<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Corat-Coret Bahasa</title>
	<atom:link href="http://indonesiasaram.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiasaram.wordpress.com</link>
	<description>blognya pengutak-atik bahasa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Sep 2011 14:23:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='indonesiasaram.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Corat-Coret Bahasa</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://indonesiasaram.wordpress.com/osd.xml" title="Corat-Coret Bahasa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://indonesiasaram.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Suatu Ketika &#8230;</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2011/08/31/suatu-ketika/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2011/08/31/suatu-ketika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 19:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[tulis-menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang tentu akan merasa akrab dengan tulisan yang dibuka dengan Suatu ketika. Tulisan yang diawali dengan frasa seperti itu akan langsung dikenali sebagai sebuah tulisan bergenre dongeng. Tentu saja tidak hanya Suatu ketika yang dapat kita temui. Variasi lainnya, misalnya Pada suatu ketika, Pada zaman dahulu kala, atau Alkisah. Saya teringat, beberapa waktu lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=262&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Kebanyakan orang tentu akan merasa akrab dengan tulisan yang dibuka dengan <em>Suatu ketika</em>. Tulisan yang diawali dengan frasa seperti itu akan langsung dikenali sebagai sebuah tulisan bergenre dongeng. Tentu saja tidak hanya <em>Suatu ketika</em> yang dapat kita temui. Variasi lainnya, misalnya <em>Pada suatu ketika</em>, <em>Pada zaman dahulu kala</em>, atau <em>Alkisah</em>.</p>
<p>Saya teringat, beberapa waktu lalu seorang teman bertanya melalui sebuah situs jejaring sosial bagaimana melakukan pembukaan sebuah cerita tanpa menggunakan pola klasik seperti tadi. Mudah saja. Kita bisa membukanya dengan memberikan deskripsi tentang berbagai hal. Misalnya, menggambarkan waktu, menggambarkan raut muka dan ekspresi salah satu tokoh dalam cerita yang hendak diangkat, dan sebagainya.</p>
<p><span id="more-262"></span>Dalam sejumlah cerita, penggunaan pola &#8220;klasik&#8221; seperti diungkapkan sebelumnya memang tidak lagi menjadi pilihan. Beberapa contoh dapat kita lihat berikut ini.</p>
<blockquote><p>Silas Heap merapatkan jubahnya, menahan dinginnya salju. (Sage, Angie. 2007. <em>Septimus Heap: Magyk.</em> Terj. Febri Elviria. Jakarta: Penerbit Matahati. Hlm. 9.)</p>
<p>Bunyi yang terdengar sayup-sayup—gesekan lembut antara baja dan batu, diikuti derap langkah dan gerakan kaki yang asing di telinganya—memberitahu pria itu bahwa para tamunya telah tiba. (Owen, James A. 2010. <em>The Imaginarium Geographica 1: Here, There Be Dragons</em>. Terj. Berliani M. Nugrahani. Jakarta: Penerbit Matahati. Hlm. 7.)</p>
<p>Kapal laut itu mengapung malas di perairan licin bagaikan ubur-ubur mengambang. (Yourcenar, Marguerite. 2007. ”Senyum Marko”, dalam <em>Cerita-Cerita Timur</em>. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm. 26.)</p>
<p>Lindenfield sangat gersang pada musim dingin. (Martin, Ann M. 2007. <em>Kisah Seekor Anjing</em>. Terj. Tanti Lesmana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)</p></blockquote>
<p>Mungkinkah mengawali sebuah cerita dengan sebuah kalimat langsung? Atau dialog? Silakan saja. Maka kita bisa saja menulis seperti berikut ini.</p>
<blockquote><p>”Tibbe! Mana Tibbe? Ada yang lihat Tibbe? Dia harus menemui Bos. Di mana sih dia? <em>Tibbe!</em>” (Schmidt, Annie M.G. 2007. <em>Minoes</em>. Terj. R. Indira Ismail. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 7.)</p></blockquote>
<p>Akan tetapi, model pembuka cerita yang klasik pun terbukti masih lazim ditemukan bahkan pada cerita-cerita yang ditulis belakangan ini. Coba simak contoh-contoh berikut ini.</p>
<blockquote><p>Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. (Funke, Cornelia. 2009. <em>Tintenherz.</em> Terj. Dinyah Latuconsina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 9.)</p>
<p>Dahulu, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci yang hampir seluruhnya terbuat dari porselen. (DiCamillo, Kate. 2006. <em>The Miraculous Journey of Edward Tulane</em>. Terj. Dini Pandia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 11.)</p>
<p>Di suatu masa, tersebutlah sebuah kota kecil yang diapit hutan lebat dan bukit rumput landai. (Kadono, Eiko. 2006. <em>Titipan Kilat Penyihir</em>. Terj. Dina Faoziah dan Junko Miyamoto. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 9.)</p></blockquote>
<p>Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat diawali dengan banyak cara, banyak hal. Adakah cara mengawali cerita selain contoh-contoh di atas? Bisa saja. Bisa saja cerita itu diawali dengan salam pembuka sebuah surat. Bisa saja penggalan puisi mengawalinya. Bagaimanapun juga,</p>
<p>Saya percaya, tidak ada hukum atau kewajiban bagi penulis untuk memulai ceritanya, dongengnya, dengan menggunakan frasa tertentu. Anda boleh saja menggunakan <em>Alkisah</em> daripada <em>Pada zaman dahulu kala</em>. Namun, Anda juga boleh menggunakan model-model pembukaan cerita lainnya, seperti sejumlah contoh di atas.</p>
<p>Pembukaan sebuah cerita jelas merupakan sesuatu yang penting. Terpikat tidaknya pembaca bisa ditentukan dari cara kita mengawali cerita. Namun, saya masih berpikir bahwa ketika cerita yang Anda tulis adalah sebuah dongeng, tidak ada yang akan menyalahkan Anda kalau membuka cerita dengan gaya klasik. Bagi saya kalimat pembuka itu hanya semacam pengantar. Bagaimana Anda membangun cerita, membangun karakter tiap tokoh, menyusun alur cerita, hal-hal seperti itulah yang akan menentukan kualitas isi cerita.</p>
<p>Jadi, jangan ragu untuk menggunakan <em>Pada suatu ketika</em>. Jangan ragu menggunakan <em>”Pencuri! Pencuri!”</em> untuk mengawali cerita. Saya sendiri masih akan memulai dongeng saya dengan <em>Pada zaman dahulu kala</em>, <em>Pada suatu ketika</em>, <em>Alkisah</em>, dan sebagainya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=262&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2011/08/31/suatu-ketika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>D&#8217;ArtBeat dan Trilogi Panggung Kehidupan</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/23/dartbeat-dan-trilogi-panggung-kehidupan/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/23/dartbeat-dan-trilogi-panggung-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 17:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[D'ArtBeat]]></category>
		<category><![CDATA[drama musikal]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[Trilogi Panggung Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta memang memberikan berbagai kesempatan. Salah satunya kesempatan menikmati kegiatan seni dan budaya. Setelah sebelumnya menikmati pagelaran wayang orang, Petroek Ngimpi yang dibawakan oleh Paguyuban Gumathok dan Wayang Orang Bharata di TIM, 26 Agustus 2010 lalu, kesempatan menikmati drama musikal pun hadir pula. Adalah D’ArtBeat yang menyajikan drama musikal tersebut. Dalam pementasan mereka di Pusat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=253&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" title="Satu Kata yang Terlupa" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs444.ash2/71788_1596373385296_1114820351_31677575_1376374_n.jpg" alt="" width="316" height="236" />Jakarta memang memberikan berbagai kesempatan. Salah satunya  kesempatan menikmati kegiatan seni dan budaya. Setelah sebelumnya  menikmati pagelaran wayang orang, Petroek Ngimpi yang dibawakan oleh  Paguyuban Gumathok dan Wayang Orang Bharata di TIM, 26 Agustus 2010  lalu, kesempatan menikmati drama musikal pun hadir pula.</p>
<p>Adalah D’ArtBeat yang menyajikan drama musikal tersebut. Dalam  pementasan mereka di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, 25  September 2010 lalu, mereka mengusung drama bertajuk ”Satu Kata yang  Terlupa”. Pagelaran ini merupakan kelanjutan dari Road Show Trilogi  Panggung Kehidupan yang sebelumnya juga menampilkan drama musikal,  ”Pulang”.</p>
<p><span id="more-253"></span>D’ArtBeat  sendiri merupakan sebuah wadah dalam dunia seni kreatif  yang mengusung  visi menyatakan kasih, kebenaran, dan kuasa Allah melalui karya seni.  D’ArtBeat ingin mengajak tiap penikmatnya untuk memiliki sikap hidup  yang berkenan kepada Tuhan.</p>
<p>Dalam pertunjukan yang digelar September lalu itu, saya beruntung  mendapatkan akses khusus sehingga bisa menikmati fasilitas VIP. Ini  jelas memberikan keleluasaan dalam mengeksplorasi panggung, termasuk  mengamati gerak-gerik dan ekspresi wajah dari tiap orang yang tampil di  panggung tersebut.</p>
<p><strong>Pembuktian eksistensi diri</strong><br />
”Satu Kata yang Tertunda” diangkat dari kisah nyata, berkisah tentang  Mei Chen, gadis yang cacat karena ibunya berupaya menggugurkannya ketika  ia masih berada dalam kandungan. Pada hari kelulusannya, ia bertengkar  hebat dengan ibunya. Merasa bahwa keberadaannya tidak diinginkan, ia  memilih minggat di tengah guyuran hujan. Tekadnya bulat, ia ingin  membuktikan eksistensinya sebagai manusia.</p>
<p>Dengan uang yang ia tabung, ia berangkat ke Yogya. Di sana ia  menumpang pada Ibu Minarni, yang pernah menjadi gurunya di kota asalnya.  Hidup seorang diri setelah ditinggal sang suami yang meninggal dan  tanpa seorang pun anak, ditambah dengan keteguhan hati Mei Chen membuat  Ibu Minarni bersedia menampung muridnya itu. Tidak hanya itu, ia juga  menyekolahkan Mei Chen hingga berhasil lulus dan akhirnya menjadi  pengusaha yang sukses.</p>
<p>Hidup dalam kesuksesan, tidaklah membuat Mei Chen benar-benar tenang.  Meskipun ia sangat mengasihi dan menghormati Bu Minarni, satu hal  menyangkut relasinya dengan ibunya membuat ia tidak kunjung mendapatkan  kedamaian.</p>
<p><strong>Penuh nilai</strong><br />
Harus diakui, drama musikal ini memang sarat dengan nilai. Hadir dengan  plot yang sangat sederhana, rasanya tidak mungkin penonton tidak  menangkap pesan-pesan yang dihadirkan. Karakter-karakter yang diwujudkan  juga menunjukkan sejumlah nilai yang bisa dipelajari.</p>
<p>Sosok Mei Chen mewakili sikap yang teguh dan berani. Meskipun merasa  sesak karena keberadaannya tidak diinginkan sang ibu, ia berpendirian  teguh. Ia berani memutuskan nasibnya, keluar dari rumah, dan nekad  mencari gurunya, Ibu Minarni, ke Yogya. Mei Chen juga mewakili sikap  yang tidak mau kalah dengan kekurangannya, menutupinya dengan kerajinan  dan ketekunan. Guna mencukupi kebutuhan hidup bersama Ibu Minarni,  diiringi keinginan untuk berguna, ia menjual kue-kue. Ketekunannya juga  ditunjukkan dengan keberhasilan dalam studi dan kariernya sebagai  pengusaha.</p>
<p>Ibu Minarni sendiri mewakili pribadi yang rela menolong. Bahkan tidak  setengah-setengah dalam menolong sesama. Tidak hanya menampung Mei  Chen, tetapi juga menyekolahkannya.  Dengan penuh pengertian pula ia  mendorong Mei Chen untuk pergi menemui ibunya.</p>
<p>Adapun Tante Lin bisa dianggap sebagai sosok yang memiliki belas  kasihan, tetapi tidak mampu mewujudkannya karena keterbatasannya.  Meskipun demikian, sosoknya ini menunjukkan ketulusan dalam upayanya  untuk tetap mengasihi Mei Chen.</p>
<p>Drama ini sendiri bisa dianggap sebagai drama yang menggambarkan  keteguhan hati, pengucapan syukur, dengan penekanan pada pentingnya  mengesampingkan ego untuk memberi ruang bagi pengampunan dan penyesalan.</p>
<p><strong>Plus-minus pertunjukan</strong><br />
Para pemeran tampak total memerankan tokoh yang dipercayakan kepada  mereka. Dalam babak pertama, penonton yang tidak siap, mungkin akan  merasa tersentak mendengar Mei Chen (diperankan dengan baik oleh Yuli  Jo) berbicara dengan nada yang tinggi kepada ibunya (Sri Rachmayanti).</p>
<p>Kinerja tim panggung juga luar biasa. Dengan sigap mereka menyulap  panggung dan menyajikan latar yang mendukung cerita. Bila babak pertama  mereka menghadirkan suasana rumah Mei Chen yang berdindingkan papan,  dengan perabot seadanya, babak kedua dan ketiga mereka menghadirkan  suasana rumah Ibu Minarni yang khas bergaya rumah Jawa, dengan perabot  anyaman, sederhana, namun rapi. Babak keempat, dihadirkanlah kantor Mei  Chen, yang telah sukses sebagai pengusaha. Dan pada babak terakhir,  mereka kembali menyulap panggung ke rumah Mei Chen.</p>
<p>Pementasan drama musikal ini sendiri sebenarnya bukan tanpa  kekurangan. Pada babak kedua, terdapat gangguan pada alat pengeras suara  yang digunakan oleh Yessy Natalia, pemeran Ibu Minarni. Suaranya  terputus-putus. Hal ini ternyata berlanjut hingga babak-babak  berikutnya.</p>
<p>Jalan cerita disajikan dengan sangat sederhana sehingga penonton  tentu mudah mencerna kisah ini. Hanya saja para penonton tidak pernah  tahu kota asal Mei Chen, setidaknya sampai pada babak keempat. Meski  demikian, hal ini cukup dapat dimaklumi karena informasi tersebut,  meskipun dapat mendukung kekuatan cerita, dalam pementasan ini tidak  berperan vital. Mungkin ini pula alasan mengapa sang sutradara tidak  menekankan pentingnya dikemukakan hal ini.</p>
<p>Hal lainnya, sebagian penonton mungkin merasa aneh ketika suasana  duka dimunculkan pada babak terakhir. Dikisahkan bahwa Mei Chen bukanlah  satu-satunya anak dari Mama Giok, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa  saudara-saudaranya yang lain hadir dalam kedukaan tersebut. Yang ada  hanyalah beberapa orang yang tampaknya berperan sebagai tetangga. Dalam  hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, kedukaan tersebut memang baru  terjadi sehingga yang paling wajar adalah kehadiran para tetangga. Besar  kemungkinan saudara-saudara Mei Chen tidak lagi tinggal bersama Mama  Giok. Kedua, ini merupakan bagian yang didramatisasi oleh sutradara.</p>
<p>Ketidakjelasan ini memang bisa saja menjadi kelebihan daripada  kekurangan. Di sinilah para penonton bisa menafsirkan suasana dengan  lebih bebas daripada sekadar mengikuti paparan sang sutradara.</p>
<p>Akan tetapi, kekurangan terbesar justru hadir pada penghujung  pertunjukan. Pemaparan nilai-nilai yang dihadirkan dalam drama ini jelas  merupakan sebuah kekeliruan terbesar. Pertama, ini mengesankan penonton  tidak cukup cerdas untuk menangkap pesan yang disampaikan. Apalagi  drama ini sangat gamblang dalam memaparkan nilai-nilai yang dimaksud.  Akibatnya, tidak hanya terkesan terlalu menggurui, tetapi juga terkesan  sangat mubazir.</p>
<p><strong>Bukan satu-satunya pertunjukan</strong><br />
Pementasan drama musikal ini tidak menjadi satu-satunya pertunjukan.  D’Art Beat Dance Into Anointing dan D’Art Beat Kids mengawali  pertunjukan Sabtu itu. Plus persembahan nyanyian bernuansa oriental yang  dibawakan oleh Spectrum Choir. Tiga pertunjukan awal ini jelas hendak  menegaskan bahwa seni teater bukan satu-satunya yang digarap oleh  D’ArtBeat.</p>
<p>Meskipun menjadi pembuka, tiga pertunjukan awal ini tidak kalah  bermaknanya. Kalau D’Art Beat Dance Into Anointing membawakan nuansa  Barat, D’Art Beat Kids membawakan nuansa Nusantara, dan Spectrum Choir  menghadirkan nuansa oriental. Semua ini hendak menunjukkan kemajemukan  Indonesia saat ini, setidaknya demikian yang dijelaskan oleh pembawa  acara.</p>
<p><strong>Trilogi Panggung Kehidupan</strong><br />
<img class="alignright" style="margin:10px;" title="Trilogi Panggung Kehidupan" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs769.snc4/66916_1596389065688_1114820351_31677595_4445887_n.jpg" alt="" width="302" height="403" />Tema yang diangkat dalam pertunjukan kedua ini memang berbeda ketimbang  ”Pulang”, yang dipentaskan di The Upper Room (21/8), meskipun sama-sama  mengedepankan perempuan sebagai tokoh utamanya. Adapun ”Pulang”  mengangkat kisah Nina, yang pergi ke Jakarta, mencari laki-laki yang  menghamilinya tanpa ikatan nikah. Alih-alih menemukan pria itu, ia malah  terperosok ke dalam kehidupan bebas yang tanpa kepastian.</p>
<p>Drama pembuka Trilogi Panggung Kehidupan ini merupakan adaptasi dari karya Wynyard Browne, <em>The Holy and the Ivy</em>.  Teguh Karya pernah pula mengadaptasi karya tersebut pada akhir 1987  yang kemudian ditayangkan TVRI sebagai drama televisi berjudul ”Pulang”.</p>
<p>Puncak Trilogi Panggung Kehidupan rencananya akan digelar di Taman  Ismail Marzuki pada bulan April 2011, bertepatan dengan ”bulan Kartini”.  Drama musikal yang diberi judul ”Diva” ini baru memasuki tahap audisi  pada 16 Oktober yang lalu. Dalam kesempatan berbincang dengan sang  sutradara waktu itu, untuk tokoh utamanya memang butuh sosok yang  istimewa. Sebut saja, dari latar etnisnya; yang satu mesti berwajah  Belanda, yang satu yang berwajah lokal, yang lain berwajah oriental, dan  harus cantik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Foto-foto: Maxdalena</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=253&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/23/dartbeat-dan-trilogi-panggung-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs444.ash2/71788_1596373385296_1114820351_31677575_1376374_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Satu Kata yang Terlupa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs769.snc4/66916_1596389065688_1114820351_31677595_4445887_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Trilogi Panggung Kehidupan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Kabar Corat-Coret Bahasa?</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/17/apa-kabar-corat-coret-bahasa/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/17/apa-kabar-corat-coret-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 16:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Begitu kira-kira pertanyaan seorang kenalan saya. Persisnya tidak begitu karena ia bertanya melalui pesan pendek. Saya hanya bisa meringis melihat pesan pendek tersebut. Praktis sejak monolog Luna Vidya, saya tak kunjung membenahi blog ini. Sekarang malah sudah memasuki pertengahan bulan Oktober, bulan yang diakui sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia. Saya pikir, ini merupakan momen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=250&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu kira-kira pertanyaan seorang kenalan saya. Persisnya tidak begitu karena ia bertanya melalui pesan pendek. Saya hanya bisa meringis melihat pesan pendek tersebut. Praktis sejak monolog Luna Vidya, saya tak kunjung membenahi blog ini.</p>
<p>Sekarang malah sudah memasuki pertengahan bulan Oktober, bulan yang diakui sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia. Saya pikir, ini merupakan momen penting bagi saya secara pribadi. Pertama, ini jelas menjadi semacam cambuk yang mengingatkan saya lagi pada komitmen semula menghadirkan situs blog ini. Kedua, mengingatkan saya bahwa ada begitu banyak hal yang terabaikan oleh kesibukan selama ini.</p>
<p><span id="more-250"></span>Tentulah Anda menyadari perubahan pada blog ini. Perubahan tampilan ini merupakan salah satu upaya saya menunjukkan bahwa Corat-Coret Bahasa masih menjadi perhatian saya. Selain itu, perubahan tampilan ini juga menjadi titik awal komitmen baru saya.</p>
<p>Meskipun demikian, saya harus beri catatan, tampilan saat ini belum menjadi tampilan akhir.  Saya melihat ada beberapa tema latar yang baru yang diberikan WordPress. Masing-masing dengan fitur yang berbeda dan tak kalah menarik. Saat ini saya masih dalam tahap mengeksplorasi. Oleh karena itu, jangan heran jika tampilan situs ini akan berubah seiring waktu.</p>
<p>Saya juga mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya bagi setiap pengunjung yang menorehkan komentar atau pertanyaannya di situs ini. Ada begitu banyak pengunjung yang bertanya, baik itu masalah sepele, sampai masalah skripsi. Saya mohon maaf tidak dapat menanggapinya dengan segera. Kadang kala ketika ada keinginan untuk membalasnya, saya terbentur lagi oleh waktu dan pekerjaan. Saya pikir ini menjadi salah satu hal yang akan menjadi perhatian saya mulai saat ini.</p>
<p>Akhirnya, terima kasih bagi Anda yang masih setia berkunjung. Terima kasih juga bagi Anda yang berkunjung, entah karena sengaja berkunjung, entah karena ”tersesat”. Dalam waktu dekat, saya akan segera menambah satu artikel berkaitan dengan bulan bahasa dan sastra Indonesia ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=250&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/10/17/apa-kabar-corat-coret-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luna Vidya dan Monolog &#8220;Menunggu Matahari&#8221;</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/04/29/luna-vidya-dan-monolog-menunggu-matahari/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/04/29/luna-vidya-dan-monolog-menunggu-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 16:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Abdi Karya]]></category>
		<category><![CDATA[Lily Yulianti]]></category>
		<category><![CDATA[Luna Vidya]]></category>
		<category><![CDATA[Makkunrai Project]]></category>
		<category><![CDATA[Maria dari Sikhar]]></category>
		<category><![CDATA[monolog]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Samaria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[”Masih gelap, selalu masih gelap. Kapan pagi datang?” Begitulah Luna Vidya mengawali monolognya di Newseum Cafe, Jakarta, 16 April 2010 lalu. Didampingi Abdi Karya, rekannya, malam itu Luna memerankan sosok Maria dari Sikhar. Dalam pembukaan tersebut, Luna menggambarkan kegalauan Maria. Galau karena tidak sempat membaluri jasad Yesus dengan rempah-rempah. Galau karena tidak sempat memberi perlakuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=230&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0319.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-234" style="margin:10px;" title="Luna Vidya" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0319.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>”Masih gelap, selalu masih gelap. Kapan pagi datang?” Begitulah Luna Vidya mengawali monolognya di Newseum Cafe, Jakarta, 16 April 2010 lalu. Didampingi Abdi Karya, rekannya, malam itu Luna memerankan sosok Maria dari Sikhar.</p>
<p>Dalam pembukaan tersebut, Luna menggambarkan kegalauan Maria. Galau karena tidak sempat membaluri jasad Yesus dengan rempah-rempah. Galau karena tidak sempat memberi perlakuan yang layak kepada tubuh Yesus. Sebab ketika Yesus disalib, hari Sabat memang sudah sangat dekat. Namun, tetap saja itu seharusnya tidak membuatnya mengabaikan jasad Guru yang sangat ia hormati itu<strong></strong></p>
<p><strong>Maria dari Sikhar<br />
</strong>Mungkin banyak yang tidak begitu mengenal siapa Maria dari Sikhar ini. Saya sendiri semula bertanya-tanya, ini Maria yang mana? Sebab kalau kita mencermati isi Alkitab, khususnya kitab-kitab Injil, kita akan menemukan beberapa Maria. Pertama-tema, tentulah kita mengenal Maria ibu Yesus. Lalu ada juga Maria Magdalena, yaitu perempuan yang pernah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat.</p>
<p><span id="more-230"></span>Lalu, siapa Maria dari Sikhar ini? Petunjuk pertama datang dari latar selanjutnya yang ditampilkan oleh Luna. Kala itu, Luna mengarahkan monolognya pada latar di mana Yesus sedang duduk di tepi sumur. Menurut Injil Yohanes 4, peristiwa ini terjadi di daerah Samaria, tepatnya di sebuah kota bernama Sikhar.</p>
<p>Menarik juga melihat Luna memilih Maria dari Sikhar. Dalam diskusi yang berlangsung setelah monolog, ia memaparkan alasannya. Pertama, ia memilih perempuan. Ini juga bukan tanpa alasan. Sebab adalah fakta yang tidak dapat dimungkiri setiap orang bahwa perempuan memiliki peran yang tidak sedikit dalam pelayanan Yesus. Bahkan Yesus menampakkan diri untuk pertama kalinya kepada seorang perempuan. Kedua, Maria ini adalah sosok yang pintar. Ia memiliki pengetahuan teologis (baca Yoh. 4:1-26).</p>
<p>Satu hal lagi yang Luna ungkapkan, sosok Perempuan dari Samaria yang ia sampaikan ini menggambarkan keadaan banyak orang. Ada banyak orang yang memiliki hasrat untuk mengenal Tuhan. Akan tetapi, tidak terjembatani.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0361.jpg"><img class="size-medium wp-image-233 aligncenter" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;" title="Luna Vidya" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0361.jpg?w=434&#038;h=326" alt="" width="434" height="326" /></a>Harus diakui memang, kesan terbuang terlihat melalui diri Maria. Sebagai perempuan, ia sudah menikah lima kali, dan bahkan ketika bertemu Yesus ia sedang bersama orang keenam. Tentu ia dijauhi oleh siapa pun. Ia terbuang. Dan menurut Luna, ia memang sengaja mengangkat sosok-sosok terbuang sebab dirinya pun sebenarnya terbuang, ditolak oleh gereja. Sudah tentu &#8220;terbuang&#8221; dan &#8220;ditolak&#8221; di sini lebih dikarenakan apa yang ia kerjakan selama ini.</p>
<p><strong>Interpretasi<br />
</strong>Dalam monolog <em>Menunggu Matahari</em> ini, Luna yang kelahiran Papua ini menghadirkan suatu interpretasi terhadap kisah Injil. Ia menggambarkan perjalanan Maria, sang Perempuan dari Samaria itu. Dari mengenal Yesus, memutuskan mengikut Dia dalam pelayanan-Nya, menyertai Yesus dalam penyaliban-Nya, sampai menyadari datangnya hari kebangkitan.</p>
<p>Ia juga menggambarkan bagaimana perubahan hidup terjadi ketika seseorang menerima Yesus. Ketika memutuskan mengikut Yesus, Luna menggambarkan bagaimana perasaan Maria yang sangat bahagia. Bila sebelumnya mengambil air saja pun sudah menjadi siksaan baginya, kini ia bisa berjalan di bawah matahari dengan sukacita. Apalagi ketika mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya, perempuan-perempuan lain mendekatinya, ingin tahu bagaimana perjumpaannya dengan Yesus.</p>
<p>Maka di sini kita sampai pada pesan pertama yang hendak disampaikan Luna. Perjumpaan dengan Yesus, keterbukaan kepada Yesus, membuka peluang pada pembaruan hidup. Maria dari Sikhar, yang sudah menikah lima kali, tidak menutup-nutupi keberadaan dirinya kepada Yesus. Dan hal ini membawa pada pertobatan, yang kemudian mengubah segenap hidupnya.</p>
<p><strong></strong><strong>&#8220;Makkunrai Project&#8221;<br />
</strong>Monolog malam ini memang bukan yang pertama bagi Luna Vidya. Hal ini rasanya dapat dilihat oleh setiap orang yang hadir pada malam itu. Penampilan ibu empat anak ini mengisyaratkan bahwa ia sudah banyak makan garam.</p>
<p>Meski mengaku sudah menekuni dunia teater sejak 1984, toh baru empat tahun terakhir ini Luna berfokus pada karya-karya monolog. Bersama Lily Yulianti,  perempuan kelahiran Papua ini mengerjakan Makkunrai Project sejak 2008.  Monolog Makkunrai inilah yang ditampilkan sehari sebelumnya di Goethe  Haus sebagai bagian dari Festival April 2010 yang diadakan oleh Institut  Ungu.</p>
<p>Makkunrai Project bermula dari kumpulan cerpen <em>Makkunrai</em> karya Lily Yulianti. Cerpen &#8220;Makkunrai&#8221; ini sendiri berkisah tentang seorang perempuan yang memutuskan melawan kekuasaan sang kakek. (Lebih lengkapnya, silakan klik sini untuk mengetahui cerpen &#8220;Makkunrai&#8221; ini.) Selanjutnya, Makkunrai Project ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran gender melalui sastra dan penampilan di panggung.</p>
<p><strong>Total<br />
</strong>Meski hanya disaksikan hanya dua puluhan penonton, Luna tidak serta merta menurunkan performanya. Ia malah tampil dengan begitu total malam itu. Dengan lihai, ia membawa penonton ke berbagai latar cerita. Misalnya, setelah mengawali monolog dengan Maria yang merasa gelisah, latar beralih ke kota Sikhar. Di sanalah pada siang hari ia bertemu dengan Yesus dan mengalami pertobatan.</p>
<p>Untuk memberi kesan yang penuh, sudah tentu Luna harus memerankan tokoh yang lain. Maka ia berperan sebagai orang banyak yang berseru-seru, dari &#8220;Hosana!&#8221;, sampai &#8220;Salibkan Dia!&#8221;. Ia pun berperan sebagai para ahli Taurat dan imam Farisi. Bahkan ia memerankan sosok Yesus.</p>
<p>Tidak hanya Luna yang melakukannya. Abdi pun banyak berperan dalam monolog ini. Ia misalnya memberi efek suara yang menambah kesan mistis pada awal monolog melalui gelas berisi air. Selain itu, nyanyian dan bisikan-bisikan yang ia buat menambah kekuatan pada monolog ini.</p>
<p>Yang mengejutkan, Luna mengakuinya dalam diskusi, <em>Menunggu Matahari</em> malam ini digarap dengan sejumlah improvisasi. Ia mendiskusikan hal ini dengan Abdi satu jam sebelum monolog dimulai.</p>
<p>Meski bertema Paskah, Menunggu Matahari tidak hanya disaksikan oleh mereka yang Kristen. Dari dua puluhan yang hadir, tampak beberapa di antaranya mengaku Muslim. Ini menunjukkan bahwa sebuah karya dapat menembus batas-batas keyakinan. Tidak heran kalau Luna menolak menyebut monolog ini monolog Kristen.</p>
<p>Selain monolog, turut digelar juga diskusi. Beberapa hadirin mengapresiasi penampilan Luna yang tampil sangat total pada malam itu.</p>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:492px;width:1px;height:1px;overflow:hidden;">
<p>Empat tahun terakhir ini Luna yang terjun ke teater sejak 1984 ini  memang berfokus pada karya-karya monolog. Bersama Lily Yulianti,  perempuan kelahiran Papua ini mengerjakan Makkunrai Project sejak 2008.  Monolog Makkunrai inilah yang ditampilkan sehari sebelumnya di Goethe  Haus sebagai bagian dari Festival April 2010 yang diadakan oleh Institut  Ungu.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=230&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/04/29/luna-vidya-dan-monolog-menunggu-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0319.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Luna Vidya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2010/04/dscf0361.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Luna Vidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sastra Goceng: Ditangisi atau Disyukuri?</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/03/07/sastra-goceng-ditangisi-atau-disyukuri/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/03/07/sastra-goceng-ditangisi-atau-disyukuri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 14:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[JWM Verhaar]]></category>
		<category><![CDATA[Korrie Layun Rampan]]></category>
		<category><![CDATA[sastra goceng]]></category>
		<category><![CDATA[Shusaku Endo]]></category>
		<category><![CDATA[Soseki Natsume]]></category>
		<category><![CDATA[Yasushi Inoue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali ada pesta buku, salah satu jenis buku yang pasti saya cari ialah buku sastra. Memang saya tidak selalu menghampiri stan yang menjajakan buku-buku sastra. Namun, saya pasti melihat buku sastra apa saja yang bisa saya temukan di berbagai stan. Dalam kegiatan Kompas-Gramedia Fair yang lalu, saya cukup terpuaskan, salah satunya oleh sebuah karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=219&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kali ada pesta buku, salah satu jenis buku yang pasti saya cari ialah buku sastra. Memang saya tidak selalu menghampiri stan yang menjajakan buku-buku sastra. Namun, saya pasti melihat buku sastra apa saja yang bisa saya temukan di berbagai stan.</p>
<p>Dalam kegiatan Kompas-Gramedia Fair yang lalu, saya cukup terpuaskan, salah satunya oleh sebuah karya Korrie Layun Rampan. Apalagi beliau merupakan salah seorang sastrawan favorit saya. Tidak hanya karena banyak mengangkat budaya suku Dayak, tetapi juga karena gaya bahasanya yang menurut saya cukup indah dan enak dibaca. Karya yang saya maksudkan ialah kumpulan cerpen berjudul <em>Melintasi Malam</em>.</p>
<p>Namun, yang segera membuat saya segera ”mengamankan”-nya ialah harga jual buku kecil tersebut. Hanya Rp5.000! Sudah menemukan karya sastrawan favorit, harganya juga sangat murah.</p>
<p><span id="more-219"></span>Keberuntungan saya dalam menemukan buku dengan harga semurah itu tidak hanya pada Kompas-Gramedia Fair itu saja. Pada saat menghadiri Solo Book Fair beberapa tahun lalu, saya menemukan <em>Grass on the Wayside</em>, karya novelis Jepang kenamaan, Soseki Natsume. Juga dengan Rp5.000. Lalu pada Jakarta Book Fair, saya menemukan karya-karya beliau lainnya, seperti <em>The 210th Day</em>, <em>My Individualism and The Philosophical Foundations of Literature</em>, dan<em> The Heredity of Taste. </em>Juga dengan harga Rp5.000 per buku.</p>
<p>Ada pula nama lain yang tak kalah terkenalnya, Shusaku Endo, salah satu sastrawan yang banyak memperkenalkan kekristenan di Jepang. Ada <em>Volcano</em>, <em>The Last Martyr</em>, <em>The Golden Country</em> (sebuah drama yang bisa dianggap prolog ke dalam <em>Silence</em>). Juga dengan harga Rp5.000.</p>
<p>Pada kesempatan lain lagi di Yogya, saya mendapatkan buku tentang Putu Wijaya terbitan Grasindo. Itu pun dengan harga yang sama, Rp5.000. Dan kalau diperhatikan, ada begitu banyak buku sastra dari penulis-penulis ternama yang dijual dengan harga begitu murah.<em> </em></p>
<p>Pada satu sisi, sebagai pencinta sastra dan buku, harga yang demikian tentu membuat saya tergiur. Bahkan sekalipun buku-buku tersebut berharga Rp20.000 per buku pun, saya masih akan tetap tergiur. Namun, kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah hal ini perlu ditangisi atau justru disyukuri?</p>
<p><strong>Sastra Goceng</strong><br />
sastraSaya menyebut karya sastra yang dijual hanya dengan harga Rp5.000 sebagai <em>sastra goceng</em>. Istilah itu muncul karena banyaknya buku sastra yang saya beli hanya dengan Rp5.000 (<em>goceng</em>) per buku. Meskipun semula saya khususkan untuk buku-buku sastra yang dijual dengan harga Rp5.000, belakangan istilah itu saya gunakan juga untuk menyebut karya sasta yang dijual murah. Batas paling tinggi Rp20.000.</p>
<p><strong>Ditangisi</strong><br />
Pada dasarnya, hal ini tidak berlaku hanya pada karya sastra. Ada berbagai jenis buku lain yang kalau kita pikirkan nilainya sungguh tidak sepadan jika dihargai dengan harga yang begitu murah. Sebut saja misalnya, karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Di toko buku, harganya bisa mencapai Rp50.000-an. Namun, di pesta buku, harganya bisa menjadi Rp15.000. Atau buku <em>Identitas Manusia</em> karya seorang linguis kenamaan, J.W.M. Verhaar. Buku tipis yang kini begitu langka ini bisa dijual seharga Rp2.000!</p>
<p>Berpikir dari satu sisi, saya merasa sedih. Sebuah karya yang dikerjakan (mungkin) dengan susah payah oleh penulisnya, kini dijual dengan harga begitu murah. Saking murahnya, ada banyak juga orang yang akhirnya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berharga. Maka tidak jarang kita akan melihat rak buku tidak lagi rapi; buku-buku yang dihamparkan di lantai terinjak-injak sampai kadang bentuknya menyedihkan.</p>
<p>Mungkin ada penulis yang berpikir, ”Beginikah karyaku pada akhirnya? Diobral murah, terinjak-injak sampai tak berbentuk, padahal sudah kukerjakan dengan susah payah?” Rasanya tidak ada yang tidak akan bersedih ketika hasil kerja kerasnya seolah-olah diperlakukan tidak berharga.</p>
<p>Mungkin buku itu adalah satu-satunya buku yang ia tulis seumur hidupnya. Mungkin buku itu adalah buku yang ia kerjakan dalam waktu bertahun-tahun. Mungkin buku itu adalah karya ilmiahnya yang membutuhkan penelitian selama bertahun-tahun. Namun, berakhir di bak buku yang diobral dengan begitu murah. Tidakkah ini menyedihkan?</p>
<p><strong>Disyukuri</strong><br />
Akan tetapi, ketika berpikir pada sisi lain, keadaan ini ternyata patut disyukuri. Ketika melihat begitu tingginya harga buku di toko-toko buku,kegiatan pasar buku murah seperti ini merupakan ajang yang sangat tepat untuk memiliki buku. Tidak heran kalau kegiatan seperti ini senantiasa ramai dikunjungi.</p>
<p>Mungkin ada yang datang hanya untuk lihat-lihat. Mungkin juga karena kebagian pekerjaan. Mungkin ada yang datang untuk mencari buku tertentu. Ada juga yang datang untuk memborong buku apa pun yang menurutnya menarik. Yang jelas, semua datang ke pesta buku.</p>
<p>Khusus untuk bidang kesusastraan, kondisi ini sebenarnya sesuatu yang sangat menggembirakan. Pada dasarnya, sebuah karya bisa diakui ketika ada yang menikmati. Namun, ketika mencermati betapa buku-buku sastra di toko buku pun turut bersaing ketinggian harganya dengan buku-buku dari bidang lain, buku-buku sastra terkesan menjadi buku-buku untuk kalangan elit. Padahal karya sastra itu seharusnya dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.</p>
<p>Maka keberadaan sastra goceng menjadi jawaban. Saya kira sastra goceng ini menjadi salah satu cara mengakrabkan karya sastra kepada masyarakat, bahkan dari kalangan bawah sekali pun. Buku-buku sastra yang semula tidak terjangkau, kini menjadi terjangkau. Ibaratnya, cukup berjalan kaki guna menghemat ongkos ojek jarak dekat (yang memang umumnya seharga Rp5.000) untuk membeli buku sastra.</p>
<p><strong>Pertanyaan terakhir</strong><br />
Memang pesta buku memungkinkan semua kalangan untuk membeli buku. Akan tetapi, masih ada satu pertanyaan yang tersisa (yang mungkin mulai menjadi pertanyaan klise). Apakah dengan mengobral buku semurah-murahnya minat baca menjadi meningkat? Apakah jumlah pengunjung pesta buku yang begitu banyak itu bisa menjadi parameter meningkatnya minat membaca? Lebih spesifik lagi, apakah dengan menjual buku sastra seharga Rp5.000 serta-merta membuat orang tertarik pada karya sastra?</p>
<p>Sepertinya tidaklah mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hanya saja, penulis bukulah yang mesti menentukan sikap. Meskipun bukan tidak mungkin mereka sedih melihat karyanya dijual dengan harga begitu murah, ia tetap harus merasa berbesar hati. Kalau semula hanya sebagian kecil orang yang bisa menikmati karyanya, kini ada lebih banyak orang yang membaca karyanya. Ini berarti, ia cukup berhasil membagikan buah pikirannya yang (semoga) bermanfaat bagi pembacanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=219&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2010/03/07/sastra-goceng-ditangisi-atau-disyukuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berita Natal</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/12/25/berita-natal/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/12/25/berita-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 23:59:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[25 Desember]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen musiman]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum, gereja memisahkan kegiatan seputar Natal menjadi dua. Kegiatan pertama ialah ibadah Natal. Ibadah Natal ini diadakan tepat pada tanggal 25 Desember. Bisa pagi, bisa menjelang siang, siang, sore, atau menjelang malam. Biasanya, ibadah Natal tidak berbeda jauh dengan ibadah biasa pada hari Minggu. Yang membedakan paling dekorasi ruangan dan tata ibadah. Sementara itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=214&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum, gereja memisahkan kegiatan seputar Natal menjadi dua. Kegiatan pertama ialah ibadah Natal. Ibadah Natal ini diadakan tepat pada tanggal 25 Desember. Bisa pagi, bisa menjelang siang, siang, sore, atau menjelang malam. Biasanya, ibadah Natal tidak berbeda jauh dengan ibadah biasa pada hari Minggu. Yang membedakan paling dekorasi ruangan dan tata ibadah.</p>
<p>Sementara itu, kegiatan kedua ialah perayaan Natal. Perayaan Natal ini biasanya paling banyak dihadiri oleh jemaat. Mereka yang disebut &#8220;Kristen musiman&#8221;, biasanya datang pada perayaan Natal. Tidak heran kalau pada perayaan Natal, jumlah yang hadir hampir seperti pada ibadah malam Natal. Sebuah gereja di Jakarta malah memutuskan mengadakan perayaan Natal dalam dua hari. Maksudnya, agar pada saat itu jemaat yang hadir tidak terlalu banyak, agar semua yang hadir bisa mengikuti ibadah dengan baik</p>
<p><span id="more-214"></span>Semua gereja tampaknya memiliki pemahaman yang sama soal ibadah Natal. Semua gereja, tentu mengadakan ibadah Natal, tepat pada tanggal 25 Desember. Akan tetapi, tampaknya tidak demikian untuk perayaan Natal.</p>
<p>Ada gereja yang berpendapat bahwa perayaan Natal sebaiknya diadakan setelah tanggal 25 Desember. Alasannya, kalau lebih awal, sama saja dengan mendahului kelahiran Kristus dong? Jadi, mereka sepertinya memahami bahwa perayaan itu baru bisa diterima setelah berita bahwa Yesus sudah lahir (yang diwartakan lewat ibadah Natal) diberitakan. Dengan kata lain, tindakan bersukacita didahului oleh berita sukacita.</p>
<p>Masuk akal juga memang. Bukankah para gembala di padang rumput pun demikian (lihat Lukas 2:8-20)? Mereka menerima kabar sukacita dari para malaikat yang menyapa mereka. Dengan bergegas mereka pergi ke tempat yang disebutkan oleh malaikat itu. Dan ketika apa yang telah dikataka malaikat kepada mereka itu terbukti kebenarannya, mereka pun kembali sambil memuji dan memuliakan Allah (Lukas 2:20). Jadi, polanya jelas: berita sukacita diikuti dengan sukacita. Ada alasan yang jelas untuk bersukacita, yaitu kelahiran Yesus, Sang Mesias.</p>
<p>Sementara itu, ada banyak gereja pula yang tidak berpendapat demikian. Mungkin gereja-gereja yang mengadakan perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember berpendapat bahwa Natal itu sebenarnya bisa terjadi kapan pun dalam kehidupan setiap orang. Ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya, itu berarti ada Natal bagi dirinya. Maka tidak heran kalau ada perayaan Natal yang diselenggarakan awal Desember. Atau malah yang merayakannya pada bulan Januari!</p>
<p>Meskipun berbeda, toh apa disampaikan pada perayaan Natal dan ibadah <em>hari</em> Natal (mungkin lebih tepat kalau saya katakan demikian), pada prinsipnya tidaklah jauh berbeda. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, telah lahir Mesias, Sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Inilah berita Natal yang disiarkan dari masa ke masa, dari abad ke abad. Natal tanpa Yesus, bukanlah Natal karena Yesuslah sorotan utama Natal, alasan mengapa umat Kristen merayakan Natal.</p>
<p>Mengingat hal ini, kita diingatkan kembali bahwa dunia ini telah menyingkirkan Yesus. Dunia tidak hanya menyingkirkan Yesus lebih dari dua ribu tahun lampau. Dunia juga menyingkirkan Yesus pada zaman ini. Apa yang kita lihat di berbagai pusat perbelanjaan menunjukkan hal tersebut. Mungkin hanya manajemen pusat perbelanjaan yang merupakan orang Kristen atau benar-benar menghargai kekristenanlah yang membuat dekorasi kandang domba di pusat perbelanjaannya.</p>
<p>Memang berita Natal harus berpusat pada Yesus. Akan tetapi, bukan berarti penyampaian khotbah harus monoton. Dari dua perayaan Natal yang saya ikuti, saya melihat perbedaannya sehingga ada dua berita Natal yang saya dapatkan.</p>
<ol>
<li>Setiap tahun tantangan yang dihadapi akan semakin susah. Namun, kehadiran Yesus memberikan harapan bagi umat manusia. Hanya saja, tidak cukup bagi kita hanya sekadar percaya. Kita harus mempercayakan diri kita juga kepada-Nya.</li>
<li>Dalam peristiwa kelahiran Yesus lebih dari dua ribu tahun lampau, kuasa kegelapan juga turut bekerja. Mereka berniat menggagalkan rencana Allah. Kuasa kegelapan itu semakin gencar bekerja sampai pada hari ini. Mereka bekerja di berbagai bidang: politik, gereja, bahkan keluarga. Syukur kepada Allah, kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus memampukan kita untuk lepas dari cengkeraman kuasa gelap dan menaklukkannya.</li>
</ol>
<p>Bagi Anda yang merayakan Natal, apakah berita Natal yang Anda bawa dan bagikan kepada sesama? Silakan berkomentar di bawah ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=214&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/12/25/berita-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Indonesia di Dunia Maya</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 00:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa baku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[emotikon]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[googling]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Relay Chat]]></category>
		<category><![CDATA[kaomoji]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[Wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak menyangka kalau artikel yang kemarin saya pasang di blog ini segera mendapat respons dari dua blogger lawas. Tidak hanya itu, keduanya justru memaksa saya berpikir lebih jauh lagi berkenaan dengan topik yang saya tulis kemarin. Meski terkesan lucu dan terlalu cepat kalau menulis secara berurutan, saya merasa ingin memberi respons balasan terhadap respons [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=201&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak menyangka kalau artikel yang kemarin saya pasang di blog ini segera mendapat respons dari dua blogger lawas. Tidak hanya itu, keduanya justru memaksa saya berpikir lebih jauh lagi berkenaan dengan topik yang saya tulis kemarin. Meski terkesan lucu dan terlalu cepat kalau menulis secara berurutan, saya merasa ingin memberi respons balasan terhadap respons <a href="http://matadunia15.multiply.com/">Mata Dunia</a> dan <a href="http://budaya-pop.blogspot.com/">Budaya Pop</a> kemarin.</p>
<p>Bila topik ini saya mulai pada pertengahan tahun 1990-an, saya kira akan sulit melihat bahasa Indonesia di dunia maya. Alasan paling utama ialah saat itu bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar pada mayoritas situs web yang ada. Jumlah situs web yang menggunakan bahasa Indonesia relatif sedikit. Apalagi saat itu belum ada fenomena blog. <em>Internet Relay Chat</em> juga menggunakan bahasa Inggris untuk berbagai menu. Para penyedia layanan surat elektronik dan penyedia halaman pribadi (<em>homepage</em>) juga tidak menyediakan versi bahasa Indonesia. Bahkan seingat saya, penyedia layanan surat elektronik sekelas Yahoo! belum sampai lima tahun menggunakan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa alternatif.</p>
<p>Mengingat pengguna internet di Indonesia setiap tahun semakin bertambah, berbagai portal memutuskan untuk menyertakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Salah satu strategi yang mereka lakukan ialah membiarkan komunitas pengguna bahasa tertentu untuk menerjemahkan sendiri berbagai menu dan informasi dari suatu situs. Hal ini salah satunya dilakukan oleh pihak <a href="http://wordpress.com/">WordPress</a> yang menurut saya merupakan strategi yang baik. Bukan karena mereka terlalu malas untuk menerjemahkannya, melainkan mereka menyerahkan penerjemahan itu untuk dilakukan, terutama oleh penutur bahasa sasaran terjemahan yang notabene lebih memahami konteks bahasanya sendiri.</p>
<p><strong><span id="more-201"></span>Bahasa Indonesia dunia maya</strong><br />
Satu hal yang pasti dalam komunikasi dunia maya ialah peralihan dari komunikasi lisan menjadi komunikasi tulisan. Komunikasi lisan memang tetap memungkinkan dilakukan melalui internet. Akan tetapi, mayoritas pengguna internet cenderung menggunakan bahasa tulis. Hal ini sekaligus mendorong eksplorasi guna memperkaya bahasa tulis tersebut. Misalnya, dengan menggunakan emotikon atau <em>kaomoji</em> untuk menampilkan ekspresi tertentu.</p>
<p>Dampak bahasa Inggris bagi bahasa Indonesia dunia maya sangatlah kental. Pada artikel saya yang lalu, salah satu bentuk bahasa yang relatif sering muncul ialah penggunaan bentuk singkatan. Dalam hal ini, singkatan itu bisa kita bedakan menjadi dua, yaitu singkatan yang berasal dari bahasa Inggris dan singkatan yang berasal dari bahasa Indonesia. Dalam komunikasi yang dilakukan dengan bahasa daerah, mungkin saja muncul singkatan-singkatan dalam bahasa daerah.</p>
<p>Singkatan dalam bahasa Inggris yang lazim ditemukan pada masa IRC misalnya, <em>asl pls</em> yang merupakan singkatan dari <em>age, sex, location/land please</em>, yaitu permintaan informasi latar belakang. Penggunaan <em>asl pls</em> itu umumnya dilakukan dalam percakapan dengan orang yang belum dikenal. (Belakangan, dari sejumlah perbincangan saya dengan orang lain non-Indonesia, penggunaan singkatan tersebut tidak lagi ditemukan.) Mengingat peran <em>instant messenger</em> saat ini cenderung lebih dominan, percakapan yang terjadi umumnya dilakukan oleh dua partisipan yang sudah saling kenal, meskipun ruang bicara umum turut disediakan pula. Dengan demikian, <em>asl pls</em> tidak lagi umum digunakan. Meskipun demikian, akan menarik juga bila kita mencermati bagaimana bahasa para pengguna internet pemula. Hanya saja, topik ini tidak akan kita singgung lebih jauh di sini.</p>
<p>Bagaimana dengan singkatan-singkatan dalam bahasa Indonesia? Dalam penelitian saya beberapa waktu lampau, singkatan-singkatan yang umum, yaitu <em>km</em> dan <em>u </em>untuk ’kamu’ atau ’Anda’; <em>thx</em> atau <em>tks</em> untuk ’terima kasih’; <em>gpp</em> untuk ’tidak apa-apa’; <em>ce</em> untuk ’cewek’; <em>co</em> untuk ’cowok’, <em>knp </em>untuk ’kenapa’ merupakan  singkatan-singkatan yang umum ditemukan. Namun, salah satu yang paling sering ialah penggunaan <em>x</em> yang bisa berarti substitusi untuk <em>–nya </em>atau <em>kali</em>, yang tidak hanya kita temukan dalam komunikasi melalui <em>instant messenger</em>, tetapi juga dalam komunikasi pesan singkat telepon seluler.</p>
<p>Penyingkatan ternyata juga tidak hanya terjadi dalam tataran kata. Kalimat yang digunakan pun relatif lebih singkat. Malah tidak jarang kalimat yang dituliskan merupakan kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Rangkaian seperti berikut ini, misalnya, merupakan sesuatu yang sangat lazim kita temukan.</p>
<p>(1) &#8211; hi,pa kbr<br />
(2) &#8211; lama gak ktm<br />
(3) + halo jg<br />
(4) + iya nih, u gmn kbrx<br />
(5) &#8211; baik2 sj<br />
(6) &#8211; skrg dmn n krj apa<br />
(7) + g di bdg</p>
<p>Kalau kita perhatikan, tuturan (1) dan (2) yang dilakukan oleh (-) bisa saja dilakukan dalam satu baris. Sementara, tuturan(6) kadang kala bisa dihadirkan dalam dua baris, yaitu menjadi <em>skrg dmn</em> dan (<em>skrg</em>)<em> krj apa</em>. Akan lazim pula kita mendapati pertanyaan yang tidak terjawab. Lihat pertanyaan pada (1) yang tidak mendapat jawaban; bandingkan dengan (4) yang dijawab dengan (5).</p>
<p>Setelah disusun, kira-kira tuturan tersebut akan menjadi</p>
<p>- Halo, apa kabar? Sudah lama ya, kita tidak bertemu?<br />
+ Halo juga. Iya nih, sudah lama tidak (kita) tida beremu. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?<br />
- Aku baik-baik saja. Sekarang (kamu) ada di mana? Kerja (di bidang) apa?<br />
+ (Sekarang) aku di Bandung.</p>
<p>Salah satu ciri yang cukup signifikan dari bahasa tulisan di dunia maya ialah penggunaan emotikon dan <em>kaomoji</em>. Emotikon merupakan ikon-ikon yang mewakili berbagai ekspresi wajah. Ikon-ikon ini terbentuk dari kombinasi tanda baca dan huruf tertentu. Oleh karena itu, emotikon tersebut perlu diputar sembilan puluh derajat searah jarum jam untuk melihat bentuk sempurnanya. Berikut beberapa emotikon tersebut. (Saya sengaja memberikan jarak di antara tiap tanda baca agar tidak secara otomatis diubah ke dalam bentuk emotikon penuh.)</p>
<p>: &#8211; )<br />
: &#8211; (<br />
: &#8211; o<br />
:.. &#8211; (<br />
: &#8211; D<br />
: &#8211; P<br />
; &#8211; )</p>
<p>Emotikon-emotikon tersebut umumnya terdiri dari tiga bagian wajah: yang mewakili bagian mata (diwakili oleh tanda titik dua dan titik koma), mewakili bagian hidung (diwakili oleh tanda hubung), dan mewakili bagian mulut (diwakili oleh tanda kurung pembuka, kurung penutup, dan huruf tertentu). Belakangan, emotikon tersebut mengalami penyingkatan juga. Bagian yang mewakili hidung sering kali tidak disertakan. Selain itu, muncul pula variasi emotikon lain yang tidak melulu merupakan ekspresi wajah manusia, tetapi juga bentuk lain, seperti hewan, bunga, dan sebagainya.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, pengetahuan mengenai kombinasi tanda baca dan huruf tersebut merupakan sesuatu yang tidak diketahui oleh semua orang, terutama dengan bentuk-bentuk tertentu. Akan tetapi, sekarang pengetahuan itu menjadi tidak begitu penting. <em>Instant messenger</em> biasanya sudah menyertakan menu khusus untuk menampilkan sederet emotikon yang bisa dipilih, dengan yang jauh lebih menarik. Selain itu, sekarang <em>instan messenger</em> secara otomatis mengubah kombinasi tanda baca tersebut menjadi emotikon.</p>
<p>Adapun <em>kaomoji</em> merupakan emotikon asal Jepang. Tidak seperti emotikon lain, <em>kaomoji</em> cenderung lebih mudah dipahami. Selain itu, untuk mengetahui ekspresi yang dimaksud, <em>kaomoji</em> tidak perlu diputar sembilan puluh derajat searah jarum jam. Berikut ini beberapa bentuk <em>kaomoji</em>.</p>
<p>(^_^)<br />
(-_-;)<br />
(T_T)<br />
(^@^)<br />
(-_-)y</p>
<p>Nasib <em>kaomoji</em> ini pun sama seperti emotikon pada umumnya. Penyingkatan pun terjadi. Yang paling sering ialah menampilkan mata, yang diwakili dengan tanda ^^.</p>
<p>Bagaimana bahasa Indonesia di dunia maya ini? Saya kira hal-hal berikut ini telah menjadi ciri bahasa Indonesia di dunia maya.</p>
<ul>
<li>Disisipi dengan berbagai istilah atau kosa kata bahasa Inggris. Istilah-istilah ini digunakan dalam beragam konstruksi kalimat bahasa Indonesia. Adapun istilah yang digunakan bisa berupa istilah yang lazim ditemukan di internet (misalnya, <em>install</em>, <em>blogging</em>, <em>googling</em>, dan sebagainya), bisa juga berupa kosa kata bahasa Inggris yang lazim muncul dalam dunia nyata (misalnya,<em> u</em>, <em>thx,</em>dan sebagainya).</li>
<li>Disertai dengan sejumlah singkatan, jika pun tidak sepenuhnya, setidaknya sebagian besar konstruksi kalimat yang disusun.</li>
<li>Kalimat yang digunakan relatif lebih singkat, dan cenderung tidak lengkap.</li>
<li>Dihiasi dengan beragam bentuk emotikon yang fungsinya tidak sekadar menunjukkan ekspresi wajah, tetapi juga menghadirkan warna dalam komunikasi tulisan, dan mungkin juga menunjukkan tingkat pengetahuan partisipan.</li>
<li>Disisipi dengan kosa kata khas penyedia layanan tertentu di dunia internet, seperti facebook, Google, Yahoo!, friendster, Wikipedia, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>Bahasa baku di dunia maya</strong><br />
Seperti halnya di dunia nyata, rasanya sulit menertibkan penggunaan bahasa di dunia maya. Kalaupun kita menemukan situs atau blog yang menggunakan bahasa yang bisa dianggap baku, hampir pasti bahwa situs web atau blog itu merupakan hasil garapan pemerintah atau lembaga-lembaga tertentu. Atau situs web tersebut merupakan situs web universitas atau surat kabar versi dunia maya.</p>
<p><a href="http://budaya-pop.blogspot.com/">Budaya Pop</a> sempat menyinggung hal yang menarik untuk didiskusikan dalam komentarnya pada tulisan saya sebelum ini. Seandainya singkatan-singkatan tersebut menjadi bahasa yang baku, tentu tulisan akan menjadi ringkas. Pertanyaannya, apakah hal itu memungkinkan?</p>
<p>Saya kira, singkatan-singkatan tersebut tidak mungkin dibakukan. Seperti yang kita ketahui, bahasa baku merupakan bahasa yang lengkap sehingga singkatan-singkatan tersebut tidak mungkin digunakan dalam ragam dan situasi yang resmi. Apalagi digunakan dalam tataran akademis.</p>
<p>Tidak hanya di dunia nyata saja, bahkan di dunia maya sekalipun, penggunaan singkatan tersebut belum akan menjadi semacam bahasa baku. Kecuali ada otoritas paling kuat untuk membakukan, singkatan-singkatan tersebut tidak akan dianggap sebagai bagian dari bahasa baku. Bahkan kalaupun otoritas demikian ada, sudah tentu akan mendapat tentangan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, cukuplah menyebutkan bahwa beragam singkatan yang digunakan dalam komunikasi di dunia maya merupakan penanda atau ciri khas komunikasi yang berlangsung.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=201&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/30/bahasa-indonesia-di-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 06:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[eBuddy]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Relay Chat]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Media Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Media Telepon Seluler]]></category>
		<category><![CDATA[Nimbuzz]]></category>
		<category><![CDATA[struktur komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo! Messenger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan ngobrol di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (Internet Relay Chat) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin. Semula, saya menggunakan alamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=197&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan <em>ngobrol</em> di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (<em>Internet Relay Chat</em>) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin.</p>
<p>Semula, saya menggunakan alamat surat elektronik teman saya. Lama-kelamaan, saya berpikir kenapa haru menumpang? Maka saya pun berkenalan dengan situs web yang menyediakan layanan surat elektronik. Saat itu ada <a title="LYCOS Mail" href="http://mail.lycos.com/" target="_blank">Mailcity</a>, <a title="Yahoo!mail" href="http://mail.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo!</a>, dan <a title="Hotmail" href="http://www.hotmail.com/" target="_blank">Hotmail</a> yang saya kenal. Segera setelah memiliki alamat di Mailcity, saya pun memiliki berbagai alamat lainnya yang kini sudah tidak saya ingat lagi. Lalu dimulailah komunikasi berbasis surat elektronik.</p>
<p>Bagaimanapun juga, internet memberikan beragam hal, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan ialah kebebasan menembus ruang. Internet memungkinkan kita untuk melakukan tukar-menukar informasi dalam waktu sesingkat mungkin<span id="more-197"></span>Kehadiran media komunikasi jelas memberi dampak bagi komunikasi itu sendiri. Diiringi dengan perkembangan teknologi, komunikasi pun terasa semakin berwarna. Bila sebelumnya kita hanya bisa menikmati internet dengan menggunakan komputer, kini teknologi telepon seluler memungkinkan kita mengakses dunia melalui telepon seluler. Komunikasi dengan menggunakan internet lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (KMK, <em>Computer-Mediated Communication</em>). Maka komunikasi melalui telepon seluler mungkin bisa kita sebut sebagai Komunikasi Media Telepon Seluler (KMTS, <em>Mobile Phone-Mediated Communication</em>) – pada dasarnya, KMTS tidak terbatas pada komunikasi via jaringan internet, tetapi termasuk juga <em>SMS</em>, <em>EMS</em>, maupun <em>MMS</em>, bahkan surat elektronik pun memungkinkan untuk diakses melalui telepon seluler, meskipun tergantung layanan operator dan fitur telepon seluler itu sendiri.</p>
<p>Adapun komunikasi dengan menggunakan komputer lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (<em>Computer-Mediated Communication</em>). Fasilitasnya jelas bermacam-macam. Selain <em>Internet Relay Chat</em>, dan surat elektronik, kini kita juga mengenal <em>Instant Messenger</em>, bahkan blog dan jaringan sosial semacam <a title="Friendster" href="http://www.friendster.com/" target="_blank">friendster</a>, <a title="Multiply" href="http://www.multiply.com/" target="_blank">Multiply</a>, <a title="facebook" href="http://www.facebook.com/" target="_blank">facebook</a>, <a title="Twitter" href="http://www.twitter.com/" target="_blank">Twitter</a>, kini bisa digunakan sebagai sarana komunikasi.</p>
<p>Saya kira, kita bisa membagi dampak KMK ke dalam dua bagian. Pertama, dampaknya bagi perkembangan bahasa dan kedua dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia. Bagi bahasa Indonesia, internet (dan dengan demikian berkenaan juga dengan teknologi komputer dan dunia maya) memperkaya kosa kata. Berbagai istilah baru bermunculan. Istilah-istilah tersebut mayoritas berasal dari bahasa Inggris.</p>
<p><strong>Dampak bagi perkembangan bahasa</strong><br />
Mengenai kosa kata ini, sesungguhnya pihak Pusat Bahasa sudah melakukan (kalau tidak bisa dibilang menetapkan karena faktanya beberapa pihak mungkin keberatan dengan pilihan pihak Pusat Bahasa) pemadanan terhadap sekian ratus kosa kata dunia komputer/internet ini (jumlah yang saya ingat beberapa waktu lalu mencapai angka tiga ratusan kosa kata). Maka beberapa dari kita akan merasa akrab dengan istilah, seperti <em>unduh</em>, <em>unggah</em>, <em>tetikus</em>, <em>daring</em>,<em> </em>dan sebagainya. Sayangnya (atau malah untungnya?), ada lebih banyak lagi yang tidak akrab dengan padanan-padanan itu. Kebanyakan merasa lebih nyaman menggunakan kata <em>download</em>, <em>up-load</em>, <em>mouse</em>, dan <em>on-line</em>.</p>
<p>Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan beragam istilah baru di dan sekitar dunia maya ini. Beberapa istilah baru bermunculan. Maka kita mengenal kata-kata berikut ini, misalnya, sebagai sesuatu yang lumrah, meskipun beberapa berasal dari nama penyedia layanan.</p>
<p><em>blog<br />
</em><em>blogger</em><em><br />
blogging<br />
chatting<br />
FB/facebook<br />
friendster<br />
googling<br />
IM/Instant messenger<br />
post/posting<br />
Twitter<br />
Wiki/Wikipedia</em></p>
<p>Dalam komunikasi sehari-hari, istilah-istilah tersebut relatif sering muncul, terutama di kalangan para pengguna internet. <a title="The effect of the internet on language and society " href="http://itre.cis.upenn.edu/~myl/languagelog/archives/004215.html" target="_blank">Mark Liberman</a>, misalnya, mencantumkan sebuah komik strip yang menggambarkan percakapan yang menggunakan istilah <em>Wikipedia</em> untuk mencari informasi mengenai sesuatu.</p>
<p>Istilah-istilah yang muncul belakangan ini tidak sekadar diperoleh dari kosa kata baru dari bahasa Inggris yang berkenaan dengan teknologi komputer dan internet, tetapi juga dari nama-nama penyedia layanan tertentu (jaringan sosial, mesin pencari, dan sebagainya). Oleh karena istilah-istilah tersebut umumnya berasal dari bahasa Inggris, fenomena yang merebak sudah tentu fenomena campur kode.</p>
<p>Selain itu, kita juga diperhadapkan pada fenomena penyingkatan kata. Semuanya untuk tujuan mempersingkat waktu. Maka kita pun mengenal singkatan-singkatan, seperti <em>asl pls</em>, <em>km</em>, <em>i c</em>, <em>b4</em>, <em>ol</em>, <em>u</em>, atau <em>w/ </em>untuk <em>with </em>dalam bahasa Inggris, dan sebagainya yang mungkin akan bertambah lagi. (Menarik juga melihat bahwa penyingkatan seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang baru, sementara sekretaris Marcus Tullius Cicero, Tiros, sudah melakukan hal yang sama ketika menyingkat <em>cum</em> (<em>with</em>) menjadi <em>c.</em></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, fenomena ini tidak memunculkan perilaku campur kode. Malah muncul kekhawatiran akibat dampak perkembangan dunia maya ini. Sejumlah media sempat mengangkat hal ini dan mengemukakan bahwa komunikasi melalui media elektronik mulai memberi dampak negatif pada bahasa tulis. <em>The Sun</em> (24 April 2001) memandang fenomena bahasa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi ini merupakan awal dari kematian bahasa Inggris yang baik. Ulasan pada <em>The Sun </em>itu seolah dipertegas lagi dalam <em>The Scotsman</em> (4 Maret 2003), yang mengungkapkan betapa para guru saat itu mulai diperhadapkan pada esai yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris standar, tetapi justru dalam bahasa pesan teks telepon selular yang minimalis dan ringkas.</p>
<p>Maka menarik juga mencermati adakah gejala serupa terjadi di Indonesia. Bagaimana murid-murid yang semakin akrab dengan <a title="Yahoo! Messenger" href="http://messenger.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo! Messenger</a>, <a title="eBuddy" href="http://www.ebuddy.com/" target="_blank">eBuddy</a>, <a title="Nimbuzz" href="http://www.nimbuzz.com/" target="_blank">Nimbuzz</a>, <a title="facebook" href="http://www.facebook.com/" target="_blank">facebook</a>, dan sebagainya itu berbahasa? Adakah ragam singkatan turut bermunculan dalam bahasa tulisan mereka? Bagaimana peran guru  dalam menghadapi fenomena seperti ini?</p>
<p>Akan tetapi, internet/komputer tidak hanya memperkaya kosa kata. Salah satu yang paling penting ialah internet memungkinkan banyak pihak untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan kebahasaan (termasuk bidang ilmu lain). Internet membuka peluang untuk penelitian bahasa dalam ranah yang berbeda daripada biasanya.</p>
<p><strong>Dampak bagi struktur komunikasi</strong><br />
Sampai awal 2000-an, <em>Internet Relay Chat</em> masih menjadi sarana komunikasi yang relatif populer. Setelah itu, <em>Instant Messenger</em> semacam Yahoo! Messenger menjadi salah satu yang relatif umum. Meskipun demikian, prinsip dasarnya tetap sama. Sehingga dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia (termasuk juga bahasa lainnya) secara umum tetap sama.</p>
<p>Black et al sebagaimana diungkapkan <a title="Media, Speech Act Theory and Computer Supported Cooperative Work" href="http://dspace.library.drexel.edu/retrieve/75/hassel_thesis.pdf" target="_blank">Lewis Hassel</a>, menyebutkan bahwa setiap jenis media yang digunakan untuk berkomunikasi akan mempengaruhi struktur interaksi komunikasi. Demikianlah KMK mempengaruhi alur komunikasi selama ini. Sebagai contoh, gangguan yang dialami pengguna KMK berkenaan dengan media yang digunakan. Di kalangan pengguna internet yang mahir, gangguan itu terutama meliputi akses internet yang lambat dan terputusnya sambungan internet. Bandingkan dengan KMTS (dalam hal ini komunikasi yang dilakukan ialah dengan mengakses jaringan internet, bukan melalui <em>SMS</em>, <em>EMS</em>, maupun <em>MMS</em> yang berupa gangguan sinyal seluler dan pulsa yang tidak mencukupi (bagi pengguna layanan prabayar).</p>
<p>Dalam hal struktur, KMK melalui <em>Internet Relay Chat</em> cenderung menghasilkan struktur yang kacau-balau, tidak berurut. Namun, itu bukan berarti bahwa komunikasi yang dilakukan tidak berlangsung dengan baik. Bahkan bila dilihat dari sudut pandang wacana, rangkaian komunikasi tersebut merupakan wacana yang memiliki kesatupaduan. Hal ini, misalnya, dikemukakan oleh Susan Herring dalam tulisannya, <a title="Interactional Coherence in CMC" href="http://csdl2.computer.org/comp/proceedings/hicss/1999/.../00012022.pdf" target="_blank">”Interactional Coherence in CMC”</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=197&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 04:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=186&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan ia tidak mengerjakan PR-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebohongan demi kebohongan bisa muncul dengan lebih banyak lagi mengingat kemajuan teknologi saat ini sangat memungkinkan hal tersebut. Di dunia maya, berbagai praktik kebohongan pun tersebar luas. Yang paling umum tentunya kebohongan seputar jati diri yang dilakukan ketika ceting (<em>chatting</em>). Sementara itu, keberadaan ponsel di dunia nyata juga membuka peluang untuk melakukan kebohongan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-186"></span>Bohong yang muncul di kalangan masyarakat ibu kota yang berhasil saya umumnya terjadi di angkutan umum dan berhubungan dengan tempat. Dari sejumlah kesempatan, mayoritas berbohong kepada mitra tuturnya ketika berbicara dengan media telepon seluler (non-SMS karena bohong melalui SMS tidak mungkin saya lihat, kecuali saya mengenal baik orang yang melakukannya).</p>
<p style="text-align:justify;">Pola bohong yang muncul ada dua. Pola pertama ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan yang sudah lebih jauh di depan posisi orang yang dihubungi. Contohnya saya temukan dalam Bus Transjakarta yang tengah melaju menuju Dukuh Atas dari bilangan Matraman. Seorang penumpang yang kala itu ditelepon oleh rekannya mengaku sudah berada di Dukuh Atas, meskipun nyata-nyata ia masih di bilangan Matraman. Contoh kedua saya temukan ketika menaiki angkutan kota jurusan UKI-Pasar Rebo (461). Seorang pemuda menerima telepon menyebutkan bahwa ia tengah melaju di jalan tol, padahal saat itu masih berada di UKI.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun pola kedua ialah dengan menyebutkan lokasi keberadaan jauh di belakang posisi orang yang tengah dihubungi. Sebagai contoh, seorang yang sebenarnya telah berada di daerah Matraman, mengaku masih berada di Senen ketika dihubungi oleh seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila disederhanakan, pola bohong pertama adalah sebagai berikut.<br />
lokasi saat ini + lokasi lain arah depan
</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-188" title="pola-bohong-2" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-2.gif?w=490" alt="pola-bohong-2"   /></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pola bohong kedua:<br />
lokasi belakang + lokasi tujuan
</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-187" title="pola-bohong-1" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-1.gif?w=490" alt="pola-bohong-1"   /></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Motif bohong itu pun tentu berbeda-beda. Dalam kasus pertama pola bohong pertama, motifnya bisa untuk memberi kesan bahwa yang bersangkutan sudah akan tiba lebih dahulu di tempat tujuan daripada rekannya. Dalam hal ini, mungkin saja mitra tuturnya sama-sama belum berada di lokasi yang dijanjikan. Sedangkan pada kasus kedua, bohong itu dilakukan untuk memberi kesan bahwa dalam waktu yang relatif singkat yang bersangkutan sudah akan tiba di lokasi perjanjian. Dengan kata lain, mitra tuturnya sangat mungkin sudah berada di lokasi pertemuan. Adapun pada pola kedua, bohong sengaja dilakukan dengan harapan mitra tutur tidak berharap agar yang bersangkutan segera tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang unik, sepertinya bohong seperti itu sudah biasa bagi masyarakat ibu kota. Tidak ada reaksi dari siapa pun yang ada di sekitar orang yang berbohong. Minimal seseorang akan menoleh kepada yang berbohong sebagai reaksi terhadap kebohongan tersebut. Namun, sejauh ini saya malah belum menemukan reaksi serupa. Entah karena berbohong seperti itu benar-benar sudah biasa, entah karena memang tidak mau peduli karena menganggap hal itu bukan tanggung jawabnya, atau entah karena hal-hal lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada penghujung tahun ini, saya kira hal-hal seperti ini patut menjadi perhatian kita. Memang tampak sederhana. Namun, justru dari sinilah mental pribadi yang jujur itu dibentuk. Selamat melangkah ke tahun 2009. Semoga kita bisa lebih jujur pada tahun tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=186&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/31/pola-bohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-2.gif" medium="image">
			<media:title type="html">pola-bohong-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/pola-bohong-1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">pola-bohong-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Pesan Natal</title>
		<link>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/</link>
		<comments>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 14:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Campur Kode]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiasaram.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat. Dengan kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=167&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, pertama-tama si pengirim akan melakukan <em>semantic encoding</em> dalam benaknya. Kemudian ia merangkai kata-kata dalam rangkaian kalimat lewat grammatical encoding. Ketika selesai, pesan yang sudah tersusun dalam kalimat(-kalimat) itu pun dituturkan. Proses akhir ini disebut <em>phonological encoding</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-167"></span>Sementara bagi penerima pesan, proses yang terjadi justru sebaliknya. Karena mereka mendengar pesan dalam gelombang suara, hal pertama yang terjadi tentulah <em>phonological decoding</em>. Lalu diproseslah getaran-getaran tersebut ke dalam kata demi kata yang membangun pesan itu dalam <em>grammatical decoding</em> sampai akhirnya mereka menangkap maksud pesan tersebut (<em>semantic decoding</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Proses itu akan berbeda ketika ada media yang menjadi sarana komunikasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Black et al (dalam Hassel 1995), keberadaan media akan mempengaruhi struktur interaksi. Dalam proses komunikasi tadi, keberadaan media jelas mengubah proses yang terjadi. Dalam komunikasi tulisan, entah itu melalui surat, surat elektronik, maupun ceting.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila dalam komunikasi lisan proses tersebut meliputi <em>phonological encoding</em> (bagi pengirim pesan) dan <em>phonological decoding</em> (bagi penerima pesan), dalam tulisan proses tersebut hanya sampai pada <em>grammatical encoding</em> dan <em>grammatical decoding</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bandingkan proses komunikasi lisan dengan proses komunikasi yang menggunakan media di bawah ini. Sebagai catatan, komunikasi melalui HP/ponsel dilakukan dengan menggunakan pesan singkat (SMS), bukan dengan bertelepon.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-182" title="bagan-komunikasi-dua-arah2" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-dua-arah2.gif?w=490" alt="bagan-komunikasi-dua-arah2"   /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-183" title="bagan-komunikasi-media-dua-arah" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-media-dua-arah.gif?w=490" alt="bagan-komunikasi-media-dua-arah"   /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan gangguan pun akan terlihat. Misalnya dalam komunikasi lisan, gangguan bisa berupa kemampuan pendengaran yang berkurang, suasana yang berisik, interupsi dari pihak ketiga, dan sebagainya. Sementara dalam komunikasi dengan media komputer/internet maupun HP, gangguan bisa berupa lambatnya koneksi internet, virus yang menyerang, kode-kode (emotikon maupun kaomoji dan kode-kode lain) yang tidak dipahami salah satu pihak (biasa dipakai untuk maksud tertentu; bahkan penggunaan bahasa asing&#8211;campur kode&#8211;bisa dimunculkan untuk memberi kesan tertentu yang sayangnya tidak selalu bisa dipahami penerima pesan), interupsi pihak ketiga (misalnya dalam ceting), operator seluler yang sibuk, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak masa Adven, hingga Natal kemarin&#8211;kalau Anda merayakannya&#8211;berbagai pesan mulai dari menyambut peringatan kelahiran-Nya, sampai pada berita Natal itu sendiri. Rangkaian pesan ini sesungguhnya sangat berharga. Sebab sering kali pesan Natal ini mengandung teguran, pengajaran, yang pada dasarnya berfungsi sebagai pengingat, pembangun, dan penggerak kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan demi pesan itu bisa sampai kepada masing-masing kita melalui proses yang saya kemukakan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahannya, bagaimana kita mengetahui bahwa pesan Natal itu benar-benar sampai kepada setiap kita? Pesan Natal yang sampai kepada kita itu seperti apa? Pertanyaan ini tidak hanya diajukan kepada kita yang rajin berbibadah sepanjang tahun, tapi juga kepada setiap kita yang menjadi Kristen Napas (Natal dan Paskah).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya, sebuah pesan disebut berhasil disampaikan ketika pihak penerima pesan bisa memahami pesan yang dikomunikasikan. Sebagai contoh, ketika Natal tahun ini menyuarakan tema utama seputar perdamaian (sebagaimana didengungkan oleh PGI), dan kita yang hadir dalam ibadah-ibadah Natal kemarin bisa memahami bahwa sebagai orang Kristen kita harus semakin aktif menyebar perdamaian, berarti kita sudah menangkap pesan yang disampaikan dengan baik. Dengan demikian, pertanyaan pertama tadi boleh dianggap terjawab. Gangguan yang biasa timbul dalam ketika mendengarkan khotbah biasanya berupa rasa kantuk, SMS atau telepon yang tiba-tiba masuk, listrik padam, dan sebagainya. Maka jika digambarkan dalam bagan, kira-kira akan menjadi seperti di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-184" title="bagan-respons" src="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-respons.gif?w=490" alt="bagan-respons"   /></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, ketika kita mulai bicara dalam tataran yang jauh melampaui sekadar menerima pesan, rasanya kita patut bertanya lagi pada diri kita sendiri. Pertanyaan kedua mengisyaratkan bahwa ada tahapan yang lebih daripada sekadar menerima pesan, yaitu melakukan pesan yang disampaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat hal ini, sebuah pesan Natal (sebagaimana khotbah-khotbah pada hari-hari biasa) sebenarnya bermakna imperatif. Ada harapan bahwa semua penerima pesan bisa menjalankan pesan yang disampaikan. Jadi, setiap kita yang mendapat pesan Natal ini sebenarnya didorong untuk mempraktikkannya dalam kehidupan keseharian. Ketika berita Natal yang didengungkan tahun ini ialah agar kita berdamai dengan diri sendiri, dengan sesama, dan membawa damai bagi yang lain, pesan Natal itu pun akan benar-benar sukses sampai kepada kita ketika kita tidak hanya memahami, tetapi juga menjalankannya dengan aktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, sebagaimana digambarkan dalam bagan di atas, dalam menjalankan pesan Natal itu pun kita masih akan mengalami gangguan, baik dari dalam diri sendiri (kemalasan, ego, dan sebagainya), maupun dari luar (godaan duniawi). Apalagi kita tidak hanya harus menjalani sisa tahun ini, namun juga tahun yang akan segera dianugerahkan kepada kita. Namun, di sinilah iman dan percaya setiap kita diuji. Dengan berserah pada Sang Juru Selamat, kita akan mampu menaklukkan gangguan-gangguan tersebut sehingga pesan Natal itu bisa kita alirkan kepada sesama, yang mungkin saja akan kembali kepada pengirim pesan semula.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat Natal, selamat menjalankan pesan Natal, baik pada penghujung tahun ini, maupun pada tahun yang segera menjelang. (karena saya percaya Anda semua tentu sudah menerima pesan Natal yang dikomunikasikan sejak beberapa hari yang lalu).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiasaram.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiasaram.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiasaram.wordpress.com&amp;blog=659444&amp;post=167&amp;subd=indonesiasaram&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/12/27/memahami-pesan-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-dua-arah2.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-komunikasi-dua-arah2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-komunikasi-media-dua-arah.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-komunikasi-media-dua-arah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiasaram.files.wordpress.com/2008/12/bagan-respons.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bagan-respons</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
