Gaya Selingkung yang Melawan Kaidah

4 Mar

Kalau Anda gemar membaca dan memiliki tingkat ketelitian yang cukup tinggi, Anda pasti mengetahui kalau masing-masing penerbit memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khas tersebut bermacam-macam. Ada dari segi desain sampul, ada pula dari segi bahasa. Yang terakhir ini pun bermacam-macam.

Dalam penerbitan, ada istilah yang disebut gaya selingkung. Gaya selingkung ini merupakan gaya bahasa yang ditentukan penerbit sebagai salah ciri khas. Selain itu, gaya selingkung ini bisa dibilang merupakan gaya bahasa baku bagi penerbit terkait. Sayangnya, gaya selingkung tersebut sering kali bertentangan dengan ejaan baku yang berlaku.

Salah satunya berkenaan dengan sejumlah kosakata kekristenan, yaitu sekolah minggu. Sampai saat ini masih ada penerbit yang membakukan Sekolah Minggu dalam setiap buku terbitan mereka. Adapun dalam bahasa Inggris, sekolah minggu disebut sebagai Sunday school. Sebagaimana pembahasan sebelumnya (lebih lengkapnya silakan klik “Sekolah Minggu” untuk menuju artikel lengkap pada arsip blog ini), apabila tidak ada penekanan khusus dan bukan merupakan nama, penulisan seharusnya ialah sekolah minggu.

Demikian pula pada kata Juru Selamat. Masih banyak pula penerbit yang berkeras menggunakan Juruselamat–untuk mengacu pada Yesus Kristus–sebagai bentuk yang baku. Penjelasan singkat mengenai hal ini juga dapat Anda temukan dari arsip blog ini. (Klik “Juruselamat Dua Ribu Tahun Lalu” dan “Juruselamat (Lagi)”.)

Pada tataran morfologi, pelanggaran kaidah morfologi sebagai perwujudan gaya selingkung penerbit juga dimunculkan. Sebagai contoh, kata mempercayai bagi sejumlah penerbit merupakan bentuk yang baku, alih-alih memercayai. Padahal proses pembentukannya sama saja seperti pada kata memukul, yaitu memperoleh akhiran -i untuk kemudian mendapat awalan meN-. Kata-kata yang lain bisa disebutkan di sini, yaitu mengkomunikasikan, mempertahankan, dan sebagainya.

Akhirnya, dalam tataran tanda baca pun hal serupa juga terjadi. Kali ini yang “membakukan” tidak hanya para penerbit buku, tetapi media massa juga kian ramai melakukannya. Perlu ditekankan di sini, media massa (surat kabar) sebenarnya memiliki nilai pembinaan yang jauh lebih dekat dengan masyarakat daripada buku. Sebab surat kabar cenderung jauh lebih murah daripada buku. (Jangan tanya kenapa, mengingat buku-buku bahasa pun harganya selangit!)

Adapun tanda baca yang paling sering disalahgunakan ialah tanda petik tunggal yang sering kali menggantikan peran tanda petik ganda. Cukup menarik juga disimak karena beberapa kali saya menemukan kekeliruan ini justru dilakukan oleh mereka yang terbilang berasal dari kalangan akademik. (Anda dapat saja berkata bahwa ranah ini bukan kemampuan mereka, tapi hal ini mestinya disampaikan dalam kuliah Bahasa Indonesia, kecuali Anda memang hanya memandangnya sebagai formalitas!)

Tampaknya kebanyakan mereka beranggapan bahwa tanda petik ganda hanya digunakan untuk kalimat langsung. Padahal tanda petik ganda berfungsi lain, di antaranya untuk mengapit istilah yang masih kurang dikenal atau kata yang memiliki arti khusus.

Sebaliknya dengan tanda petik tunggal yang hanya memiliki dua fungsi, yaitu mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain, dan mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Berdasarkan hal tersebut, tolong beri tahukan saya, apakah penggunaan tanda petik pada kalimat di bawah ini tepat atau tidak. Sebagai catatan, kalimat ini saya temukan pada sebuah surat kabar skala Nasional (Senin, 3 Maret 2008) dan ditulis oleh seorang mahasiswa pada Program Doktor Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia.

‘Pertunjukan’ yang sedang berlangsung di Gedung DPR Senayan sungguh sangat memprihatinkan.

3 Responses to “Gaya Selingkung yang Melawan Kaidah”

  1. Susilo March 7, 2008 at 1:51 pm #

    Ya! Lebih kepada lembaga bahasa yang kurang menyentuh masyarakat pemakai bahasa sehari-hari.

  2. nancy March 11, 2008 at 3:31 pm #

    hai, apa kabar raka?
    masukan yang bagus. memang kita semakin seenaknya memakai tanda petik, ya?

  3. indonesiasaram March 12, 2008 at 7:32 pm #

    Halo juga, Mbak. Puji Tuhan, sekarang saya bisa kembali aktif.

    Yah, memang ada banyak alasan orang menggunakan tanda petik tersebut. Sayangnya, lebih sering keliru sehingga bagi yang mengerti bisa menimbulkan kebingungan. Semoga saja banyak yang belajar dan memperbaiki sikapnya dalam menggunakan tanda petik, dan tanda-tanda baca lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: