<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Corat-Coret Bahasa</title>
	<atom:link href="http://indonesiasaram.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiasaram.wordpress.com</link>
	<description>blognya pengutak-atik bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Oct 2009 00:04:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='indonesiasaram.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b0573370877d92c2e66fe481b83465ae?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Corat-Coret Bahasa</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bahasa Indonesia di Dunia Maya</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 00:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa baku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[emotikon]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[googling]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Relay Chat]]></category>
		<category><![CDATA[kaomoji]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[Wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak menyangka kalau artikel yang kemarin saya pasang di blog ini segera mendapat respons dari dua blogger lawas. Tidak hanya itu, keduanya justru memaksa saya berpikir lebih jauh lagi berkenaan dengan topik yang saya tulis kemarin. Meski terkesan lucu dan terlalu cepat kalau menulis secara berurutan, saya merasa ingin memberi respons balasan terhadap respons [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=201&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya tidak menyangka kalau artikel yang kemarin saya pasang di blog ini segera mendapat respons dari dua blogger lawas. Tidak hanya itu, keduanya justru memaksa saya berpikir lebih jauh lagi berkenaan dengan topik yang saya tulis kemarin. Meski terkesan lucu dan terlalu cepat kalau menulis secara berurutan, saya merasa ingin memberi respons balasan terhadap respons <a href="http://matadunia15.multiply.com/">Mata Dunia</a> dan <a href="http://budaya-pop.blogspot.com/">Budaya Pop</a> kemarin.</p>
<p>Bila topik ini saya mulai pada pertengahan tahun 1990-an, saya kira akan sulit melihat bahasa Indonesia di dunia maya. Alasan paling utama ialah saat itu bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar pada mayoritas situs web yang ada. Jumlah situs web yang menggunakan bahasa Indonesia relatif sedikit. Apalagi saat itu belum ada fenomena blog. <em>Internet Relay Chat</em> juga menggunakan bahasa Inggris untuk berbagai menu. Para penyedia layanan surat elektronik dan penyedia halaman pribadi (<em>homepage</em>) juga tidak menyediakan versi bahasa Indonesia. Bahkan seingat saya, penyedia layanan surat elektronik sekelas Yahoo! belum sampai lima tahun menggunakan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa alternatif.</p>
<p>Mengingat pengguna internet di Indonesia setiap tahun semakin bertambah, berbagai portal memutuskan untuk menyertakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Salah satu strategi yang mereka lakukan ialah membiarkan komunitas pengguna bahasa tertentu untuk menerjemahkan sendiri berbagai menu dan informasi dari suatu situs. Hal ini salah satunya dilakukan oleh pihak <a href="http://wordpress.com/">WordPress</a> yang menurut saya merupakan strategi yang baik. Bukan karena mereka terlalu malas untuk menerjemahkannya, melainkan mereka menyerahkan penerjemahan itu untuk dilakukan, terutama oleh penutur bahasa sasaran terjemahan yang notabene lebih memahami konteks bahasanya sendiri.</p>
<p><strong><span id="more-201"></span>Bahasa Indonesia dunia maya</strong><br />
Satu hal yang pasti dalam komunikasi dunia maya ialah peralihan dari komunikasi lisan menjadi komunikasi tulisan. Komunikasi lisan memang tetap memungkinkan dilakukan melalui internet. Akan tetapi, mayoritas pengguna internet cenderung menggunakan bahasa tulis. Hal ini sekaligus mendorong eksplorasi guna memperkaya bahasa tulis tersebut. Misalnya, dengan menggunakan emotikon atau <em>kaomoji</em> untuk menampilkan ekspresi tertentu.</p>
<p>Dampak bahasa Inggris bagi bahasa Indonesia dunia maya sangatlah kental. Pada artikel saya yang lalu, salah satu bentuk bahasa yang relatif sering muncul ialah penggunaan bentuk singkatan. Dalam hal ini, singkatan itu bisa kita bedakan menjadi dua, yaitu singkatan yang berasal dari bahasa Inggris dan singkatan yang berasal dari bahasa Indonesia. Dalam komunikasi yang dilakukan dengan bahasa daerah, mungkin saja muncul singkatan-singkatan dalam bahasa daerah.</p>
<p>Singkatan dalam bahasa Inggris yang lazim ditemukan pada masa IRC misalnya, <em>asl pls</em> yang merupakan singkatan dari <em>age, sex, location/land please</em>, yaitu permintaan informasi latar belakang. Penggunaan <em>asl pls</em> itu umumnya dilakukan dalam percakapan dengan orang yang belum dikenal. (Belakangan, dari sejumlah perbincangan saya dengan orang lain non-Indonesia, penggunaan singkatan tersebut tidak lagi ditemukan.) Mengingat peran <em>instant messenger</em> saat ini cenderung lebih dominan, percakapan yang terjadi umumnya dilakukan oleh dua partisipan yang sudah saling kenal, meskipun ruang bicara umum turut disediakan pula. Dengan demikian, <em>asl pls</em> tidak lagi umum digunakan. Meskipun demikian, akan menarik juga bila kita mencermati bagaimana bahasa para pengguna internet pemula. Hanya saja, topik ini tidak akan kita singgung lebih jauh di sini.</p>
<p>Bagaimana dengan singkatan-singkatan dalam bahasa Indonesia? Dalam penelitian saya beberapa waktu lampau, singkatan-singkatan yang umum, yaitu <em>km</em> dan <em>u </em>untuk ’kamu’ atau ’Anda’; <em>thx</em> atau <em>tks</em> untuk ’terima kasih’; <em>gpp</em> untuk ’tidak apa-apa’; <em>ce</em> untuk ’cewek’; <em>co</em> untuk ’cowok’, <em>knp </em>untuk ’kenapa’ merupakan  singkatan-singkatan yang umum ditemukan. Namun, salah satu yang paling sering ialah penggunaan <em>x</em> yang bisa berarti substitusi untuk <em>–nya </em>atau <em>kali</em>, yang tidak hanya kita temukan dalam komunikasi melalui <em>instant messenger</em>, tetapi juga dalam komunikasi pesan singkat telepon seluler.</p>
<p>Penyingkatan ternyata juga tidak hanya terjadi dalam tataran kata. Kalimat yang digunakan pun relatif lebih singkat. Malah tidak jarang kalimat yang dituliskan merupakan kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Rangkaian seperti berikut ini, misalnya, merupakan sesuatu yang sangat lazim kita temukan.</p>
<p>(1) &#8211; hi,pa kbr<br />
(2) &#8211; lama gak ktm<br />
(3) + halo jg<br />
(4) + iya nih, u gmn kbrx<br />
(5) &#8211; baik2 sj<br />
(6) &#8211; skrg dmn n krj apa<br />
(7) + g di bdg</p>
<p>Kalau kita perhatikan, tuturan (1) dan (2) yang dilakukan oleh (-) bisa saja dilakukan dalam satu baris. Sementara, tuturan(6) kadang kala bisa dihadirkan dalam dua baris, yaitu menjadi <em>skrg dmn</em> dan (<em>skrg</em>)<em> krj apa</em>. Akan lazim pula kita mendapati pertanyaan yang tidak terjawab. Lihat pertanyaan pada (1) yang tidak mendapat jawaban; bandingkan dengan (4) yang dijawab dengan (5).</p>
<p>Setelah disusun, kira-kira tuturan tersebut akan menjadi</p>
<p>- Halo, apa kabar? Sudah lama ya, kita tidak bertemu?<br />
+ Halo juga. Iya nih, sudah lama tidak (kita) tida beremu. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?<br />
- Aku baik-baik saja. Sekarang (kamu) ada di mana? Kerja (di bidang) apa?<br />
+ (Sekarang) aku di Bandung.</p>
<p>Salah satu ciri yang cukup signifikan dari bahasa tulisan di dunia maya ialah penggunaan emotikon dan <em>kaomoji</em>. Emotikon merupakan ikon-ikon yang mewakili berbagai ekspresi wajah. Ikon-ikon ini terbentuk dari kombinasi tanda baca dan huruf tertentu. Oleh karena itu, emotikon tersebut perlu diputar sembilan puluh derajat searah jarum jam untuk melihat bentuk sempurnanya. Berikut beberapa emotikon tersebut. (Saya sengaja memberikan jarak di antara tiap tanda baca agar tidak secara otomatis diubah ke dalam bentuk emotikon penuh.)</p>
<p>: &#8211; )<br />
: &#8211; (<br />
: &#8211; o<br />
:.. &#8211; (<br />
: &#8211; D<br />
: &#8211; P<br />
; &#8211; )</p>
<p>Emotikon-emotikon tersebut umumnya terdiri dari tiga bagian wajah: yang mewakili bagian mata (diwakili oleh tanda titik dua dan titik koma), mewakili bagian hidung (diwakili oleh tanda hubung), dan mewakili bagian mulut (diwakili oleh tanda kurung pembuka, kurung penutup, dan huruf tertentu). Belakangan, emotikon tersebut mengalami penyingkatan juga. Bagian yang mewakili hidung sering kali tidak disertakan. Selain itu, muncul pula variasi emotikon lain yang tidak melulu merupakan ekspresi wajah manusia, tetapi juga bentuk lain, seperti hewan, bunga, dan sebagainya.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, pengetahuan mengenai kombinasi tanda baca dan huruf tersebut merupakan sesuatu yang tidak diketahui oleh semua orang, terutama dengan bentuk-bentuk tertentu. Akan tetapi, sekarang pengetahuan itu menjadi tidak begitu penting. <em>Instant messenger</em> biasanya sudah menyertakan menu khusus untuk menampilkan sederet emotikon yang bisa dipilih, dengan yang jauh lebih menarik. Selain itu, sekarang <em>instan messenger</em> secara otomatis mengubah kombinasi tanda baca tersebut menjadi emotikon.</p>
<p>Adapun <em>kaomoji</em> merupakan emotikon asal Jepang. Tidak seperti emotikon lain, <em>kaomoji</em> cenderung lebih mudah dipahami. Selain itu, untuk mengetahui ekspresi yang dimaksud, <em>kaomoji</em> tidak perlu diputar sembilan puluh derajat searah jarum jam. Berikut ini beberapa bentuk <em>kaomoji</em>.</p>
<p>(^_^)<br />
(-_-;)<br />
(T_T)<br />
(^@^)<br />
(-_-)y</p>
<p>Nasib <em>kaomoji</em> ini pun sama seperti emotikon pada umumnya. Penyingkatan pun terjadi. Yang paling sering ialah menampilkan mata, yang diwakili dengan tanda ^^.</p>
<p>Bagaimana bahasa Indonesia di dunia maya ini? Saya kira hal-hal berikut ini telah menjadi ciri bahasa Indonesia di dunia maya.</p>
<ul>
<li>Disisipi dengan berbagai istilah atau kosa kata bahasa Inggris. Istilah-istilah ini digunakan dalam beragam konstruksi kalimat bahasa Indonesia. Adapun istilah yang digunakan bisa berupa istilah yang lazim ditemukan di internet (misalnya, <em>install</em>, <em>blogging</em>, <em>googling</em>, dan sebagainya), bisa juga berupa kosa kata bahasa Inggris yang lazim muncul dalam dunia nyata (misalnya,<em> u</em>, <em>thx,</em>dan sebagainya).</li>
<li>Disertai dengan sejumlah singkatan, jika pun tidak sepenuhnya, setidaknya sebagian besar konstruksi kalimat yang disusun.</li>
<li>Kalimat yang digunakan relatif lebih singkat, dan cenderung tidak lengkap.</li>
<li>Dihiasi dengan beragam bentuk emotikon yang fungsinya tidak sekadar menunjukkan ekspresi wajah, tetapi juga menghadirkan warna dalam komunikasi tulisan, dan mungkin juga menunjukkan tingkat pengetahuan partisipan.</li>
<li>Disisipi dengan kosa kata khas penyedia layanan tertentu di dunia internet, seperti facebook, Google, Yahoo!, friendster, Wikipedia, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>Bahasa baku di dunia maya</strong><br />
Seperti halnya di dunia nyata, rasanya sulit menertibkan penggunaan bahasa di dunia maya. Kalaupun kita menemukan situs atau blog yang menggunakan bahasa yang bisa dianggap baku, hampir pasti bahwa situs web atau blog itu merupakan hasil garapan pemerintah atau lembaga-lembaga tertentu. Atau situs web tersebut merupakan situs web universitas atau surat kabar versi dunia maya.</p>
<p><a href="http://budaya-pop.blogspot.com/">Budaya Pop</a> sempat menyinggung hal yang menarik untuk didiskusikan dalam komentarnya pada tulisan saya sebelum ini. Seandainya singkatan-singkatan tersebut menjadi bahasa yang baku, tentu tulisan akan menjadi ringkas. Pertanyaannya, apakah hal itu memungkinkan?</p>
<p>Saya kira, singkatan-singkatan tersebut tidak mungkin dibakukan. Seperti yang kita ketahui, bahasa baku merupakan bahasa yang lengkap sehingga singkatan-singkatan tersebut tidak mungkin digunakan dalam ragam dan situasi yang resmi. Apalagi digunakan dalam tataran akademis.</p>
<p>Tidak hanya di dunia nyata saja, bahkan di dunia maya sekalipun, penggunaan singkatan tersebut belum akan menjadi semacam bahasa baku. Kecuali ada otoritas paling kuat untuk membakukan, singkatan-singkatan tersebut tidak akan dianggap sebagai bagian dari bahasa baku. Bahkan kalaupun otoritas demikian ada, sudah tentu akan mendapat tentangan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, cukuplah menyebutkan bahwa beragam singkatan yang digunakan dalam komunikasi di dunia maya merupakan penanda atau ciri khas komunikasi yang berlangsung.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=201&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 06:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[eBuddy]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Relay Chat]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Media Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Media Telepon Seluler]]></category>
		<category><![CDATA[Nimbuzz]]></category>
		<category><![CDATA[struktur komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo! Messenger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan ngobrol di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (Internet Relay Chat) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin.
Semula, saya menggunakan alamat surat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=197&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan <em>ngobrol</em> di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (<em>Internet Relay Chat</em>) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin.</p>
<p>Semula, saya menggunakan alamat surat elektronik teman saya. Lama-kelamaan, saya berpikir kenapa haru menumpang? Maka saya pun berkenalan dengan situs web yang menyediakan layanan surat elektronik. Saat itu ada <a title="LYCOS Mail" href="http://mail.lycos.com/" target="_blank">Mailcity</a>, <a title="Yahoo!mail" href="http://mail.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo!</a>, dan <a title="Hotmail" href="http://www.hotmail.com/" target="_blank">Hotmail</a> yang saya kenal. Segera setelah memiliki alamat di Mailcity, saya pun memiliki berbagai alamat lainnya yang kini sudah tidak saya ingat lagi. Lalu dimulailah komunikasi berbasis surat elektronik.</p>
<p>Bagaimanapun juga, internet memberikan beragam hal, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan ialah kebebasan menembus ruang. Internet memungkinkan kita untuk melakukan tukar-menukar informasi dalam waktu sesingkat mungkin<span id="more-197"></span>Kehadiran media komunikasi jelas memberi dampak bagi komunikasi itu sendiri. Diiringi dengan perkembangan teknologi, komunikasi pun terasa semakin berwarna. Bila sebelumnya kita hanya bisa menikmati internet dengan menggunakan komputer, kini teknologi telepon seluler memungkinkan kita mengakses dunia melalui telepon seluler. Komunikasi dengan menggunakan internet lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (KMK, <em>Computer-Mediated Communication</em>). Maka komunikasi melalui telepon seluler mungkin bisa kita sebut sebagai Komunikasi Media Telepon Seluler (KMTS, <em>Mobile Phone-Mediated Communication</em>) – pada dasarnya, KMTS tidak terbatas pada komunikasi via jaringan internet, tetapi termasuk juga <em>SMS</em>, <em>EMS</em>, maupun <em>MMS</em>, bahkan surat elektronik pun memungkinkan untuk diakses melalui telepon seluler, meskipun tergantung layanan operator dan fitur telepon seluler itu sendiri.</p>
<p>Adapun komunikasi dengan menggunakan komputer lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (<em>Computer-Mediated Communication</em>). Fasilitasnya jelas bermacam-macam. Selain <em>Internet Relay Chat</em>, dan surat elektronik, kini kita juga mengenal <em>Instant Messenger</em>, bahkan blog dan jaringan sosial semacam <a title="Friendster" href="http://www.friendster.com/" target="_blank">friendster</a>, <a title="Multiply" href="http://www.multiply.com/" target="_blank">Multiply</a>, <a title="facebook" href="http://www.facebook.com/" target="_blank">facebook</a>, <a title="Twitter" href="http://www.twitter.com/" target="_blank">Twitter</a>, kini bisa digunakan sebagai sarana komunikasi.</p>
<p>Saya kira, kita bisa membagi dampak KMK ke dalam dua bagian. Pertama, dampaknya bagi perkembangan bahasa dan kedua dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia. Bagi bahasa Indonesia, internet (dan dengan demikian berkenaan juga dengan teknologi komputer dan dunia maya) memperkaya kosa kata. Berbagai istilah baru bermunculan. Istilah-istilah tersebut mayoritas berasal dari bahasa Inggris.</p>
<p><strong>Dampak bagi perkembangan bahasa</strong><br />
Mengenai kosa kata ini, sesungguhnya pihak Pusat Bahasa sudah melakukan (kalau tidak bisa dibilang menetapkan karena faktanya beberapa pihak mungkin keberatan dengan pilihan pihak Pusat Bahasa) pemadanan terhadap sekian ratus kosa kata dunia komputer/internet ini (jumlah yang saya ingat beberapa waktu lalu mencapai angka tiga ratusan kosa kata). Maka beberapa dari kita akan merasa akrab dengan istilah, seperti <em>unduh</em>, <em>unggah</em>, <em>tetikus</em>, <em>daring</em>,<em> </em>dan sebagainya. Sayangnya (atau malah untungnya?), ada lebih banyak lagi yang tidak akrab dengan padanan-padanan itu. Kebanyakan merasa lebih nyaman menggunakan kata <em>download</em>, <em>up-load</em>, <em>mouse</em>, dan <em>on-line</em>.</p>
<p>Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan beragam istilah baru di dan sekitar dunia maya ini. Beberapa istilah baru bermunculan. Maka kita mengenal kata-kata berikut ini, misalnya, sebagai sesuatu yang lumrah, meskipun beberapa berasal dari nama penyedia layanan.</p>
<p><em>blog<br />
</em><em>blogger</em><em><br />
blogging<br />
chatting<br />
FB/facebook<br />
friendster<br />
googling<br />
IM/Instant messenger<br />
post/posting<br />
Twitter<br />
Wiki/Wikipedia</em></p>
<p>Dalam komunikasi sehari-hari, istilah-istilah tersebut relatif sering muncul, terutama di kalangan para pengguna internet. <a title="The effect of the internet on language and society " href="http://itre.cis.upenn.edu/~myl/languagelog/archives/004215.html" target="_blank">Mark Liberman</a>, misalnya, mencantumkan sebuah komik strip yang menggambarkan percakapan yang menggunakan istilah <em>Wikipedia</em> untuk mencari informasi mengenai sesuatu.</p>
<p>Istilah-istilah yang muncul belakangan ini tidak sekadar diperoleh dari kosa kata baru dari bahasa Inggris yang berkenaan dengan teknologi komputer dan internet, tetapi juga dari nama-nama penyedia layanan tertentu (jaringan sosial, mesin pencari, dan sebagainya). Oleh karena istilah-istilah tersebut umumnya berasal dari bahasa Inggris, fenomena yang merebak sudah tentu fenomena campur kode.</p>
<p>Selain itu, kita juga diperhadapkan pada fenomena penyingkatan kata. Semuanya untuk tujuan mempersingkat waktu. Maka kita pun mengenal singkatan-singkatan, seperti <em>asl pls</em>, <em>km</em>, <em>i c</em>, <em>b4</em>, <em>ol</em>, <em>u</em>, atau <em>w/ </em>untuk <em>with </em>dalam bahasa Inggris, dan sebagainya yang mungkin akan bertambah lagi. (Menarik juga melihat bahwa penyingkatan seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang baru, sementara sekretaris Marcus Tullius Cicero, Tiros, sudah melakukan hal yang sama ketika menyingkat <em>cum</em> (<em>with</em>) menjadi <em>c.</em></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, fenomena ini tidak memunculkan perilaku campur kode. Malah muncul kekhawatiran akibat dampak perkembangan dunia maya ini. Sejumlah media sempat mengangkat hal ini dan mengemukakan bahwa komunikasi melalui media elektronik mulai memberi dampak negatif pada bahasa tulis. <em>The Sun</em> (24 April 2001) memandang fenomena bahasa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi ini merupakan awal dari kematian bahasa Inggris yang baik. Ulasan pada <em>The Sun </em>itu seolah dipertegas lagi dalam <em>The Scotsman</em> (4 Maret 2003), yang mengungkapkan betapa para guru saat itu mulai diperhadapkan pada esai yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris standar, tetapi justru dalam bahasa pesan teks telepon selular yang minimalis dan ringkas.</p>
<p>Maka menarik juga mencermati adakah gejala serupa terjadi di Indonesia. Bagaimana murid-murid yang semakin akrab dengan <a title="Yahoo! Messenger" href="http://messenger.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo! Messenger</a>, <a title="eBuddy" href="http://www.ebuddy.com/" target="_blank">eBuddy</a>, <a title="Nimbuzz" href="http://www.nimbuzz.com/" target="_blank">Nimbuzz</a>, <a title="facebook" href="http://www.facebook.com/" target="_blank">facebook</a>, dan sebagainya itu berbahasa? Adakah ragam singkatan turut bermunculan dalam bahasa tulisan mereka? Bagaimana peran guru  dalam menghadapi fenomena seperti ini?</p>
<p>Akan tetapi, internet/komputer tidak hanya memperkaya kosa kata. Salah satu yang paling penting ialah internet memungkinkan banyak pihak untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan kebahasaan (termasuk bidang ilmu lain). Internet membuka peluang untuk penelitian bahasa dalam ranah yang berbeda daripada biasanya.</p>
<p><strong>Dampak bagi struktur komunikasi</strong><br />
Sampai awal 2000-an, <em>Internet Relay Chat</em> masih menjadi sarana komunikasi yang relatif populer. Setelah itu, <em>Instant Messenger</em> semacam Yahoo! Messenger menjadi salah satu yang relatif umum. Meskipun demikian, prinsip dasarnya tetap sama. Sehingga dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia (termasuk juga bahasa lainnya) secara umum tetap sama.</p>
<p>Black et al sebagaimana diungkapkan <a title="Media, Speech Act Theory and Computer Supported Cooperative Work" href="http://dspace.library.drexel.edu/retrieve/75/hassel_thesis.pdf" target="_blank">Lewis Hassel</a>, menyebutkan bahwa setiap jenis media yang digunakan untuk berkomunikasi akan mempengaruhi struktur interaksi komunikasi. Demikianlah KMK mempengaruhi alur komunikasi selama ini. Sebagai contoh, gangguan yang dialami pengguna KMK berkenaan dengan media yang digunakan. Di kalangan pengguna internet yang mahir, gangguan itu terutama meliputi akses internet yang lambat dan terputusnya sambungan internet. Bandingkan dengan KMTS (dalam hal ini komunikasi yang dilakukan ialah dengan mengakses jaringan internet, bukan melalui <em>SMS</em>, <em>EMS</em>, maupun <em>MMS</em> yang berupa gangguan sinyal seluler dan pulsa yang tidak mencukupi (bagi pengguna layanan prabayar).</p>
<p>Dalam hal struktur, KMK melalui <em>Internet Relay Chat</em> cenderung menghasilkan struktur yang kacau-balau, tidak berurut. Namun, itu bukan berarti bahwa komunikasi yang dilakukan tidak berlangsung dengan baik. Bahkan bila dilihat dari sudut pandang wacana, rangkaian komunikasi tersebut merupakan wacana yang memiliki kesatupaduan. Hal ini, misalnya, dikemukakan oleh Susan Herring dalam tulisannya, <a title="Interactional Coherence in CMC" href="http://csdl2.computer.org/comp/proceedings/hicss/1999/.../00012022.pdf" target="_blank">”Interactional Coherence in CMC”</a>.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=197&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 04:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=186&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan ia tidak mengerjakan PR-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebohongan demi kebohongan bisa muncul dengan lebih banyak lagi mengingat kemajuan teknologi saat ini sangat memungkinkan hal tersebut. Di dunia maya, berbagai praktik kebohongan pun tersebar luas. Yang paling umum tentunya kebohongan seputar jati diri yang dilakukan ketika ceting (<em>chatting</em>). Sementara itu, keberadaan ponsel di dunia nyata juga membuka peluang untuk melakukan kebohongan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-186"></span>Bohong yang muncul di kalangan masyarakat ibu kota yang berhasil saya umumnya terjadi di angkutan umum dan berhubungan dengan tempat. Dari sejumlah kesempatan, mayoritas berbohong kepada mitra tuturnya ketika berbicara dengan media telepon seluler (non-SMS karena bohong melalui SMS tidak mungkin saya lihat, kecuali saya mengenal baik orang yang melakukannya).</p>
<p style="text-align:justify;">Pola bohong yang muncul ada dua. Pola pertama ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan yang sudah lebih jauh di depan posisi orang yang dihubungi. Contohnya saya temukan dalam Bus Transjakarta yang tengah melaju menuju Dukuh Atas dari bilangan Matraman. Seorang penumpang yang kala itu ditelepon oleh rekannya mengaku sudah berada di Dukuh Atas, meskipun nyata-nyata ia masih di bilangan Matraman. Contoh kedua saya temukan ketika menaiki angkutan kota jurusan UKI-Pasar Rebo (461). Seorang pemuda menerima telepon menyebutkan bahwa ia tengah melaju di jalan tol, padahal saat itu masih berada di UKI.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun pola kedua ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan jauh di belakang posisi orang yang tengah dihubungi. Sebagai contoh, seorang yang sebenarnya telah berada di daerah Matraman, mengaku masih berada di Senen ketika dihubungi oleh seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila disederhanakan, pola bohong pertama adalah sebagai berikut.<br />
lokasi saat ini + lokasi lain arah depan
</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-188" title="pola-bohong-2" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-2.gif?w=500&#038;h=104" alt="pola-bohong-2" width="500" height="104" /></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pola bohong kedua:<br />
lokasi belakang + lokasi tujuan
</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-187" title="pola-bohong-1" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-1.gif?w=500&#038;h=187" alt="pola-bohong-1" width="500" height="187" /></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Motif bohong itu pun tentu berbeda-beda. Dalam kasus pertama pola bohong pertama, motifnya bisa untuk memberi kesan bahwa yang bersangkutan sudah akan tiba lebih dahulu di tempat tujuan daripada rekannya. Dalam hal ini, mungkin saja mitra tuturnya sama-sama belum berada di lokasi yang dijanjikan. Sedangkan pada kasus kedua, bohong itu dilakukan untuk memberi kesan bahwa dalam waktu yang relatif singkat yang bersangkutan sudah akan tiba di lokasi perjanjian. Dengan kata lain, mitra tuturnya sangat mungkin sudah berada di lokasi pertemuan. Adapun pada pola kedua, bohong sengaja dilakukan dengan harapan mitra tutur tidak berharap agar yang bersangkutan segera tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang unik, sepertinya bohong seperti itu sudah biasa bagi masyarakat ibu kota. Tidak ada reaksi dari siapa pun yang ada di sekitar orang yang berbohong. Minimal seseorang akan menoleh kepada yang berbohong sebagai reaksi terhadap kebohongan tersebut. Namun, sejauh ini saya malah belum menemukan reaksi serupa. Entah karena berbohong seperti itu benar-benar sudah biasa, entah karena memang tidak mau peduli karena menganggap hal itu bukan tanggung jawabnya, atau entah karena hal-hal lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada penghujung tahun ini, saya kira hal-hal seperti ini patut menjadi perhatian kita. Memang tampak sederhana. Namun, justru dari sinilah mental pribadi yang jujur itu dibentuk. Selamat melangkah ke tahun 2009. Semoga kita bisa lebih jujur pada tahun tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=186&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-2.gif" medium="image">
			<media:title type="html">pola-bohong-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">pola-bohong-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Pesan Natal</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 14:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Campur Kode]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat.
Dengan kata lain, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=167&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, pertama-tama si pengirim akan melakukan <em>semantic encoding</em> dalam benaknya. Kemudian ia merangkai kata-kata dalam rangkaian kalimat lewat grammatical encoding. Ketika selesai, pesan yang sudah tersusun dalam kalimat(-kalimat) itu pun dituturkan. Proses akhir ini disebut <em>phonological encoding</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-167"></span>Sementara bagi penerima pesan, proses yang terjadi justru sebaliknya. Karena mereka mendengar pesan dalam gelombang suara, hal pertama yang terjadi tentulah <em>phonological decoding</em>. Lalu diproseslah getaran-getaran tersebut ke dalam kata demi kata yang membangun pesan itu dalam <em>grammatical decoding</em> sampai akhirnya mereka menangkap maksud pesan tersebut (<em>semantic decoding</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Proses itu akan berbeda ketika ada media yang menjadi sarana komunikasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Black et al (dalam Hassel 1995), keberadaan media akan mempengaruhi struktur interaksi. Dalam proses komunikasi tadi, keberadaan media jelas mengubah proses yang terjadi. Dalam komunikasi tulisan, entah itu melalui surat, surat elektronik, maupun ceting.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila dalam komunikasi lisan proses tersebut meliputi <em>phonological encoding</em> (bagi pengirim pesan) dan <em>phonological decoding</em> (bagi penerima pesan), dalam tulisan proses tersebut hanya sampai pada <em>grammatical encoding</em> dan <em>grammatical decoding</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bandingkan proses komunikasi lisan dengan proses komunikasi yang menggunakan media di bawah ini. Sebagai catatan, komunikasi melalui HP/ponsel dilakukan dengan menggunakan pesan singkat (SMS), bukan dengan bertelepon.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-182" title="bagan-komunikasi-dua-arah2" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-dua-arah2.gif?w=499&#038;h=665" alt="bagan-komunikasi-dua-arah2" width="499" height="665" /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-183" title="bagan-komunikasi-media-dua-arah" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-media-dua-arah.gif?w=500&#038;h=747" alt="bagan-komunikasi-media-dua-arah" width="500" height="747" /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan gangguan pun akan terlihat. Misalnya dalam komunikasi lisan, gangguan bisa berupa kemampuan pendengaran yang berkurang, suasana yang berisik, interupsi dari pihak ketiga, dan sebagainya. Sementara dalam komunikasi dengan media komputer/internet maupun HP, gangguan bisa berupa lambatnya koneksi internet, virus yang menyerang, kode-kode (emotikon maupun kaomoji dan kode-kode lain) yang tidak dipahami salah satu pihak (biasa dipakai untuk maksud tertentu; bahkan penggunaan bahasa asing&#8211;campur kode&#8211;bisa dimunculkan untuk memberi kesan tertentu yang sayangnya tidak selalu bisa dipahami penerima pesan), interupsi pihak ketiga (misalnya dalam ceting), operator seluler yang sibuk, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak masa Adven, hingga Natal kemarin&#8211;kalau Anda merayakannya&#8211;berbagai pesan mulai dari menyambut peringatan kelahiran-Nya, sampai pada berita Natal itu sendiri. Rangkaian pesan ini sesungguhnya sangat berharga. Sebab sering kali pesan Natal ini mengandung teguran, pengajaran, yang pada dasarnya berfungsi sebagai pengingat, pembangun, dan penggerak kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan demi pesan itu bisa sampai kepada masing-masing kita melalui proses yang saya kemukakan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahannya, bagaimana kita mengetahui bahwa pesan Natal itu benar-benar sampai kepada setiap kita? Pesan Natal yang sampai kepada kita itu seperti apa? Pertanyaan ini tidak hanya diajukan kepada kita yang rajin berbibadah sepanjang tahun, tapi juga kepada setiap kita yang menjadi Kristen Napas (Natal dan Paskah).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya, sebuah pesan disebut berhasil disampaikan ketika pihak penerima pesan bisa memahami pesan yang dikomunikasikan. Sebagai contoh, ketika Natal tahun ini menyuarakan tema utama seputar perdamaian (sebagaimana didengungkan oleh PGI), dan kita yang hadir dalam ibadah-ibadah Natal kemarin bisa memahami bahwa sebagai orang Kristen kita harus semakin aktif menyebar perdamaian, berarti kita sudah menangkap pesan yang disampaikan dengan baik. Dengan demikian, pertanyaan pertama tadi boleh dianggap terjawab. Gangguan yang biasa timbul dalam ketika mendengarkan khotbah biasanya berupa rasa kantuk, SMS atau telepon yang tiba-tiba masuk, listrik padam, dan sebagainya. Maka jika digambarkan dalam bagan, kira-kira akan menjadi seperti di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-184" title="bagan-respons" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-respons.gif?w=499&#038;h=857" alt="bagan-respons" width="499" height="857" /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, ketika kita mulai bicara dalam tataran yang jauh melampaui sekadar menerima pesan, rasanya kita patut bertanya lagi pada diri kita sendiri. Pertanyaan kedua mengisyaratkan bahwa ada tahapan yang lebih daripada sekadar menerima pesan, yaitu melakukan pesan yang disampaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat hal ini, sebuah pesan Natal (sebagaimana khotbah-khotbah pada hari-hari biasa) sebenarnya bermakna imperatif. Ada harapan bahwa semua penerima pesan bisa menjalankan pesan yang disampaikan. Jadi, setiap kita yang mendapat pesan Natal ini sebenarnya didorong untuk mempraktikkannya dalam kehidupan keseharian. Ketika berita Natal yang didengungkan tahun ini ialah agar kita berdamai dengan diri sendiri, dengan sesama, dan membawa damai bagi yang lain, pesan Natal itu pun akan benar-benar sukses sampai kepada kita ketika kita tidak hanya memahami, tetapi juga menjalankannya dengan aktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, sebagaimana digambarkan dalam bagan di atas, dalam menjalankan pesan Natal itu pun kita masih akan mengalami gangguan, baik dari dalam diri sendiri (kemalasan, ego, dan sebagainya), maupun dari luar (godaan duniawi). Apalagi kita tidak hanya harus menjalani sisa tahun ini, namun juga tahun yang akan segera dianugerahkan kepada kita. Namun, di sinilah iman dan percaya setiap kita diuji. Dengan berserah pada Sang Juru Selamat, kita akan mampu menaklukkan gangguan-gangguan tersebut sehingga pesan Natal itu bisa kita alirkan kepada sesama, yang mungkin saja akan kembali kepada pengirim pesan semula.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat Natal, selamat menjalankan pesan Natal, baik pada penghujung tahun ini, maupun pada tahun yang segera menjelang. (karena saya percaya Anda semua tentu sudah menerima pesan Natal yang dikomunikasikan sejak beberapa hari yang lalu).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=167&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-dua-arah2.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-komunikasi-dua-arah2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-media-dua-arah.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-komunikasi-media-dua-arah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-respons.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-respons</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Baku dan Benar</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/04/antara-baku-dan-benar/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/04/antara-baku-dan-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 02:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanda Baca]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa baku]]></category>
		<category><![CDATA[serapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Ini masalah yang menarik. Sekaligus menjadi pelajaran penting bagi saya, bagi Anda, bagi yang memang berkunjung da mau membaca blog ini.
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendiskusikan masalah bahasa dengan seorang teman dari kantor saya yang lama. Ia datang dengan mengajukan sebuah kasus: antara telepon dan telefon, yang mana yang benar?
Kebanyakan kita tentu akan memilih kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=165&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Ini masalah yang menarik. Sekaligus menjadi pelajaran penting bagi saya, bagi Anda, bagi yang memang berkunjung da mau membaca blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendiskusikan masalah bahasa dengan seorang teman dari kantor saya yang lama. Ia datang dengan mengajukan sebuah kasus: antara <em>telepon</em> dan <em>telefon</em>, yang mana yang benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan kita tentu akan memilih kata <em>telepon</em> daripada <em>telefon</em>. Memang, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> mendaftarkan kata <em>telepon</em> sebagai kata yang baku, bukan <em>telefon</em>. Namun, justru di sinilah letak masalahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-165"></span><em>Telepon</em> berasal dari kata <em>telephone</em>, dari bahasa Inggris. Berdasarkan aturan pada penyerapan kata atau istilah asing, gugus konsonan <em>ph</em> diserap dan diganti menjadi <em>f</em>. Sehingga seharusnya kita membaca <em>telefon</em> dan bukan <em>telepon</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah kata lain. Misalnya, <em>fonologi</em>, <em>fonem</em>, <em>mikrofon</em>, <em>foto</em>, dan lain-lain. Kalau kita memaksa mengikuti apa yang telanjur terjadi pada kata <em>telepon</em>, kata-kata di atas harusnya kita lafalkan pula sebagai <em>ponologi</em>, <em>ponem</em>, <em>mikropon</em>, dan <em>poto</em>. Faktanya, sekali lagi mengacu pada <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, yang dianggap baku adalah deret pertama yang saya sebutkan, bukan yang terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang mau disampaikan di sini ialah bahwa bahasa yang baku sebenarnya berbeda dengan bahasa yang benar. Baku tidak selalu benar. Bahasa yang baku merupakan bahasa yang standar. Artinya, ditentukan berdasarkan kesepakatan. Dalam hal ini, tampaknya yang bertanggung jawab dalam urusan ini tentu tim penyusun <em>KBBI</em>. Sementara bahasa yang benar adalah bahasa yang mengikuti kaidah, dalam kasus kita ini kaidah penyerapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Konon, Kantor Berita Antara memilih taat kaidah.</p>
<p style="text-align:justify;">Konon, perbandingan antara situs Indonesia yang taat kaidah dan taat kebakuan, menurut Google, adalah berimbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Anda?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=165&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/04/antara-baku-dan-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Refleksi pada Hari Sumpah Pemuda: Bagaimana Kita Berbahasa?</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/10/28/sebuah-refleksi-pada-hari-sumpah-pemuda-bagaimana-kita-berbahasa/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/10/28/sebuah-refleksi-pada-hari-sumpah-pemuda-bagaimana-kita-berbahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 00:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini merupakan salah satu dari dua hari yang sangat spesial bagi bangsa kita. Bila yang pertama merupakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, hari ini merupakan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Memang ada banyak hal yang bisa kita renungkan bersama berkenaan dengan peringatan peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita ini. Namun, mengingat blog ini memang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=163&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini merupakan salah satu dari dua hari yang sangat spesial bagi bangsa kita. Bila yang pertama merupakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, hari ini merupakan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Memang ada banyak hal yang bisa kita renungkan bersama berkenaan dengan peringatan peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita ini. Namun, mengingat blog ini memang khusus berbicara mengenai bahasa dan sastra, saya hendak mempersempit topik pembicaraan tanpa mengesampingkan makna penting lain dari peristiwa Sumpah Pemuda tersebut.</p>
<p>Pemerintah memang telah sejak lama menetapkan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra. Penetapan ini mungkin sekali karena salah satu butir pada Sumpah Pemuda berkenaan dengan bahasa.  Apa pun alasannya, saya kira penetapan ini menunjukkan betapa pemerintah pada masa itu menyadari pentingnya peranan bahasa dan sastra dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (dengan demikian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari). Tidak mengherankan apabila berbagai kegiatan seputar kemampuan berbahasa banyak diselenggarakan.</p>
<p><span id="more-163"></span>Meski demikian, faktanya masih banyak juga yang memandang bahasa dan sastra kita dengan sebelah mata. Dalam hal berbahasa, sebagian besar masih merasa puas apabila pesan yang hendak disampaikan bisa dipahami oleh rekannya, tidak peduli bagaimana pesan itu disampaikan. Akibatnya, timbul beragam gaya berbahasa. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya buruk, dampaknya batas-batas bahasa yang baik dan benar itu pun menjadi kabur.</p>
<p>Sebagai contoh sederhana, orang tua yang terbiasa berbicara dengan bahasa gaul akan kesulitan mewariskan bahasa yang baik dan benar kepada anak(-anaknya). (Dan ketika mereka beranggapan bahwa mengajarkan bahasa adalah tugas guru, berarti mereka sudah mengabaikan tugas mereka sebagai orang tua.) Ketika hal ini terjadi, bisa dibayangkan bagaimana bangsa ini kelak berbahasa.</p>
<p>Hal sederhana lainnya, kita juga sering asal berbicara tanpa memikirkan fakta dan logika yang seharusnya kita sertakan. Terus terang, hal ini sempat terjadi pada saya pagi ini ketika mengirimkan pesan singkat. Karena terlalu bersemangat akan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, saya menyebutkan &#8220;memperingati 80 tahun ikrar bahasa Indonesia sebagai bahasa negara&#8221;. Padahal yang diperingati bukan ikrar bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, melainkan ikrar bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.</p>
<p>Bagaimana dalam hal sastra? Terus terang, agak sulit bagi saya untuk menilai bidang ini. Satu hal yang saya lihat, sastra kita berkembang cukup positif hingga saat ini. Generasi muda penikmat sastra sepertinya juga bertambah. Karya-karya yang dihasilkan pun semakin beragam. Mungkin pengenalan sastra kepada anak-anak merupakan salah satu tantangan bagi setiap orang yang memiliki perhatian pada bidang sastra. Terutama pengenalan akan karya-karya lokal sebelum mengajak mereka lebih mengenal (dan mencintai) karya-karya asing.</p>
<p>Oleh karena itu, ada baiknya bila pada hari ini (dan selanjutnya) kita menerapkan hal-hal berikut.</p>
<ol>
<li>Mengurangi penggunaan bahasa gaul untuk membiasakan diri berbicara secara resmi sekaligus mempraktikkan bahasa yang baik dan benar.</li>
<li>Membiasakan diri menata kalimat dengan baik sebelum bertutur untuk menghindari kesalahpahaman.</li>
<li>Mulai menggali kekayaan nilai pada sastra dan karya yang dihasilkan oleh penulis maupun sastrawan kita.</li>
<li>Memperkenalkan karya sastra (klasik maupun kontemporer) kepada generasi muda (atau anak-anak Anda).</li>
</ol>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=163&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/10/28/sebuah-refleksi-pada-hari-sumpah-pemuda-bagaimana-kita-berbahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Televisi sebagai Media Penyebaran Perilaku Campur Kode</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/28/televisi-sebagai-media-penyebaran-perilaku-campur-kode/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/28/televisi-sebagai-media-penyebaran-perilaku-campur-kode/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 23:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Campur Kode]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku berbahasa]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Harus diakui, perkembangan zaman dalam beberapa tahun terakhir ini semakin mengarahkan masyarakat bahasa untuk tidak hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Setelah bahasa Inggris menjadi bahasa wajib, sejumlah bahasa Asia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea pun mulai menjadi bahasa pendamping.
Tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini pelan-pelan mengarahkan masyarakat bahasa untuk menanggalkan bahasa ibunya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=156&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Harus diakui, perkembangan zaman dalam beberapa tahun terakhir ini semakin mengarahkan masyarakat bahasa untuk tidak hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Setelah bahasa Inggris menjadi bahasa wajib, sejumlah bahasa Asia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea pun mulai menjadi bahasa pendamping.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini pelan-pelan mengarahkan masyarakat bahasa untuk menanggalkan bahasa ibunya. Sehingga bahasa daerah dan bahasa Indonesia rasanya semakin jauh tertinggal. Dengan minimnya perkembangan ilmu yang disajikan dalam bahasa lokal (dan nasional), istilah-istilah asing lebih banyak beredar daripada istilah berbahasa lokal.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-156"></span>Sebut saja istilah-istilah di bidang teknologi informasi (TI). Kencangnya perkembangan dunia TI ini ditambah dengan sangat terlambatnya sosialisasi padanan istilah-istilahnya membuat masyarakat lebih menerima istilah asing daripada padanannya. Tidak hanya itu, kebanyakan orang bahkan lebih suka menyebutkan <em>IT</em>, singkatan dari <em>information technology</em> daripada TI, singkatannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Situasi demikian mendorong kebanyakan orang mulai mencampur bahasa mereka dengan bahasa asing. Perilaku yang mencampur bahasa asing dalam konstruksi bahasa asal, entah itu bahasa daerah, entah bahasa Indonesia, disebut campur kode. Semakin banyak yang berperilaku demikian, semakin berterima pulalah pencampuran ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk pada sumber penyebarannya, campur kode yang mewarnai masyarakat sangat terbantu (dipengaruhi) oleh media. Adapun televisi merupakan salah satu yang sangat berperan besar dalam menumbuhkembangkan perilaku bercampur kode. Apalagi media yang satu ini telah menjadi kebutuhan primer bagi mayoritas penduduk di Indonesia. Maka tidak mengherankan kalau televisi sangat memiliki posisi yang sangat kuat sebagai media penyebaran istilah asing. Bahkan penggunaan bahasa asing untuk memberi nama acara jauh lebih disukai.</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk pada daftar acara televisi pada <em>Kompas</em> hari Jumat, ada sebelas stasiun televisi yang daftar acaranya dipampangkan. Berdasarkan perhitungan, stasiun televisi yang memiliki kecenderungan menggunakan nama acara dalam bahasa asing ialah Metro TV, yaitu sebesar 58,82% dari total acara pada hari Jumat. Pada posisi berikutnya ada Global TV (58,62%) dan Trans7 (45,16%). Adapun TPI lebih banyak memilih nama dalam bahasa Indonesia/daerah, yaitu hanya 10% dari total acara pada hari yang sama saja yang menggunakan bahasa asing sebagai nama acara. Dua posisi berikutnya diikuti oleh TVRI (14,34%) dan SCTV (19,04%).</p>
<p style="text-align:justify;">Secara lengkap, berikut ini hasil penghitungan persentasi tersebut, diurutkan dari stasiun televisi yang paling memiliki kecenderungan menggunakan bahasa asing.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Metro TV<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 41,78% (14 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 58,82% (20 acara)</li>
<li>Global TV<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 41,38% (12 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 58,62% (17 acara)</li>
<li>Trans7<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 54,84% (17 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 45,16% (14 acara)</li>
<li>TV One<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 63,64% (14 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 36,36% (8 acara)</li>
<li>ANTV<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 65,63% (21 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 34,37% (11 acara)</li>
<li>Trans TV<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 66,26% (18 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 33,34% (9 acara)</li>
<li>RCTI<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 76,20% (22 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 23,80% (5 acara)</li>
<li>Indosiar<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 78,95% (15 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 21,05% (4 acara)</li>
<li>SCTV<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 80,96% (17 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 19,04% (4 acara)</li>
<li>TVRI<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 85,66% (26 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 14,34% (4 acara)</li>
<li>TPI<br />
Nama acara berbahasa Indonesia/daerah: 90% (18 acara)<br />
Nama acara berbahasa asing: 10% (2 acara)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan, semua acara televisi yang mengandung bahasa asing, meski hanya satu atau dua kata dianggap acara yang menggunakan bahasa asing.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hitung-hitungan sederhana di atas, saya cukup kaget juga melihat TPI berada pada posisi pertama stasiun televisi yang paling minim menggunakan bahasa asing untuk acara-acara yang mereka tayangkan. Semula saya mengira TVRI akan menempati posisi yang paling sehat dari segi pemilihan nama acara.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, masih ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan lagi. Pertama, berapa besar frekuensi percampuran bahasa dari setiap acara. Apabila percampuran cukup tinggi meski pada acara yang berlabel lokal, tetap saja dampak pencampuran bagi masyarakat bisa menjadi tinggi ketimbang acara dengan nama asing yang frekuensi pencampuran bahasanya lebih rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, seberapa tinggi peringkat televisi tersebut di mata penonton. Stasiun televisi dengan tingkat jumlah penonton yang besar tentu lebih berpeluang menciptakan alam berbahasa. Maka bila jumlah penonton stasiun televisi dengan tingkat percampuran bahasa yang tinggi dapat pula memberi dampak pada terciptanya masyarakat gemar mencampur bahasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanapun juga, kecenderungan pemilihan nama acara dengan bahasa asing menjadi salah satu faktor pembentuk perilaku pencampuran bahasa. Hal ini akan diperkuat dengna fakta bertebarannya penggunaan bahasa yang penuh dengan percampuran pada setiap acara yang disajikan. Dan seiring tingginya frekuensi menonton televisi di kalangan masyarakat, pelan-pelan sikap untuk bercampur kode di kalangan masyarakat akan meningkat pula.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=156&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/28/televisi-sebagai-media-penyebaran-perilaku-campur-kode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibadah dan Ibadat</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/27/ibadah-dan-ibadat/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/27/ibadah-dan-ibadat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 00:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semantik]]></category>
		<category><![CDATA[KBBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membedakan kata ibadah dengan ibadat? Cara yang paling gampang tentu dengan meraih kamus dan melihat apa yang dikatakan kamus tentang kedua kata tersebut. Maka cobalah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga pada halaman 415. Pada halaman pertama dari daftar huruf I itu, kita langsung bertemu dengan kedua kata tersebut.
Baik ibadah, maupun ibadat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=154&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Apa yang membedakan kata <em>ibadah </em>dengan <em>ibadat</em>? Cara yang paling gampang tentu dengan meraih kamus dan melihat apa yang dikatakan kamus tentang kedua kata tersebut. Maka cobalah membuka <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> Edisi Ketiga pada halaman 415. Pada halaman pertama dari daftar huruf I itu, kita langsung bertemu dengan kedua kata tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Baik <em>ibadah</em>, maupun <em>ibadat </em>sepertinya bisa saling menggantikan. Pada lema <em>ibadah</em>, tercantum salah satu artinya ialah ‘ibadat’. Demikian pula sebaliknya. Tapi benarkah keduanya bisa saling menggantikan? Belum tentu! Coba lihat pengertian lain yang ditawarkan oleh <em>KBBI </em>yang ukurannya memang besar itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-154"></span><em>Ibadah </em>merupakan &#8216;perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya&#8217;. Sementara <em>ibadat </em>merupakan &#8217;segala usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, jelaskan perbedaannya? Yang saya lihat, ada perbedaan esensi di antara kedua kata tesebut. Pada kata <em>ibadat</em>, ada kecenderungan kandungan makna ‘melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu (yang lain)’. Penandanya bisa dilihat dari keberadaan kata <em>untuk</em>. Dengan demikian, seseorang <em>beribadat</em> kepada &#8220;sesuatu&#8221; dalam rangka memperoleh sesuatu. Misalnya, <em>beribadat</em> kepada roh penguasa gunung dengan tujuan roh gunung tidak mengganggu kelangsungan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, secara eksplisit hal tersebut tidak terlihat pada kata<em> ibadah</em>. Pada kata <em>ibadah</em>, nuansa makna yang muncul ialah kerelaan hati menyembah kepada Allah tanpa dilandasi keinginan apa pun. Setidaknya, demikianlah yang terlihat dari pengertian yang diberikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari frekuensinya, kebanyakan orang tampaknya lebih senang menggunakan kata <em>ibadah</em> daripada <em>ibadat</em>. Misalnya, dalam kalimat <em>Orang itu benar-benar taat beribadah</em> daripada <em>Orang-orang itu taat beribadat</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua asumsi mengenai hal ini. Pertama, pengucapan kata <em>ibadah</em> jauh lebih mudah dilafalkan daripada kata <em>ibadat</em>. Fonem /t/ jauh lebih berat daripada fonem /h/. Kedua, tentu masalah popularitas. Bagi sebagian besar masyarakat awam, kata <em>ibadah</em> lebih sering melintasi telinga sehingga kecenderungan untuk menggunakan kata tersebut lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam praktiknya, suka tidak suka kita sendiri sebenarnya bisa memberlakukan keduanya secara bergantian. Dalam kurun waktu tertentu, kita cenderung suka <em>beribadat </em>daripada <em>beribadah</em>. Misalnya, kita rajin berdoa (salah satu wujud dari <em>ibadah/ibadat</em>) ketika kita menginginkan sesuatu, entah itu kelulusan, keberhasilan dalam pekerjaan, atau yang lainnya. Maka meskipun kita berkata bahwa kita <em>beribadah</em>, sesungguhnya yang kita lakukan ialah <em>beribadat</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Salahkah kalau kita <em>beribadat</em>? Tidak sepenuhnya salah. Sebab Yesus sendiri menyuruh kita untuk tidak segan-segan datang kepada Bapa dan memanjatkan segala permohonan kita. Tentu yang harus disadari ialah tidak semua permintaan kita akan Ia kabulkan karena sering kali kita sendiri tidak tahu apa yang kita minta.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, adakah kecenderungan pemilihan kata <em>ibadah</em> dan <em>ibadat</em> dilatarbelakangi oleh agama yang dianut? Misalnya, bagi umat Kristen akan cenderung memilih <em>ibadah</em>, sedangkan umat non-Kristen lebih suka <em>ibadat</em>? Tidak tentu juga. Sebagian besar teman-teman non-Kristen saya juga lebih suka menyebut <em>ibadah</em> daripada <em>ibadat</em>. Meski terkesan pemilihan kata ini dilatarbelakangi oleh selera atau gaya tersendiri, sekali lagi, bukan berarti bahwa kata ini bisa digunakan secara bergantian. Maka bagi para penyunting, ada baiknya mencermati makna yang hendak disampaikan penulis sebelum memutuskan untuk mengikuti penulis tanpa melihat arah mana yang hendak dituju.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=154&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/27/ibadah-dan-ibadat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikut yang Mana, Editor dan Ahli Bahasa?</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/01/ikut-yang-mana-editor-dan-ahli-bahasa/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/01/ikut-yang-mana-editor-dan-ahli-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 09:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sikap Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[baku]]></category>
		<category><![CDATA[editor]]></category>
		<category><![CDATA[gaya selingkung]]></category>
		<category><![CDATA[nonbaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung masalah gaya selingkung penerbit. Masing-masing memiliki gaya selingkung sebagai kaidah baku. Alhasil, gaya penerbit A dengan penerbit B akan berbeda, demikian gaya penerbit C dengan penerbit D.
Bagi penerbit, yang paling penting adalah bagaimana isi buku itu dapat dikomunikasikan secara maksimal kepada pembaca. Dengan kata lain, bersama penulis penerbit menyuarakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=152&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung masalah gaya selingkung penerbit. Masing-masing memiliki gaya selingkung sebagai kaidah baku. Alhasil, gaya penerbit A dengan penerbit B akan berbeda, demikian gaya penerbit C dengan penerbit D.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi penerbit, yang paling penting adalah bagaimana isi buku itu dapat dikomunikasikan secara maksimal kepada pembaca. Dengan kata lain, bersama penulis penerbit menyuarakan pesan tertentu sebuah buku. Tentu saja bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan lingkup pembaca yang disasar oleh buku tersebut. Tidak heran bila ada penerbit yang memilih gaya selingkung yang mengikuti bahasa pembaca.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-152"></span>Meski demikian, hal ini turut menimbulkan masalah bahasa. Ketika mencermati bahasa yang berlaku di kalangan pengguna bahasa (masyarakat), ada lebih banyak bentuk yang tidak baku yang akan ditemukan. Maka ketika penerbit lebih memilih menggunakan bahasa-bahasa yang notabene nonbaku agar lebih “manusiawi”, sudah bisa ditebak bahwa unsur pembinaan akan terpinggirkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kolom bahasa pada harian <em>Kompas</em> (23 Mei 2008), Lie Charlie sempat mengemukakan kekesalannya akibat banyak editor yang memilih menggunakan kata <em>memerhatikan</em> daripada kata <em>memperhatikan</em>. Alasannya, kata dasarnya bukan <em>perhati</em> sebagaimana disebutkan dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> Edisi Ketiga, melainkan <em>hati</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lama ini pun, saya mendapatkan ada banyak bentuk yang tidak baku dalam sebuah buku yang ditulis oleh Guru Besar Universitas Indonesia, Harimurti Kridalaksana. Dalam buku tipis mengenai Ferdinand de Saussure itu, saya menemukan <em>Bahasa Hatti</em> daripada <em>bahasa</em> <em>Hatti</em>, atau <em>hakekat</em> daripada <em>hakikat</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan dengan ini, ada dua asumsi yang muncul dalam benak saya. Asumsi pertama, seperti yang dialami Lie Charlie, editor buku tersebutlah yang mengganti beberapa bentuk baku itu. Alasannya, mungkin, adalah gaya selingkung penerbit demi menjaga konsistensi yang telah berlaku di penerbit terkait selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Asumsi kedua ialah bentuk nonbaku itu justru datang dari penulisnya sendiri. Mungkin asumsi ini terkesan terlalu berani, meski bukan tidak mungkin gaya bahasa dari penulis memang demikian. Apalagi nama besar penulis yang sudah banyak asam garam (meskipun sebagian orang bisa memandang tragis, mengapa seorang pakar linguistik justru menggunakan bentuk-bentuk yang nonbaku). Salah satu alasannya, antara <em>hakikat</em> dan <em>hakekat</em> hanya dibedakan oleh satu huruf saja. Perbedaan itu sendiri bersifat nondistingtif alias tidak membedakan makna. Sehingga prinsip yang bisa ditarik dalam hal ini ialah selama tidak membedakan makna, sah-sah saja menggunakan bentuk tertentu, meskipun nonbaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesulitan dari dua asumsi saya di atas ialah masyarakat awam akan mengalami kebingungan. Pada kasus pertama, pembaca akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang pakar bahasa justru tidak mengutamakan bentuk-bentuk yang baku? Alhasil, pembaca justru akan memberikan pandangan keliru terhadap penulis yang ketepatan merupakan pakar linguistik itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara pada kasus kedua, kita tidak hanya dibuat bingung oleh bentuk yang dikatakan baku itu bentuk yang bagaimana. Apakah bentuk yang baku hanya kalau kita mengikuti Pedoman Ejaan yang Disempurnakan? (Padahal buku pedoman yang banyak beredar belakangan ini pun turut menyumbangkan kebingungan karena ada banyak salah ketik di dalamnya, terutama yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil.) Ataukah bentuk yang digunakan oleh sang pakar itulah yang baku?</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, ada baiknya kita mempertimbangkan beberapa hal berikut.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Setiap penerbit memiliki gaya selingkung tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Editor yang mewakili penerbit biasanya akan memilih gaya yang sudah ditentukan penerbit tempatnya bernaung.</li>
<li>Tidak semua gaya selingkung penerbit mengikuti bahasa yang baku. Sebaliknya, tidak semua penerbit memilih untuk tidak mengikuti kaidah kebakuan bahasa.</li>
<li>Tidak semua pakar linguistik memilih untuk menulis dengan bahasa yang baku, tergantung pembaca yang menjadi sasarannya.</li>
<li>Masing-masing pakar linguistik itu sendiri memiliki gaya bahasa tersendiri yang berbeda di kalangan mereka. </li>
<li>Seluruh buku (dan bahan-bahan cetakan lainnya) yang diterbitkan penerbit mana pun tidak selalu dapat dijadikan pedoman atau patokan bahasa Indonesia yang baku.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Salah satu yang mestinya menjadi pertimbangan, baik bagi penerbit maupun bagi penulis ialah bagaimana sebuah buku disajikan dengan bahasa yang baik dan benar demi memasyarakatkan kebiasaan berbahasa Indonesia yang juga baik dan benar di kalangan masyarakat luas. Meski ada banyak buku yang mengulas berbagai kekeliruan dalam berbahasa, toh akan lebih baik kalau semua bahan tercetak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Dengan demikian, para editor pun wajib mengikuti perkembangan ilmu bahasa guna memperbarui bank datanya perihal bentuk-bentuk baku dan nonbaku. Sebab pengetahuan seputar tata bahasa bahasa Indonesia menjadi hal yang sangat mendasar bagi seorang editor.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=152&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/07/01/ikut-yang-mana-editor-dan-ahli-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Injil Kelima?</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/06/20/injil-kelima/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/06/20/injil-kelima/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 14:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Kekristenan]]></category>
		<category><![CDATA[Salah Kaprah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata untuk mendapatkan informasi yang aneh sekaligus menggelitik seputar bahasa, kita tidak perlu mencarinya ke mana-mana. Cukup mencarinya di dalam gereja. Cobalah Anda mencermati apa yang terjadi di lingkungan gereja, dan Anda akan menemukan sejumlah keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Salah satunya telah saya kemukakan di blog ini, yaitu berkenaan dengan penggunaan kata daripada dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=149&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Ternyata untuk mendapatkan informasi yang aneh sekaligus menggelitik seputar bahasa, kita tidak perlu mencarinya ke mana-mana. Cukup mencarinya di dalam gereja. Cobalah Anda mencermati apa yang terjadi di lingkungan gereja, dan Anda akan menemukan sejumlah keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Salah satunya telah saya kemukakan di blog ini, yaitu berkenaan dengan penggunaan kata <a title="Daripada" href="http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/05/30/daripada/" target="_blank"><em>daripada</em></a> dalam Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal berikut yang saya temukan tergolong mengejutkan. Seakan-akan hendak meneruskan kontroversi setelah beberapa waktu terakhir kita “diperkenalkan kembali” dengan Injil selain yang sudah kita kenal. Berbeda dengan Injil lain yang telah diungkapkan itu, saya malah diperkenalkan dengan Injil lain yang berasal dari kanon Alkitab.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-149"></span>“Pemaklumatan” Injil kelima setelah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes itu terjadi di sebuah gereja di sekitar Pondok Gede. Tepat ketika pembacaan firman Tuhan hendak dilakukan, majelis yang bertugas mengajak umat berdiri dan berkata, “Pembacaan Injil kali ini terambil dari Kisah Para Rasul 5 (ayatnya saya lupa).” Terkejut mendengar hal ini, saya melirik kertas tata ibadah yang ternyata menuliskan hal yang sama. Hal ini terulang lagi pada pekan berikut yang juga mengambil salah satu bagian dari Kisah Para Rasul.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski bisa mengikuti khotbah yang disampaikan dengan baik, pernyataan tersebut tetap mengusik saya. Apakah yang menyebabkan majelis tersebut (dan juga tata ibadah saat itu) menyatakan Kisah Para Rasul sebagai Injil?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, Injil disebut <em>euaggelion</em>. Artinya, ‘kabar baik’. Kalau mau dirunut, khotbah yang disampaikan setiap hari Minggu bisa berfungsi sebagai sarana pemberitaan kabar baik dari mana pun bagian Alkitab yang diambil. Khotbah itu bisa memberikan teguran, penghiburan, maupun peneguhan. Semua itu kalau jatuh di tanah yang baik akan berbuah baik pula (Matius 13:8; Markus 4:20; Lukas 8:8).  Dengan demikian, pemberitaan firman Tuhan itu bersifat seperti tindak tutur yang bermakna implikatur. Jadi, “kabar baik” itu tidak sekadar bagi yang mendengar, tetapi juga bagi mereka yang ada di sekitar orang yang mendengar. Dalam bahasa kaum sekular, khotbah itu harus mendorong orang untuk membuahkan perilaku yang positif dan membangun bagi dirinya dan sesamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat esensi pemberitaan firman Tuhan yang demikian, khotbah yang diambil dari Kisah Para Rasul dalam dua pekan berturut-turut itu memang bersifat Injil, ‘kabar baik’. Mungkinkah ini yang menyebabkan majelis gereja tersebut menyatakan Kisah Para Rasul sebagai Injil kelima? Bisa jadi. Tapi apakah dapat diterima? Saya kira sulit menerimanya demikian karena kalau diperhatikan keempat Injil itu sudah berbeda dengan Kisah Para Rasul. (Bahkan Injil itu sendiri terdiri dari dua, Injil Sinoptis [Matius, Markus, Lukas], dan Injil Yohanes.) Adapun Kisah Para Rasul sendiri bisa dipandang sebagai kitab sejarah mengingat kitab tersebut mengisahkan perjalanan para rasul dalam memberitakan Injil dengan dominasi pemberitaan oleh Paulus. Ada pula yang memandang kitab ini sebagai lanjutan dari Injil Lukas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinan lain ialah tak lebih dari sebuah salah kaprah belaka. Meski demikian, salah kaprah ini (dan banyak salah kaprah lainnya) bisa dianggap fatal juga. Dalam keseharian, ada banyak orang Kristen yang menyebut Injil sebagai kitab suci umat Kristen. Padahal Injil hanya salah satu bagian dalam Alkitab yang terdiri dari 66 “kitab” (pembahasan mengenai “kitab” ini akan saya sambung dalam tulisan berikutnya). Atau menyebutkan Injil untuk mengacu kepada Perjanjian Baru saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, pernyataan bahwa Kisah Para Rasul merupakan Injil, menurut saya, patut dikoreksi. Tidak hanya karena bertentangan dengan kanon yang sudah ditentukan, tetapi karena esensi dasarnya, kitab tersebut tidak bercerita tentang karya dan kehidupan Yesus. Kisah Para Rasul menuturkan Tuhan yang bekerja melalui para rasul, dengan kata lain implikasi dari teladan yang telah diberikan Yesus. Sedangkan Injil menuturkan karya dan kehidupan Yesus.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah kaprah seperti ini jelas bisa menggiring jemaat untuk memahami Alkitab secara keliru. Meski istilah-istilah itu memang tidak termasuk hal yang paling penting, pengenalan akan hal-hal tersebut bisa menjadi salah satu tolok ukur pemahaman. Lagi pula, dengan mengenal istilah-istilah tersebut, jemaat belajar untuk tidak sekadar menyamakan bagian-bagian Alkitab yang sebenarnya memiliki ciri khas dan tujuan yang khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, kalau Anda adalah seorang Kristen, ada baiknya Anda mulai memikirkan jauh daripada hal-hal praktis sehingga pemahaman Anda sebagai orang Kristen semakin lebih baik. Tentulah tidak sekadar belajar secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai kekristenan: mewartakan kasih Kristus dalam karya dan karsa bagi sesama.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&blog=659444&post=149&subd=indonesiasaram&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/06/20/injil-kelima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>