Bahasa dan Sastra Indonesia: Emang Gue Pikirin?

6 Jan

Sebagai orang Indonesia, kita sudah dianggap produk lokal. Begitu jerit tangis kita memecah ruangan, itulah saat kelahiran kita sebagai bayi Indonesia: dibentuk oleh pasangan berkewarganegaraan Indonesia, dicatat di kantor catatan sipil, lalu dibesarkan dalam lingkungan Indonesia (tentu saja mereka yang lahir dan besar di luar Indonesia tidak masuk hitungan).

Setelah cukup umur, masuklah kita ke sekolah-sekolah Indonesia. Belajar segala macam tetek-bengek termasuk sejarah yang amburadul. Tak lupa pula sebuah pelajaran yang terus dibawa hingga perguruan tinggi, Pelajaran Bahasa Indonesia.

Kenapa pula perlu belajar bahasa Indonesia? Bukankah kelahiran dan lingkungan kita yang serba Indonesia sudah mencukupi? Untuk apa lagi? Cukuplah sudah! Biar saja itu menjadi pekerjaan para ahli bahasa Indonesia. Bukankah untuk itulah mereka dibayar? Bukankah banyak editor atau apa pun itu namanya yang bisa dibayar untuk memperbaiki bahasa kita? Lalu kenapa pula kita disiksa untuk belajar bahasa Indonesia sejak TK hingga perguruan tinggi, lalu di kantor pun dirong-rong untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan itu?

Demikianlah pandangan yang terlalu picik, pandangan orang Indonesia yang terlalu menganggap remeh bahasanya sendiri. Akhirnya, lebih banyaklah orang asing yang jauh lebih memahami bahasa Indonesia ketimbang orang Indonesia itu sendiri.

Ah, bukankah bangsa ini sudah lebih senang diinjak-injak di negerinya sendiri? Tidak cukup dengan barang-barang elektronik dan makanan dari Timur Jauh hingga Barat sana yang menjajah negeri ini, kini bahasanya pun sudah dijajah. Tengok saja kecenderungan generasi muda yang lebih suka ber-“and kita orang sudah boring cuman nungguin elu”. Tengok pula kecenderungan orang untuk mengejar-ngejar kursus bahasa Inggris tingkat wahid dan merelakan ratusan ribu rupiah demi mendapatkan kemampuan berbahasa Inggris yang jauh lebih baik dari kemampuan berbahasa Indonesianya.

Bahasa dan Sastra? Makanan apa pula itu? Bahasa dan Sastra Indonesia? Emang gue pikirin?

3 Responses to “Bahasa dan Sastra Indonesia: Emang Gue Pikirin?”

  1. bennylin September 23, 2007 at 3:33 pm #

    Wah, salut bung atas pikiran tersebut. Orang Indonesia memang perlu disadarkan atas masalah ini, mari kita orang Kristen yang memulainya, siapa takut jika orang memandang kita dengan heran apabila kita berbahasa Indonesia yang “kaku”, bukankah orang Kristen harus jadi garam dan terang di dunia yang gelap dan dipenuhi dengan logat Jakarta ini ^^

  2. gie42 January 1, 2008 at 7:53 pm #

    seandainya semua orang memiliki pemikiran seperti anda,,,,
    mungkin sekarang tidak ada yang namanya pelajaran bahasa indonesia…
    lalu bagaimana cara anda berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar anda seandainya anda hidup di lingkungan yang memiliki keragaman suku bangsa yang memiliki bahasa yang berbeda pula?
    apa anda akan menggunakan bahasa anda sendiri?????????

  3. indonesiasaram January 2, 2008 at 3:52 pm #

    Hai, terima kasih telah berkunjung. Kalau saya berada dalam kondisi tersebut, tidak ada jalan lain selain berusaha mempelajari bahasa mereka dan menjalin komunikasi dengan baik. Mungkin langkah awalnya, pakai bahasa seadanya sejauh bisa menjalin komunikasi, setidaknya masing-masing pihak bisa mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: