Dalam penulisan, selalu saja ada makna-makna tertentu yang dikemukakan dengan pernyataan-pernyataan umum, dengan kata-kata, frasa, kata majemuk, bahkan klausa yang umum. Masalahnya, bagaimana menunjukkan bahwa kata, frasa, kata majemuk, maupun klausa tersebut merupakan bagian yang hendak diberi penekanan?Setidaknya, ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengkhususkan kata, frasa, kata majemuk, ataupun suatu klausa.
Pertama, dengan menggunakan huruf miring. Jadi, bila Anda ingin mengkhususkan kata, frasa, kata majemuk, dan mungkin juga klausa, silakan menuliskan bentuk-bentuk tersebut dengan huruf miring. Hal ini dimungkinkan, khususnya bila tulisan kita hendak dicetak atau diproses dengan program pengolah kata yang memungkinkan penggunaan huruf miring. (Sebab, ada juga program tertentu yang dapat dipakai sebagai pengolah kata, namun tidak mengizinkan kita menggunakan huruf miring, misalnya UltraEdit.)
Cara kedua ialah dengan menggunakan tanda petik. Satu hal yang perlu ditekankan di sini ialah tanda petik yang digunakan bukan tanda petik tunggal, melainkan tanda petik ganda. Namun, ternyata banyak juga literatur yang menggunakan tanda petik tunggal untuk mengkhususkan kata, frasa, kata majemuk, atau klausa. Padahal tanda petik tunggal dan tanda petik ganda memiliki fungsi yang berbeda.
Tanda petik tunggal biasa digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Misalnya, seperti di bawah ini.
“Aku mendengar seseorang memanggil, ‘Nori, Nori’, dari hutan itu,” ujar Ramon.
Tanda petik tunggal juga digunakan untuk mengapit terjemahan, ungkapan asing, atau penjelasan kata. Kalau dalam linguistik, tanda petik itu disebutkan mengapit makna.
Jadi, tanda petik tunggal memang berbeda dengan tanda petik ganda, yang selain berfungsi untuk mengkhususkan kata, frasa, kata majemuk, atau klausa, juga sebagai pengapit petikan pembicaraan dan pengapit judul syair, karangan, dan bab buku yang dirangkai dalam kalimat.
Bagaimana dengan penggunaan huruf tebal? Pengkhususan kata, frasa, kata majemuk, maupun klausa dengan menggunakan huruf tebal sebenarnya tidak disarankan. Biasanya huruf tebal menjadi pembeda antara isi tulisan dengan judul atau subjudul tulisan. Meski demikian, penggunaan huruf tebal sering dijadikan alternatif agar bagian yang dikhususkan itu menjadi sangat jelas.




rada ga nyambung nih tp bikin penasaran,
yg bener penulisan ‘kreativitas’ atau ‘kreatifitas’?
By: theis on June 13, 2007
at 7:30 pm
Kreatifitas (Wikipedia Indonesia “Kata Indonesia yang sering salah dieja”)
kutip:
“Tanda petik tunggal juga digunakan untuk mengapit terjemahan, ungkapan asing, atau penjelasan kata. Kalau dalam linguistik, tanda petik itu disebutkan mengapit makna.”
Nah kalau dalam satu kalimat ada sebuah ungkapan asing, terjemahan, dan penjelasan kata, apakah ketiga-tiganya menggunakan tanda petik tunggal? kadang-kadang saya pakai petik tunggal, petik, dan cetak miring supaya pembaca tahu bedanya.
Contoh:
Dalam bahasa Inggris, ‘kasih’ dapat diterjemahkan menjadi love – “cinta”
By: bennylin on September 23, 2007
at 8:25 pm
bisa tolong kasih contoh lbh banyak ga tentang tanda petik tunggal ? ada PR yg kaya gitu nih.. ^o^”
By: Theo on October 18, 2007
at 4:00 pm
Wah, saya kira untuk Sdr/i Theo, coba lihat media massa atau buku-buku lain deh. Di sana ada lebih banyak contoh.
By: indonesiasaram on November 5, 2007
at 11:05 pm
salam kenal>>>>>>>>
:):):);)
wah blognya boleh juga tuh untuk pelajaran B. Indo…
hehehehe
By: accan on October 22, 2008
at 8:49 pm