Posted by: indonesiasaram | December 31, 2008

Pola Bohong Masyarakat Ibu Kota

Sepertinya, seseorang tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berbohong. Setiap saat, di setiap tempat, dan kepada siapa saja, seseorang bisa berbohong. Seorang pedagang bisa saja menawarkan harga yang kelewat tinggi hanya untuk mendapatkan untung besar. Hal ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Seorang siswa bisa saja berbohong pada gurunya mengenai alasan ia tidak mengerjakan PR-nya.

Kebohongan demi kebohongan bisa muncul dengan lebih banyak lagi mengingat kemajuan teknologi saat ini sangat memungkinkan hal tersebut. Di dunia maya, berbagai praktik kebohongan pun tersebar luas. Yang paling umum tentunya kebohongan seputar jati diri yang dilakukan ketika ceting (chatting). Sementara itu, keberadaan ponsel di dunia nyata juga membuka peluang untuk melakukan kebohongan.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | December 27, 2008

Memahami Pesan Natal

Pada prinsipnya, proses komunikasi melibatkan dua pihak, entah itu komunikasi dua arah, entah itu komunikasi searah. Yang satu berlaku sebagai pengirim pesan, yang lain sebagai penerima pesan. Dalam pertuturan lisan, sebuah pesan pertama-tama akan mengalami pengkristalan dalam segi makna di benak si pengirim pesan. Kemudian dirangkaikanlah makna-makna itu dalam rangkaian kata dan kalimat.

Dengan kata lain, pertama-tama si pengirim akan melakukan semantic encoding dalam benaknya. Kemudian ia merangkai kata-kata dalam rangkaian kalimat lewat grammatical encoding. Ketika selesai, pesan yang sudah tersusun dalam kalimat(-kalimat) itu pun dituturkan. Proses akhir ini disebut phonological encoding.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | December 4, 2008

Antara Baku dan Benar

Ini masalah yang menarik. Sekaligus menjadi pelajaran penting bagi saya, bagi Anda, bagi yang memang berkunjung da mau membaca blog ini.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendiskusikan masalah bahasa dengan seorang teman dari kantor saya yang lama. Ia datang dengan mengajukan sebuah kasus: antara telepon dan telefon, yang mana yang benar?

Kebanyakan kita tentu akan memilih kata telepon daripada telefon. Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendaftarkan kata telepon sebagai kata yang baku, bukan telefon. Namun, justru di sinilah letak masalahnya.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | October 28, 2008

Sebuah Refleksi pada Hari Sumpah Pemuda: Bagaimana Kita Berbahasa?

Hari ini merupakan salah satu dari dua hari yang sangat spesial bagi bangsa kita. Bila yang pertama merupakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, hari ini merupakan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Memang ada banyak hal yang bisa kita renungkan bersama berkenaan dengan peringatan peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita ini. Namun, mengingat blog ini memang khusus berbicara mengenai bahasa dan sastra, saya hendak mempersempit topik pembicaraan tanpa mengesampingkan makna penting lain dari peristiwa Sumpah Pemuda tersebut.

Pemerintah memang telah sejak lama menetapkan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra. Penetapan ini mungkin sekali karena salah satu butir pada Sumpah Pemuda berkenaan dengan bahasa.  Apa pun alasannya, saya kira penetapan ini menunjukkan betapa pemerintah pada masa itu menyadari pentingnya peranan bahasa dan sastra dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (dengan demikian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari). Tidak mengherankan apabila berbagai kegiatan seputar kemampuan berbahasa banyak diselenggarakan.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | July 28, 2008

Televisi sebagai Media Penyebaran Perilaku Campur Kode

Harus diakui, perkembangan zaman dalam beberapa tahun terakhir ini semakin mengarahkan masyarakat bahasa untuk tidak hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Setelah bahasa Inggris menjadi bahasa wajib, sejumlah bahasa Asia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea pun mulai menjadi bahasa pendamping.

Tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini pelan-pelan mengarahkan masyarakat bahasa untuk menanggalkan bahasa ibunya. Sehingga bahasa daerah dan bahasa Indonesia rasanya semakin jauh tertinggal. Dengan minimnya perkembangan ilmu yang disajikan dalam bahasa lokal (dan nasional), istilah-istilah asing lebih banyak beredar daripada istilah berbahasa lokal.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | July 27, 2008

Ibadah dan Ibadat

Apa yang membedakan kata ibadah dengan ibadat? Cara yang paling gampang tentu dengan meraih kamus dan melihat apa yang dikatakan kamus tentang kedua kata tersebut. Maka cobalah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga pada halaman 415. Pada halaman pertama dari daftar huruf I itu, kita langsung bertemu dengan kedua kata tersebut.

Baik ibadah, maupun ibadat sepertinya bisa saling menggantikan. Pada lema ibadah, tercantum salah satu artinya ialah ‘ibadat’. Demikian pula sebaliknya. Tapi benarkah keduanya bisa saling menggantikan? Belum tentu! Coba lihat pengertian lain yang ditawarkan oleh KBBI yang ukurannya memang besar itu.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | July 1, 2008

Ikut yang Mana, Editor dan Ahli Bahasa?

Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung masalah gaya selingkung penerbit. Masing-masing memiliki gaya selingkung sebagai kaidah baku. Alhasil, gaya penerbit A dengan penerbit B akan berbeda, demikian gaya penerbit C dengan penerbit D.

Bagi penerbit, yang paling penting adalah bagaimana isi buku itu dapat dikomunikasikan secara maksimal kepada pembaca. Dengan kata lain, bersama penulis penerbit menyuarakan pesan tertentu sebuah buku. Tentu saja bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan lingkup pembaca yang disasar oleh buku tersebut. Tidak heran bila ada penerbit yang memilih gaya selingkung yang mengikuti bahasa pembaca.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | June 20, 2008

Injil Kelima?

Ternyata untuk mendapatkan informasi yang aneh sekaligus menggelitik seputar bahasa, kita tidak perlu mencarinya ke mana-mana. Cukup mencarinya di dalam gereja. Cobalah Anda mencermati apa yang terjadi di lingkungan gereja, dan Anda akan menemukan sejumlah keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Salah satunya telah saya kemukakan di blog ini, yaitu berkenaan dengan penggunaan kata daripada dalam Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami.

Hal berikut yang saya temukan tergolong mengejutkan. Seakan-akan hendak meneruskan kontroversi setelah beberapa waktu terakhir kita “diperkenalkan kembali” dengan Injil selain yang sudah kita kenal. Berbeda dengan Injil lain yang telah diungkapkan itu, saya malah diperkenalkan dengan Injil lain yang berasal dari kanon Alkitab.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | June 17, 2008

Duabelas Murid Yesus

Setelah dipusingkan dengan masalah perpuisian sebuah buku yang telah saya kerjakan sebelumnya, kini saya harus kembali menggeluti buku berbahasa Belanda. Dan pagi ini ada sedikit diskusi kecil mengenai penulisan bilangan. Apa yang didiskusikan dua rekan saya persis dengan apa yang saya temukan dalam kasus buku yang saya hadapi.

Persoalannya sederhana. Bagaimana penulisan bilangan apabila dituliskan dengan huruf?

Berdasarkan kaidah, sebuah bilangan ditulis dengan huruf apabila terdiri dari dua kata. Kalau terdiri dari tiga kata atau lebih, bilangan itu harus ditulis dengan angka. Bilangan juga harus ditulis dengan angka apabila menunjukkan suatu perincian sekaligus menyatakan jumlah.

Read More…

Posted by: indonesiasaram | June 2, 2008

Bahasa Inggris dan Kasus Ujian Nasional

Untuk kesekian kalinya, kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional terungkap kembali. Uniknya, setidaknya bagi saya, salah satunya terkait dengan mata pelajaran bahasa Inggris.

 

Seperti dilaporkan, di antaranya oleh Kompas (Jumat, 25 April 2008, halaman 15), kecurangan terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara. Hal ini berbuntut pada ditangkapnya enam belas guru dan seorang kepala sekolah ditangkap. Mereka dipergoki mengubah jawaban 284 siswa peserta, tanpa diminta oleh siswa-siswi tersebut.

Read More…

Older Posts »

Categories