Posted by: indonesiasaram | December 4, 2008

Antara Baku dan Benar

Ini masalah yang menarik. Sekaligus menjadi pelajaran penting bagi saya, bagi Anda, bagi yang memang berkunjung da mau membaca blog ini.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendiskusikan masalah bahasa dengan seorang teman dari kantor saya yang lama. Ia datang dengan mengajukan sebuah kasus: antara telepon dan telefon, yang mana yang benar?

Kebanyakan kita tentu akan memilih kata telepon daripada telefon. Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendaftarkan kata telepon sebagai kata yang baku, bukan telefon. Namun, justru di sinilah letak masalahnya.

Telepon berasal dari kata telephone, dari bahasa Inggris. Berdasarkan aturan pada penyerapan kata atau istilah asing, gugus konsonan ph diserap dan diganti menjadi f. Sehingga seharusnya kita membaca telefon dan bukan telepon.

Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah kata lain. Misalnya, fonologi, fonem, mikrofon, foto, dan lain-lain. Kalau kita memaksa mengikuti apa yang telanjur terjadi pada kata telepon, kata-kata di atas harusnya kita lafalkan pula sebagai ponologi, ponem, mikropon, dan poto. Faktanya, sekali lagi mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dianggap baku adalah deret pertama yang saya sebutkan, bukan yang terakhir.

Apa yang mau disampaikan di sini ialah bahwa bahasa yang baku sebenarnya berbeda dengan bahasa yang benar. Baku tidak selalu benar. Bahasa yang baku merupakan bahasa yang standar. Artinya, ditentukan berdasarkan kesepakatan. Dalam hal ini, tampaknya yang bertanggung jawab dalam urusan ini tentu tim penyusun KBBI. Sementara bahasa yang benar adalah bahasa yang mengikuti kaidah, dalam kasus kita ini kaidah penyerapan.

Konon, Kantor Berita Antara memilih taat kaidah.

Konon, perbandingan antara situs Indonesia yang taat kaidah dan taat kebakuan, menurut Google, adalah berimbang.

Bagaimana Anda?


Responses

  1. WAH, KBBInya harus direvisi nih berati, supaya konsisten ….

    • Belum lama ini (kalau tidak salah per November 2008 yang lalu), sudah terbit kamus yang baru, kali ini diberi nama Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Kali ini yang menerbitkan Gramedia, bukan Balai Pustaka lagi. Nah, bagaimana isinya, saya tidak tahu. Belum melihat isinya secara langsung, sedangkan harganya relatif mahal.

  2. hehehe… Bikin kamus tandingan: Kamus Baku Bahasa Indonesia dan Kamus Benar Berbahasa Indonesia.

  3. Kalau tidak salah KBBI terakhir edisi 4 (v.4.0) yang direstui Pusat Bahasa yang warnanya abu-abu. Ada beberapa “KBBI-KBBI” gadungan lainnya yang lebih tipis. Liat ke toko yang versi Pusat Bahasa itu yang paling lengkap(?dipertanyakan?) yang harganya 375.000 klo ndak salah.


Leave a response

Your response:

Categories