Pasar Gelap

30 Jun

Tatkala malam menjelang, biasanya para penggiat malam pun mulai berkeriapan. Salah satu sudut kota yang aktivitasnya dalam beberapa bulan ini mulai meningkat ternyata tidaklah jauh dari dari palang rel, dekat Stasiun Solobalapan, Solo. Belakangan ini, kalau Anda melintasi daerah tersebut, Anda akan menemukan kerumunan orang di sebelah kiri jalan (atau sebelah kanan bila berada di arah berlawanan). Beberapa sepeda motor tampak tertata rapi. Turut nongkrong pula beberapa orang yang berperan sebagai tukang parkir. Hampir semua orang yang berada di sana laki-laki.Sempat penasaran, saya pun melintas dengan sepeda tua saya secara perlahan. Barulah saya mnenyadari apa yang mereka tonton. Di emperan toko, para pedagang menjajakan barang elektronik yang biasa kita pakai berkomunikasi. Ya, mereka ternyata menjual ponsel. Entah merek apa saja. Ada yang hanya memajangkan ponsel-ponselnya, layaknya para penjaja ponsel di ITC Roxy, atau di Millenium Plaza, atau di Grand Mall. Maka yakinlah saya kalau ini merupakan salah satu tempat yang disebut black market di Solo.

Istilah black market bukan istilah baru. Sering disingkat BM, istilah ini sendiri sebenarnya memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, yaitu pasar gelap. Istilah pasar gelap ini sejajar pula dengan istilah lain, seperti pasar antik, yaitu pasar yang mayoritas pedagangnya menjual atau menjajakan barang-barang antik sebagai komoditasnya. Kalau di Jakarta, salah satu yang saya ingat, ada di Jalan Surabaya. Jadi, pasar gelap bisa disebutkan pula sebagai pasar yang menjual barang-barang yang disebut sebagai barang gelap.

Lalu, apa yang dimaksudkan dengan gelap di sini?

Kata gelap secara konotatif bisa berarti ‘suasana yang tidak terang’. Artinya, bisa ‘temaram’, ‘kelam’, ‘minim cahaya’. Lebih jauh lagi, ia pun berkenaan pula dengan ‘terselubung’, ‘tersembunyi’. Dengan demikian, barang gelap sebenarnya mengacu pada barang-barang selundupan, barang-barang yang masuk secara ilegal, secara tidak resmi. Tujuannya tentu untuk menghindari pajak yang konon begitu tinggi.

Meski demikian, belakangan ini, tampaknya istilah barang gelap itu sendiri sudah mulai meluas. Barang gelap saat ini bisa digunakan pula sebagai acuan kepada barang-barang yang diperoleh dari hasil mengutil, mencopet, mencuri, atau malah merampok. Sehingga pernah seorang teman nyeletuk, “Kalau HP-mu dicopet, coba saja kamu lihat di emperan dekat palang rel itu. Siapa tahu ada di sana.”

Fakta lain mengenai pasar gelap ini ternyata tidak hanya berkenaan dengan barang-barang yang dijajakan. Selain menjual barang-barang hasil curian maupun selundupan, pasar ini disebut juga gelap karena pasar ini hadir di malam hari. Hanya saja, komoditas berbeda yang ditawarkan di pasar ini jelas sangat berbeda dengan pasar lain yang kita sebut pasar malam — juga diadakan pada malam hari. Sebab di pasar malam, kita tidak sekadar dapat berbelanja, tapi juga bisa menikmati berbagai hiburan.

Nah, bagaimana di kota Anda?

One Response to “Pasar Gelap”

  1. DAYU SINTYA August 24, 2009 at 6:59 pm #

    terima kasih atas infonya, saya ingin mengetahui bagaimana pro dan kontra dari pasar gelap menurut anda…????
    xie xie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: