Suatu Ketika …

31 Aug

Kebanyakan orang tentu akan merasa akrab dengan tulisan yang dibuka dengan Suatu ketika. Tulisan yang diawali dengan frasa seperti itu akan langsung dikenali sebagai sebuah tulisan bergenre dongeng. Tentu saja tidak hanya Suatu ketika yang dapat kita temui. Variasi lainnya, misalnya Pada suatu ketika, Pada zaman dahulu kala, atau Alkisah.

Saya teringat, beberapa waktu lalu seorang teman bertanya melalui sebuah situs jejaring sosial bagaimana melakukan pembukaan sebuah cerita tanpa menggunakan pola klasik seperti tadi. Mudah saja. Kita bisa membukanya dengan memberikan deskripsi tentang berbagai hal. Misalnya, menggambarkan waktu, menggambarkan raut muka dan ekspresi salah satu tokoh dalam cerita yang hendak diangkat, dan sebagainya.

Continue reading

D’ArtBeat dan Trilogi Panggung Kehidupan

23 Oct

Jakarta memang memberikan berbagai kesempatan. Salah satunya kesempatan menikmati kegiatan seni dan budaya. Setelah sebelumnya menikmati pagelaran wayang orang, Petroek Ngimpi yang dibawakan oleh Paguyuban Gumathok dan Wayang Orang Bharata di TIM, 26 Agustus 2010 lalu, kesempatan menikmati drama musikal pun hadir pula.

Adalah D’ArtBeat yang menyajikan drama musikal tersebut. Dalam pementasan mereka di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, 25 September 2010 lalu, mereka mengusung drama bertajuk ”Satu Kata yang Terlupa”. Pagelaran ini merupakan kelanjutan dari Road Show Trilogi Panggung Kehidupan yang sebelumnya juga menampilkan drama musikal, ”Pulang”.

Continue reading

Apa Kabar Corat-Coret Bahasa?

17 Oct

Begitu kira-kira pertanyaan seorang kenalan saya. Persisnya tidak begitu karena ia bertanya melalui pesan pendek. Saya hanya bisa meringis melihat pesan pendek tersebut. Praktis sejak monolog Luna Vidya, saya tak kunjung membenahi blog ini.

Sekarang malah sudah memasuki pertengahan bulan Oktober, bulan yang diakui sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia. Saya pikir, ini merupakan momen penting bagi saya secara pribadi. Pertama, ini jelas menjadi semacam cambuk yang mengingatkan saya lagi pada komitmen semula menghadirkan situs blog ini. Kedua, mengingatkan saya bahwa ada begitu banyak hal yang terabaikan oleh kesibukan selama ini.

Continue reading

Luna Vidya dan Monolog “Menunggu Matahari”

29 Apr

”Masih gelap, selalu masih gelap. Kapan pagi datang?” Begitulah Luna Vidya mengawali monolognya di Newseum Cafe, Jakarta, 16 April 2010 lalu. Didampingi Abdi Karya, rekannya, malam itu Luna memerankan sosok Maria dari Sikhar.

Dalam pembukaan tersebut, Luna menggambarkan kegalauan Maria. Galau karena tidak sempat membaluri jasad Yesus dengan rempah-rempah. Galau karena tidak sempat memberi perlakuan yang layak kepada tubuh Yesus. Sebab ketika Yesus disalib, hari Sabat memang sudah sangat dekat. Namun, tetap saja itu seharusnya tidak membuatnya mengabaikan jasad Guru yang sangat ia hormati itu

Maria dari Sikhar
Mungkin banyak yang tidak begitu mengenal siapa Maria dari Sikhar ini. Saya sendiri semula bertanya-tanya, ini Maria yang mana? Sebab kalau kita mencermati isi Alkitab, khususnya kitab-kitab Injil, kita akan menemukan beberapa Maria. Pertama-tema, tentulah kita mengenal Maria ibu Yesus. Lalu ada juga Maria Magdalena, yaitu perempuan yang pernah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat.

Continue reading

Sastra Goceng: Ditangisi atau Disyukuri?

7 Mar

Setiap kali ada pesta buku, salah satu jenis buku yang pasti saya cari ialah buku sastra. Memang saya tidak selalu menghampiri stan yang menjajakan buku-buku sastra. Namun, saya pasti melihat buku sastra apa saja yang bisa saya temukan di berbagai stan.

Dalam kegiatan Kompas-Gramedia Fair yang lalu, saya cukup terpuaskan, salah satunya oleh sebuah karya Korrie Layun Rampan. Apalagi beliau merupakan salah seorang sastrawan favorit saya. Tidak hanya karena banyak mengangkat budaya suku Dayak, tetapi juga karena gaya bahasanya yang menurut saya cukup indah dan enak dibaca. Karya yang saya maksudkan ialah kumpulan cerpen berjudul Melintasi Malam.

Namun, yang segera membuat saya segera ”mengamankan”-nya ialah harga jual buku kecil tersebut. Hanya Rp5.000! Sudah menemukan karya sastrawan favorit, harganya juga sangat murah.

Continue reading

Berita Natal

25 Dec

Secara umum, gereja memisahkan kegiatan seputar Natal menjadi dua. Kegiatan pertama ialah ibadah Natal. Ibadah Natal ini diadakan tepat pada tanggal 25 Desember. Bisa pagi, bisa menjelang siang, siang, sore, atau menjelang malam. Biasanya, ibadah Natal tidak berbeda jauh dengan ibadah biasa pada hari Minggu. Yang membedakan paling dekorasi ruangan dan tata ibadah.

Sementara itu, kegiatan kedua ialah perayaan Natal. Perayaan Natal ini biasanya paling banyak dihadiri oleh jemaat. Mereka yang disebut “Kristen musiman”, biasanya datang pada perayaan Natal. Tidak heran kalau pada perayaan Natal, jumlah yang hadir hampir seperti pada ibadah malam Natal. Sebuah gereja di Jakarta malah memutuskan mengadakan perayaan Natal dalam dua hari. Maksudnya, agar pada saat itu jemaat yang hadir tidak terlalu banyak, agar semua yang hadir bisa mengikuti ibadah dengan baik

Continue reading

Bahasa Indonesia di Dunia Maya

30 Oct

Saya tidak menyangka kalau artikel yang kemarin saya pasang di blog ini segera mendapat respons dari dua blogger lawas. Tidak hanya itu, keduanya justru memaksa saya berpikir lebih jauh lagi berkenaan dengan topik yang saya tulis kemarin. Meski terkesan lucu dan terlalu cepat kalau menulis secara berurutan, saya merasa ingin memberi respons balasan terhadap respons Mata Dunia dan Budaya Pop kemarin.

Bila topik ini saya mulai pada pertengahan tahun 1990-an, saya kira akan sulit melihat bahasa Indonesia di dunia maya. Alasan paling utama ialah saat itu bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar pada mayoritas situs web yang ada. Jumlah situs web yang menggunakan bahasa Indonesia relatif sedikit. Apalagi saat itu belum ada fenomena blog. Internet Relay Chat juga menggunakan bahasa Inggris untuk berbagai menu. Para penyedia layanan surat elektronik dan penyedia halaman pribadi (homepage) juga tidak menyediakan versi bahasa Indonesia. Bahkan seingat saya, penyedia layanan surat elektronik sekelas Yahoo! belum sampai lima tahun menggunakan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa alternatif.

Mengingat pengguna internet di Indonesia setiap tahun semakin bertambah, berbagai portal memutuskan untuk menyertakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Salah satu strategi yang mereka lakukan ialah membiarkan komunitas pengguna bahasa tertentu untuk menerjemahkan sendiri berbagai menu dan informasi dari suatu situs. Hal ini salah satunya dilakukan oleh pihak WordPress yang menurut saya merupakan strategi yang baik. Bukan karena mereka terlalu malas untuk menerjemahkannya, melainkan mereka menyerahkan penerjemahan itu untuk dilakukan, terutama oleh penutur bahasa sasaran terjemahan yang notabene lebih memahami konteks bahasanya sendiri.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers