Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia

28 Oct

Saya mengenal internet untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Bukan mengunjungi situs yang saya lakukan pertama kali, melainkan ngobrol di dunia maya. Sebagaimana halnya kebanyakan orang pada saat itu, saya pun memakai IRC (Internet Relay Chat) sebagai sarana berkomunikasi. Saya ingat memiliki sejumlah teman dari berbagai negara, kebanyakan dari Amerika Latin.

Semula, saya menggunakan alamat surat elektronik teman saya. Lama-kelamaan, saya berpikir kenapa haru menumpang? Maka saya pun berkenalan dengan situs web yang menyediakan layanan surat elektronik. Saat itu ada Mailcity, Yahoo!, dan Hotmail yang saya kenal. Segera setelah memiliki alamat di Mailcity, saya pun memiliki berbagai alamat lainnya yang kini sudah tidak saya ingat lagi. Lalu dimulailah komunikasi berbasis surat elektronik.

Bagaimanapun juga, internet memberikan beragam hal, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan ialah kebebasan menembus ruang. Internet memungkinkan kita untuk melakukan tukar-menukar informasi dalam waktu sesingkat mungkinKehadiran media komunikasi jelas memberi dampak bagi komunikasi itu sendiri. Diiringi dengan perkembangan teknologi, komunikasi pun terasa semakin berwarna. Bila sebelumnya kita hanya bisa menikmati internet dengan menggunakan komputer, kini teknologi telepon seluler memungkinkan kita mengakses dunia melalui telepon seluler. Komunikasi dengan menggunakan internet lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (KMK, Computer-Mediated Communication). Maka komunikasi melalui telepon seluler mungkin bisa kita sebut sebagai Komunikasi Media Telepon Seluler (KMTS, Mobile Phone-Mediated Communication) – pada dasarnya, KMTS tidak terbatas pada komunikasi via jaringan internet, tetapi termasuk juga SMS, EMS, maupun MMS, bahkan surat elektronik pun memungkinkan untuk diakses melalui telepon seluler, meskipun tergantung layanan operator dan fitur telepon seluler itu sendiri.

Adapun komunikasi dengan menggunakan komputer lazim disebut sebagai Komunikasi Media Komputer (Computer-Mediated Communication). Fasilitasnya jelas bermacam-macam. Selain Internet Relay Chat, dan surat elektronik, kini kita juga mengenal Instant Messenger, bahkan blog dan jaringan sosial semacam friendster, Multiply, facebook, Twitter, kini bisa digunakan sebagai sarana komunikasi.

Saya kira, kita bisa membagi dampak KMK ke dalam dua bagian. Pertama, dampaknya bagi perkembangan bahasa dan kedua dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia. Bagi bahasa Indonesia, internet (dan dengan demikian berkenaan juga dengan teknologi komputer dan dunia maya) memperkaya kosa kata. Berbagai istilah baru bermunculan. Istilah-istilah tersebut mayoritas berasal dari bahasa Inggris.

Dampak bagi perkembangan bahasa
Mengenai kosa kata ini, sesungguhnya pihak Pusat Bahasa sudah melakukan (kalau tidak bisa dibilang menetapkan karena faktanya beberapa pihak mungkin keberatan dengan pilihan pihak Pusat Bahasa) pemadanan terhadap sekian ratus kosa kata dunia komputer/internet ini (jumlah yang saya ingat beberapa waktu lalu mencapai angka tiga ratusan kosa kata). Maka beberapa dari kita akan merasa akrab dengan istilah, seperti unduh, unggah, tetikus, daring, dan sebagainya. Sayangnya (atau malah untungnya?), ada lebih banyak lagi yang tidak akrab dengan padanan-padanan itu. Kebanyakan merasa lebih nyaman menggunakan kata download, up-load, mouse, dan on-line.

Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan beragam istilah baru di dan sekitar dunia maya ini. Beberapa istilah baru bermunculan. Maka kita mengenal kata-kata berikut ini, misalnya, sebagai sesuatu yang lumrah, meskipun beberapa berasal dari nama penyedia layanan.

blog
blogger
blogging
chatting
FB/facebook
friendster
googling
IM/Instant messenger
post/posting
Twitter
Wiki/Wikipedia

Dalam komunikasi sehari-hari, istilah-istilah tersebut relatif sering muncul, terutama di kalangan para pengguna internet. Mark Liberman, misalnya, mencantumkan sebuah komik strip yang menggambarkan percakapan yang menggunakan istilah Wikipedia untuk mencari informasi mengenai sesuatu.

Istilah-istilah yang muncul belakangan ini tidak sekadar diperoleh dari kosa kata baru dari bahasa Inggris yang berkenaan dengan teknologi komputer dan internet, tetapi juga dari nama-nama penyedia layanan tertentu (jaringan sosial, mesin pencari, dan sebagainya). Oleh karena istilah-istilah tersebut umumnya berasal dari bahasa Inggris, fenomena yang merebak sudah tentu fenomena campur kode.

Selain itu, kita juga diperhadapkan pada fenomena penyingkatan kata. Semuanya untuk tujuan mempersingkat waktu. Maka kita pun mengenal singkatan-singkatan, seperti asl pls, km, i c, b4, ol, u, atau w/ untuk with dalam bahasa Inggris, dan sebagainya yang mungkin akan bertambah lagi. (Menarik juga melihat bahwa penyingkatan seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang baru, sementara sekretaris Marcus Tullius Cicero, Tiros, sudah melakukan hal yang sama ketika menyingkat cum (with) menjadi c.

Dalam bahasa Inggris, fenomena ini tidak memunculkan perilaku campur kode. Malah muncul kekhawatiran akibat dampak perkembangan dunia maya ini. Sejumlah media sempat mengangkat hal ini dan mengemukakan bahwa komunikasi melalui media elektronik mulai memberi dampak negatif pada bahasa tulis. The Sun (24 April 2001) memandang fenomena bahasa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi ini merupakan awal dari kematian bahasa Inggris yang baik. Ulasan pada The Sun itu seolah dipertegas lagi dalam The Scotsman (4 Maret 2003), yang mengungkapkan betapa para guru saat itu mulai diperhadapkan pada esai yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris standar, tetapi justru dalam bahasa pesan teks telepon selular yang minimalis dan ringkas.

Maka menarik juga mencermati adakah gejala serupa terjadi di Indonesia. Bagaimana murid-murid yang semakin akrab dengan Yahoo! Messenger, eBuddy, Nimbuzz, facebook, dan sebagainya itu berbahasa? Adakah ragam singkatan turut bermunculan dalam bahasa tulisan mereka? Bagaimana peran guru  dalam menghadapi fenomena seperti ini?

Akan tetapi, internet/komputer tidak hanya memperkaya kosa kata. Salah satu yang paling penting ialah internet memungkinkan banyak pihak untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan kebahasaan (termasuk bidang ilmu lain). Internet membuka peluang untuk penelitian bahasa dalam ranah yang berbeda daripada biasanya.

Dampak bagi struktur komunikasi
Sampai awal 2000-an, Internet Relay Chat masih menjadi sarana komunikasi yang relatif populer. Setelah itu, Instant Messenger semacam Yahoo! Messenger menjadi salah satu yang relatif umum. Meskipun demikian, prinsip dasarnya tetap sama. Sehingga dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia (termasuk juga bahasa lainnya) secara umum tetap sama.

Black et al sebagaimana diungkapkan Lewis Hassel, menyebutkan bahwa setiap jenis media yang digunakan untuk berkomunikasi akan mempengaruhi struktur interaksi komunikasi. Demikianlah KMK mempengaruhi alur komunikasi selama ini. Sebagai contoh, gangguan yang dialami pengguna KMK berkenaan dengan media yang digunakan. Di kalangan pengguna internet yang mahir, gangguan itu terutama meliputi akses internet yang lambat dan terputusnya sambungan internet. Bandingkan dengan KMTS (dalam hal ini komunikasi yang dilakukan ialah dengan mengakses jaringan internet, bukan melalui SMS, EMS, maupun MMS yang berupa gangguan sinyal seluler dan pulsa yang tidak mencukupi (bagi pengguna layanan prabayar).

Dalam hal struktur, KMK melalui Internet Relay Chat cenderung menghasilkan struktur yang kacau-balau, tidak berurut. Namun, itu bukan berarti bahwa komunikasi yang dilakukan tidak berlangsung dengan baik. Bahkan bila dilihat dari sudut pandang wacana, rangkaian komunikasi tersebut merupakan wacana yang memiliki kesatupaduan. Hal ini, misalnya, dikemukakan oleh Susan Herring dalam tulisannya, ”Interactional Coherence in CMC”.

3 Responses to “Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia”

  1. Mata Dunia October 28, 2009 at 3:38 pm #

    Excellent, setelah sekian lama tidak blogging atau posting (mungkin lebih banyak chatting atau googling—juga lebih sering fesbuking), Anda kini hadir dengan materi yang attracting. Benar-benar interesting.

    Btw, FYI, ini mungkin membentuk gaya bahasa “underground” ala dunia maya. Ini gaya bahasa pemberontakan yang anti-bahasa mapan, mencoba tetap akrab dan serius, tetapi juga connecting dengan seluruh dunia.

    Hal yang patut direnungkan apakah dunia maya seperti ini—dengan gaya bahasa “tersendiri” dan “eksklusif”—dapat menciptakan suatu dunia social tersendiri. Dalam bentuk apa dan bagaimana? Unsur bahasa ini sangat menarik, karena seolah-olah mereka mencoba mengingatkan diri mereka bahwa mereka itu berada di ambang batas antara dunia nyata dan dunia maya.

    Saya sedang menyiapkan satu tulisan terkait proses sosial yang terjalin dalam komunikasi di dunia maya (tapi tulisannya belum selesai juga semenjak dulu). Terima kasih karena sudah membangkitkan minat saya lagi.

    Untuk sementara itu doeloe…..

  2. Budaya Pop October 28, 2009 at 3:47 pm #

    Sisi baiknya, jika singkatan-singkatan slank itu menjadi baku, bukankah tulisan menjadi makin ringkas? Asal saja, kode-kode itu makin populer.

  3. Lowongan CPNS October 30, 2009 at 8:59 pm #

    mantap artikelnys…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: