Anda pernah mendengar tuturan seperti tajuk di atas? Tentu sering. Malah mungkin Anda menjadi bagian dari penutur yang sedemikian. Itulah gelombang bahasa yang masih terus bergulung-gulung dalam khazanah bahasa Indonesia.
Fenomena berbahasa sedemikian berada dalam cakupan sosiolinguistik, cabang ilmu linguistik yang memang menarik untuk terus diikuti. Dalam linguistik, fenomena demikain disebut alih kode.
Alih kode atau code switching merupakan fenomena berbahasa di mana terjadi pengalihan satu bahasa kepada bahasa lain. Biasanya dikarenakan peralihan konteks.
Salah satu contoh yang disebutkan dalam buku-buku sosiolinguistik, alih kode sering terjadi dalam komunitas berbahasa daerah. Ketika seorang dari daerah lain hendak bergabung dalam pembicaraan, kelompok penutur bahasa daerah tersebut harus mengganti bahasa mereka. Bila sebelumnya menggunakan bahasa Batak, misalnya, karena kehadiran seorang Jawa, tentu mereka akan menggunakan bahasa Indonesia supaya teman Jawa mereka itu bisa mengikuti perbincangan.
Dalam hal ini, kita bisa memahami keputusan untuk terus menggunakan bahasa Batak sebagai penolakan bagi individu asing yang hendak bergabung dalam perbincangan tersebut. Sebaliknya, bila kelompok itu mengganti bahasanya dengan bahasa yang bisa dimengerti dua penutur berbeda bahasa ini, kita pun melihatnya sebagai suatu penerimaan.
Nah, bagaimana kondisinya saat ini? Apakah peralihan konteks menjadi pendorong para penutur bahasa untuk melakukan alih kode? Saya curiga tidak demikian.
Salah satu sumber yang bisa kita jadikan data ialah lirik-lirik lagu. Sejumlah lirik lagu yang ditulis belakangan ini semakin memopulerkan (membudayakan) perilaku alih kode. Kalau Anda penggemar J-rock maupun J-pop (sebutan untuk musik rock dan pop asal Jepang), Anda akan menemukan begitu banyak lirik lagu yang beralih kode.
Contohnya, lirik lagu X Japan, Say Anything berikut.
sawameki dake ga
kokoro o sashite
kikoenai mune no toiki
toki o wasurete motome samayou
takanaru omoi nurashite
Run away from reality
I’ve been crying in the dream
koritsuita toki ni furuete
yugande mienai kioku kasaneru
kanashimi ga kieru made
Tidak kalah dengan itu, musisi tanah air pun sudah asyik-masyuk juga dengan alih kode. Dulu itu ada lagunya Slank yang judulnya memakai bahasa Inggris, tapi liriknya masih dalam bahasa Indonesia, di mana lirik tersebut turut dinyanyikan dalam salah satu bagian dari keseluruhan lagunya.
Bila mengamati lirik-lirik lagu tersebut, termasuk sejumlah tuturan yang sering kita dengar, alih kode pada masa kini tampaknya sudah meluas, tidak sekadar dikarenakan alasan pergantian konteks.
Pada lirik lagu X Japan di atas, tidak ada pergantian konteks yang memaksa penulisnya menyambung dengan lirik bahasa Jepang. Demikian pula sebaliknya. Mari kita lihat pula pada bagian refrein berikut ini.
You say anything
kizutsuke au kotoba demo (the fitting word blesses but)
say anything
tachikirenai kokoro ni (to the heart that cannot sever)
Kizutsuke au kotoba demo pada baris kedua tersebut, pada dasarnya tidak perlu dituliskan dalam bahasa Jepang. Bila pun hendak menggunakan bahasa Inggris, mereka bisa menggunakan the fitting word blesses but. Namun, mereka memilih untuk tidak menggunakannya.
Bagaimana dengan lagu-lagiu dalam bahasa Indonesia? Cobalah Anda amati, lalu silakan berkomentar di bawah tulisan ini.
Kita bisa saja menyebutkan fenomena alih kode yang terjadi belakangan ini hanya didasarkan pada perilaku yang arbitrer, alias sewenang-wenang. Gampangnya, gaya berbahasa yang lazim ditemukan saat ini adalah gaya berbahasa yang berkenaan dengan bahasa asing. Terlepas dari makna atau penekanan yang mungkin tercipta dari penggunaan unsur-unsur asing, alih kode dalam berbagai lirik lagu
Sikap masyarakat bahasa terhadap bahasa tentu berperan penting dalam memasyarakatkan fenomena ini. Apalagi alih kode merupakan salah satu dari tiga pilihan bahasa yang bisa digunakan oleh masarakat penggunanya. Dan dalam pandangan Sumarsono dan Partana (2002), alih kode merupakan pilihan bahasa yang paling besar konsekuensinya. Alih kode tidak sekadar menimbulkan pergeseran bahasa, melainkan juga kepunahan bahasa. Dengan kata lain, tindakan yang semakin gencar dalam melakuakn alih kode, pada akhirnya bisa berujung pada kepunahan bahasa Indonesia. Nah, lho!




wah, gawat juga kalau bahasa Indonesia punah
By: yoto on October 15, 2007
at 9:53 am
Hmmm…… Kecian juga bahasa kita, kalo semua orang undah nggak mau ngomong pake bahasa yang baik dan benar, sesuai ejaan yang disempurnakan….. tapi ya mau gimana lagi, semua itu kan merupakan imbas dari perkembangan jaman, yang semakin modern….. lagian juga lembaga – lembaga di permerintahan sono, juga harus turun tangan……. misalnya lembaga penyiaran Indonesia kerjasama dengan Depdikbud, serta dengan parsi, pasti udah nggak ada tuh film – film yang sok – sok pake bahasa gak karuan….. Gua sebagai orang Jawa Tengah, Purwoketo gitu loh…… juga berusaha menonjolkan bahasa banyumasan, tapi waduh….susah banget….. banyakan anak gaul daripada anak katro kayak inyong…….yang masih pake bahasa asli…..
By: Fembi Hari Kristandi on October 19, 2007
at 10:32 am