenal mencuat. Ya, Aa Gym, da’i kondang yang sering menyapa umat dengan pesan-pesan yang tak jarang perlu kita setujui, mengadakan konferensi pers dan mengemukakan bahwa ia telah menikah untuk kedua kalinya. Didampingi istri pertamanya, Teh Ninih, ia mengonfirmasi pernikahannya dengan Alfarini Eridani.

Tentu saja saya tidak bermaksud mengulangi apa yang sudah diberitakan. Tapi dari segi bahasa ada sesuatu yang menarik yang saya tangkap. Ketika secara sekilas menyaksikan tuturannya di sebuah teve swasta, saya menyadari bahwa banyak orang yang menghaluskan bahasanya untuk tujuan tertentu. Penggalan tuturan beliau kira-kira berbunyi seperti ini.

“… tindakan yang saya ambil ini bukan hal yang populer ….”

Ketika mencermati tuturan tersebut, saya menyadari bahwa kecenderungan manusia memakai bahasa yang halus untuk melegalkan suatu tindakan. Tentu saja dalam keyakinan Aa Gym, poligami bukanlah hal yang dilarang, sesuatu yang dalam iman Kristen, poligami adalah sesuatu yang diharamkan. Tapi yang mau saya angkat di sini ialah bahasa halus yang digunakan untuk membenarkan diri.

Kalau pada zaman Orde Baru dulu, hal seperti ini pun pernah kita lihat. Kata disesuaikan lebih disukai daripada kata naik. Maka ketika, misalnya, harga minyak tanah di pasaran akan melonjak, media-media umum pada saat itu akan memilih kata disesuaikan daripada naik dengan maksud tidak membuat masyarakat gempar.

Dalam kasus serupa, kecenderungan orang Kristen pun lebih suka memakai kata-kata halus seperti itu. Misalnya saja ketika hendak konseling, atau curhat kepada seseorang, kita suka memakai kata masalah daripada dosa.

Lebih parah lagi, untuk mengelak dari fakta bahwa merokok itu sesungguhnya dosa, seorang pendeta yang ketepatan seorang perokok berat bisa bertutur, “Alkitab itu ‘kan bukan SPBU yang melarang kita agar jangan merokok?”

Bahasa halus di sini sekilas memang mirip eufemisme, yaitu bentuk penghalusan terhadap bahasa yang tabu, misalnya menghaluskan kata pelacur sebagai wanita tuna susila. Tapi dalam hal ini bahasa halus menjadi bahasa yang diungkapkan oleh mereka-mereka yang tampaknya sulit untuk jujur akan dosa-dosa mereka.

Nah, bagaimana jadinya kalau orang-orang Kristen mengadopsi tuturan Aa Gym tersebut?

Alangkah baiknya bila kita tidak menghaluskan atau mengaburkan fakta mengenai diri sendiri. Jujurlah kalau kita sebenarnya berbuat dosa. Hindari penggunaan kata-kata yang seolah-olah membenarkan atau melegalkan dosa kita.

One Response to “Bahasa Halus”

  1. bennylin September 23, 2007 at 4:44 pm #

    Kalau saya bilang, itu istilah yang digunakan untuk “memutarbalikkan fakta”, “memelintir kebenaran”, “membenarkan diri”, “menjaga imej”, “menutupi kebusukan”, dan banyak lainnya, namun intinya hanya satu. Orang tersebut, siapapun itu, tahu bahwa kata yang tepat untuk mendeskripsikan hal yang ia lakukan adalah jahat, salah, dan tidak berkenan di hati Allah. Orang tersebut, siapapun itu, tidak dapat mengatakan kejadian sesungguhnya, “Saya tidak puas dengan/tidak mencintai lagi istri pertama saya, saya melihat istri kedua saya dan saya menginginkannya, saya tidak mau/tidak dapat menceraikan istri pertama saya dan harus mengawini istri kedua saya untuk memuaskan keinginan saya” atau versi pendeknya, “Daripada berzinah…”, semoga saja dalam hati tidak mengatakan “Kecelakaan, mas…”

    Moral ceritanya? Saya rasa Roh Kudus yang selalu berbisik di batin kita tidak mengenal istilah eufemisme. Dengarkanlah ia, karena ia adalah Jujur, tidak pernah berdusta. Jika Roh Kudus mengatakan tindakan Anda salah dan ada suara lain yang berusaha membenarkan tindakan Anda dengan eufemisme (“ah, semua kan juga melakukannya”, “ah, kan tidak ada yang tahu”, “ah, saya kan tidak merugikan orang lain”, “ah, ini”, dan “ah, itu”), itu adalah suara si Pendusta. Ikutilah suara Roh Kudus dan lakukanlah/katakanlah yang benar.

    Kecuali Anda seorang politisi/politikus (mana yang benar ya?) itu artikel lain lagi, ya bung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: