Campur Kode

6 Jan

Pengantar

Kajian mengenai bahasa menjadi suatu kajian yang tidak pernah habis untuk dibicarakan. Bagi bahasa hidup, yaitu bahasa yang masih terus digunakan dan berkembang, persentuhannya dengan bahasa-bahasa lain menimbulkan permasalahan tersendiri. Di satu sisi, persentuhan itu menambah khasanah bahasa itu sendiri. Namun, di sisi lain justru mengancam keberadaan bahasa tersebut.

Globalisasi, suka tidak suka, memberi efek yang membahayakan bagi perkembangan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Masuknya budaya-budaya asing perlahan-lahan mendesak esksistensi bahasa Indonesia. Maraknya tayangan berbahasa Inggris hingga serbuan para investor asing menyebabkan penggunaan bahasa Inggris semakin menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat. Tayangan-tayangan berbahasa Inggris, penggunaan nama dengan bahasa Inggris, hingga standar perusahaan-perusahaan, baik nasional maupun multinasional, mendesak setiap orang untuk dapat berbahasa Inggris.

Dalam kondisi yang demikian, bahasa Indonesia semakin terdesak. Di satu sisi bahasa Indonesia memiliki masalahnya sendiri termasuk masalah tata bahasa. (Abdul Chaer telah membahas beberapa masalah yang terdapat dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.) Namun, di sisi lain, bahasa Indonesia yang dulu sering dipertentangkan dengan bahasa daerah, kini harus berhadapan lagi dengan bahasa-bahasa asing.

Dampak dari serbuan bahasa-bahasa asing itu terlihat dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Semakin banyak orang yang karena tidak ingin dianggap kuno atau ketinggalan zaman memilih untuk menggunakan bahasa asing. Misalnya:
(a) Gue sih fun-fun (s)aja.
(b) Kapan dia akan married?

Kalimat-kalimat di atas itulah yang disebut dengan campur kode. Secara sederhana, campur kode ialah fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam bahasa pertama, pencampuran bahasa asing ke dalam struktur bahasa ibu. Berdasarkan definisi sederhana ini, fenomena campur kode sebenarnya tidak melulu melibatkan bahasa asing. Bisa juga melibatkan bahasa daerah dengan bahasa nasional.

Masalah

Masalah yang hendak dibahas dalam tulisan ini, yaitu:
a. apakah penggunaan campur kode dapat dibenarkan?
b. apa yang melatarbelakangi penggunaan campur kode?

Batasan

Pembahasan mengenai campur kode ini dibatasi hanya pada tataran kata. Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan membahas jenis-jenis campur kode pada tataran frase ataupun klausa.

Pembahasan
A Dapatkah Campur Kode Dibenarkan?

Pada prinsipnya campur kode merupakan pencampuran bahasa kedua ke dalam struktur bahasa pertama. Perhatikan contoh berikut.

(c) Kemarin kita dinner bersama.

Campur kode pada (c) adalah pencampuran unsur bahasa Inggris, dinner, ke dalam struktur bahasa Indonesia.

Perhatikan pula contoh berikut yang dikutip kembali dari (b) di atas.

(d) Kapan dia akan married?

Kekeliruan sering terjadi pada saat melakukan campur kode. Pencampuran unsur asing ke dalam struktur bahasa pertama seringkali tanpa memperhatikan bentuk dari unsur yang dicampurkan itu. Kata married pada (d) di atas merupakan bentuk lampau. Dengan demikian, maknanya menjadi ‘telah menikah’. Sementara itu, penutur kalimat tersebut umumnya hendak menanyakan kepada perihal kapan dia menikah. Dengan kata lain, si dia sama sekali belum menikah. Fakta ini ditandai oleh kata fakta. Bila dikembalikan ke bentuk asalnya, kalimat (d) menjadi (e). Bandingkan pula dengan (f).

(e) Kapan dia akan menikah?
(f) *Kapan dia akan sudah menikah?

Kasus yang lain sering ditemukan, misalnya pada khotbah-khotbah. Di salah satu gereja, fenomena pencampuran kode ini tampaknya sudah menjadi suatu hal yang lumrah sehingga terus terpelihara dengan baik. Misalnya seperti berikut ini.

(g) Allahlah yang men-sustain seluruh alam semesta.
(h) Tidak ada seorang pun yang perfect di dunia ini.

Kekeliruan pada dua contoh di atas lebih karena pilihan katanya. Baik sustain maupun perfect merupakan kata yang sudah memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Kedua kata itu masing-masing diwakili oleh topang dan sempurna.

Bila kita perhatikan, kasus-kasus serupa sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam wacana-wacana tertentu. Hal ini menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan oleh semua penutur bahasa Indonesia.

B Latar Belakang Campur Kode

Setidaknya ada dua hal yang paling melatarbelakangi penggunaan campur kode. Kedua alasan tersebut, yaitu sebagai berikut.

a. Alasan akademis.
Terkadang, orang-orang dengan latar belakang pendidikan tertentu ingin menunjukkan kemampuan di bidangnya. Oleh karena itu, ia sering menggunakan istilah-istilah asing dalam bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya. Pencampuran ini kalau tidak dalam bahasa lisan tentunya dalam bahasa tulisan. Perhatikan (i) berikut.

(i) Kita telah memasuki zaman postmodern yang artinya konsep-konsep yang selama ini dipercayai dunia telah digoyang dan diberi makna yang baru.

b. Gengsi
Sebagaimana diungkapkan di atas, merebaknya arus globalisasi menyebabkan banyak orang berlomba-lomba untuk menguasai bahasa Inggris (selain bahasa Mandarin dan bahasa Jepang). Oleh karena itu, agar tidak dianggap ketinggalan zaman, banyak orang yang senang menggunakan kata(-kata) dari bahasa Inggris. Perhatikan pula contoh berikut.

(j) Kado ini benar-benar menjadi surprise buatku.

Simpulan

Dari bahasan singkat di atas, disimpulkan beberapa hal berikut.

a. Campur kode bukanlah kebiasaan yang turut melestarikan bahasa Indonesia.
Meski campur kode sangat tidak disarankan, dalam kasus-kasus tertentu, campur kode tidak dapat dihindari. Syaratnya hanya bila kata asing tersebut tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Campur kode sebagaimana pada (k) berikut ini dapat dibenarkan mengingat eros tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia.

(k) Bila kita hanya memahami kasih hanya pada tataran eros, berarti kita belum memahami esensi terdalam dari kasih yang sesungguhnya.

b. Secara umum, ada dua alasan yang melatarbelakangi penggunaan campur kode, berupa alasan akademis dan gengsi.

7 Responses to “Campur Kode”

  1. col April 18, 2007 at 12:13 pm #

    bow, bantuin gw dunk…gw lagi bikin skripsi yang analisisnya campur kode, tapi gw buntu sebuntu-buntunya, bahas juga dunk ck berbentuk frasa dan klausa..lebih lengkap lagi ya…hiks..

  2. Rusdy June 8, 2007 at 12:12 pm #

    Hmmm… terus terang saya mengalami kesulitan di dalam hal ini. Seperti yang anda sudah uraikan di atas, dari kacamata saya sendiri:

    1. Kekurang tahuan (lebih tepatnya kekurangan dalam pendidikan) berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Terus terang, saya tidak pernah menggunakan Bahasa Indonesia di konteks profesional. Paling rumit di jenjang Sekolah Menengah Umum ;)

    2. Akademis, seperti yang sudah diuraikan di atas (diperparah dari kondisi nomor satu), saya mengalami kesulitan untuk mencari terjemahan Bahasa Indonesia. Kalau Bahasa Inggris, tinggal saya google, tapi sayangnya Bahasa Indonesia belum bisa menandingi banyaknya informasi yang tersedia di Internet, seperti di dalam Bahasa Inggris :(

  3. bennylin September 23, 2007 at 7:50 pm #

    Mungkin Anda tertarik untuk bergabung meramaikan perbincangan mengenai bahasa di Wikipedia Indonesia? topik-topiknya lumayan hangat dan mungkin bisa membantu tulisan siapapun yang tertarik dengan hal ini.

    Menurut saya sih kesalahan tersebut bermula sejak di sekolah, bahasa Indonesia menjadi momok yang ditakuti oleh murid-murid sehingga begitu lulus sekolah dengan mudahnya mereka mencampakkan bahasa mereka sendiri ke keranjang sampah. Sampai ada Menteri Pendidikan yang benar-benar berkualitas dan mampu merubah citra negatif tersebut di mata anak-anak sekolahan, setiap generasi kita akan melihat hal yang sama terjadi, semakin banyak anak muda yang beralih ke bahasa gado-gado (istilah saya sendiri) ini.

  4. toek" October 29, 2007 at 11:43 am #

    q kok liatnya beda ya boss.
    kebetulan ae q anak advertizing, eh pk es
    klo buat q kok mixing sah” ae
    why?
    coz inti dari bahasa itu sendiri kan penyampaian pesan
    klo antara pengirim dan penerima pesan beda operator
    trus qt” nyampur singkong ma sandwich kan malah buaguz tho?
    toh aquisition bahasa kedua g bakal da klo kt g bisa berbahasa pertama, nah
    masaalahnya disini
    buat sebagian besar citisen indonesia, eh pk zet
    bahasa indonesia itu di gunakan sebagai bahasa kedua
    lang. learn. aqc kita tu bahasa indonesia boss,
    g bener klo da yg bilang da fenomena di masyarakat klo pk bahasa sandwich tu orange lebih pinter, eh pk a
    yg benar orang yg bisa pk bahasa indonesia yg baik dan benar adalah yang paling pintar.
    sudakah anda cukup pintar untuk menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar,
    jujur ae, eh pk aja
    q lom bisa…

  5. indonesiasaram November 5, 2007 at 10:45 pm #

    Yah, masalah ini memang rada rumit. Selalu bisa dinilai dari segi deskriptif dan preskriptif. Terus terang, kadang-kadang dua hal itu tercampur dalam benak saya.

    Meski demikian, pada taraf tertentu, saya setuju kalau dikatakan bahwa sebuah komunikasi dianggap berhasil kalau pesan yang disampaikan itu diterima dengan baik oleh pihak yang dituju.

    “Kalau Bahasa Inggris, tinggal saya google, tapi sayangnya Bahasa Indonesia belum bisa menandingi banyaknya informasi yang tersedia di Internet, seperti di dalam Bahasa Inggris”

    Hmm, Bung Rusdy (maaf baru merespons setelah sekian lama), saya kira bahasa Indonesia itu memang akan dan harus berkembang terus. Kalau dibandingkan dengan bahasa Inggris yang sudah berabad-abad usianya, pun juga telah mengalami perkembangannya tersendiri, bahasa kita ini belumlah seberapa. Tidak heran kalau akhirnya, kita harus menyelaraskan dan menyesuaikan dengan konsep baru. Apalagi dunia internet sering melahirkan istilah-istilah baru.

  6. kudo November 27, 2008 at 8:12 pm #

    tapi gw binggung, pa campur kode sama kaya akulturasi dari segi bahasa? pa itu adaptasi bahasa juga?

  7. hyunisa March 14, 2009 at 11:02 am #

    sayang sekali bahasa indonesia yang benar malah tidak populer di kalangan pengguna bahasanya sendiri. tapi menurut saya hal ini juga dapat terjadi karena kosakata dalam bahasa indonesia yang sangat terbatas. sehingga sulit untuk menggungkapkan pemikiran kita. bisa dibangdingkan dengan melihat kamus besar bahaas indonesia kita yang hanya terdiri dari satu jilid yang tebal, sedangkan bila dibangdingkan dengan bahasa rusia, dia memiliki 17 jilid kamus besar yang sangat tebal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: