Posted by: indonesiasaram | January 5, 2007

Annyeong Haseyo!

Annyeong haseyo!

Itulah salam yang hampir selalu saya gunakan bila menulis surat kepada teman-teman. Biasanya, saya akan menggunakan hangeul daripada menuliskannya dengan huruf Latin. Tentu saja saya akan menyertakan tanda asterisk (*) di akhir, lalu di bagian bawah halaman atau akhir surat saya akan tulis dengan huruf Latinnya.

Sekilas, akan timbul kesan bahwa saya hanya sekadar mengikuti tren yang sedang beredar di Indonesia. Ketika film-film dan melodrama Korea merambah di Nusantara ini, tidak heran bila saya pun menjadi familiar pula dengan Cha Tae-hyeon, Jeon Ji-hyeon, Song Hye-gyo, dan sejumlah nama lainnya. Lewat film-film tersebut, budaya Korea mulai diminati di Indonesia.

Ketika berkesempatan mengenal suami-istri asal Korea, saya pun menawarkan diri untuk mengajarkan bahasa Indonesia, sembari menyimak bahasa Korea mereka. Dan setelah melewati rangkaian ini pulalah saya menyadari bahwa salam dalam bahasa Korea yang saya ungkapkan di awal itu sangat istimewa.

Dalam bahasa Indonesia, kita biasanya akan menyapa “Selamat pagi”, di pagi hari; “Selamat siang”, di siang hari, demikian seterusnya. Dengan kata lain, untuk tiap konteks waktu tersebut, kita akan menggunakan sapaan yang berbeda.

Di sinilah letak keistimewaan salam dalam bahasa Korea itu. Annyeong haseyo ternyata memiliki konsep yang multikonteks. Ungkapan yang dalam taraf lebih sopan diucapkan dengan annyeong hasimnikka ini berlaku untuk semua konteks waktu.

Keistimewaan salam tersebut ialah bahwa salam tersebut multi konteks, dalam konteks waktu. Dengan demikian, ungkapan annyeong haseyo (yang lebih sopan lagi annyeong hasimnikka) tidak terikat oleh waktu. Ungkapan tersebut dapat berarti ’selamat pagi’, ’selamat siang’, ’selamat sore’, atau ’selamat malam’.

Jadi, tidak usah heran bila saya cenderung menggunakan salam tersebut ketika bersurat pada teman-teman saya. Sehingga ketika mereka membacanya kapan pun, mereka akan mendapatkan sapaan yang sesuai dengan konteks waktu ketika mereka membacanya, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka. Dengan kata lain, salam tersebut tidak akan basi. Bayangkan bila saya menyapa dengan, “Selamat siang” sedangkan mereka baru membacanya malam hari.

Itulah kesederhanaan ungkapan salam dalam bahasa Korea.


Responses

  1. halo, baru mampir di sini pertama kalinya, karena tidak tahu mau manggil apa, saya panggil bung saja ya.

    tentang “annyong hasseo” (entah penulisan latinnya yang benar piye) rasa-rasanya salam tersebut sama dengan salam dalam bahasa Kanton (Hong Kong) yang saya ketahui, yaitu [i]ohm koi[/i] (ejaanya kira-kira seperti itu), yang kurang lebih artinya sama seperti salam Korea tersebut ditambah lagi salam ini dapat berarti “maaf”, “permisi”, “terima kasih” :D

    Apakah salam dalam bahasa Korea tersebut juga dapat berarti demikian?

  2. wah kamu jago yah bahasa koreanya???ajarin donk,,
    sebetulnya aku tertarik banget sama bahasa korea yang berkesan lembut dan sopan dibanding bahasa mandarin,,
    tertarik untuk les bahasa korea sih, tapi blum ada waktu masih sibuk kuliah,,jadi boleh donk ajarin,,,he he

  3. bagaimana dengan yeoboseyo?
    kalo mau ngucapin halo di surat pake yang mana?

    • Saya kira annyeong hashimnikka atau annyeong haseyo lebih cocok digunakan. Yeoboseyo biasanya digunakan dalam percakapan di telepon.

  4. annyeong…? :-)


Leave a response

Your response:

Categories