Saking banyaknya penutur bahasa Indonesia, banyak pula permasalahan yang ada di seputarnya. Salah satunya terlihat dalam hal tulisan. Ketika pertama kali bergabung sebagai editor pemula di sebuah yayasan, saya menemukan penulisan yang keliru dari suatu ungkapan.
Sejumlah naskah yang ditulis oleh rekan-rekan saya kebanyakan menyatukan kata terima dan kasih sebagai terimakasih. Asumsi awal saya, hal ini tak lain dari salah ketik. Akan tetapi, hal tersebut justru berulang beberapa kali sampai akhirnya saya menyadari bahwa mereka keliru memahami terima kasih sebagai rangkaian kata yang utuh.
Dua kata tersebut, terima dan kasih, memang ketika bergabung menjadi suatu ungkapan yang menunjukkan syukur, penghargaan kepada yang melakukan sesuatu yang baik kepada kita. Dan karena memang berasal dari dua kata yang bisa berdiri sendiri-sendiri, maka, sebagai gabungan kata, terima kasih tidak ditulis serangki sebagai terimakasih.
Hal yang sama terjadi pula pada kata sering kali. Sejumlah literatur malahan memang memilih menggunakan bentuk seringkali daripada sering kali. Untuk kasus ini, tampaknya pemilihan penulisan secara serangkai itu lebih dikarenakan kebingungan mengingat ada bentuk acapkali dan barangkali yang memang ditulis serangkai.
Akan tetapi, bila kita hendak menulis dalam kerangka tulisan sastra, perangkaian tersebut sah-sah saja, khususnya bila kita memang hendak memberi penekanan tertentu dan memberikan makna yang khusus untuk bentuk tersebut.
Hanya saja, sebaiknya kita tidak melakuknnya bila kita memang hendak menghadirkan tulisan nonsastra.




Oh, berarti selama ini saya salah. Bukan terimakasih namun terima kasih. Baiklah, terima kasih untuk informasi yang Anda berikan ^_^
By: yoto on June 4, 2008
at 12:01 am