Setelah dipusingkan dengan masalah perpuisian sebuah buku yang telah saya kerjakan sebelumnya, kini saya harus kembali menggeluti buku berbahasa Belanda. Dan pagi ini ada sedikit diskusi kecil mengenai penulisan bilangan. Apa yang didiskusikan dua rekan saya persis dengan apa yang saya temukan dalam kasus buku yang saya hadapi.
Persoalannya sederhana. Bagaimana penulisan bilangan apabila dituliskan dengan huruf?
Berdasarkan kaidah, sebuah bilangan ditulis dengan huruf apabila terdiri dari dua kata. Kalau terdiri dari tiga kata atau lebih, bilangan itu harus ditulis dengan angka. Bilangan juga harus ditulis dengan angka apabila menunjukkan suatu perincian sekaligus menyatakan jumlah.
Kasus yang dibicarakan dua rekan tersebut berkenaan dengan apakah penulisan bilangan dengan huruf ditulis serangkai atau terpisah, terkait dengan bilangan belasan dan puluhan. Jadi, apakah angka 12 ditulis sebagai duabelas atau dua belas? Dalam naskah yang dikerjakan rekan saya, bentuk duabelas-lah yang tersebar.
Tentu saja penulisan tersebut tidaklah tepat. Karena dua dan belas merupakan kata yang berdiri sendiri dan tidak ditulis serangkai.
Hal serupa juga saya jumpai dalam naskah terjemahan dari bahasa Belanda. Pada naskah terjemahan buku kedua, bertebaranlah bentuk seperti duabelas, di antaranya dalam duabelas murid Yesus. Ada kemungkinan penerjemah mengadopsi penulisan bilangan dalam bahasa Belanda, di mana penulisan bilangan yang dalam bahasa Indonesia terdiri dari tiga kata atau lebih dalam bahasa Belanda malah ditulis serangkai. Sebut saja untuk angka 450 dituliskan sebagai vierhonderdvijftig, yang dituliskan oleh penerjemah sebagai empatratus limapuluh.
Seharusnya kepusingan tersebut tidak perlu terjadi seandainya ia mengingat cara penulisan bilangan dalam slip setoran tabungan pada kolom “terbilang”. Di sana, kita menuliskan bilangan terpisah kata per kata. Sehingga angka 450 dituliskan sebagai empat ratus lima puluh. Tetapi dalam teks, kita perlu menuliskannya sebagai 450 sesuai kaidah.
Diskusi ini mengingatkan saya pada kasus dalam Alkitab. Perhatikanlah isi Alkitab, Anda akan menemukan bahwa tidak satu bilangan pun dituliskan dengan angka. Misalnya saja, empat ratus tiga puluh (Kejadian 11:17), seribu tujuh ratus tujuh puluh (Kejadian 38:28), empat ratus tiga puluh (Galatia 3:17), dan masih banyak lagi.
Sebenarnya, tidak mengherankan kalau Alkitab tidak menuliskan bilangan-bilangan tersebut dengan angka. Cara ini dilakukan semata-mata untuk menghindari kebingungan dengan angka yang menunjukkan ayat. Bayangkan kalau Lembaga Alkitab Indonesia memutuskan mengikuti kaidah dari Pusat Bahasa dengan menuliskan bilangan sebagai angka. Maka, ambil saja bagian dari Kejadian 11:13–18, akan menjadi seperti berikut ini dan membuat tidak nyaman karena ada banyak angka yang berseliweran.
13 Arpakhsad masih hidup 403 tahun, setelah ia memperanakkan Selah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 14 Setelah Selah hidup 30 tahun, ia memperanakkan Eber. 15 Selah masih hidup 403 tahun, setelah ia memperanakkan Eber, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 16 Setelah Eber hidup 34 tahun, ia memperanakkan Peleg. 17 Eber masih hidup 430 tahun, setelah ia memperanakkan Peleg, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 18 Setelah Peleg hidup 30 tahun, ia memperanakkan Rehu.




Jadi “Keduabelas Rasul” harusnya ditulis menjadi “Kedua-belas Rasul” atau “Kedua Belas Rasul” atau bagaimana?
By: Benny on June 18, 2008
at 11:57 am
Semestinya ditulis dua belas rasul.
By: indonesiasaram on June 19, 2008
at 7:02 am
tidak bisa dong… (sori ngeyel -_-) kan awalan ke- menunjukkan himpunan,
-kesebelas pemain sepak bola itu
-kesepuluh buku itu
trus kalau dua belas (dan seterusnya hingga seratus) tidak berimbuhan ke- jadinya tidak konsisten dong?
By: Benny on June 25, 2008
at 6:42 am
Kalau itu yang Anda maksud, Anda benar. Penulisannya kedua belas. Yang saya maksud pada komentar sebelumnya ialah, kata dua dan belas harus dipisah.
By: indonesiasaram on July 3, 2008
at 7:04 am
“Bilangan juga harus ditulis dengan angka apabila menunjukkan suatu perincian sekaligus menyatakan jumlah.” Bisa dijelaskan sedikit? Bukankah dua belas murid juga menyatakan jumlah? Tetapi kenapa tidak ditulis dengan angka? Penulisan bilangan dalam suatu naskah menurut saya agak taksa (ambigu). Dalam buku-buku bahasa Inggris bilangan selalu ditulis bukan dengan angka. Penulisan persen apakah harus juga dengan huruf? Misal: dua belas persen atau 12%?
By: Steve Gaspersz on July 17, 2008
at 9:06 am
Syalom Bang Raka, kenalkan Saya Tumpal mhs Sasindo usu stambuk 2006. Iseng-iseng browsing jumpa ma blog abang.Aku setuju dengan maksud yang disampaikan diatas. Menuliskan bilangan-bilangan dengan huruf didalam Alkitab, adalah hal tepat. Saya pernah dapat kuliah dari dosen, menulis bilangan dengan huruf, harus terpisah kata demi kata. Maju terus, pengutak atik bahasa,
bang ajari aku ngeblog yang bener…? aku msh baru kenal dunia maya ini…!
By: Tumpal on November 23, 2008
at 4:24 am