Masalah Kemampuan Berbahasa Indonesia

6 Jan

Sebagaimana sudah diketahui, ada empat kemampuan berbahasa. Keempatnya meliputi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Setidaknya, demikianlah urut-urutannya.Kemampuan mendengarkan menjadi kemampuan berikutnya. Secara normal, seseorang sudah akan dapat mendengarkan bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh apa pun yang ada di sekitarnya. Namun, sebagai individu yang baru saja mulai bertumbuh, apa yang didengarkan tidak dapat langsung dikenali. Ada proses pengenalan terhadap apa dan siapa yang mengeluarkan bunyi. Hal ini, secara luar biasa, terasah dengan baik di sepanjang hidup manusia sehingga kita dapat membedakan siapa atau apa yang mengeluarkan bebunyian itu. Dengan cara seperti inilah kiranya seorang bayi dapat mengenali suara ibunya atau ayahnya.

Kemampuan berbicara menjadi kemampuan berikut yang dimiliki oleh setiap manusia. Hal ini diperolehnya sebagai bentuk peniruan bunyi bahasa sebagaimana dijelaskan di atas. Itulah sebabnya, seorang yang dalam masa kecilnya, atau yang terlahir dengan kecacatan dalam pendengaran akan menjadi orang yang tidak mampu berbicara.

Meski demikian, dari sudut bahasa nonverbal, kemampuan berbicara tampaknya sudah melekat dalam diri seseorang sejak ia lahir. Hal ini diwujudkan dalam bentuk tangisan. Ketika lahir, jerit tangisnya mulai mengarahkan dirinya untuk berbicara secara nonverbal. Itulah bahasa lisan pertama umat manusia. Dalam perspektif guru Seni Rupa saya dulu di SMU, jerit tangis bayi ini menjadi seni pertama yang ada dalam diri manusia, yaitu seni suara.

Kemampuan membaca menjadi kemampuan ketiga sekaligus kemampuan tingkat tinggi pertama sebelum menulis. Saya ingat bagaimana saya bisa membaca untuk pertama kalinya. Ketika itu saya belum masuk TK dan seorang saudara mengajarkan saya membaca — dan hal ini membuktikan bahwa kemampuan membaca baru diperoleh setelah kemampuan mendengar. Ketika itu, saudara saya membacakan beragam kata dan huruf yang bebunyiannya sampai ke telinga saya. Lewat proses peniruan, saya bisa mengikuti sampai akhirnya bisa membaca sendiri.

Sebagai kemampuan tingkat tinggi tahap pertama, membaca menjadi kemampuan yang harus dimiliki dengan baik oleh seseorang sebelum masuk ke tahap berikutnya, yaitu kemampuan menulis. Herannya, kemampuan membaca di kalangan masyarakat Indonesia belumlah terlalu baik. Hal ini ternyata berdampak juga di lingkungan akademik. Coba saja simak pandangan dari Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan (Kompas, Senin, 6 November 2006).

Kita tentu saja boleh menuduh bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah ternyata tidak berhasil meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak kita seperti yang kita harapkan. Di perguruan tinggi kita latih lagi mereka agar penguasaan berbahasanya meningkat, tetapi ternyata dalam proses penulisan skripsi, tesis, dan disertasi pun mahasiswa kita tidak menunjukkan kemampuan itu, tidak terkecuali yang dikerjakan oleh dosen-dosen yang mengajar kemampuan berbahasa Indonesia.

Jelas saja kondisi seperti ini merupakan kondisi yang tidak baik. Karena bagaimana kita bisa mengharapkan masyrakat Indonesia bisa memiliki kemampuan berbahasa yang baik bila ternyata para pengajarnya pun masih belum memiliki kemampuan berbahasa yang mumpuni. (Hal ini mengingatkan saya pada seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang menolak kritikan dari mahasiswanya hanya karena mahasiswanya belum bergelar sarjana.)

Tidak dapat dielakkan bahwa kemampuan membaca menjadi pintu menuju kemampuan menulis. Hal ini juga ditegaskan oleh sastrawan yang juga menjadi dosen pada Fakultas Ilmu Budaya UI ini.

Hal yang juga penting dibicarakan adalah pandangan yang mutlak keliru, yang menyatakan bahwa keterampilan menulis bisa ditingkatkan terlepas dari kemampuan membaca.Saya berpendirian bahwa kemampuan memahami bacaan merupakan landasan utama, bahkan satu-satunya, bagi kemampuan menulis.

Pandangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika seseorang mampu memahami suatu bacaan, ia akan memiliki suatu pengetahuan, katakanlah bank data di dalam otaknya. Bank data ini jelas sangat berguna ketika ia hendak menulis. Ibarat menabung uang di bank, membaca dapat dipandang sebagai kegiatan menabung ribuan kosakata di dalam otak kita, yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan kembali secara tertulis.

Itulah sebabnya, pada hemat saya, membaca harus merupakan kegiatan utama dalam mata kuliah Bahasa Indonesia.

Pandangan beliau sungguh masuk akal. Sayangnya, ketika berhadapan dengan kebiasaan, yang mungkin dibentuk dari budaya yang malas membaca, cita-cita mulia untuk menghasilkan mahasiswa dan masyarakat untuk terampil dalam menulis akan sulit diwujudkan. Boro-boro menghabiskan dua belas tahun, seumur hidup pun tidak akan bisa menghasilkan seseorang dengan kemampuan menulis dengan baik, bila kemalasan sudah membudaya dalam dirinya.

Memang, ada masalah lain yang membayangi kondisi ini. Budaya lisan di Indonesia tampaknya masih dominan. Tidaklah mengherankan ketika seseorang membaca buku, ia tidak dapat langsung memahami apa yang ia baca sampai seseorang menerangkan kembali isi buku tersebut secara lisan. Sehingga, pada akhirnya, tidaklah mengherankan bila kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat, termasuk masyarakat akademis, tidak menggembirakan.

Bagaimanapun juga, kemampuan menulis yang baik jelas menunjukkan kemampuan berbahasa yang baik pula. Karena ketika seseorang sudah mampu menulis dengan baik, hal ini menunjukkan tiga kemampuan dasar lainnya cukup terlatih dengan baik. Dan seluruh kemampuan berbahasa Indonesia ini tidak akan pernah bisa dikuasai bila tidak diiringi dengan dorongan dan semangat yang tinggi dari pribadi Indonesia itu sendiri.

Katanya, buku adalah jendela dunia. Nah, sudah berapa banyak buku yang kita baca tahun 2006 yang lalu? Berapa pula yang akan kita baca di tahun 2007 dan tahun-tahun berikutnya? Sudah berapa banyak yang kita pahami dari buku-buku tersebut? Jangan-jangan dunia kita hanya selebar daun kelor?

12 Responses to “Masalah Kemampuan Berbahasa Indonesia”

  1. Yohanes March 23, 2007 at 12:38 pm #

    Terima kasih atas pendapat-pendapat Anda. Anda telah membuka pikiran saya sebagai siswa SMA untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia.

    Note: Tolong diperiksa ejaan serta penulisan kata-kata. Mohon kirimkan komentar anda ke yotoliberty@xxxx. Terima kasih.

  2. Yohanes March 23, 2007 at 12:44 pm #

    Teima kasih, pendapat-pendapat Anda sangat membantu saya dalam memahami arti penting berbahasa Indonesia.

    Note: Tolong kirimkan komentar Anda mengenai cara mengerjakan soal Bahasa Indonesia dengan cepat dan tepat ke alamat e-mail saya.

  3. bennylin September 23, 2007 at 4:29 pm #

    Saya berpendapat bahwa kemampuan membaca tersebut sendiri dapat dibagi lagi menjadi dua: membaca dalam hati dan membaca … (lawannya apa ya -_-?) komat-kamit?

    Simak saja berapa banyak orang yang membaca surat kabar setiap harinya, atau majalah bahasa Indonesia (yang sebenarnya sudah tidak 100% lagi menggunakan bahasa Indonesia), namun sehari-hari masih menggunakan bahasa Indonesia ‘seperti anak TK’ (nuwun sewu Gus Dur). Hal ini saya rasa karena mereka jarang melatih bibir mereka untuk mengucapkan kata-kata tersebut, sehingga tepatlah jika dikatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua sebagian besar masyarakat Indonesia – dengan bahasa ibunya bahasa daerah masing-masing.

    Tahukah Anda walau jumlah penduduk Indonesia merupakan terbesar keempat di dunia, namun bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa besar di dunia? Bandingkan dengan jumlah penduduk Jepang yang sebanyak penduduk pulau Jawa, namun kekuatan bahasanya… tidak perlu ditanya lagi. Kenapa hal ini terjadi? tidak lain karena setiap orang begitu bertemu orang Jakarta, seakan-akan melupakan 12 tahun pelajaran bahasa Indonesia yang diembannya… ke mana-mana ‘gue’-‘elo’ ‘melulu’. Haiz… kita orang Kristen jangan ikut-ikutan arus, yang dalam ini arus bahasa kedaerahan. Ingat bahwa pada mulanya Ia adalah Firman, Kalam, Sabda, Kata-kata, Kalimat, Bahasa; Allah lain manakah yang begitu jelasnya mengatakan bahwa ia adalah Allah segala Bahasa? Mari hormati Allah kita dengan bahasa kita.

    Sebuah pengamatan yang menarik dari saya, Anda mungkin juga dapat mengamatinya. Jika Anda memiliki persekutuan doa (semoga saja), atau paling tidak jika lebih dari dua orang Kristen berkumpul dan berdoa dengan buka suara, dengarkanlah bahasa apa yang dipergunakan? Apa Anda mendengar ‘elo’, ‘bokap’, ‘nyokap’, ‘bonyok’, ‘babe’, ‘gue’, dan bahasa-bahasa daerah yang lain? Bukankah secara tidak sadar setiap orang Kristen Indonesia, tidak peduli nilai BInya di rapor merah ataupun hitam, akan otomatis menggunakan bahasa Indonesia terbaik yang ia ketahui, untuk menghormati Bapanya (lebih halus daripada Ayah, Anda menyadarinya?) karena ia terlalu mulia bagi mulut kita menuturkan bahasa ‘gaul’ yang sehabis kata “Amin” kita pakai lagi. Amin, saudara-saudara?

  4. Once November 10, 2007 at 9:39 am #

    Semua pendapat yang telah saya baca memang benar adanya, saya pun mengamati hal ini sebagai masalah yang tidak kunjung habis terjadi dalam masyarakat. Saya pun mendengar bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang komunikatif atau mudah untuk dimengerti dan hal itu dirasa cukup bagi masyarakat, tanpa memperhatikan bahasa yang benar atau sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bila sudah berkembang sedemikian rupa. Upaya peningkatan berbahasa Indonesia “yang dirasa tepat” dikalangan masyarakat memang pada kenyataan belum seperti yang diharapkan. Peningkatan budaya membaca dan mempraktekkan langsung penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, menurut saya lebih efisisien.Terimakasih.

  5. hai hai March 25, 2008 at 10:06 pm #

    Saya sering membaca tulisan anda, saya suka dengan idea segar dan gaya bahasa anda yang komunikatif.

    Anda benar, umumnya para pelajar dan sarjana di Indonesia memiliki kemampuan bahasa tulis yang sangat buruk. Mungkin sudah saatnya para pendidik mengubah hal demikian.
    Salam

  6. indonesiasaram March 27, 2008 at 8:04 pm #

    Saya sering membaca tulisan anda, saya suka dengan idea segar dan gaya bahasa anda yang komunikatif.

    Puji Tuhan kalau tulisan-tulisan di sini dinilai segar dan komunikatif. Jangan segan-segan untuk mengkritik, Bung.

    Anda benar, umumnya para pelajar dan sarjana di Indonesia memiliki kemampuan bahasa tulis yang sangat buruk.

    Bagi sejumlah jurusan, masalah bahasa tampaknya memang tidak terlalu ditekankan. Sayangya, ketika mereka kembali menulis, bahasanya kadang amburadul. Sayang memang.

  7. julia July 15, 2008 at 3:31 pm #

    Tulisan anda menarik. Mudah-mudahan anda tidak keberatan bila saya mengambilnya untuk menjadikan bahan bacaan siswa saya dalam topik budya membaca

  8. indonesiasaram July 16, 2008 at 7:19 am #

    Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Silakan menggunakan tulisan saya, tapi jangan lupa mencantumkan sumbernya.

  9. boys January 8, 2009 at 7:35 am #

    aq sangat simpati dengan tulisan anda jd kalau ada ide-ide yang lain tolong dikrimin donk…..
    trims……

  10. dhim2 August 23, 2010 at 1:16 am #

    memang terkadang budaya membaca ada kalangan mahasiswa sangatkah kurang dan malah baru aktif saat mereka amu mengerjakan skripsi..

    poros utma budaya membaca adalah saat kita mulai masuk dunia pendidikan baik itu HS, PG, TK, SD, SMP, dan SMA…dari instansi pendidikan inilah perlu diberikan sebuah keterangan yang jelas ada kurikulum bahasa Indonesia pada keterampilan membaca.

    lebih buruknya lagi selalu kegiatan membaca disingkronisasikan denan kegiatan berbicara. yang akhirnya menjadi keterampilan berbicara bukan membaca. itu terjadi pada saya saat masih SMA.

    ada ha lain yang lebih perlu kita sadari yaitu harga sebuah buku yang berbobot tidak dapat terjangkau oleh isi saku kita. namun kita lupa kalau ada pasar loak yang ilmunya pada buku terkadang lebih banyak dari pada buku di toko2 buku yang selalu keluar terbitan baru tiap minggunya..

    SALAM SATU HATI UNTUK BAHASA INDONESIA

  11. pahri efendi harahap September 5, 2010 at 12:46 pm #

    perlu pemisahan pembelajaran antara bahasa dengan sastra. hal ini dimungkinkan untuk bisa mendalami bahasa itu sendiri. kurikulum kita perlu memisahkan pembelajaran bahasa dan sastra kalau tidak demikian dimungkinkan pemahaman anak didik terhadap bahasa atau sastra akan semakin menipis

  12. Dea Mariska December 23, 2011 at 6:52 am #

    halo, boleh tau ga itu sumber kutipan Damono diambilnya dari mana ya? kompas dengan judul artikel apa? terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: