Beberapa hari yang lalu, seorang pengunjung meminta saya untuk kembali mengulas masalah campur kode. Semoga tulisan berikut bisa membantu.
Sebagai salah satu fenomena bahasa, campur kode memang tidak terelakkan. Kalau mau mengambil contoh penelitian, paling banyak bisa kita peroleh dalam lingkungan anak muda yang doyan cas-cis-cus pakai bahasa Inggris. Bagi sebagian kalangan, khususnya kaum preskriptif, fenomena ini dianggap merusak bahasa. Meski demikian, bagi para penganut deskriptif, hal ini jelas sangat mengasyikkan.Dalam blog saya sebelumnya, berjudul Campur Kode, saya sempat menyinggung alasan akademis dan gengsi sebagai latar belakang pencampurkodean. Mungkin alasan lain bisa muncul, yaitu ketiadaan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata-kata seperti eros dan philia, yang memang tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Atau parakletos.
Ada beberapa jenis campur kode yang bisa ditemukan. Pertama dalam tataran kata. Untuk pembahasan singkat, silakan lihat blog sebelumnya di Campur Kode. Lalu ada pula dalam bentuk frasa dan klausa.
Prinsip sederhana dalam campur kode ialah kata, frasa, atau klausa dalam bahasa asing digunakan dalam konstruksi bahasa asal. Jadi, kata, frasa, klausa dalam bahasa Inggris, misalnya digunakan dalam konstruksi bahasa Indonesia; bisa juga sebaliknya.
Seorang kenalan saya yang asal Amerika cukup sering melakukan campur kode, entah dalam tatanan kata, frasa, maupun klausa. Maklum saja, bahasa Indonesianya memang bermasalah. Dalam tatanan frasa, misalnya, ia bisa berkata sebagai berikut.
(a) I really have to go to rumah sakit now.
(b) Do you see the sky kemarin sore?
Kadang-kadang ia juga menggunakan bahasa Indonesia dan melakukan campur kode dalam bahasa Inggris. Misalnya, seperti (c) dan (d) ini.
(c) Saya sangat heran, they never told me anything!
(d) Kalau meminjam film yang bagus, pleas let us know.
Kadang-kadang, campur kode dalam tatanan klausa memang cukup sulit untuk dideteksi. Tatkala melihat bahwa klausa yang dituturkan tampak lebih panjang, kita malah bisa menganggap bahwa campur kode itu hanya dalam tatanan frasa.
Untuk itu, kita mesti memerhatikan konstruksi kalimatnya. Untuk contoh di atas, kita bisa melihat bahwa konstruksi yang digunakan untuk (a) dan (b) adalah konstruksi kalimat bahasa Indonesia. Sedangkan contoh (c) dan (d) merupakan konstruksi dalam bahasa Inggris.



Salam kenal.
Saya ayaz, mahasiswi tingkat akhir jurusan sastra inggris. Berhubung mahasiswi tingkat akhir, tentunya saya sedang dikejar-kejar hantu skripsi. Skripsi saya juga tentang campur kode dalam esai-esai sejarah dan politik Sartono Kartodirdjo sejak tahun 1987 – 1998.
Seperti yang anda sebutkan, penyebab campur kode bisa disebabkan oleh gengsi, tidak adanya padanan kata, dan alasan akademis. Saya hanya ingin menambahkan, berdasarkan Julie C Weisenberg, dalam bukunya Simultaneous Code Mixing in American Language Sign Interpretation terbitan Stoony Brook, New York tahun 2003 ada 5 alasan mengapa seseorang melakukan campur kode, yait
1. “…to signal social-group membership.” (Myers-Scotton 1993; Gumperz dan Hernandez-Chavez 1978)
2. “…the inability to find an appropriate word or expression in one language.” (Scotton 1979)
3. “…association of one language with a particular topic (i.e. money).” (Lance 1979)
4. “…exclusion of someone from a conversation.” (Scotton 1979; DiPietro 1977)
5. “…as a display of authority.” (Scotton & Ury 1977)
Bagaimana menurut anda??
Bisakah anda menolong saya untuk memperjelas alasan-alasan yang dikemukakan Weisenberg??
Saya pikir 2 kepala tentu lebih baik daripada 1 kepala.
Sekedar menambahkan, dalam Musyken (2001: 1) campur kode mengalami beberapa proses, yaitu:
a. Insertion of material (lexical items or entire constituents) from one language into a structure of the other language.
b. Alternation between structure from languages.
c. Congruent lexicalization of material from different lexical inventories into a shared grammatical structure.
Semoga apa yang saya tulis di blog ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Terima kasih telah membaca sampai selesai.
By: Ayaz on August 30, 2007
at 11:30 am
Menarik sekali kutipan yang Anda berikan, sdri Ayaz, tentu lebih menarik lagi kalau saya coba terjemahkan dulu sebelum berkomentar
5 alasan mengapa seseorang melakukan “campur kode”, yaitu
1. “…sebagai tanda keanggotaan grup tertentu.”
2. “…ketidakmampuan untuk mencari padanan katanya dalam suatu bahasa.”
3. “…hubungan suatu bahasa dengan topik yang dibicarakan (contoh: uang).”
4. “…mengucilkan seseorang dari pembicaraan.”
5. “…untuk menunjukkan otoritas.”
Proses “campur kode”:
a. Memasukkan materi tertentu (kata-kata maupun frasa-frasa) dari suatu bahasa ke struktur bahasa lain.
b. Struktur yang bergantian antara bahasa-bahasa.
c. Penyerapan kata dari kosa kata bahasa yang berbeda menjadi satu struktur tata bahasa yang sama.
Menurut saya alasan yang keenam seperti sudah dikemukakan di dalam artikel adalah kemalasan (Indo banget sih…) yang mungkin tidak terlintas di benak Weisenberg, namun selain daripada itu kelima alasan di atas benar-benar mengena sejauh pengalaman saya.
1.Grup mahasiswa Indonesia-Belanda mungkin menggunakan campur aduk bahasa Indonesia dan Belanda, demikian pula Indonesia-AS dan Indonesia-RRT misalnya
2.Ini mungkin contohnya kata-kata yang belum ada padanannya (seperti banyak istilah komputer-Internet)
3.Dalam teknologi komputer, seringkali bahasa Inggris lebih disukai karena banyak bahasa pemrograman yang menggunakan bahasa ini.
4.Kadang-kadang dalam suatu percakapan digunakan kata-kata bahasa asing supaya pihak ketiga tidak tahu apa yang dibicarakan (semacam kode rahasia)
5.Saya teringat jaman Belanda dulu orang-orang Belanda sering menggunakan bahasa Belanda untuk menunjukkan superioritas mereka atas orang Indonesia. Mungkin itu yang dimaksud
By: bennylin on September 23, 2007
at 8:18 pm
hai saya agustha
skripsi saya juga membicarakan alih kode dan campur kode. namun yang ingin saya tanggapi apakah di negara indonesia ini-jadi bahasanya adalah bahasa nusantara-jenis kelamin berpengaruh dalam alih kode dan campur kode? yang saya tahu di negara spayol hal itu sangat berpengaruh.
apakah ada yang mau menanggapi pertanyaan saya?
By: agustha mandasari on December 9, 2007
at 1:40 pm
itulah peran language sebagai social tool yang flexible dan responsive *oopss…saya melakukan campur kode* . blognya bagus, tukeran link ya!
By: Rizal on November 18, 2008
at 8:37 pm
agoooooooooooossssss, aq suka dengan pengetahuan baru ini, cz sekarang aq memprogram mata kuliah sosiolinguistik.makasih yaaaaaaaa
By: milky on December 6, 2008
at 11:28 am
hai hai…
salam kenal,saya Vinna. Saya seneng banget nich waktu ktemu blog ini! Sangat kebetulan sekali skripsi saya juga bertema alih kode dan campur kode. Wah wah, saking pusingnya, saya sampai pending 1 semester!
Saya ngambil sastra Jepang, dan skripsi saya berjudul Analisis Alih Kode dan campur Kode dalam film serial “Heroes”(kajian sosiolinguistik). Awalnya sich saya semangat waktu ktemu banyak banget penerapan2 alih kode dan campur kode dalam film serial ini, cuma lama2, jadi bingung, alih kode dan campur kodenya mau diapain?? Itu yang selalu ditanya sama dosen pembimbing saya! Wah, saya malah jadi bingung sendiri!! Sampe sekarang aja BaB 1 saya masih revisi trus! Padahal, di film Heroes itu menarik sekali kasus2 alih kode dan campur kodenya!
Yah, saya sich seneng banget bisa share disini. Ada masukan ga nich buat saya??huehehehhehehe…
makasih yah sebelumnya…
By: Vinna on December 24, 2008
at 9:52 pm
wah..nasib saya sama dengan vinna di atas. saya juga bingung mau diapakan data2 yang saya temukan. saya juga masih g mudeng. bener2 g dong. data skripsi saya itu malah belum saya baca tuntas. pertamanya memang semangat. terus2an kok mengkeret kaya karet dapat panas, saya pusing, bingung, harus dibagaimanakan skripsi saya. saya bingung mengidentifikasi kosakata yang bisa dijadikan data, yang disebut dengan alih kode atau campur kode. masalahnya alih kode n campur kodenya itu ada dalam novel bahasa jawa. lha padahal bahasa jawa n indonesia itu hampir sama, jadi tambah bingung. astaghfirullah, kados pundi menika?
By: j-j on September 18, 2009
at 1:41 pm